tikam samurai-bagian-273-274-275-276


Si Bungsu tak berkata. Tak ada kata yang mampu dia ucapkan. Dia ingin memeluk perempuan itu selamanya. Ingin Si Bungsu memeluknyauntuk tak melepaskannya. Tapi pada saat yang sama dia mengutuk dirinya. Mengutuk ketidak jujuran pada temannya. Alangkah akan aibnya kalau Nurdin tahu peristiwa ini.
Namun itulah hal hal yang tak terhindarkan. Barangkali memang bukan dosa mereka. Mereka memang tak hendak menyengaja kejadian ini. Nasib jua yang membuat dan memaksa mereka demikian.
“Udaaa….kenapa kita harus bertemu dalam keadaan begini…”
“Tenanglah Salma…tenanglah….”
“Oh Tuhan. Engkau masih memakai cincin yang kuberikan dahulu. Aku juga masih memakai cincin yang engkau berikan sesaat sebelum engkau pergi meninggalkan rumahku di Panorama Bukittinggi dahulu….”
Si Bungsu tak menjawab. Perlahan dia renggangkan pelukannya dari tubuh Salma. Menatap wajah perempuan itu. Salma memejamkan matanya. Tak berani dia menatap wajah si Bungsu. Perlahan, si Bungsu mengusap matanya yang basah. Pipinya yang basah. Namun itu justru menambah luluh hati Salma.
“Ayahmu adakah sehat-sehat Salma?”
Salma mengangguk.
“Demikian juga kakak-kakakmu?”
Salma mengangguk.

Dan akhirnya mereka melangkah ke kamar tengah. Di meja, pembantu telah menyiapkan sarapan pagi. Mereka duduk berhadapan . bertatapan. Dan si Bungsu merasa betapa makin tak mungkin dia tinggal di rumah ini lebih lama.
Salma juga merasakan hal yang sama. Dia telah coba melenyapkan kenangannya terhadap si Bungsu selama ini. Sebagai seorang isteri dia adalah isteri yang baik. Tak sekali juga dia bertengkar dengan suaminya. Mereka sama-sama pandai menenggang perasaan.
Dan kemaren serta hari ini, sejak bertemu kembali dengan si Bungsu, hati Salma sebenarnya tak tergoyahkan. Dia tetap seorang isteri yang setia dan mencintai suami dan anaknya. Tapi salahkah dia, kalau dia tak dapat melenyapkan sama sekali kenangan masa lalunya dengan pemuda yang pertama dia cintai?
Mereka sarapan dengan diam. Sesekali mereka bertatapan. Salma melihat, betapa pemuda dihadapannya itu kini telah berobah banyak sekali.
Pemuda itu bukan lagi seorang “Pemuda”. Dia telah berobah jadi seorang lelaki. Wajahnya tetap murung dan matanya tetap bersinar lembut seperti dahulu. Namun gurat pada wajahnya yang murung itu, terlihat keteguhan dan keperkasaan seorang lelaki perkasa. Lelaki dihadapannya ini, seperti gunung Merapi di kampungnya. Yang tegak diam tapi keras.
Dan pikiran Salma melayang pada masa lalu. Pada saat dia merawat si Bungsu yang luka setelah disiksa Jepang dalam terowongan bawah tanah yang tersohor itu.
Berhari-hari, baik ketika ayahnya Kari Basa ada dirumah atau tidak, dia merawat si Bungsu dengan telaten. Menyendokkan bubur ke bibirnya yang pecah-pecah dihantam pukulan Kempetai. Mengganti balut dan obat dari luka-luka disekujur tubuh si Bungsu yang disayat Kempetai dengan Samurai.
Merawat jari-jarinya yang patah. Dipatahkan dengan kakak tua oleh Jepang dalam rangka memaksa anak muda itu agar mau membuka rahasia dimana markas pejuang-pejuang Indonesia yang melawan Jepang. Jika menggantikan bajunya, untuk bisa duduk, anak muda itu berpegang ke bahunya. Dia juga memegang bahu si Bungsu dan mendudukkannya perlahan.
Dan setelah anak muda itu sembuh, dia menolongnya kembali berlatih mempergunakan samurai dengan melempar-lemparkan putik jambu perawas yang tumbuh dibelakang rumahnya di bilangan Panorama. Dan ketika si Bungsu latihan itulah, ada sesuatu yang amat berkesan dan membahagiakan dirinya terjadi.
Waktu itu si Bungsu meminta Salma tegak dalam jarak lima depa. Di dekat gadis itu ada panci yang penuh oleh putik jambu perawas yang baru dipetik si Bungsu. si Bungsu memintanya untuk melempar putik perawas itu.
Salma bersiap. Si Bungsu tegak pula bersiap. Tangannya terkepal. Yang kiri memegang samurai. Dia nampaknya coba melemaskan otot tangannya yang sudah lama sekali tak mempergunakan samurai. Dan saat itulah Salma berteriak: Awas!
Seiring dengan teriakan peringatannya ini, tangan Salma terayun. Dua buah putik perawas terbang bergantian ke arah si Bungsu. si Bungsu agak terkejut. Tangan kanannya cepat menyambar samurai disebelah kiri. Namun sebelum samurai itu sempat dia tarik, kedua putik perawas itu telah menghantam tubuhnya.
Salma jadi kaget. Anak muda itu terlalu lamban.
“Udaa! Kenapa….?” Tanyanya sambil mendekat pada si Bungsu. si Bungsu hanya menggelang. Salma tegak disisinya.
“Kenapa. Tangan uda sakit lagi?” tanyanya sambil memegang tangan kanan anak muda itu dengan lembut. Si Bungsu tambah menunduk. Menarik nafas panjang. Kemudian menatap pada Salma yang tegak hanya sehasta di sisinya.
“Ya, terasa sakit. Tapi tidak hanya tangan. Tubuh saya juga terasa lumpuh…” katanya perlahan. Salma jadi pucat.
“Kenapa….?” Tanyanya perlahan sambil menatap si Bungsu dengan cemas.
“Karena matamu….” Jawab si Bungsu. Salma terbelalak.
“Ya. Saya jadi lumpuh karena engkau tatap bergitu Salma…” jawab si Bungsu perlahan. Tiba-tiba Salma tertunduk. Hatinya berdebar kencang. Kakinya menggaris-garis tanah. Dadanya gemuruh. Mukanya merona merah. Namun perlahan matanya jadi basah. Pipinya juga basah. Si Bungsu kini yang jadi kaget.
“Salma? Saya menyakiti hatimu…?” tanyanya gugup.
Salma tetap menunduk. Kakinya tetap menggaris-garis tanah. Lalu dia menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Uda mempermainkan saya….” Jawabnya sambil coba mencuri pandang pada si Bungsu. Gadis itu sebenarnya amat bahagia atas kata-kata si Bungsu tadi. Bukankah pernyataan si Bungsu bahwa dirinya jadi lumpuh karena tatapan matanya sebagai suatu pernyataan rasa hatinya yang terpikat pada Salma? Ah, meski anak muda itu tak menyatakannya terus terang, namun dia dapat merasakan. Bukankah cinta itu tak perlu diucapkan dengan kata-kata?
Bukankah yang lebih indah itu adalah pernyataan yang disampaikan secara isyarat dan sindiran? Ah, siapa yang tak tahu di Minang ini tentang Kias. Dan sungguh mati, Salma sangat bahagia saat itu. Namun pada saat yang sama dia juga merasa sedih. Sebab bukankah ketikadia merawat si Bungsu, ketika anak muda itu mengigau dalam tidurnya, berkali-kali dia menyebut nama Mei-Mei? Siapa gadis itu, pikirnya. Itulah yang selalu menghantui hati Salma. Di hati si Bungsu ada gadis lain yang sampai dibawanya ke dalam mimpi. Dan gadis itu, jika menilik namanya, pastilah gadis Cina.
Dan kali ini si Bungsulah yang kaget karena dituduh Salma mempermainkannya.
“Mempermainkan….?” Tanyanya sambil mengerutkan kening. “Sungguh mati, saya berkata sebenarnya Salma. Saya jadi lumpuh dan gugup melihat sinar matamu Salma….tapi, maafkanlah saya kalau ucapan saya tadi menyinggung perasaanmu….”
Salma mengangkat kepala. Kemudian tersenyum. Mereka bertatapan. Perlahan si Bungsu menghapus airmata di pipi gadis itu. Salma amat bahagia.
“Tidak marah?” bisik si Bungsu. Salma menggeleng. Kemudian senyumnya mekar lagi. Si Bungsu menarik nafas. Lalu balas tersenyum. Kemudian Salma berjalan kembali ketempatnya tadi tegak. Tegak dalam jarak lima depa dari si Bungsu. dia mengambil putik perawas dari dalam baskom disisinya.
Mereka bertatapan. Lama. Kemudian sama-sama tersenyum.
“Siaaap….?” Suara Salma bergema.
Dia telah bersiap dengan dua buah putik perawas di tangannya.
“Ya, tapi jangan sihir dengan matamu. Tangan saya bisa tak bergerak….” Si Bungsu bergurau. Salma tersenyum lagi. Lalu tanpa peringatan dia melemparkan kedua putik perawas di tangannya. Dan anak muda itu kaget lagi. Tangannya bergerak ke samurai. Yang satu berhasil dia babat. Belah dua. Tapi yang satu lagi mengenai pipinya.
“Hei, engkau mencido…!” teriak si Bungsu. Salma tersenyum. Dan tanpa dia sadari, kinipun ketika berhadapan di meja makan di Singapura ini, Salma juga tersenyum mengingat masa lalu yang alangkah indahnya itu. Bibirnya tersenyum, namun matanya basah.
Si Bungsu yang duduk di depannya, jadi heran atas senyum Salma.
“Ada sesuatu yang lucu…?” tanyanya perlahan. Salma menggeleng.
“Saya teringat masa lalu….” Keluhnya. Si Bungsu tak berani menanyakan masa lalu yang mana yang teringat nyonya rumah ini.
“Ingat ketika di Bukittinggi?” si Bungsu mendesak sambil menghirup kopi di cangkirnya. Salma mengangguk.
“Ketika Uda meminta saya melempar Uda dengan putik perawas….” Salma mengingatkan lagi. Si Bungsu jadi tak sedap hati. Kalau dia perturutkan cerita ini, maka bisa bisa luka hatinya akan bertambah meroyak. Tapi bagaimana dia harus menyuruh nyonya ini berhenti ngomong? Sebagai seorang tamu, tak sedap juga bila tak melayani bicara tuan rumah bukan?
Dan karena alasan itulah, si Bungsu kembali mengangguk. Tapi Salma tak melanjutkan ceritanya. Mereka lebih banyak berdiam diri. Situasi yang alangkah jauhnya berbeda dibanding mereka berpisah dahulu membuat pembicaraan mereka jadi kaku. Tak tahu apa yang harus dimulai.
Satu hal yang pasti adalah: kerinduan. Siapa pun diantara mereka tak dapat mengelak kenyataan bahwa mereka saling merindukan. Salma meskipun dia seorang wanita yang telah bersuami dan mempunyai puteri, namun sebagaimana hanya setiap wanita, dia tetap saja tak mampu menolak kodrat bahwa dia tak mampu melupakamn lelaki pertama yang menyentuh hatinya. Yang menyentuh tubuhnya.
Betapapun setia dan berbaktinya seorang wanita pada suaminya, namun jika suaminya itu bukan cintanya yang pertama, maka jejak cinta itu berbekas jauh di dasar hatinya.
Hanya saja barangkali karena kodratnya pada setiap wanita pandai menyimpan rahasia. Demikian juga halnya dengan Salma. Dia mencintai suaminya. Mencintai anaknya. Dan dia telah membuktikan bahwa dia telah mengabdikan dirinya dengan segenap hati dan cintanya pada suaminya. Tapi, kini….ah!
Si Bungsu merasa tak betah berada di rumah besar itu tanpa Nurdin. Dia menjadi serba salah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Dan itulah yang dia lakukan. Salma menatap kepergiannya dari balik tirai jendela.
Si Bungsu menolak ketika Salma menyuruh sopir mengantarkannya dengan mobil.
“Tidak, saya ingin jalan kaki. Rasanya amat penat tidur seharian ini….” Katanya menolak tawaran Salma. Dan kini anak muda itu melangkah di jalan dalam taman rumah itu menuju ke jalan raya. Salma menatap punggungnya. Alangkah jauhnya berbeda.
Dahulu ketika anak muda ini meninggalkan rumahnya di Bukittinggi untuk menuju Pekanbaru keadaannya tak seperti sekarang. Dahulu dia hanya membawa sebuah buntal. Tapi yang jauh berbeda adalah pakaiannya.
Anak muda dari gunung Sago ini dahulu memakai baju gunting Cina dengan pentalon lusuh dan selop jepit dari kulit. Sehelai kain sarung melintang dari bahu kanan ke pinggang kiri. Kini dia kelihatan berpakaian necis. Bersepatu dan berbaju kemeja dari kain sutera berlengan panjang.
Dia telah berobah, dari seorang pendekar klasik menjadi seorang lelaki yang hidup di kota besar.
Masih cintakah Salma dengannya?
Tak ada yang bisa menjawab. Bahkan Salma sendiri tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan kata putus. Namun ada perasaan lain yang barangkali bisa jadi jawaban.
Salma kini membandingkan diri anak muda itu dengan kehidupannya. Kehidupan para Diplomat. Sudah tentu sangat jauh bedanya. Dia hidup sebagai seorang pejabat tinggi. Dan dia mencintai suami dan anaknya. Dan selain mencintai, dia juga hidup bahagia. Kini dia jumpa dengan si Bungsu. alangkah jauhnya berbeda sisi tempat mereka berpijak kini. Seperti langit dan bumi. Dan dia jadi kasihan pada si Bungsu. kasihan pada lelaki yang pernah dia cintai itu.
Nah, jawabannya apakah dia masih mencintai si Bungsu atau tidak, kini jadi jelas. Dia hanya kasihan! Salahkah dia? Ah tidak. Tak ada yang salah. Bukankah setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri? Dan siapapun wanitanya, barangkali akan menempuh jalan seperti yang di tempuh nyonya Atase Militer ini. Ah, perempuan.
***000***
Dan barangkali firasat halus jua yang membisikkan pada si Bungsu, agar dia segera meninggalkan rumah sahabatnya itu. Hanya tiga hari dia tinggal di sana. Dan hari ketiga itu, sore harinya, ketika dia dibawa oleh Nurdin melihat pelabuhan, dia lalu menceritakan, bahwa dia sebenarnya telah mengenal Salma sebelum ini.
Dia berharap Nurdin jadi kaget. Namun justru dialah yang kaget.
Nurdin hanya menatap padanya sebentar. Namun air mukanya tak berobah. Mereka tengah duduk di sebuah restoran di daerah pelabuhan. Daerah Anting yang selalu ramai oleh kapal-kapal yang datang dari Indonesia.
“Saya mengenalnya ketika saya di Bukittinggi….” Kata si Bungsu menyambung ketika temannya itu tetap diam.
Nurdin masih tetap tenang.
“Dan saya tidak hanya sekedar mengenalnya Nurdin…” si Bungsu jadi merasa tak sedap karena Nurdin diam saja.
“Ya. Saya tahu. Kalian pernah saling mencintai bukan?”
Kalau saja ada petir, si Bungsu barangkali takkan sekaget ini.
Dia menatap tak percaya pada Nurdin.
“Saya mengetahuinya Bungsu…”
“Dari Salma…?”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: