tikam samurai -bagian-351-352-353-354-355


Dan saat itu, orang Itali itu tengah membidik ke arah salah seorang anggota Baret Hijau. Namun orang Itali ini menodong mereka dari belakangnampaknya punya firasat yang tajam juga. Dia seperti merasa ada orang dekatnya. Dia menoleh ke kiri. Kosong. Ke kanan. Kosong. Namun hatinya tetap tak sedap. Dia melihat ke belakang. Dan darahnya seperti berhenti mengalir. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Di belakangnya, entah kapan datangnya, entah darimana asal muasalnya, telah berdiri saja seorang anggota Baret Hijau. Dan orang yang membuat dia kaget itu tak lain dan tak bukan daripada si Bungsu.
Namun Itali ini segera jadi lega. Sebab ditangan orang itu tak tergenggam sepucuk senjata apapun. Ditangannya hanya ada sebuah tongkat kecil. Dia segera berbalik sambil menembakkan bedilnya setinggi pinggang ke arah si Bungsu.
Tapi bedilnya tak pernah menyalak. Tangannya yang memegang bedil itu terasa lumpuh. Sakit dan pedih bukan main. Dan ketika menoleh, dilihatnya tangan kanannya telah putus!
Dia hampir tak percaya. Namun si Bungsu juga tak memberi kesempatan pada orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson itu untuk percaya. Samurai ditangannya segera melibas lagi. Dan mata samurai itu menyelusup antara dagu dan pangkal leher si Itali.
Darah segera menyembur dari luka yang menganga membelah jakun orang itu. Tubuhnya mengelupur-gelupur, mati seperti babi disembelih. Dan ketika si Bungsu menoleh ke dermaga, pertempuran telah selesai. Semua anggota sindikat yang ada di dermaga itu, kecuali satu orang mati semua.

Ya, kecuali satu orang. Yang satu orang ini adalah orang Cina. Dan dia belum mati. Dia belum mati karena berlindung dibalik tubuh seorang gadis Indonesia. Ditangannya cina itu memegang sebuah pistol. Pistol itu lopnya ditekankan rapat-rapat ke pelipis gadis Indonesia itu. Sementara tangan kirinya memiting leher gadis itu dari belakang dengan kuat.
Jangan menembak! Kalau kalian menembak, gadis ini kubunuh. Gadis ini kupecahkan kepalanya…!” Cina itu menggertak. Ketiga pasukan Baret Hijau disekitar dermaga itu tertegun. Si Bungsu juga tertegun. Subuh tiba-tiba datang menguak malam yang gulita. Cahaya subuh yang kemerah-merahan. Dermaga itu sendiri telah berkuah darah.
Dengan si Bungsu, maka pasukan Baret Hijau di sekitar dermaga itu hanya tinggal empat orang. Jumlah mereka semua sembilan orang, dua orang yaitu Donald dan Miguel menjaga tawanan dekat rawa. Fred Williamson gugur. Jhonson dan Kapten Fabian juga tertembak.
Cina berperut gendut bertubuh gemuk itu mulai menyeret gadis yang dia jadikan tameng itu ke ujung dermaga. Ke arah kapal! Dia bergerak mundur dengan gadis itu di depannya.
Keempat anggota Baret Hijau itu tertegun di tempat mereka masing-masing.
Di dermaga, ada sekitar tiga orang gadis yang barangkali mati terkena peluru nyasar.
Apakah akan ditambah lagi dengan kematian gadis yang dijadikan tameng itu?
Ditempatnya tegak, si Bungsu menoleh ke tempat Sony. Anggota Baret Hijau dari yang berasal dari Inggris dan ahli menembak dan ahli bahan-bahan peledak itu juga tengah memandang pada si Bungsu.
Setelah kematian Kapten Fabian, maka komando kini dipegang oleh “Letnan” itu. Dia memang ahli menembak tepat. Tapi menembak Cina itu dari jarak sejauh ini, dengan mulut pistol yang ditekankan rapat ke pelipis gadis itu, Sony jadi khawatir juga. Makanya dia menoleh ke arah si Bungsu meminta pendapat.
Si Bungsu mengangguk. Dan isyarat itu sudah cukup bagi Sony. Isyarat itu adalah perintah untuk menembak. Sudah tentu dia berusaha melumpuhkan Cina itu tanpa membuat gadis yang disanderanya jadi cidera. Tapi kalaupun akhirnya gadis itu cidera, maka dia takkan dipersalahkan. Sebab perintah langsung dari pimpinan pasukan.
Anak Inggris yang masih muda itu perlahan mengangkat bedilnya. Sepucuk Jenggel semi otomatik. Dia membidik. Dari tempatnya tegak, Cina yang tengah mundur itu kelihatan tubuhnya sedikit dibalik tubuh gadis yang dia jadikan sandera itu.
Cina itu nampaknya salah seorang dari pimpinan sindikat penyelundupan ini. Dan ia cukup cerdik. Dia tetap melindungkan dirinya rapat-rapat ke tubuh gadis itu. Demikian pula kepalanya dia letakkan rapat-rapat di belakang kepala si gadis. Dengan demikian dia memunahkan kemungkinan untuk kena tembak.
Sony juga menyadari betapa sulitnya membidik sasaran bergerak dan dalam posisi terlindung begitu. Namun dia sudah dikenal sebagai penembak jitu yang jarang tandingannya dalam pasukannya dan salah satu modal untuk bisa menembak jitu adalah ketenangan dan kesabaran yang luar biasa.
Tangan kirinya yang menopang laras Jengger itu seperti dipakukan. Tak bergerak sedikitpun. Telunjuk kanannya rapat menempel di pelatuk bedil itu. Popor bedil itu menekan bahunya dan menempel rapat dipipi kanannya. Mata kirinya terpicing. Dan dia bernafas lewat mulut dalam jarak waktu yang teratur. Sistim pernafasan begitu membuat dadanya tak begitu berombak ketika bernafas.
Dan dengan demikian, tubuhnya juga tak banyak bergoyang jika dibandingkan dengan kalau dia bernafas lewat hidung seperti biasa.
Cina gemuk itu akhirnya sampai ke tepi dermaga. Nah, dia nampaknya menemui kesulitan. Untuk masuk ke kapal, dia harus menuruni sebuah anak tangga.
Sony membidik. Yang dia bidik bukan kepala atau bagian tubuh yang lain. Yang dia bidik justru siku kanan lelaki itu. Siku kananya menyembur keluar. Hal itu disebabkan karena tangan kanannya memegang pistol yang ujungnya ditekankan ke pelipis gadis itu.
Kalau saja dia bisa menembak dengan tepat, maka telunjuk kanan Cina itu pasti takkan mampu menarik pelatuk karena sikunya remuk. Urat pengatur gerakkan jari berada pada siku dan lipatan siku. Kalau siku itu bisa dia remukkan, maka urat-urat jari itu otomatis lumpuh. Pistol ditangan lelaki itu akan jatuh dengan sendirinya.
Cina itu mundur, setapak kaki kanannya turun ke bawah anak tangga di bawah dermaga. Dan saat itulah letusan bergegar dari loop senjata Sony. Terdengar pekik gebalau dari dermaga. Perempuan itu memekik. Cina itu juga memekik.
Persis seperti perhitungan Sony. Dia berhasil menembak dua jari dari siku Cina itu. Sikunya remuk. Dan menghancurkan sistim kerja seluruh jari kanannya. Pistolnya jatuh tanpa meledak. Dalam takut dan rasa sakit yang luar biasa, dia coba menarik gadis Indonesia itu dengan tangan kirinya. Namun sebuah lagi tembakkan bergegar. Dan siku kiri Cina itu hancur pula dimakan peluru Sony.
Cina itu meraung dan terjatuh ke belakang. Untung jatuhnya ke dalam kapal dan menimpa tubuh anak buahnya yang tadi telah mati ketika akan menembak Kapten Fabian, tapi didahului oleh pasukan Kapten itu.
Gadis itu sendiri jatuh tertelungkup. Separoh tubuhnya sudah menjulur ke bawah dermaga. Namun dia berusaha menggapai ke atas. Tongky, si Negro yang berada tak jauh dari salah satu tepi dermaga segera melompat dan berlari menolong gadis itu. Untung dia datang tepat pada waktunya. Gadis itu hampir tercebur ke bawah, ketika tangannya yang menggapai disaat terakhir disambar oleh Tongky.
Ada beberapa saat tubuhnya terayun di awang-awang. Baru Tongky bisa mengangkatnya keatas dengan sebuah tarikan kuat. Gadis itu menangis. Dan rubuh ke dalam pelukan Tongky. Dia jatuh pingsan.
Sony masih tetap tegak. Jenggel mautnya tetap pada posisi siap tembak seperti tadi. Ujung bedilnya kini dia arahkan ke kapal.
Cina gemuk yang memimpin sindikat penyelundupan wanita-wanita di Asia Tenggara itu tergolek kesakitan di lantai kapal. Mulutnya menyumpah-nyumpah. Kemudian perlahan dia bangkit.
Merangkak. Tapi rubuh lagi, kedua tangannya tak lagi bisa dipakai. Dengan menyumpah dan bercarut marut, dia bangkit. Dan saat itu pula, ketika dia tengah tegak, bedil Sony menyalak lagi. Senapan semi otomatik itu memuntahkan empat peluru berturut-turut dalam jarak dua detik-dua detik.
Tubuh Cina gemuk itu seperti ditendang-tendang gergasi. Terpental-pental. Dan ketika akhirnya tubuh gemuknya itu kecebur ke laut, kepalanya telah rengkah berserak-serak. Lalu sepi. Perlahan Sony menurunkan bedilnya. Menoleh lagi pada si Bungsu. “Letnan” itu tersenyum dan mengangkat jempol. Sony membalas senyumnya dan melambai.
Mereka berjalan ke arah tubuh Kapten Fabian yang tertelungkup mandi darah.
“Tongky, ambil tubuh Jhonson di bawah…!” si Bungsu berkata.
“Siap, Let!”
Mereka melangkah ke dermaga. Tapi langkah mereka terhenti ketika dari belakang terdengar derap sepatu. Ketika mereka menoleh, kelihatan Miguel dan Donald menggiring keenam tawanannya yang mereka tinggalkan di pinggir rawa tadi.
Dua orang diantara tawanan itu menggotong tubuh Fred Williamson. Rupanya Donald dan Miguel mendengar tembakan-tembakan pertempuran. Mereka segera menyuruh tawanan itu bangkit. Lalu menggiring mereka ke arah markas. Ketika Donald masuk, dia terkejut melihat mayat Fred terlantar. Dari mulut temannya itu mengalir darah segar.
Dari markas itu terdengar suara tembakkan dua kali. Suara tembakan itu adalah suara tembakan Sony yang menghantam siku Cina gemuk yang menyandera gadis Indonesia itu. Mereka memerintahkan dua orang diantara tawanan itu untuk menggotong mayat Fred. Dan dengan menodong mereka dari belakang, kedua anggota Baret Hijau itu membawa tawanan tersebut ke dermaga.
Mayat Fred dan mayat Jhonson segera di baringkan di dermaga. Ketika tubuh Kapten Fabian akan diangkat, terdengar keluhan lemah.
“Dia masih hidup!” si Bungsu berseru. Semua anggota Baret Hijau itu berlarian ke arahnya. Kecuali Miguel yang tetap menodong para tawanannya yang menelungkup di tanah.
Kapten Fabian ternyata memang masih bernafas. Meski denyut jantungnya sudah melemah, tapi dia masih hidup. Itu yang penting.
“Bob, lekas….!” Donald memanggil temannya Bob Hansen orang Irlandia yang ahli dalam obat-obatan.
Sersan itu segera membuka ransel kecil di punggungnya, mengeluarkan obat-obatan.
Donald dengan hati-hati merobek baju Kapten itu tentang luka dipunggungnya. Ada dua peluru bersarang di pundak Kapten Itu. Untung yang kena adalah pundak belakang bahagian kanan. Kalau bahagian kiri, Kapten itu takkan tertolong lagi.
Bob Hansen mencuci luka di bahu Kapten itu dengan cairan steril dari botol kecil di dalam ranselnya. Kemudian kelihatan lubang peluru di pundak Kapten itu dua buah sebesar ibu jari.
“Pelurunya tertahan oleh tulang belikat. Kita memerlukan pisau yang tajam untuk operasi..” Bob Hansen berkata.
Semua anggota pasukan itu segera saja menoleh pada si Bungsu. memandang pada samurai ditangannya.
“Ya, saya memiliki pisau yang tajam…” si Bungsu yang jongkok di dekat mereka berkata.
Dan tiba-tiba saja tangan kanannya mengulurkan sebuah samurai kecil. Tak seorangpun melihat darimana Letnan itu mengambil samurai yang panjangnya sekitar sejengkal itu.
Tak ada diantara mereka yang tahu bahwa ada enam samurai semua yang tersimpan dibalik lengan baju loreng si Bungsu. dan sebentar ini ketika Bob Hansen mengatakan memerlukan sebuah pisau tajam, dia menggoyangkan tangan kanannya. Salah satu samurai kecil dilengannya itu meluncur turun. Disambut oleh telapak tangannya.
Bob Hansen yang tak sempat heran karena pikirannya tercurah ke luka Kapten Fabian menerima samurai itu. Baru ketika samurai itu berada ditangannya, dia menatap pisau itu dengan heran.
Dia raba matanya. Dengan kaget dia merasakan betapa kulit ibu jarinya dimakan samurai itu. Bukan main tajamnya. Padahal dia hanya menggeser sedikit saja untuk merasakan apakah pisau itu tajam atau tidak. Tajam dan sangat runcing.
Dia menatap pada si Bungsu. si Bungsu mengangguk memberi isyarat agar cepat mengeluarkan peluru di dalam daging Kapten Fabian. Bob Hansen segera mencuci samurai itu dengan cairan steril yang tadi dia pergunakan untuk mencuci luka Kapten itu.
Kemudian dia menyuruh teman-temannya memegang tangan dan tubuh Kapten itu.
Lalu dia mulai membelah kedua luka itu. Memperbesar lobangnya. Dan dengan sebuah jepitan kecil, dia mengeluarkan kedua peluru itu. Memberikan kedua ujung peluru itu kepada si Bungsu. kemudian kembali membersihkan luka tersebut. Dari salah satu botol kecil dia mengeluarkan spiritus. Menyiramkannya ke luka yang menganga. Lalu tangannya merogoh kantong.
“ini akan sangat sakit. Tapi peganglah kuat-kuat. Hanya ini cara yang tercepat untuk menghindarkan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Lukanya akan kita bakar..”
Mereka kemudian memegangi tubuh Kapten itu bersama-sama. Bob Hansen menyulut korek api, melekatkannya ke luka. Spiritus itu menyambar api. Dan terdengar Kapten itu mengerang. Bau daging terbakar tercium hangit. Si Bungsu memperhatikan dengan seksama cara pengobatan militer ini.
Begitu api padam. Sersan itu mengelurakan perban dan semacam obat penempel. Membalut luka itu dengan seksama.
Dan selesailah sudah!
Si Bungsu lalu memerintahkan anak buahnya masuk ke kapal. Tawanan-tawanan diikat satu dengan yang lain. Di kapal mereka ditempatkan didepan sekali. Diikatkan ke tempat putaran sauh. Mayat Fred Williamson dan Jhonson atas persepakatan bersama dikubur dipulau Pesek itu.
Bagi anggota pasukan Baret Hijau itu tak susah untuk menjalankan kapal tersebut. Dalam cahaya pagi yang cerah mereka meninggalkan pulau. Meninggalkan mayat-mayat anggota sindikat itu bergelimpangan di pulau tersebut.
Satu jam berlayar, mereka memasuki lagi sungai kecil dimana malam kemaren mereka meninggalkan Jeep.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: