Tag Archives: Harimau Tambun Tulang

Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 16)


Parang Pariaman (bagian 16)giring giring perak
Dari punggung kudanya Giring-Giring Perak melihat banyak sekali mayat penduduk Pariaman bergelimpangan. Perang menjadi sangat tidak berimbang ketika penduduk bersenjata parang, tombak, panah, kelewang atau keris berhadapan dengan peluruh senapan dan peluru meriam.“Kesaktian” para pesilat seperti diredam oleh terkaman peluru. Tiba-tiba dia menghentikan kudanya. Melihat ke arah pantai. Di sana sebuah kapal Inggeris yang cukup besar tenggelam. Yang kelihatan muncul dari laut hanya bahagian kamar komando dan tiang bendera. Pada tiang bendera itu masih terikat bendera Inggeris yang melambai lemah ditiup angin pagi. Lanjutkan membaca

Iklan

Giring-Giring Perak Episode Silek Harimau Tambun Tulang


Episode Silek Harimau Tambun Tulangcakar Pandeka
Siti Nilam sudah menangis melihat penderitaan anak muda itu.Pandeka Sangek mengumpulkan juga tenaga batin nya,menyalurkan ke kakinya yang linu dan lumpuh.Mereka tetap saling pandang,kemudian terdengar suara anak muda itu perlahan:”Silat Harimau saudara sangat sempurna…Saya benar-benar mendapat pelajaran berharga…”Pandeka Sangek tersenyum.Dia mengagumi anak muda itu.Dia yakin pujian itu bukan sekedar basa-basi,tapi suatu kejujuran.

“Tenaga dalammu juga sangat ampuh Giring-Giring Perak,saya sampai tidak bisa beranjak setelah engkau pukul…”Dia juga berkata jujur.”Ah..tendanganmu justru menghancurkan belikat saya,dan membuat luka dalam yang bisa merenggut nyawa…”Pandeka Sangek tertawa bergumam.”Kalau saja orang lain,yang kepandaiannya cukup tinggi yang kena serangan ku tadi saya jamin mati hanya karena tendangan itu,saya yakin akan hal itu…”

Lanjutkan membaca


Giring-Giring Perak episode – Kisah Duka Giring Giring Perak


episode – Kisah Duka Giring Giring Perakair terjun batang anai
Rombongan Datuk Sipasan bersorak gembira. Mereka ramai-ramai mendekati anak muda itu. Dan ketika mereka tegak mengelilinginya, baru jelas bagi mereka, betapa masih mudanya dia.
Paling-paling baru berumur 24 tahun. Bertubuh agak kurus. Semampai dan tampan serta berkulit kuning bersih. Tak ada tanda-tanda bahwa dia seorang pesilat, apalagi memiliki ilmu tinggi yang sanggup mengalahkan murid Harimau Tambun Tulang.
Datuk Sipasan maju ke depan.

“Terima kasih anak muda. Engkau telah menyelematkan nyawa kami semua. Tak tahu bagaimana cara membalas budi yang telah kami terima ini. Hanya Tuhan yang akan membalasnya….”
“Tak usah dipikirkan hal itu. Apakah tak lebih baik menguburkan teman-teman yang meninggal?”
Semuanya jadi sadar. Dan mereka lalu ramai-ramai menggali lubang besar. Ada sembilan orang yang meninggal. Dan semua mereka dikuburkan dalam sebuah lobang bersamaan.

Ketika mereka selesai menguburkan mayat-mayat itu, hari telah senja.
“Tak jauh dari sini, ada air terjun di batang Anai. Lanjutkan membaca


%d blogger menyukai ini: