Ke Dallas Menuntut Balas -bagian-475-476


Ke Dallas Menuntut Balas -bagian-475-476
mobil sedan
“Mari,kita pergi….”katanya sambil memegang tangan Angela.Gadis itu menurut,mereka keluar dari gudang kain yang besar itu.Mereka menaiki mobil Angela yang terletak satu blok dari gudang kain itu.Angela menghidupkan mesin mobil,kemudian menjalankan kearah Houston Road di sebelah kanan wilayah Centrum City itu.

Di belakang mereka keributan mulai terlihat.Asap mengepul ke udara,api ternyata melahap dengan rakus kain-kain di dalam toko tersebut.Angela menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran.
“Saya haus….”ujar gadis itu.

Si Bungsu mengikutinya turun.Mereka mengambil tempat duduk di lantai tiga di sebelah depan.Dari tempat itu mereka melihat di ujung sana mobil pemadam kebakaran menuju jalan yang diutara.ke toko tekstil yang terbakar itu,Angela menatap si Bungsu dengan tajam.lelaki di depannya ternyata lahar yang apa bila meledak amatlah berbahaya.

Dia semula menilai lelaki ini adalah lelaki yang ulet dan punya hati yang keras. Namun melihat apa yang dia perbuat,bagaimana cepatnya dia menyudahi nyawa ke tiga anggota klu klux klan,maka nilainya yang semula itu jauh tercecer.
Lelaki itu jauh dari sekedar apa yang dia duga.Belum pernah dia menemui dengan lelaki yang sependiam ini,tapi begitu tangguh dan berbahaya.Dia baru melihat kulitnya saja.Dia yakin masih banyak hal lain yang tersembunyi di balik wajahnya yang murung,di balik tatapan nya yang sayu.

“Kenapa mereka anda bunuh?”tanyanya setelah lama berdiam diri.
Si Bungsu tak segera menjawab.Dia yakin pasti perwira polisi ini akan bertanya hal itu.
“Kau akan menangkapku,kerana tuduhan pembunuhan?”si Bungsu balik bertanya,Angela menggeleng.
“Kenapa kau bunuh mereka?”
“Jika tidak mereka,maka aku yang mereka bunuh…”kata si Bungsu datar.

“Tapi mereka sudah tidak berdaya”
“Mereka memang harus ditumpas,sebelum mereka merenggut lebih banyak nyawa orang-orang kulit hitam..”
“Mengapa toko kain itu anda bakar?”
“Karena penghasilanya mereka pergunakan untuk membiayai kegiatan anti kulit hitam,membeli senjata…”
Angela kembali menatap si Bungsu,mencoba menyelami isi hatinya.Namun lelaki dari timur ini adalah lelaki yang penuh rahasia.
“Apakah engkau masih mau menjadi penunjuk jalanku dalam mencari pembunuh Tongky,Angel?”

Gadis itu menatapnya sesaat,lalu mengangguk sambil meminum jeruk manis di gelasnya,sementara matanya tetap menatap dalam-dalam pada si Bungsu.Si Bungsu tahu kalau dia di perhatikan oleh gadis itu.Namun dia berpura-pura tidak tahu,dia menghirup pula jeruk manis dingin di gelasnya.
“Apakah engkau biasa membunuh?”tiba-tiba gadis itu berkata lagi.Si Bungsu menatapnya,lalu mengangguk pelan tapi pasti.
“Sempat kau menghitung berapa jumlahnya?,Lima,enam atau tujuh orang yang sudah kau bunuh?”
“Kau akan terkejut mendengar jumlahnya,Angel…”
“Lebih dari sepuluh?”
“Lebih dari enam puluh….!ujarnya dengan pelan dan datar.

ANgela merasa tulang belulang nya menjadi dingin.Manusia macam apa yang dia hadapi ini?Lebih dari enam puluh nyawa telah dihabisinya,namun dia menyebut angka tersebut seperti menyebutkan angka-angka biasa.
“Kau dibayar untuk pekerjaan mu itu?”

Angela menyesal telah mengucapkan pertanyaan itu.Namun sudah terlanjur, dia siap menanti reaksi marah dari anak muda yang entah kenapa sejak dia melihatnya amat dia sukai itu.Namun anak muda didepannya itu tenang-tenang saja.Tak marah dan tak bereaksi sedikit pun,anak muda itu dengan tenang menghirup sisa minumannya.Menatap pada Angela dengan tenang. Angela memegang tangan si bungsu yang terletak di meja.

“Maaf…”
“Tak perlu minta maaf,saya memang dibayar untuk setiap pembunuhan yang saya lakukan..”
Angela merasa sesuatu menikam hatinya mendengar jawaban tersebut.
“Yang membayarnya saya sendiri.membayar dengan keselamatan saya.Banyak orang yang menginginkan keselamatan saya.Banyak orang menginginkan nyawa saya,sejak dulu.Jika tak ada jalan yang bisa saya tempuh lagi,maka saya akan membunuh mereka,sebelum mereka membunuh saya..”

Angela menarik nafas panjang,lega.Kalau begitu orang ini bukan pembunuh bayaran,pikirnya.Selain tak ada tampang pembunh bayaran dan dia juga berharap begitu adanya.
“Engkau tidak main-main dengan angka diatas enam puluh tadi bukan?”gadis itu seperti ingin memastikan pendengarannya tadi.Berharap anak muda ini berseloroh.Si Bungsu menarik napas panjang.

“Saya tidak tahu buat pembicaraan ini,Angela.Tapi engkau telah berbaik hati dengan menemaniku di kota yang ganas ini.Saya tidak pernah berbohong.apa lagi pada wanita yang saya hormati.Tidak,jumlah enam puluh itu bukanlah guyonan.Barangkali jumlahnya mendekati seratus.Saya telah benyak membunuh orang dari berbagai bangsa.Sebutlah Jepang,Belanda,India,melayu, Australia,cina bahkan bangsa saya sendiri…”

Angela mendengar dengan diam.Cerita lelaki ini,tentang pembunuhan yang dia lakukan adalah cerita yang luar biasa,yang rasanya mustahil terjadi.Namun perwira kota Dallas itu sedikitpun tak ragu,bahwa yang dicerikan lelaki ini tidaklah bohong sedikitpun.!
“Masih berminat menemani saya mencari jejak pembunuh Tongky…”
“Kita berangkat sekarang..”ujar Angela atas pertanyaan tersebut.

Namun,sesaat setelah Angela berkata demikian,si Bungsu memegang tangannya yang terletaj diatas meja.Sentuhan itu membuat angela mengurungkan niatnya untuk berdiri.Dia menatap si Bungsu.
“Jangan menoleh kemana-mana.Saya merasa ada orang memperhatikan kita, saya tidak tahu dimana.Namun perasaan saya mengatakan hal itu,Barangkali Dia akan mengikuti kita.berbuat sajalah seolah-olah tidak mengetahui apa-apa…”Angela menarik nafas,mengangguk.Kemudian mereka sama-sama berdiri lalu membaya minuman,lalu berjalan keluar.Angela menjalankan mobilnya, lewat spion dia melihat sebuah mobil Jaguar merah di belakangnya membututi “Mereka memakai mobil merah…”katanya.Si Bungsu tidak menoleh,dia sudah tahu.Angela melarikan mobilnya perlahan saja ditengah lalu lintas yang ramai dijalan 5 st.Venus itu.

“Berapa orang di mobil itu?”Angela kembali melihat spion dan menghitung.
“Empat orang,Dua didepan dua dibelakang..”
Angela melarikan mobilnya ke Country City.Kendaraan dibelakang tetap mengikuti.Ketika mereka mulai memasuki daerah yang jarang pemukimannya, sebuah tembakan terdengar.kaca belakang mobil Angela hancur di tembus peluru,tembus sampai kekaca depan.hanya seinci dari sambing telinga si Bungsu.

“Mereka mulai…”kata si Bungsu tanpa menoleh kebelakang.
Angela segera menekan pedal gas.si Bungsu tetap berdiam diri,sebuah letusan kembali bergema.Namun pelurunya tidak mengenai mereka maupun mobil yang mereka naiki.
“Di dalam tas itu ada pistol,kalau kau berniat menghalangi mereka,ambil dan pergunakanlah sebelum mereka mendahului kita..”ujar Angela sambil mendahului sebuah truk didepannya.

Namun si Bungsu tetap berdiam diri.mobil merah itu kelihatan lagi lewat kaca spion.Angela membelok tajam kekiri kesebuah gereja Anglikan.hanya selang berapa lama,mobil merah itu kembali menyusul.Jalanan yang mereka tembuh sekarang kini sepi sekali.karena tempat ini adalah pemukiman daerah selatan kota ini.Kembali terdengar dua kali letusan dari belakang.Agela membelokan mobilnya kekanan.Masuk kesebuah jalan kecil yang kiri kanannya di penuhi rumpun bunga yang rimbun.

“Anda tidak berminat mengahalngi mereka?”tanya Angela dengan jengkel melihat si bungsu diam-diam saja ditempat duduknya.
“Tidak.Saya ingin melihat bagaimana polisi Dallas menghindar dari orang yang berniat membunuh mereka,tanpa balas membunuh orang yang akan membunuhnya…”

Angela tahu dia disindir.Dia menggertakan gigi,membelok dengan tajam kekiri menimbulkan bunyi ban yang berdenyit yang tajam ketika roda-roda mobilnya mencekam miring diaspal.
“Yang akan dibunuhnya anda,bukan saya”seru Angela matanya mempehatikan spion,melihat mobil merah itu yang terus memburu diluar jarak tembakan. Untung saja mereka berdua memakai sabuk pengaman,hingga tubuh mereka tidak tersentak kebelakang atau terdorong kedepan mengikuti laju mobil itu.

‘”Kau sangka,kau tidak akan di bunuh?kau akan jadi saksi jika mereka jika aku dibunuh,maka mereka akan membunuh saksinya.Mereka tidak pernah meniggalkan jejak”kata si bungsu.
Angela tidak sempat menjawab,karena didepannya melintas seorang tua berjalan kaki menyebrangi jalan ke padang rumput dikanannya.Mau tak mau dia terpaksa membanting stir.Mobil melompati parit kecil kemudian melaju diatas lapangan rumput tersebut.

Mobil merah itu turut memburu mereka dengan ikut pula melompati parit kecil itu.Beberapa orang tua yang berjalan di padang rumput menatap dengan heran dan menggerutu dengan peristiwa tak lazim itu.
Angela kembali menyetir mobilnya kejalan raya,kemudian berbelok-belok tak menentu dalam jalan-jalan di daerah pemukiman tersebut.

“Berapa harga mobilmu ini?”tanya si Bunggsu sambil matanya untuk pertama kali melirik kebelakang,kemobil merah itu.
“Dua ribu lima ratus Dollar,kenapa?”
“Mobil yang di belakangmu?”
“Lima ribu dollar…”
Si Bungsu diam.Dia memutuskan untuk memakai pistol Angela saja.Dia ambil tas tangan gadis itu,membukanya dan mengambil pistol didalamnya.

“Kau bisa mencari tempat yang tepat untuk menjebak mereka?”
“Saya usahakan..”jawab Angela sambil berbelok tiba-tiba kekanan.Kemudian memutar dua kali.Angela menekan gas kuat-kuat.Dengan terkejut si Bungsu melihat betapa mobil sedan yang mereka tumpangi tiba-tiba berbalik menuju kemobil sedan merah yang memburu mereka.
“Tembak!tembak mereka!”teriak yang menyetir.

Namun mobil angela melaju dengan berzigzag dengan kecepatan tinggi.sopir mobil merah itu kaget dan pucat.Dia membanting stir kekiri untuk menghindari tabrakan.Namun justru dia menabrak pohon pinus!
Sebuah ledakan yang kuat terdengar cukup kuat,sesaat kemudian api menjilat. Angela tidak membuang waktu untuk melarikan kendaraannya pulang.

“Kau berhasil meneik mbak mereka..”ujar angela.si Bungsu menarik napas panjang.Ketika Angela melirik kepadanya,si Bungsu melirik kebawah kedekat kakinya.
“Kau melarikan mobil seperti setan mabuk.Pistol itu tercampak ketika mobil berzigzag.saya tak sempat menebak sekalipun,jangan kan menembak menggenggam pistol itu saja aku tidak sempat..”Angela mengerutkan kening,karena dia mendengar suara letusan saat mobil mereka berendengan.
“Suara letusan tadi?”

“Letusan orang itu sendiri.Barangkali tembakannya meleset.dan sopirnya karena takut atau terkejut justru menabrak pohon itu…”
Angela tersenyum dan mengebutkan mobilnya kearah kota.Menjelang masuk kota mereka memasuki pemukiman rumah bertingkat dan mereka masuk kesana.
“Kita mampir dan istirahat dan memperbaiki kaca mobil ini..”kata gadis itu.

Si Bungsu memang tidak mempunyai pilihan.mobil di hentikan disebuah garase dibawah bagian gedung.Angela turun dan langsung menuju ketelpon yang ada disana.menelepon sesaat,kemudian mengajak si Bungsu naik lewat tangga berputar.Meraka memasuki sebuah ruang tamu yang karpetnya berwarna biru muda.

“Ini flatku,aku tinggal sendiri.kamar itu bisa kau pakai,memang kamar khusus untuk tamu.Saya akan mandi dan setelah itu akan membuatkan minum.Di kamar itu ada handuk,kau bisa mandi dan istirahat disana.kalau minumannya sudah siap nanti akan ku panggil…..”
Sambil berkata begitu,Angela membuka pakaiannya,sekaligus masuk kekamarnya.Si Bungsu hanya termangu-mangu menatap punggung gadis itu yang putih bersih.

Tak lama kemudian si Bungsu mendengar dari pintu yang terbuka nyanyian Angela di sela-sela suara desiran air mandi.Dia memutuskan untuk masuk kekamar yang tadi ditunjukan angela.membaringkan tubuhnya istirahat, ditempat tidur yang empuk dan menerawang,dan tanpa dapat dia cegah matanya terpejam,tidur!

Dalam tidurnya bayangan angela mendekatinya dan mennciumnya,dan menekanya dan dia membalas memeluk,balas mencium.Terasa gadis itu tidak memakai apa-apa di balok kimononya.Terasa hasrat kelelakiannya amat mendesak.Dan tiba-tiba dia tersentak dari khayalan yang memabukan itu.Dan begitu membuka mata,dia melihat Angela diatas tubuhnya.Wajahnya dekat sekali dan terasa lembut.Gadis itu mendaratkan sebuah ciuman yang memabukan dibibirnya.Ciuman itu lama sekali,makin lama makin panas.

“Aku akan mandi…”ujar si Bungsu,ketika dia merasa ciuman itu akan berakibat jauh.
Angela tersenyum dan turun dari tubuh si Bungsu sambil menutup kimono tipis yang dia pakai.Si bungsu turun dari pembaringan,membuka baju dan mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.Di Sana dia membuka celana.
Angela menyiapkan minuman di ruang tamu,ketika dia muncul diruang tamu itu,Angela sudah berpakaian rapi.Menyiapkan makan sore dan mereka makan dengan diam.

“Jika engkau tidak keberatan,dari pada membuang ongkos di hotel.lebih baik pindah saja kekamar itu saja.Saya tak susah-susah menjemput dan mengantar mu kehotel…”Angela berkata setelah mereka selesai makan.
Si Bungsu tidak langsung menjawab.Tawaran itu bukannya tidak menarik,di flat angela ini pasti dirinya terurus,makan tak susah-susah.Tapi tidakkah ini akan berakibat lain?Berada serumah dengan seorang gadis,betapapun juga punya ‘resiko’.Misalnya seperti yang terjadi tadi.

Bagi orang Dallas tentu hidup serumah tanpa ikatan resmi,tentu hal yang lumrah sekali.dan bagi dirinya sendiri pun tidak ada masalah.Namun persoalan akan timbul kemudian.apakah dia sudah siap menerima akibatnya itu?dia menghirup minumannya dengan tenang,memakan sepotong roti.wajahnya tak bereaksi apa-apa.Namun pikiran nya mempertimbangkan segala kemungkinan.
“Apakah malam ini kita akan pergi mencari jejak pembunuh teman mu itu?” “Jika engkau tidak keberatan….”
“Baik,kita harus masuk kesarangnya,sebuah tempat perjudian…”

Si Bungsu menatap Angela.Tempat perjudian!si Bungsu teringat buku tentang klu klux klan yang dia baca di perpustakaan.Bagaimana orang-orang klu klux klan ini mendapatkan dana.Yaitu dari beberapa donatur yang mengusahakan rumah perjudian.Dan dia pun teringat akan kemahirannya berjudi.
“Saya ingin sekali melihat tempat perjudian itu..”ujarnya pelan.
Angela tentu tidak dapat menebak dibalik ucapan si Bungsu yang pelan itu.

“Nampaknya untuk masuk kesana,kau harus berpakaian yang pantas..”yang bangkit menuju telpon.
Dia memutar nomor,kemudian berbicara.Nampaknya dia berbicara pada toko yang terletak satu blok dari sana.Toko yang memang melayani keperluan orang-orang di flat itu.tak lama kemudian pintu diketuk,seorang wanita pelayan toko itu datang mengantarkan satu set pakaian dan Angela membayarnya.
“Kau boleh coba,semoga sesuai….”

SI BUngsu memang merasa sudah harus berganti pakaian.Pakainnya sudah di basahi keringat ketika mereka di kejar-kejar tadi.Dia berdir dan mengambil pakaian yang dipesan tadi.Masukke kamar dan pas!terdiri dari celana berbahan woll dan kemeja panjang dan sepatunya masih baru tak perlu diganti.

“Terikasih,anda bisa menebak kuran tubuhku..”katanya setelah berada diluar kembali.Kemudian mereka turun,dan sampai di garase kaca mobil yang kena terjang peluru tadi telah di ganti.Angela mengarahkan mobilnya kearah Centrum city.Saat itu hari sudah jam delapan malam.Kota sudah dari tadi bermandikan cahaya gemerlap lampu.
“Untuk menhilangkan kecurigaan,kita harus ikut berjudi untuk beberapa saat. nanti saya akan menunjukan mana orang-orang klu klux klan…”ujar Angela.
“Tidak apa-apa polisi berjudi..”tanya si Bungsu.
“Ini bahagian dari tugas…”jawab Angela.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: