Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 430-431


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 430
si bungsu
“Ya…”
“Yang pernah ke Jepang dan berasal dari Situjuh Ladang Laweh?”
Si Bungsu heran dan menatap tentara itu. Darimana orang ini tahu siapa dirinya? “Bapak tahu nama saya dari mana?”
“Panggil saya Syafrizal saja. Saya tahu banyak tentang Sanak. Saya dengar dari Fauzi, ponakan saya..”
“Fauzi, anggota RPKAD itu..?”
“Ya, dia keponakan saya. Kami semua di Jakarta. Saat baru pulang dari bertugas di daerah ini, dia bercerita banyak tentang situasi di sini. Termasuk tentang Sanak. Apalagi kemudian saya ditugaskan menggantikan peleton yang dia pimpin di daerah ini. Kenalkan, ini Arif, teman saya..” ujar kapten itu memperkenalkan temannya yang sama-sama datang dengan dia, yang berpangkat sersan mayor.

Mereka lalu duduk di ruang tamu rumah sakit itu. Tiba-tiba si Bungsu dikejutkan oleh pertanyaan kapten Syafrizal.
“Sudah dapat kabar tentang Michiko?
“Beb…belum” jawabnya gugup dan berdebar.Kapten Syafrizal menceritakan bahwa setelah penyergapan di Lembah Anai itu Michiko ditemukan malam hari di atas sebuah batu besar, dalam keadaan terluka dan tak sadar diri. Karena ceita tentang si Bungsu yang “sahabat” PRRI maupun “sahabat” APRI sudah tersebar luas, maka kisah dia dicari gadis Jepang cantik bernama Michiko juga ikut tersebar luas. Itu sebab anggota PRRI yang menemukannya segera mengenali gadis Jepang yang luka itu adalah kekasih si Bungsu, dan mereka merasa berkewajiban menolongnya.

Atas perintah seorang perwira pasukan PRRI Michiko lalu dibawa dengan tandu ke barak rahasia PRRI di pinggang Gunung Singgalang, untuk diselamatkan. Barak rahasia itu dibuat untuk menerima suplay senjata dari Amerika, yang sering mengirim persenjataan dengan helikopter dari salah satu tempat di Laut Cina Selatan, atau mungkin dari Singapura. Bersamaan dengan sampainya mereka di barak tersembunyi tersebut, APRI yang telah mencium keberadaan barak rahasia PRRI itu sebagai salah satu tempat menunggu suplay senjata dari Amerika, menyerang tempat tersebut. Perwira PRRI itu meminta tolong kepada pilot helikopter Amerika bernama Tomas untuk membawa Michiko yang terluka ke Singapura.

Pilot itu semula menolak, tapi karena Michiko sudag dinaikkan ke heli, dan serangan APRI makin menjepit, heli itu berangkat dengan membawa Michiko.
Si Bungsu termenung mendengar penuturan Komisaris Polisi Syafrizal tersebut.
“Dari siapa cerita ini Sanak peroleh?” tanya si Bungsu perlahan.
“Kendati PRRI dan tentara Pusat berperang, namun sejak awal APRI memiliki kontak-kontak khusus dengan beberapa perwira PRRI.

Perang saudara ini sama-sama tidak dikehendaki. Baik oleh PRRI maupun tentara Pusat. Cuma sudah kadung terlanjur, kami dengar kabarnya sudah ada usulan kepada Presiden Soekarno untuk secepatnya mengeluarkan amnesti bagi anggota PRRI yang meletakkan senjata. Nah, informasi ini saya peroleh dari sumber-sumber itu. Dari orang-orang yang merasa Sanak adalah sahabat mereka, disampaikan kepada tentara APRI yang juga merasa Sanak adalah sahabat mereka pula..”
“Terimakasih atas informasi yang sanak sampaikan..” ujar si Bungsu perlahan.
“Sanak sahabat kami dan semua pihak, karenanya kami senang bisa membantu..”
“Terimakasih..” ujar si Bungsu, masih dalam nada perlahan dengan tatapan mata menerawang ke hamparan sawah di depan rumah sakit tersebut.
“Saya juga mendapat informasi bahwa Sanak akan ke Bukittinggi, menemui Overste Nurdin yang mertuanya mati tertembak di Bukittinggi..”

Si Bungsu menatap kapten itu. Tak cukup banyak orang yang tahu maksud kepergiannya bersama Michiko ke Bukittinggi, kini kapten ini ternyata telah mengetahuinya.
“Selain sahabat semua orang, Sanak juga orang penting bagi kami maupun PRRI. Karena itu jangan kaget kalau kemanapun Sanak akan ada yang secara diam-diam mengikuti. Mungkin diikuti secara beranting. Samasekali tidak bermaksud mencampuri urusan Sanak, tapi semata-mata menjaga keselamatan Sanak. Baik tentara Pusat maupun orang-orang PRRI amat rugi kalau terjadi malapetaka terhadap Sanak. Kembali ke pokok persoalan, jika akan ke Bukittinggi saya juga akan ke sana. Kami membawa jip. Kabarnya Overste Nurdin dan isterinya sudah akan berangkat kemaren ke Padang untuk kembali ke India melalui Jakarta. Tapi karena pencegatan di Lembah Anai itu mereka mengundurkan keberangkatannya, mungkin dalam sehari dua ini. Saya mendapat tugas mengamankan perjalanan suami isteri Atase Militer Indonesia di India itu sampai ke Jakarta..”

Tidak ada pilihan terbaik bagi si Bungsu, selain menuruti ajakan kapten RPKAD itu ke Bukittinggi bersamanya. Namun tengah dia bersiap-siap, orang yang akan dikunjunginya tersebut justru tiba di rumah sakit itu. Overste Nurdin lalu membawa si Bungsu pindah ke rumah dimana dia menginap, yaitu di Mes Perwira di kota itu. Nurdin juga mengajak Kapten Syafrizal dan Sersan Arif ke mes tersebut. Mereka lalu terlibat pembicaraan penuh keakraban.
“Baru kemarin sore saya mendapat kabar bahwa engkau berada dalam konvoi yang dicegat di Lembah Anai itu. Saya juga mendapat

informasi tentang Michiko seperti yang dituturkan Kapten Syafrizal..” ujar Overste Nurdin.
“Kami doakan Uda segera bertemu dengan Michiko..” ujar Salma yang sejak tadi hanya berdiam diri, menyela pembicaraan perlahan.
“Melalui telegram saya sudah kontak teman di Konsulat Singapura, termasuk teman-temanmu bekas pasukan Green Baret di sana untuk mencari informasi. Mereka mengatakan bahwa helikopter pembawa senjata gelap itu memang dari salah satu tempat di Singapura. Tapi, maaf, pilot yang bernama Thomas veteran Angkatan Udara Amerika itu kembali ke kota tempat tinggalnya, di Dallas Amerika. Dan, sekali lagi maaf, dia membawa Michiko yang sakit untuk diobat di sana..”
Salma memperhatikan lelaki yang pernah amat dia cintai itu. Si Bungsu terdiam. Dia teringat pembicaraannya dengan Michiko di Padang, beberapa hari sebelum berangkat ke Bukittinggi.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 431
si bungsu
Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu. Engkau tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “
Michiko menatapnya, kemudian berdiri. Lalu menghambur ke dalam pelukkannya. Gadis itu menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi. Lalu berkata di antara tangisnya.
“Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”

Kini, bagaimana dia akan meminta Nurdin dan Salma melamar gadis itu untuknya? Dia seperti menelan sesuatu yang teramat pahit di hatinya. Namun dia berharap gadis itu sembuh dari luka yang dia derita, diselamatkan Tuhan nyawanya. Paling tidak itulah harapannya yang tersisa. Untuk bertemu, masih adakah harapannya? Dallas, Amerika, entah di ujung dunia mana letak negeri itu. Namun, diam-diam jauh di lubuk hatinya dia menanam niat untuk datang ke negeri di ujung dunia itu. Diam-diam niat itu dia tanam jauh di lubuk hatinya. Dallas, akau akan datang, bisiknya!

Pesawat yang ditompangi si Bungsu baru saja mendarat di lapangan Paya Lebar, Singapura. Dia berjalan kaki ke bagian Douane. Tak banyak yang dia bawa. Hanya sebuah tas berisi empat atau lima stel pakaian, kemudian sebuah tongkat kayu. Tas tangan itu dia jinjing, jadi dia tak usah menunggu lama untuk bisa keluar. Dalam perjalanan menuju tempat keluar, sebuah pesawat LKM milik Belanda dia lihat mendarat pula di ujung landasan.

Melihat pesawat dari Belanda itu dia segera teringat pada situasi Indonesia yang baru saja dia tinggalkan. Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya atas nama rakyat Indonesia menuntut dikembalikannya Irian Barat ke tangan Indonesia. Beberapa benturan kecil telah terjadi di sekitar Irian antara pasukan Indonesia dengan pasukan Belanda. Belanda tetap bersikeras mempertahankan Irian di bawah kekuasaannya.

Tak lama setelah pesawat itu berhenti, kelihatan turis-turis Belanda turun. Pakaian mereka beraneka warna. Lelaki perempuan. Ada firasat aneh yang tiba-tiba saja menyelusup di hati si Bungsu, melihat turis-turis tersebut turun dari pesawat KLM. Dia tak segera keluar dari tempat pemeriksaan. Ada beberapa saat dia menanti. Sampai akhirnya turis-turis itu juga masuk ke ruangan nya. Ketika itulah seorang lelaki menepuk bahunya. Dia menoleh, dan…….

“Fabian…!” serunya sambil bangkit dan segera saja kedua lelaki itu berangkulan.
“Hai, kau kelihatan kurus, Letnan..” ujar mantan kapten Baret Hijau itu sambil mengucek-ngucek rambut di kepala si Bungsu.
“Masih kau ingat dia…?” berkata begitu si Kapten menunjuk seorang Negro bertubuh atletis.
“Tongky…!!” seru si Bungsu begitu mengenali lelaki itu.
“Letnan Bungsu..!” seru tongky si negro. Mereka segera saling peluk. Si Bungsu terharu, mendengar kedua bekas pasukan Baret Hijau dari Inggris ini masih memanggilnya dengan sebutan letnan. Pangkat itu memang pernah “diberikan” padanya, ketika mereka akan berperang melawan sindikat penjualan wanita di Singapura ini beberapa tahun yang lalu. Semacam pangkat tituler, sebab kemahirannya ternyata melebihi kemahiran rata-rata anggota baret hijau itu dalam hal bela diri.
“ Mana teman-teman yang lain?”
“ Mereka mempersiapkan perjalan kita.
“Nanti kita akan berkumpul di rumahku. Hei… Sejak tadi engkau memperhatikan turis-turis itu..” bisik kapten Fabian ketika menyebut kalimat terakhir ini.

Si Bungsu kagum juga, ternyata kawannya ini mengetahui apa yang dia perhatikan.
“Saya ingin tahu dimana mereka menginap, Kapten…” Katanya pelan
“Itu mudah diatur…”
“Juga hal-hal lain yang dirasa perlu tentang identitas mereka..”
“Mudah diatur, Tongki akan menyelesaikannya…”

Si Bungsu segera ingat pada teman negronya yang bernama Tongki itu. Seorang ahli menyamar dan menyusup yang nyaris tak ada duanya. Tongki mengerdipkan mata. Kemudian si Bungsu meninggalkan lapangan udara Paya Lebar itu bersama Fabian. Meninggalkan Tongki disana. Mencari informasi tentang turis-turis tersebut. Mereka nenuju sebuah mobil Cadilac besar berwarna hitam metalik.
“Mobilmu Kapten?”
“Yap.”
“Kau kaya sekarang”
“Bukan aku, tapi ayahku. Dua tahun yang lalu ayahku meninggal di Inggris. Dia tak punya ahliwaris selain aku dan ibuku. Kini ibuku ada disini. Kau bisa bertemu nanti. Ayahku meninggalkan harta tak tanggung-tanggung. Barang kali dia dulu korupsi…”
Si Bungsu menatap heran.

“Ah tidak, ayahku seorang bangsawan”.
Kapten itu tersenyum, menjalankan mobilnya keluar areal pelabuhan. Mereka meluncur di jalan raya.
“Turis yang kau curigai tadi, apakah mereka dari Belanda?” Fabian bertanya sambil menyetir mobil.
“Ya. Nampaknya mereka dari Belanda. Saya mendengar bahasa yang mereka gunakan..”
“Kau hawatir bahwa mereka sebenarnya akan menuju Irian Barat?”

Si Bungsu menoleh pada kawannya itu. Dia hanya menduga semulanya. Apakah kapten ini mengetahui lebih jauh?
“Saya mengikuti berita-berita yang terjadi di negerimu, Bungsu. Saya punya bisnis di Singapura ini. Dan salah satu negeri terdekat, salah satu negeri dimana ekonomi Singapura terkait, adalah negerimu. Saya mengikuti setiap yang terjadi di sana. Dan kami bukannya tak tahu, saat ini banyak sukarelawan Indonesia yang telah diterjunkan di daratan Irian. Sukarelawan yang tak lain daripada pasukan-pasukan komando. Saya tak bersimpati dengan pemimpin negaramu, Bungsu. Terlalu dekat dengan komunis. Saya hanya simpati denganmu. Saya juga pernah mendengar bahwa ada pasukan-pasukan organik Belanda yang telah diselusupkan ke Irian. Dan.. mana tahu, karena tak dapat mengirim pasukan secara terang-terangan, mereka justru memakai jalur turis, bukan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: