Category Archives: Tikam Samurai Jilid II

tikam samurai-bagian-260-261-262-263


Sore itu udara sangat indah. Musim bunga. Tak jauh dari Budokan berhenti sebuah mobil. Seorang lelaki turun. si bungsuMemandang ke gedung Budokan. Kemudian memandang ke arah rumah Hanako.
Rumah itu kelihatan banyak berobah. Sudah semakin mentereng dan terawat indah. Perlahan lelaki yang turun dari mobil itu berjalan ke arah rumah tersebut.
Dia kelihatan ragu-ragu. Sudah lama sekali dia tak datang kemari. Betulkah masih orang yang dahulu penghuni rumah ini? Pikirnya.
Dia berhenti di persimpangan jalan besar dengan jalan setapak menuju ke rumah. Ada seorang lelaki tengah membersihkan beberapa rumpun bunga. Dia coba memperhatikannya. Tak dia kenal lelaki itu.
Dia melangkah masuk. Lelaki itu masih asik bekerja. Dia batuk kecil. Lelaki itu menoleh. Mereka bertatapan. Lelaki yang bekerja itu mengerutkan kening. Dia tak pernah mengenal lelaki ini.
“Maafkan saya…” kata lelaki yang baru datang itu.
“Ya. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mencari rumah seorang sahabat. Kalau tak salah dahulu dia tinggal di rumah ini….”
“Siapa namanya?”
“Barangkali dia sudah pindah….namanya Kenji…” Lanjutkan membaca

Iklan

tikam samurai-bagian-252-253-254-255


Akibatnya bukan main. Tidak saja sabetan samurai si kurus itu luput dari batang lehernya, bahkan si kurus ituzato ichi sendiri tertikam oleh samurainya hingga separoh lebih!
Si Kurus itu tertahan seperti disentakkan tenaga raksasa. Tangannya masih memegang samurai. Dan tiba-tiba sambil bergerak bangkit, si Bungsu menarik samurainya. Dan saat itulah si kurus ini mengeluh. Lalu terputar setengah lingkaran. Jatuh tertelungkup.
Diam. Mati!
Dan kesembilan temannya, termasuk Zendo dari kuil Kofukuji di kota Nara itu, pada tertegak diam. Zato Ichi tak mendengar dengus nafas mereka sebab tak seorangpun diantara mereka yang tak menahan nafas melihat adegan yang alangkah fantastisnya itu.
Dan kini anak muda itu tegak dengan tenang. Dengan tenang dia menghapus darah yang membasahi samurainya dengan telapak tangan. Kemudian dengan tenang pula dia menyarungkan samurai itu kembali.
Lalu menatap pada Zendo.
“Sungguh suatu demonstrasi yang mengagumkan….” Suara Zendo bergema perlahan. Dan dari nada suaranya, dia tak hanya sekedar memuji. Tapi ucapannya memang jujur. Tapi dalam nada ucapannya itu juga dapat segera diketahui, bahwa dia tak merasa gentar sedikitpun akan kecepatan dan kehebatan anak muda itu! Lanjutkan membaca


tikam samurai-bagian-248-249-250-251


Si Bungsu dapat menduga, bahwa yang datang ini tentulah bukan sembarangan orang.tikam samurai
“Engkau yang bernama si Bungsu dari Indonesia?”
Seorang lelaki berkepala botak, yang mirip pendeta di kuil Shimogamo, bertanya dengan suara datar dan dingin.
Si Bungsu tak segera menjawab. Dia menyapu kesepuluh orang itu dengan tatapan mata menyelidik. Bagaimana dia harus menghadapi orang sebanyak ini?
Tapi akhirnya dia mengangguk ketika orang gemuk itu kembali bertanya tentang namanya.
“Dimana Zato Ichi…?” kembali si kepalabotak itu bertanya setelah si Bungsu mengangguk.
“Dia ada di dalam…” jawabnya.
“Suruh keluar dia…”
“Dia tak bisa keluar. Dia sakit…”
“Dia harus keluar. Katakan bahwa pimpinan Kuil Kofukuji dari Nara datang menuntut balas…”
“Tidak. Apapun urusan kalian dengannya ki ni harus melalui tanganku…”
“Hmm, anak muda asing. Sejak kapan kau mencampuri urusan orang lain di negri ini?”
“Sejak kalian mencampuri urusanku…”
Lelaki gemuk itu tertawa berguman.
“Sejak kapan saya mencampuri urusanmu anak muda?”
“Bukankah kalian datang untuk mencabut nyawaku?” Lanjutkan membaca


%d blogger menyukai ini: