tikam samurai-bagian-260-261-262-263


Sore itu udara sangat indah. Musim bunga. Tak jauh dari Budokan berhenti sebuah mobil. Seorang lelaki turun. si bungsuMemandang ke gedung Budokan. Kemudian memandang ke arah rumah Hanako.
Rumah itu kelihatan banyak berobah. Sudah semakin mentereng dan terawat indah. Perlahan lelaki yang turun dari mobil itu berjalan ke arah rumah tersebut.
Dia kelihatan ragu-ragu. Sudah lama sekali dia tak datang kemari. Betulkah masih orang yang dahulu penghuni rumah ini? Pikirnya.
Dia berhenti di persimpangan jalan besar dengan jalan setapak menuju ke rumah. Ada seorang lelaki tengah membersihkan beberapa rumpun bunga. Dia coba memperhatikannya. Tak dia kenal lelaki itu.
Dia melangkah masuk. Lelaki itu masih asik bekerja. Dia batuk kecil. Lelaki itu menoleh. Mereka bertatapan. Lelaki yang bekerja itu mengerutkan kening. Dia tak pernah mengenal lelaki ini.
“Maafkan saya…” kata lelaki yang baru datang itu.
“Ya. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mencari rumah seorang sahabat. Kalau tak salah dahulu dia tinggal di rumah ini….”
“Siapa namanya?”
“Barangkali dia sudah pindah….namanya Kenji…”

Lelaki itu tegak. Menatap pada yang baru datang itu. Dan tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu.
“Anda…anda pastilah si Bungsu dari Indonesia…” katanya hampir hampir berbisik. Tapi lelaki yang baru datang itu mendengarnya. Dia heran dari mana orang itu mengetahui namanya.
“Benar….saya si Bungsu….” ucapannya belum berakhir ketika lelaki itu berseru ke arah rumah.
“Hanako-san…..Hanako-san….” Himbaunya. Dari dalam rumah muncul seorang perempuan cantik dengan tergesa. Dia kaget mendengar seruan lelaki yang lain dari Waseda itu.
“Ada apa….?” Tanyanya.
“Lihatlah siapa yang datang ini…” Waseda berkata pada isterinya. Hanako baru menyadari bahwa dihadapan suaminya ada seorang lelaki. Dia menatap pada lelaki itu. Lelaki itu, yang memang si Bungsu menatap pula padanya.
Tiba-tiba sebuah gigilan menyerang tubuh Hanako. Dia tegak seperti patung. Mulutnya bergerak memanggil nama si Bungsu. namun tak ada suara yang keluar. Yang keluar justru air matanya.
“Hanako-san…” suara si Bungsu terdengar bergetar.
Dan tiba-tiba gadis Jepang itu menghambur ke pelukan si Bungsu.
“Bungsu-san…..Bungsu-san…” desahnya diantara tangis yang tak terbendung. Dia memeluk anak muda itu. Membenamkan wajahnya di dada si Bungsu yang bidang. Dan Waseda, suami Hanako, menatap pertemuan itu dengan terharu.
“Hanako, engkau sehat-sehat…..?” suara si Bungsu kembali terdengar perlahan. Hanako merenggangkan pelukannya. Menghapus air matanya. Menatap wajah si Bungsu. dan tiba-tiba dia menangis lagi.
Pemuda itu kelihatan kurus. Rambutnya tak terurus. Demikian pula pakaiannya. Dan hal itu membuat hati Hanako jadi luluh.
“Mana Kenji-san…?” tanya si Bungsu.
“Kenji-san pergi ke tempat kawannya.
Dan yang menjawab ini adalah Waseda. Dan Hanako segera sadar bahwa disana ada suaminya. Dia kembali merenggangkan dekapannya dari si Bungsu. menoleh pada suaminya.
“Inilah….inilah Bungsu-sa yang telah menyelamatkan kami Waseda-san…” katanya pada suaminya. Dan kemudian dia menoleh pada si Bungsu, lalu berkata:
“Bungsu-san…ini Waseda Tokugawa, suamiku…” si Bungsu tak merasa kaget. Dia sudah bisa menebak. Namun tetap saja ada segores luka dan kecewa di lubuk jantungnya yang amat dalam. Dia membungkuk memberi hormat pada lelaki itu. Dan Waseda membalas hormatnya dengan membungkuk dalam-dalam pula.
“Saya doakan kalian bahagia….” Kata si Bungsu.
“Saya banyak mendengar tentang diri saudara. Saya ikut berutang budi atas pertolongan saudara Bungsu pada Hanako dan seluruh saudaranya…”
Suara Waseda terdengar jujur.
“Marilah kita ke rumah, sementara menunggu Kenji-san pulang…” suara Waseda terdengar lagi. Dan si Bungsu mengikuti langkah Waseda. Sementara Hanako masih memegang tangannya.
Di pintu si Bungsu tertegak. Memandang kearah kamar Kenji. Di sana dahulu Hanako diperkosa ketika dia dan Kenji tak dirumah. Dan di ruang tengah ini dia berkelahi dengan anggota Jakuza, menolong nyawa Kenji.
Hanako mengerti apa yang dipikirkan si Bungsu. gadis itu menangis lagi terisak. Rumah itu sudah jauh sekali berobah. Peralatannya sangat indah. Dan rumah itu sendiri tersusun dengan rapi.
Waseda ternyata lelaki yang benar benar berjiwa luhur. Dia sama sekali tak merasa cemburu atau sakit hati melihat Hanako tak mau lepas-lepasnya dari sisi si Bungsu. gadis itu nampaknya memang sangat merindukan si Bungsu. hanya si Bungsu yang merasa kikuk karenanya.
Dan ketika Kenji pulang, pertemuan itu benar-benar mengharukan.
“Engkau kurus sekarang Bungsu-san. Darimana saja engkau selama ini?”
“Ah, saya telah berkelana. Dimana engkau bekerja kini Kenji-san?”
“Saya di pelabuhan. Sebenarnya saya ingin bekerja di kapal kembali. Tapi saya tak ingin berpisah dengan adik-adik. Dengan modal yang engkau tinggalkan, ditambah oleh Waseda-san, saya mendirikan perusahaan perkapalan. Berkantor di pelabuhan. Saya senang engkau kembali Bungsu-san. Engkau tak usah kemana-mana lagi. Disini saja…”
Si Bungsu menarik nafas panjang.
“Saya senang dan berterimakasih atas tawaranmu Kenji-san. Tapi saya akan pulang ke Indonesia….” Si Bungsu menjawab perlahan.
Sudah tentu jawabannya ini mengagetkan mereka yang ada disana. Hanako mulai lagi menangis. Saat itu Waseda tak dirumah. Dia pergi ke kantornya.
Dan tak lama setelah itu, terdengar suara mobil berhenti di depan. Lalu ketika Hanako membuka pintu, Waseda muncul bersama ayahnya, Tokugawa.
Si Bungsu tertegak melihat kehadiran orang tua itu. Demikian pula Tokugawa. Dia diberi tahu anaknya atas kedatangaaan si Bungsu. Dan malam ini dia memerlukan datang menemuinya.
Si Bungsulah yang pertama membungkuk memberi hormat. Tokugawa membalasnya dengan membungkuk pula dalam-dalam.
Waseda maklum bahwa anak muda ini sangat disegani ayahnya.
Sebab ayahnya tak pernah berlaku demikian hormatnya pada orang lain. Keluarga Tokugawa memang memiliki kesombongan tersendiri. Bukan karena angkuh atas kekayaan atau garis keturunan yang melahirkan para pahlawan, tapi karena demikianlah sikap para samurai.
Kini dia melihat betapa ayahnya berlaku pada anak muda ini. Dan dari sana dia dapat mengetahui semakin banyak, bahwa anak muda ini pastilah telah banyak sekali berbuat dalam kehidupan ayahnya. Dia tak mengetahui dengan pasti apa yang telah dperbuat anak muda itu dalam kehidupan ayahnya. Tapi meski tak mengetahui, dia dapat merasakannya.
“Saya dengar engkau kembali nak…” suara Tokugawa terdengar perlahan sambil bersalaman.
“Ya, saya kembali…”
Tokugawa kemudian melangkah masuk. Mengambil tempat duduk di atas tikar. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja kecil. Duduk bersimpuh di lantai. Hanako menuangkan sake ke cawan kecil.
“Saya dengar engkau telah bertemu dengan orang yang engkau cari selama ini….’ Suara Tokugawa terdengar kembali setelah berdiam diri beberapa saat selesai meneguk sakenya.
“Ya, saya telah bertemu…’ jawab si Bungsu perlahan. Dia khawatir kalau soal itu ditanyakan lebih lanjut oleh Tokugawa. Tapi orang tua yang arif itu ternyata hanya bertanya sampai disitu.
“Waseda anak saya, dia menikah dengan Hanako enam bulan yang lalu…”
Si Bungsu jadi gugup. Dia dapat menangkap bahwa dalam kalimat Tokugawa itu, orang tua tersebut arif akan perasaan Hanako terhadap dirinya.
Tokugawa mengetahui bahwa gadis itu mencintai si Bungsu, dan demikian pula sebaliknya. Dan kalimatnya sebentar ini semacama permintaan maaf. Namun si Bungsu harus mengakui secara jujur, bahwa dia sangat terharu atas tindakan Tokugawa.
Orang tua itu jelas ingin melindungi Hanako dan saudara-saudaranya sepanjang hidup. Tindakannya menyetujui pernikahan anaknya dengan Hanako ini semacam tindakan menebus hutangnya.
“Saya sangat berterimakasih dan bahagia sekali tuan mau menikahkan anak tuan dengan adik saya…” katanya perlahan.
“Terimakasih…Bungsu-san…” suara Waseda terdengar sambil membungkukkan badan.
Dan malam itu mereka berbincang tentang hal-hal lain. Tentang kota Tokyo. Tentang tentara Amerika yang makin banyak di Jepang. Tentang berbagai hal.
Tapi tiga hari kemudian mereka harus berpisah. Si Bungsu sudah bertekad untuk pulang ke Indonesia. Dan ketika niatnya tak bisa ditawar lagi, Tokugawa lalu membelikannya tiket pesawat udara.
Dia akan pulang ke Indonesia lewat Singapura dengan kapal terbang.
Di pelabuhan udara Haneda, ketika panggilan untuk penompang sudah terdengar melalui pengeras suara, Hanako kembali menangis.
Yang lain tegak agak jauh. Hanako memeluk si Bungsu.
“Bungsu-san, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Jawablah untuk kali yang terakhir….apakah engkau mencintaiku…? Hanako berbisik diantara isak tangisnya.
Si Bungsu jadi kaget. Apa yang harus dia jawab? Kalau dia katakan TIDAK, apakah itu takkan melukai hati gadis ini? Kalau dikatakan YA, apakah itu masih ada artinya?
Namun bagaimana dia akan mendustai suara hatinya? Dan dia tahu Hanako akan terluka kalau dia berkata tidak.
Akhirnya dia berkata perlahan.
“Ya…aku mencintaimu Hanako-san. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu..” Hanako berhenti menangis. Dia menatap wajah si Bungsu. dan dari bibirnya bergetar suaranya perlahan:
“Terimakasih Bungsu-san. Akan kubawa mati cintamu itu…”
“Hiduplah dan mengabdilah pada suamimu Hanako. Dia lelaki yang berbudi….”
“Terimakasih Bungsu-san. Setelah engkau pergi memang tak ada lelaki lain yang mengisi hatiku selain dia…”
Perlahan si Bungsu mencium kening Hanako.
“Bungsu-san…” suara Waseda terdengar. Si Bungsu menoleh.
“Kelak kalau anak kami lahir lelaki, kami akan memberinya nama si Bungsu. engkau izinkan bukan?”
Si Bungsu benar-benar terharu.
Lama baru dia menjawab.
“Terimakasih Waseda-san. Saya akan bangga sekali, kalau ada anak Jepang yang memakai nama saya, nama dari Minangkabau…”
Dan si Bungsu tak dapat menahan air matanya takkala dia harus bersalaman dengan Kenji. Dia teringat akan perkenalannya di kapal ketika bersama Kenji dahulu.
Kenji memeluknya dengan linangan air mata.
“Suatu saat, aku akan datang ke kampungmu Bungsu-san. Engkau adalah saudaraku. Saudara kami…”
Tak ada yang mampu diucapkan si Bungsu. semua kalimat tersekat dikerongkongannya.
Akhirnya dia melangkah menaiki tangga pesawat. Dan ketika dia menoleh, dia lihat Waseda, Hanako, Kenji dan Tokugawa melambai. Dia balas melambai. Dan ketika pesawat udara menggebu lepas landas. Hanako rubuh pingsan. Untung suaminya menyambut tubuhnya. Dan si Bungsu yang duduk ditengah, tak melihat kejadian itu.
Hari itu dia bertolak meninggalkan negeri Sakura. Meninggalkan negeri dendamnya. Meninggalkan negeri dimana hatinya juga seperti ikut tertinggal bersama Hanako dan Michiko!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: