tikam samurai-bagian-285-286-287-288


Meja kursi dan tempat tidur bertempetasan. Kain-kain dan laci-laci semua terbongkar habis. Dan lebih kaget lagi, tikam samuraidiruang tengah, seorang polisi Singapura yang bertugas menjaga rumah itu kelihatan terbaring berlumur darah.
Salma terpekik dan memeluk si Bungsu.
“Tenanglah. Tenang. Dimana engkau simpan dokumen itu?”
Namun Salma tak bisa segera tenang. Keadaan suaminya dan ditambah dengan situasi rumah ini menambah kesan yang amat kuat dihatinya. Betapa sebenarnya suaminya berada dalam bahaya besar. Hal itu menggoncangkan hati Salma.
Namun akhirnya Salma berhasil juga ditenangkan. Dan dia menunjukkan dimana dia menyimpan dokumen tersebut. Ternyata dia cukup pandai menyimpan dokumen itu, karena dikatakan suaminya amat penting dia simpan dalam lemari yang tertanam ke dalam dinding. Dan di bahagian depan dinding yang menyimpan lemari itu, terletak kaca lebar.
Takkan ada orang yang menyangka bahwa dia menyimpan dokumen atau benda apapun dibelakang kaca itu. Bahkan kalaupun kaca itu dihancurkan, lemari dalam dinding itu tak pula segera kelihatan.
Salma sendiri mengetahui lemari itu ketika dahulu serah terima dengan penghuni sebelumnya. Nyonya rumah yang akan pindah itu, seorang nyonya Inggris, membawa Salma keliling kamar. Kemudian menunjukkan lemari rahasia tersebut.
Dan ternyata kinipun orang yang menggeledah rumahnya tak menemukan lemari rahasia tersebut. Dokumen dalam map biru yang dibungkus kertas minyak kuning itu masih utuh bersama beberapa dokumen lainnya berikut perhiasan-perhiasan Salma.
Tiba-tiba si Bungsu tertegak. Salma merasa heran atas sikapnya itu. Lanjutkan membaca


tikam samurai-bagian-281-282-283-284


Gedung yang dijadikan untuk Kantor Konsulat Republik Indonesia itu tak lebih dari sebuah bangunan bertingkat operasi bedahyang sudah tua. Seorang penjaga dari
kepolisian Singapura bergegas membukakan pintu. Dan dia kaget ketika melihat bahagian kanan taksi itu remuk dimakan peluru. Dan makin terkejut lagi dia.
Ketika diketahuinya bahwa atase militer dari konsulat yang dia jaga terluka parah.
Dia segera berlari ke pintu konsulat. Memijit sebuah bel dan berlari ke box telepon. Hanya selang semenit setelah itu, halaman konsulat itu sudah dipenuhi
oleh Polisi, ambulan dan dokter-dokter. Nurdin dinaikkan ke tandu. Tapi ketika dia akan dimasukkan ke ambulan yang akan membawanya ke hospital, si
Bungsu mencegahnya. Dia mengatakan bahwa Nurdin meminta agar dia dirawat di konsulat saja.
Konsul Republik Indonesia untuk Singapura yang juga datang menatap si Bungsu.
“Apakah anda yang bernama Bungsu?”
Si Bungsu mengangguk.
Konsul itu menjabat tangan si Bungsu.
“Overste Nurdin banyak bercerita tentang anda, sayang kita bertemu dalam saat seperti ini…” dia menoleh pada tubuh Nurdin yang masih tergeletak dalam
tandu, “:Bawa dia ke dalam. Didalam ada ruang khusus untuk perawatan. Panggilkan dokter konsulat..” Lanjutkan membaca


tikam samurai-bagian-277-278-279-280


“Ya. Dari Salma. Dan bahkan ketika mulai pertama kalian saya pertemukan, ketika saya berjalan kebelakang mobiltikam samurai jilid III menutupkan bagasi, saya sempat mendengar engkau setengah berbisik karena kaget menyebut nama Salma. Dan saya juga mendengar Salma memanggilmu “Uda”. Saya gembira kalian saling kenal. Tapi saya jadi kaget takkala saya datang lagi ketempat kalian berdiri, kalian justru bersandiwara seperti tak saling kenal. Maka tak ada jalan lain yang bisa saya ambil selain mengikuti permainan kalian. Tidak, saya tidak berprasangka buruk. Engkau sahabatku. Salma isteriku. Dan kedua kalian sama-sama saya hormati. Sama-sama saya cintai.
Saya menanti perkembangan. Dan malam harinya, Salma bercerita pada saya. Dia ceritakan segalanya. Saya jadi terharu…saya harus minta maaf padamu. Karena saya tak pernah menyangka, bahwa saya akan memperisteri gadis yang dicintai sahabat saya…”
Nurdin terhenti. Si Bungsu merasakan dirinya dibasahi peluh. Dia jadi pucat. Namun akhirnya menaik nafas dan menunduk. Dia jadi merasa sangat hormat pada Salma. Ternyata dia isteri yang jujur.
“Apa saja yang diceritakan Salma…?” tanyanya perlahan. Dia berharap, bahwa gadis itu hanya becerita garis besarnya saja.
“Dia menceritakan semuanya. Tentang pakaian dan perhiasan yang engkau berikan. Yang dia pakai malam itu. Saya yang menyuruhnya memakai pakaian itu. Bukan dengan niat menyiksamu. Tapi saya ingin melihat isteri saya menghargai pemberian orang yang pernah dia cintai. Dan dia juga bercerita tentang cincin ini…” Nurdin menunjuk pada cincin di jari manis si Bungsu. “ cincin ini dia berikan sesaat sebelum engkau meninggalkannya dahulu bukan? Dan Salma juga mengakui dengan jujur, bahwa dia masih tetap mencintaimu. Sampai anak kami lahir. Saya tak merasa cemburu Bungsu. tidak. Saya malah merasa berdosa. Kalau saja dahulu saya tahu…” Lanjutkan membaca


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 626 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: