tikam samurai-bagian-356-357-358


Tawanan-tawanan mereka biarkan tetap terikat di kapal. Mereka naik ke Jeep. Dan dalam waktu dekat Jeep itu  Jeepmeluncur lagi ke Markas mereka. Donald hapal benar jalan mana yang harus mereka tempuh menuju markas agar tak bertemu dengan orang banyak.
Di markas mereka segera saja menelpon Polisi Singapura. Melaporkan tentang ditemukannya sarang penyelundupan wanita di Pulau Pesek. Mereka memberikan detail dari penangkapan. Dimana polisi bisa menemui enam orang anggota sindikat itu yang terikat di kapal. Dan menyertakan beberapa dokumentasi. Ketika polisi menanyakan siapa yang melaporkan, Tongky yang menelpon meletakkan teleponnya.
“Nah, Letnan. Kini anda pegang komando. Apa lagi yang akan kita lakukan?” Donald berkata pada si bungsu yang sejak tadi duduk menatap pada Kapten Fabian yang masih belum sadar.
“Sebaiknya kita tukar pakaian dulu. Kemudian mengantar Kapten Fabian ke rumah sakit..”
“Ya. Ya. Saya rasa itu jalan terbaik yang harus kita ambil saat ini…” Miguel berkata. Dan mereka semua lantas bertukar pakaian. Kembali memakai pakaian sipil seperti sebelum mereka berangkat sore kemarin.
Sebuah taksi yang lewat mereka stop. Kemudian mereka menelpon Ambulan. Kapten Fabian dibawa dengan ambulans. Sementara mereka naik taksi. Yang berada di Ambulans adalah si Bungsu, Donald dan Tongky.
Dalam Ambulan itulah Kapten Fabian mulai sadar. Dia melihat keliling. Terpandang pada Donald, Tongky dan si Bungsu.

“Bagaimana….?” Suaranya bertanya perlahan. Si Bungsu memegang tangan Kapten itu.
“Mereka kita ringkus semua, Kapten….” Lalu dia menceritakan secara singkat pertempuran di pelabuhan pulau Pesek itu setelah si Kapten rubuh kena tembak. Dia menceritakan tentang Fred Williamson yang mati dan Jhonson yang kena tembak. Lalu menceritakan pula tentang pemberitahuan kepada polisi Singapura tentang sindikat tersebut.
Kapten Fabian menarik nafas.
“Terimakasih Bungsu. anda telah menyelamatkan pasukan kami. Kalau anda tak mencegah kami menyebrang kemaren di rawa itu, maka korban pasti akan lebih banyak. Mungkin semua kita sudah mati.
“Itu tugas saya Kapten. Bukankah saya adalah bagian dari pasukan anda?”
Kapten Fabian menggenggam tangan si Bungsu.
“Betapapun jua, terimakasih, kawan. Anda sangat layak menjadi seorang anggota Baret Hijau. Kami bangga anda berada satu pasukan dengan kami..”
“Terimakasih. Saya benar-benar mendapat kehormatan memakai Baret Hijau itu…”
Kapten Fabian memejamkan mata. Nyata dia masih lelah akibat terlalu banyak kehilangan darah. Kalau saja pertempuran itu berjalan lebih lama lagi, dan pertolongan terlambat sedikit saja diberikan padanya, maka nyawanya tak tertolong.
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan…” bisik Kapten Fabian perlahan.
“Ini mengenai Letnan robert. Saya tak mungkin bisa menyertai jenazahnya ke Australia. Saya ingin engkau mengiringkan jenazah itu bersama donald kesana…’ Kapten Fabian berhenti, mengatur nafasnya yang sesak.
Si Bungsu kaget mendengar permintaan ini. Namun dia tetap berdiam diri. Donald dan Tongky juga diam mendengarkannya. Kapten itu membuka matanya kembali.
“Pergilah. Dia punya seorang ibu dan seorang tunangan. Sedianya dia akan menikah akhir bulan ini. Dia butuh sedikit uang untuk perongkosan pernikahannya. Uang itu telah kami dapatkan. Sayang dia keburu mati. Engkaulah menggantikan diri saya menyampaikan hal ini pada ibunya, pada tunagannya…”
Kapten itu berhenti lagi bicara, Donald, Tongky dan si Bungsu bertukar pandang.
“Jangan menolak Bungsu. Tongky dan Donald akan mengatur perjalanan ini. Engkau dan Donald bawakan pula uang untuk pernikahan itu. Serahkan pada ibunya separoh, pada tunagannya separoh…’
“Tongky…’
“Saya Kapten…”
“Jika Bungsu sudah siap, urus perjalanannya dengan Donald dan pengiriman jenazah Robert, jika bisa besok atau lusa…’
“Saya akan menyiapkannya, Kapten…”
“Bungsu…”
“Saya, Kapten…”
“Saya tidak memaksamu untuk ikut terus bergabung dengan kami dalam pasukan veteran ini. Tapi untuk mengantarkan jenazah Robert, kumintakan benar bantuanmu…”
Tak ada alasan bagi si Bungsu untuk menolaknya. Dia ingat bahwa Robert mati karena menyelamatkan nyawanya. Kalau saja tidak didorong oleh Robert hingga dia jatuh di jalan di depan hotelnya dulu, maka dirinyalah yang kena sasaran peluru otomatik itu. Bukan Letnan Robert. Sudah sepantasnya dia mengiringkan jenazah Robert dan menyampaikan duka pada keluarganya.
“Saya mendapat kehormatan untuk mengiringkan jenazahnya ke Australia, Kapten…” dia berkata perlahan.
Kapten itu menarik nafas lega. Benar-benar lega.
“Letnan, setelah engkau kembali dari Australia, engkau bisa langsung ke Jakarta. Kemudian ke kampungmu. Atau kemana saja engkau suka. Jika engkau mau ke Singapura ini, bergabung dengan kami, maka kami benar-benar mendapat kehormatan atas hal itu. Kami yakin, banyak tugas besar yang bisa kita selesaikan jika engkau berada dalam pasukan kami. Kita akan menghantam kaum penghianat, penculik, penipu dan bandit-bandit di seluruh dunia. Kami punya rencana ke Amerika setelah ini.
Namun jika engkau tak lagi kembali pada kami, kami mengaturkan banyak terimakasih atas bantuanmu. Jika engkau memerlukan bantuan kami, dimanapun engkau berada, dan bilapun saatnya, selagi kami masih hidup, meski agak seseorang, kami akan datang membantu. Kirim saja telegram. Meski diujung dunia sekalipun, kami akan datang membantu. Alamat kami di eropah, di Amerika, di Afrika, di Singapura ini, dapat kau terima dari donald. Kami akan merasa bahagia kalau engkau mengirimkabar pada kami…”
Si Bungsu menunduk. Diam. Perkenalannya dengan bekas pasukan Baret Hijau Inggris yang tersohor ini benar-benar luar biasa baginya.


One response to “tikam samurai-bagian-356-357-358

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: