Tag Archives: pariaman

Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 16)


Parang Pariaman (bagian 16)giring giring perak
Dari punggung kudanya Giring-Giring Perak melihat banyak sekali mayat penduduk Pariaman bergelimpangan. Perang menjadi sangat tidak berimbang ketika penduduk bersenjata parang, tombak, panah, kelewang atau keris berhadapan dengan peluruh senapan dan peluru meriam.“Kesaktian” para pesilat seperti diredam oleh terkaman peluru. Tiba-tiba dia menghentikan kudanya. Melihat ke arah pantai. Di sana sebuah kapal Inggeris yang cukup besar tenggelam. Yang kelihatan muncul dari laut hanya bahagian kamar komando dan tiang bendera. Pada tiang bendera itu masih terikat bendera Inggeris yang melambai lemah ditiup angin pagi. Lanjutkan membaca

Iklan

Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 15)


Parang Pariaman (bagian 15)kapal kerajaan Inggeris
Dengan tenang Nabi menatap orang itu. Karena dia belum juga menjawab, orang itu membentak dan menanyakan pertanyaan yang sama sekali lagi. Dengan tenang Muhammad pun menjawab.
“Tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanku, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa…..”Dan turunlah keajaiban mengiringi ucapan Muhammad itu. Quraisy itu menggeletar tubuhnya. Pedangnya dia lemparkan. Dia berlutut di depan Nabi.
“Engkau orang mulia Muhammad. Sejak hari ini saya memeluk agama yang engkau peluk. Asyhadualla-ila ha illallah, wa Asyhaduanna Muhammadarrasulullah…..” orang itu mengucap syahadat dengan air mata berlinang. Dan Islamlah dia. Lanjutkan membaca


Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 9)


Parang Pariaman (bagian 9)syekh
Anak muda itu menangis menyesali dirinya. Dan Fachturahman meninggal di sana. Sejak saat itu, anak muda itu tak mau beranjak dari Ulakan.
Dia memohon bekerja menjadi budak untuk menebus dosanya. Tapi tak seorangpun di antara murid dan pimpinan Ulakan yang menyalahkannya. Dia diterima secara wajar. Sebagai seorang murid yang sama hak dan derajatnya dengan murid-murid yang lain.

Dan anak muda itulah yang dari tahun ke tahun selalu tegak paling depan kalau ada orang yang mengganggu Ulakan atau Sunua. Karena saleh dan taatnya, karena setia dan budinya, penduduk memberinya gelar Sidi. Orang yang patut dimuliakan. Nah, anak-anak, itulah cerita tentang diri Sidi Marhaban. Guru kalian yang hari ini dibunuh Inggeris.” Syekh itu mengakhiri ceritanya. Lanjutkan membaca


%d blogger menyukai ini: