tikam samurai-bagian-341-342-343-344-345


Kedua orang itu semula hanya melihat bayangan gelap. Dan bagi Tongky maupun Donald hal begini mereka menyebrang rawa tikam samuraimaklumi sangat sebagai suatu bahaya. Kalau saja sempat salah seorang diantara orang yang mereka sekap ini berteriak, maka tamatlah riwayat penyergapan mereka. Mungkin mereka masih akan bisa memenangkan pertarungan. Tapi korban akan berjatuhan. Sedangkan mereka tak ingin seorangpun korban yang jatuh di pihak mereka.
Dan yang lebih penting lagi, kalau sampai terdengar tembakan, maka kapal yang sedang membongkar muatan berupa perempuan-perempuan itu pasti akan melarikan diri.
Mengingat bahaya ini, Tongky segera menerkam lawannya yang orang Cina itu.
Dan Donald menerkam lawannya yang orang Melayu. Cara mereka memang cara khas pasukan komando. Terlatih, cepat dan mematikan. Dan yang lebih penting, tak menimbulkan suara!
Tongky menyergap lawannya dengan pisau komando. Sergapannya dibuat sedemikian rupa. Sehingga ujung pisau komando itu menerkam jantung Cina tersebut bersamaan dengan tangan kirinya yang menyekap mulut Cina itu.
Cina itu kaget separoh mampus. Bukan hanya separoh mampus, tapi dia kaget sampai mampus. Mula-mula tubuhnya akan berkelonjotan seperti tubuh Keling yang dipancung kepalanya itu. Tapi Tongky menekan tubuhnya rapat ke tanah. Dan menyekap mulutnya kuat-kuat. Menghujamkan pisaunya sampai tembus kehulu!

Cina itu menggigit jari Tongky. Sakitnya bukan main. Tapi Tongky membiarkan. Lebih baik jarinya digigit. Biar saja, asal mulutnya tak terbuka. Jari tangan Tongky berdarah. Tapi akhirnya Cina itu mampus!
Tongky menarik nafas. Perlahan tubuhnya bergulingan ke samping. Menelentang diam. Dan perlahan masih dalam berguling, mencabut pisau komandonya yang tertancap di jantung Cina itu. Cina berdegap itu beralih jadi mayat.
Akan hanya Donald, dia juga mempergunakan pisau Komando. Ya, keistimewaan pasukan Komando, sebagaimana jamaknya pasukan komando. Ya, keistimewaan pasukan Komando, sebagaimana jamaknya pasukan komando di negara manapun, adalah kemahirannya dalam bela diri.
Dia menyerang dengan tusukan pisau komando. Serangan dengan pisau ini terutama ditujukan agar lawan tak bersuara. Dan serangan yang dilakukan juga tak menimbulkan suara. Namun orang Melayu yang dia serang ternyata punya reflek yang cepat.
Tikaman pisau komando itu berhasil dia tangkis. Meski lengannya jadi luka, tapi nyawznya selamat. Dia berusaha mengangkat bedil dan memberi ingat teman-temannya.
Tapi sergapan orang tak dikenalnya itu telah membungkam mulutnya. Tangan orang itu rapat sekali ke mulutnya.
Posisinya yang duduk menyusahkannya untuk bergerak bebas. Dia mengeliat. Tapi tangan kiri Donald benar-benar seperti melengket dimulutnya.
Donald sendiri, merasa serangan pisau komandonya luput, segera memiting leher orang itu dengan tangan kanannya. Dia berusaha menanamkan kedua lututnya di tanah. Orang itu menggelinjang, namun dia makin menekankan tubuhnya ke bawah. Dia tak ingin pergulatan ini menimbulkan suara. Suara harus dilenyapkan sedapat mungkin.
Jika suara tak bisa diredam, maka peyergapan bukan bernama penyergapan. Namanya sudah jadi pertempuran. Dan kalau pertempuran, maka nilainya sama saja dengan pasukan-pasukan biasa. Disitulah letak istimewanya pasukan komando.
Jika berperang dalam bentuk beregu atau Kompi, dia akan merupakan pasukan pemunah yang sangat tangguh, ditakuti dan berbahaya. Kalau berperang secara individu, maka dia merupakan ujung-ujung tombak yang amat berbisa.
Yang setiap goresannya merupakan maut.
Begitulah yang telah dibuktikan oleh Tongky. Dan kini Donald sedang berusaha menyelesaikan penyergapannya. Dia jadi malu kalau penyergapan ini ketahuan. Meskipun musuhnya ini bisa dia bunuh, namun suara yang ditimbulkan akan jadi cemooh nanti.
Dengan tetap mendekap mulut orang Melayu itu, Donald memiting lehernya dengan kuat. Pitingannya makin menjepit. Dia memiting dengan sebuah pitingan Yudo yang tangguh. Tubuh orang Melayu itu mulai menggeletar. Dan suatu saat terdengar suara berderak. Kepala orang itu terkulai. Tulang lehernya ternyata patah!
Dalam usahanya mematahkan perlawanan orang Melayu itu, Donald mendekap mulutnya dengan tangan kiri dengan kuat. Kemudian memiting lehernya dengan lengan kanan. Yaitu setelah lengan kanannya gagal memasukkan pisau komando.
Dia memiting dengan segenap tenaga. Kemudian dengan segenap tenaganya pula, tangan kirinya yang masih mendekap mulut, dia tolakkan ke kanan. Akibatnya sungguh fatal bagi orang itu. Tulang lehernya patah!
Donald masih memiting leher orang itu beberapa saat. Bahkan tangan kirinya masih mendekap mulut orang itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Berusaha mendengar reaksi. Apakah pergumulannya ini terdengar tadi atau tidak?
Tak ada suara apa-apa. Perlahan dia membaringkan tubuh orang itu ke tanah. Kemudian dia menghapus peluh. Waktu yang termakan oleh mereka sejak mereka bersalaman tadi, sampai terbunuhnya ketiga orang itu adalah empat menit. Jadi jika dihitung sejak mereka mulai menyebrang rawa, yaitu sejak meninggalkan Kapten Fabian dan lima anggota lainnya di seberang sana, telah habis waktu selama enam belas menit.
Keadaan kini jadi sepi. Tak ada suara. Dan si Bungsu yakin, sebagaimana Donald dan Tongky juga yakin, bahwa teman-temanya telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik.
Kini mereka menanti. Sementara si Bungsu yang harus menyelesaikan Cina di atas pohon itu, tengah merangkak ke pohon tersebut.
Dia merangkak mendekati tempat itu dari arah belakang. Posisi ini menguntungkan dirinya. Sebab Cina itu pasti tetap memandang ke depan. Ke rawa yang airnya hitam dalam gelapnya malam itu.
Dia tengah merangkak, ketika dari seberang sana terdengar suara burung malam. Tak sembarang orang bisa mengetahui bahwa suara itu sebenarnya adalah suara manusia. Isyarat yang dikirimkan oleh regu Kapten Fabian.
Si Bungsu menangkap bunyi itu. Dia berhenti merangkak. Dan tiba-tiba dia dengar suara yang sama dari arah kanannya. Suara itu kalau tidak balasan dari Tongky pastilah balasan dari Donald. Jawabannya itu hanya sekali. Kemudian sepi.
Si Bungsu merangkak lagi. Makin dekat ke pohon rendah itu. Ah, soal merangkak dalam semak-semak tanpa menimbulkan bunyi, dia tak usah malu pada anggota Baret Hijau itu. Pekerjaan itu sudah merupakan mainannya ketika di Gunung Sago.
Bukankah ketika mengintai rusa atau kijang untuk persediaan makanan dia harus menanti atau merangkak mendekati hewan itu ketika mereka sedang minum di tebat kecil di rimba belantara itu? Nah, pekerjaan itu mula-mula amat susah buat dia lakukan. Dia masih ingat, selama sebulan dia berusaha mendekati rusa itu, tapi dari jarak seratus meter, rusa itu sudah tahu akan kehadirannya.
Tidak saja dia lupa memperhitungkan arah angin, sehingga bau tubuhnya tercium oleh binatang itu, tapi gerakan kakinya dia anggap sudah sangat hati-hati dan perlahan sekali, rupanya sangat hinggar binggar di telinga binatang-binatang itu.
Dari kesulitan hidup di belantara itu dia belajar. Akhirnya di bulan kedua dia berhasil mendekati tempat binatang tersebut tanpa diketahui.
Menginjak bulan purnama, dengan mudah dia menangkap kijang atau rusa yang tengah makan rumput. Dia merayap dari balik alang-alang tanpa diketahui sedikitpun. Dan kini dia mengulangi lagi kaji lama itu.
Dengan mudah kini dia berada di bawah pohon tersebut. Menembus gelapnya malam dan rimbunan daun, dia berhasil melihat sesosok tubuh duduk dengan enaknya di sebuah cabang yang benar-benar strategis dan mirip kursi. Pantaslah Cina itu tak menimbulkan suara sedikitpun. Sebab dia tak usah susah-suah merubah posisi. Posisi duduknya sudah sedemikian enaknya. Dahan tempat duduknya lebar. Ada dahan lain dikiri kanan tempat kaki.
Dan dibelakangnya tegak batang pohon tersebut untuk bersandar. Hm, benar-benar tempat yang enak.
Kalaupun ada suara yang ditimbulkan oleh Cina itu, hanyalah dari mulutnya. Mulutnya mengunyah terus-terusan. Nampaknya dia seorang profesional benar.
Menanti musuh dengan senjata api siap memuntahkan peluru, dan sekantong makanan di dekatnya. Makan itulah yang dikunyah dan dilahapnya terus selama penantian tersebut.
Pantas saja dia tak merasa bosan seperti teman-temannya yang lain.
Cina itu merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah botol picak. Membuka tutupnya, lalu meneguk isinya. Si Bungsu yang tiarap setengah depa dari pangkal pohon itu segera dapat mencium bau minuman keras menyeruak dari mulut botol tersebut.
Dan saat itulah si Bungsu menginsut tubuh. Dia tegak perlahan. Kalau sekedar ingin membunuh, maka Cina itu sudah kehilangan kepala dia buat. Ketika si Bungsu tegak, Cina itu persis berada sama tinggi dengannya. Dia duduk di dahan yang tingginya hanya setengah meter dari tanah. Dan kini tanpa dia sadari sedikitpun, seseorang dengan sebilah samurai yang sudah terlalu banyak merenggut nyawa berada persis di balik pohon yang dia buat sebagai tempat sandaran tubuhnya.
“Psst….!” Cina itu mendengar isyarat di belakangnya. Tanpa curiga dia menoleh. Dan tiba-tiba saja sebuah benda panjang lagi dingin dan tajam, tertekan di lehernya.
“Jangan bersuara kalau engkau masih ingin tetap memilki kepalamu ini….” Terdengar suara bisikan perlahan dan bernada datar dirumpun telinganya.
Kalau ada seekor ular berbisa melilit tubuhnya saat itu, mungkin Cina tersebut takkan kaget dan takut seperti yang dialami saat ini. Betapa mungkin, seseorang mendekati tempatnya tanpa dia ketahui sedikitpun? Siapapun orang yang mengancamnya ini, meski tak dia ketahui, namun yang pasti, orang ini adalah seorang tangguh dan amat berbahaya. Dan ancamannya pastilah tidak main-main.
Cina itu menggeleng. Gelengannya tanda persetujuan bahwa dia takkan bersuara. Tanda pengakuan bahwa dia masih ingin memiliki kepala di atas lehernya.
“Engkau harus bicara bilamana ku perintahkan…” suara dingin dan datar itu kembali berbisik di pangkal telinganya. Cina itu menelan ludah. Lalu mengangguk.
“Dan apa yang akan kau katakan, haruslah menurut yang kuingini..”
Cina itu tak segera mengangguk. Mata samurai menekan lehernya.
Dan dia segera merasakan bahwa mata benda yang ditekankan ke lehernya itu telah memakan daging lehernya. Terasa pedih. Dan sesuatu yang cair lagi panas mengalir di lehernya itu. Darah! Dengan wajah pucat dan ketakutan yang amat sangat, Cina itu mengangguk. Dia benar-benar hampir tak bernafas saking takutnya.
“Nah bagus begitu! Berapa orang anggotamu yang menanti di sekitar ini?” suara si Bungsu terdengar lagi berbisik.
“Jangan bohong, sebab aku takkan pernah mengangkat mata samurai ini dari lehermu sebelum semua keteranganmu kuketahui benar adanya. Sekali engkau coba berbohong, maka engkau akan duduk disini tanpa kepala…”
“Ada delapan orang..”
Delapan orang. Berarti sembilan dengan Cina ini. Tiga sudah mati. Yang satu kini dia kuasai. Jadi empat telah dilumpuhkan. Tinggal kini lima orang. Pikiran si Bungsu bekerja cepat.
“Suruh mereka berkumpul kemari semua..” si Bungsu berbisik lagi. Dan Cina itu nampaknya memang pimpinan penyergapan itu. Dia segera memberikan perintah untuk berkumpul. Dan teman-temannya yang lain, karena merasa bosan menanti tanpa hasil sejak tadi, segera berdatangan.
Si Bungsu memberi isyarat dengan bunyi siulan yang mirip suara burung. Dan Donald serta Tongky yang masih tiarap dalam semak belukar mendengar siulan itu. Mereka segera mengerti maksudnya. Kedua orang ini segera menanti. Begitu anggota-anggota sindikat itu tegak dan berjalan dalam kegelapan menuju tempat Cina itu, mereka jua ikut berdiri. Dan ikut berkumpul dekat kayu tersebut.
Cahaya gelap membantu mereka. Tak ada yang tahu bahwa diantara yang berjalan menuju tempat berkumpul itu ada dua orang lain yang tak sama dengan mereka. Dan penyelusupan itu baru diketahui ketika mereka semua telah berkumpul.
“Jangan ada yang bergerak. Kami pasukan Baret Hijau. Jika ada yang melakukan sedikit saja gerakkan, akan kami siram dengan peluru” terdengar suara Tongky perlahan. Semua jadi kaget. Mereka menoleh. Dan dalam kegelapan itu ada dua orang yang tegak hanya setengah depa dari mereka. Mengacungkan bedil dan siap tembak.
Dalam jarak begitu dekat, mana ada harapan bagi mereka untuk melakukan sesuatu? Mereka hanya heran, mana tiga orang lagi teman mereka? Dan mana Cina yang memimpin mereka yang tadi menyuruh mereka berkumpul?
Si Bungsu membisikkan sesuatu ke pangkal telinga Cina itu. Dan terdengar suara Cina itu:
“Menyerahlah. Kita sudah terkepung…..”
Terdengar sumpah serapah. Tongky dan Donald bertindak cepat. Mereka melucuti keempat orang itu. Dan memaksanya tengkurap.
“Beri isyarat pada Kapten Fabian….” Suara si Bungsu terdengar perlahan. Tongky kemudian mengirim isyarat itu. Suara burung malam terdengar berbunyi tiga kali dari mulutnya.
Dari seberang terdengar pula sahutan sekali.
“Mereka berhasil. Mari kita menyeberang. Cepat!!” suara Kapten Fabian memerintahkan regunya. Dan keenam pasukan Baret Hijau ini segera memasuki rawa dan menyebranginya.
Memerlukan waktu lima menit bagi mereka untuk berjalan mengarungi rawa pekat itu.
Mereka segara saja sampai ke tempat ketiga orang itu meringkus lawannya. Keenam anggota sindikat yang semula bermaksud menyiksa mereka kini telah tertelungkup di tanah. Keenamnya dalam keadaan terikat tangannya kebelakang. Dan terikat kakinya satu dengan yang lainnya.
Letnan” Bungsu menyerahkan tawanan itu pada Kapten Fabian. Dan menerangkan bahwa yang memimpin penyergapan ini adalah Cina yang tertelungkup paling kanan. Kapten tersebut menyalakan senter kecil. Menerangi wajah Cina itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: