tikam samurai-bagian-208-209-210-211


Kyoto. Pada tahun-tahun sehabis perang Dunia ke II Kyoto adalah kota terbesar di Jepang.Lebih besar dari

si bungsuTokyo yang kini jadi Ibukota.

Kyoto adalah kota tua dari zaman dinasti Tokugawa. Karenanya dalam kota kelihatan bangunan-bangunan peninggalan zaman tersebut. Tua tapi kukuh dan anggun. Kuil-kuil agama Budha dan Shinto terdapat di banyak tempat dalam kota.
Kota itu sendiri di belah-belah oleh beberapa sungai besar dan kecil. Sungai terbesar yang membelah kota itu adalah dua buah sungai yang bergabung jadi satu.
Kedua sungai itu adalah sungai Kamo dan sungai Takano dari utara bergabung jadi satu agak di utara kota, kemudian mengalir ke jantung kota.
Stasiun Kereta Api Kyoto terletak di kawasan daerah Minamiku. Di depannya ada stasiun bus. Stasiun ini ramai sepanjang siang dan malam. Tak perduli musim panas atau musim dingin.
Sepanjang tepi sungai yang mengalir dalam kota dibuat jalan raya yang diteduhi pohon-pohonan sakura.
Si Bungsu menginap di sebuah hotel di persimpangan jalan Imadegawa yang melintasi sungai dengan jalan Karawamachi yang searah memanjang jalan. Lanjutkan membaca


tikam samurai-bagian-204-205-206-207


Berkata begini dia melangkah lagi. Ketiga Jepang anggota Beruang Gunung itu mundur terus.depan stasiun itu dengan samurainya
Akhirnya mereka terpepet ke pintu.
Salah seorang tiba-tiba maju sambil mencabut samurai. Tapi Jepang ini sungguh bernasib malang. Dia memang sudah lama belajar samurai. Tapi orang dia hadapi adalah “malaikat” nya samurai.
Samurai baru terangkat sedikit, ketika dia rasakan perutnya pedih bukan main. Ayunan samurainya terhenti. Dia melihat ke bawah. Dan wajahnya jadi pucat. Pucat karena kaget dan malu.
Celananya telah dibabat putus oleh samurai anak muda itu persis di bawah pusatnya!
Celananya terluncur ke bawah. Dan perutnya berdarah. Dan darahnya mengalir hingga ke bawah!
Dia lari turun ke jalan. Si Bungsu maju terus. Dan kini mereka tegak di bawah, di depan stasiun kecil di kota Gamagori itu.
Pimpinan mereka tadi, yang telah turun lebih duluan merasa kaget melihat anak buahnya belum juga berhasil menyudahi orang asing ingusan itu.
Peristiwa itu tentu saja menarik penduduk yang memenuhi stasiun tersebut. Mereka secara otomatis membuat lingkaran yang amat lebar.
Angin bersuit panjang membawa udara musim dingin yang menusuk tulang. Lanjutkan membaca


tikam samurai-bagian-200-201-202-203


Namun Kondektur hanya menelan ludah. Wajahnya pucat. Kesempatan itu dipergunakan gadis tadi untuk berdiri. Orang-orang pada berdiri dari kursinya melihat kejadian itu.Menghindar dari dua lelaki yang memuakkan itu.
Dia sudah akan berhasil pergi, namun si gemuk pendek merenggutkan tangannya. Gadis itu kembali terpekik dan terjerembab ke lantai. Lelaki pegawai pamong itu berusaha menolakkan si gemuk. Namun si kurus menghajar perutnya dengan sebuah tendangan karate yang telak. Pegawai pamong itu terjajar.
Suasana jadi heboh. Gadis itu diangkat kembali oleh si kurus. Di dudukan ke pangkuannya.
“Duduklah kembali, kalau kalian tak ingin kehilangan kepala….”si pendek gemuk dengan suara bebeknya mengancam. Kepala-kepala manusia itu seperti disentakkan alat otomoatis. Lenyap dan duduk kembali dengan diam.
“Nah, orang tua, pergilah cari tempat lain” suara si pendek gemuk seperti babi itu terdengar lagi. Lanjutkan membaca


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 609 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: