tikam samurai-bagian-333-334-335-336


Si Bungsu menunduk cepat begitu kepala ular itu meluncur seperti anak panah ke arah lehernya.tikam samurai
Begitu sasarannya luput, kepala ular itu berputar kearah pohon dimana lima meter tubuhnya melilit sebagai pegangan.
Ketujuh anggota Baret Hijau itu terkesiap. Kaget dan merasa ngeri. Mereka memang manusia-manusia yang tak takut pada maut. Tapi keberanian mereka adalah bila bertempur melawan manusia.
Mereka memang bukan pengecut. Namun diserang ular mendadak begini, nyali mereka jadi ciut juga. Mereka segera ingat pengalaman dua tahun lalu di India. Di Negeri ular itu, tak kurang dari sebelas anggota baret hijau yang kesohor itu mati dipatuk ular berbisa. Tragis memang. Pasukan yang berani mati, yang ditakuti lawan dan kawan, ternyata banyak yang mati digigit ular!
Dan kini mereka berjongkok tanpa sempat berbuat apa-apa melihat ular itu kembali melesat ke arah orang yang paling depan. Mereka tak tahu siapa orang itu. Namun demi malaikat mereka menggigil melihat orang itu tetap tegak seperti menanti datangnya serangan ular raksasa itu.
Dan ular itu nampaknya memang berang benar. Kalau tadi yang meluncur kedepan hanyalah kepalanya dengan mulut menganga, diiringi mencuatnya taring yang hampir sejengkal panjangnya itu, dia juga melepaskan lilitan tubuhnya di pohon.
Dengan demikian, dia bermaksud menyerang lawannya habis-habisan dengan mematuk dan meremukkan tubuhnya dengan lilitan.
Tapi malangnya orang itu justru adalah si Bungsu! dia memang bukan Tarzan. Raja Rimba yang jadi legenda di hutan belantara Amerika serikat. Namun, hewan buas dan binatang melata mana yang tak “kenal” pada si Bungsu ketika dia bertarak di Gunung Sago?

Di rimba gunung sago yang belum pernah dijamah kaki manusia itu, binatang-binatang buas lebih senang menghindar jauh-jauh atau berdiam diri saja dipersembunyiannya bila manusia yang satu ini lewat.
Hal itu terjadi setelah setahun si Bungsu dirimba itu. Dan selama setahun itu memang banyak coba-coba. Maklumlah “orang baru”.
Namun anak muda ini telah bertekad untuk tetap hidup. Hidupnya adalah pembalasan dendam. Dan selama setahun itu tak terhitung ular, harimau yang ingin “mencobanya”. Namun dia menghadapi dengan samurai. Anak muda itu tak mau mengganggu kalau dia tak diganggu. Akhirnya seperti ada persepakatan antara mereka. Antara hewan buas itu dengan si Bungsu. bahwa mereka akan hidup sebagai tetangga yang rukun.
Dan hal itu memang jalan terbaik bagi hewan-hewan buas itu. Sebab setelah setahun, anak muda itu telah berobah menjadi manusia yang amat cepat mempergunakan samurai.
Nah, kini dia berhadapan dengan ular itu. Dia menunggu kepala ular itu dekat. Kemudian mengelak ke kiri. Dan samurainya berkelabat. Sekali. Dua kali! Empat!
Pada gerakkan pertama, kepala ular itu putus tentang lehernya. Kepalanya masih terus melayang ke belakang. Kepalanya masih terus melayang ke belakang. Mengenai tubuh Miguel. Miguel terpekik kaget.
Pada gerakkan kedua, ketiga dan keempat, tubuh ular yang tengah meluncur dengan maksud melilit badannya itu berpotong-potong sama panjang! Semuanya jatuh dengan darah bersemuran! Lalu sepi!
Ke tujuh anggota Baret Hijau itu, termasuk Kapten Fabian, menatap dengan mulut ternganga dan bulu tengkuk merinding. Dalam cahaya samar-samar mereka melihat anak muda itu tegak dengan tenang. Kemudian dengan tenang pula secara perlahan dia menyarungkan samurainya!
Suasana tegang itu terpecahkan oleh suara langkah menguak semak-semak di depan mereka. Secara reflek mereka menyiapkan bedil. Suara burung malam menggema perlahan. Mereka menarik nafas. Seorang dari anggota rombongan itu menyahuti suara burung itu dengan nada yang sama.
Selang beberapa saat muncul sesosok tubuh. Dan si Bungsu segera mengenalinya sebagai si Negro.
“Kapal mereka nampak tengah menuju kemari. Hanya ada sebuah kapal….” Tongky si Negro itu melapor perlahan pada Kapten Fabian.
“Ya. Mereka mengumpulkan wanita-wanita itu ke kapal yang satu itu ditengah laut. Dan kini mereka menuju ke markas mereka di pantai sana. Mari kita bersiap…” Kapten Fabian memberi perintah-perintah.
“Kita takkan kembali lagi kemari. Kita akan merebut kapal dan menyelamatkan wanita-wanita itu. Jangan menembak sebelum ada komando dari saya dengan tembakan peluru sinar hijau”
Selesai perintah singkat itu merekapun bergerak. Tongky di depan sekali. Berturut-turut dalam jarak dua depa adalah Kapten Fabian, Donald, Miguel dan yang lain-lain.
Di belakang sekali si Bungsu.
Sebenarnya dia ingin berjalan di depan sekali. Dia ingin menjadi penunjuk jalan. Sebab meskipun belum pernah kepulau ini, tapi dia hapal setiap lorong dan setiap jengkal tanah rimba.
Dia tahu dari bau yang dipancarkan hutan itu apakah tanah yang mereka pijak keras atau lunak. Dalam jarak sepuluh depa, dia sudah tahu apapun di depan rawa, atau ada bahaya dalam bentuk binatang buas atau manusia.
Dia hapal segalanya itu. Ah, dia mengenali rimba raya seperti dia mengenali dirinya sendiri. Namun dia tak jadi berjalan ke depan karena perintah Kapten Fabian. Karena dalam pasukan komando itu Tongki lah yang ahli dalam mengenal lapangan.
Kini mereka berjalan dengan diam tanpa menyalakan lampu. Tanpa cahaya setitikpun. Rimba rendah di pinggir laut segera saja disambut oleh belantara yang lebat dibahagian darat pulau itu.
Dan dibawah pohon raksasa di pulau Pesek itu segalanya jadi gelap gulita. Hujan lebat yang menerpa mereka di tengah laut tadi, kini hanya tinggal titik-titik berupa hujan rintik. Namun saking rapatnya dedaunan, rintik-rintik itu tak sampai ke bawah.
Dan Tonky nempaknya memang ahli dalam menyelusup dirimba raya. Itu diakui oleh si Bungsu yang berjalan di belakang sekali. Negro pendiam itu dalam gelapnya malam dengan lincah menyelinap ke sana kemari. Menghindarkan dirinya dan rombongan dibelakangnya dari perangkap hutan belantara yang mereka lalui.
Mereka berpedoman dari bayangan di depan mereka agar tak kehilangan teman. Dan si Bungsu mengakui bahwa pasukan ini memang pasukan yang ahli dalam rimba. Dari cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang pasukan Green Barets diketahuinya bahwa pasukan ini tak hanya tangguh bertempur merebut kota dari tangan musuh. Tapi juga tangguh dan sangat ditakuti di rimba dan di lautan.
Sebagai suatu pasukan Komando dibawah bendera pasukan sekutu yang bertempur melawan Jerman dan Jepang, pasukan ini memang diakui musuh. Mereka biasanya didrop ke daerah musuh yang paling tangguh. Dimana pasukan-pasukan infantri atau pasukan artileri tak kuasa menerobos pertahanan musuh., maka sudah bisa dipastikan bahwa Jenderal Einsihower yang menajdi panglima pasukan sekutu akan mengirim telegram pada komando pasukan Green Barets.
“Kami kandas dalam menerobos sasaran “X” telah dicoba dengan infantri yang ribuan jumlahnya. Dan dibantu oleh pasukan artileri serta pasukan-pasukan payung. Namun pertahanan mereka sangat tangguh. Kami berharap dan bangga sekali kalau pasukan Green Barets dapat membantu kami. Terimakasih, Einsihower”
Selalu demikian bunyi “perintah” jenderal berbintang empat itu. Dia tak pernah memakai kalimat “dengan ini saya perintahkan”. Dia selalu memakai kalimat “Kami bangga sekali kalau pasukan Green Barets dapat membantu kami..’
Itu sebabnya kenapa Eisinhower jadi akrab dengan setiap prajurit yang dipimpinya. Meskipun “perintah” dan “kepatuhan” merupakan dogma yang mutlak bagi setiap prajurit, namun Eisinhower selalu berusaha menghindar dari sistim itu. Dia seorang jenderal yang keras, tegas dan berwibawa. Namun disamping itu dia juga seorang jenderal yang dicintai.
Dia adalah perpaduan antara Panglima dalam arti militer, dan Pemimpin dalam arti sipil. Dan kini, Green Barets, pasukan kebanggan tentara sekutu itu, juga kebanggan Eisinhower, sebagian anggotanya berada di depan si Bungsu. berada dalam rimba pulau Pesek di selatan Singapura.
Pasukan kecil beranggotan sembilan orang itu suatu saat berkumpul di sebuah tempat gelap.
“Kita akan menyeberang rawa ini…” Tongky berkata perlahan.
“Tak ada buaya…?” terdengar pertanyaan dari mulut Donald.
“Tidak. Tadi saya menyeberang disini juga. Ini jalan pintas terdekat. Disebelah sana, setelah menerobos sedikit belukar, kita akan sampai antara rumah papan yang mereka jadikan sebagai markas dengan pelabuhan kapal dimana mereka menurunkan perempuan-perempuan itu…”
“Engkau menyeberang disini pulang pergi tadi?” kali ini yang bertanya adalah Kapten Fabian.
“Ya. Inilah jalan saya tadi. Buktinya saya masih hidup, toh?” Tongky meyakinkan. Dan dia memang masih hidup. Dan dia memang lewat di rawa itu tadi. Dia tak berbohong akan hal itu. Namun si Bungsu tak sependapat dengan Negro itu.
Barangkali saja Tongky benar, bahwa rawa ini tak berbuaya. Namun firasat si bungsu mencium bahaya yang jauh lebih dahsyat daripada seekor atau lima ekor buaya. Inderanya yang amat tajam tentang perilaku rimba belantara membisikkan bahaya itu pada hatinya.
“Baik, engkau duluan. Yang lain mengikuti dalam jarak empat depa….” Kapten Fabian berkata. Mereka berkata-kata tetap berupa bisik-bisik perlahan.
Tongky mulai masuk ke air.
Tapi langkahnya terhenti ketika terdengar ucapan “tunggu” dari belakangnya.
Dia berhenti, dan dia termasuk juga seluruh rombongan menoleh pada si Bungsu yang mengatakan “tunggu” itu.
“Saya rasa jalan ini berbahaya…” katanya perlahan.
Anggota bekas pasukan baret hijau itu menatap padanya tepat-tepat. Mereka tak bersuara. Menanti penjelasan dari anak muda itu.
“saya tak dapat mengatakan apa bahayanya. Tapi firasat saya mengatakan hal itu. Barangkali bukan buaya atau ular. Tapi kesunyian di seberang sana membuat saya curiga….” Si Bungsu berkata separoh berbisik.
Tongky mendekat lagi mendengar penjelasan itu.
“Ya diseberang sana memang sepi. Saya tadi menyelusup sampai ke dekat rumah yang mereka jadikan markas. Disana enam lelaki. Semuanya berbedil otomatis. Dan mereka semua asik main kartu. Di pelabuhan ada dua orang yang memberi isyarat pada kapal yang kelihatannya masih sangat jauh. Mereka memberi isyarat dengan pelita kecil. Nah, jumlah mereka hanya delapan. Barangkali dari kapal yang akan merapat itu ada sekitar sepuluh orang lagi. Jadi semuanya hanya delapan belas. Betapapun juga, dengan kekuatan sedemikian kita sanggup menyikat mereka…”
Kemudian dia menatap kembali pada Kapten Fabian. Lalau tatapan matanya berpendar pada ketujuh anggota Baret Hijau yang lain. Lalu terdengar suaranya perlahan:
“Tak dapat saya mengatakan bagaimana saya menarik kesimpulan bahwa diseberang sana ada perangkap. Tapi saya dapat merasakannya. Jika ingin diperjelas lagi, maka diri saya adalah bahagian dari belantara yang berbahaya tetapi sepi…”
Kapten fabian tahu, orang ini tak berbohong. Jauh dilubuk hati Kapten itu juga mengakui, bahwa dia merasa firasat anak muda ini adalah benar.
Namun bagaimana jalan keluar?
“kini, bagaimana kita menyebrang ke sana jika kita dari arah ini? Jika diambil jalan memutar, rasanya terlalu jauh”
Semua terdiam mendengar ucapan Kapten tersebut.
“Bagaimana kalau saya dengan satu atau dua orang sukarelawan lainnya menyeberang terus pada jalan ini?” yang berkata ini adalah si Tongky Negro yang ahli menyelusup itu. Dan siapa pun diantara yang hadir itu dapat mengetahui bahwa Tongky kurang yakin pada firasat si Bungsu. sebenarnya tidak hanya Tongky, hampir seluruh mereka, kecuali Kapten Fabian kurang yakin akan firasat si Bungsu itu.
Namun mereka tak berani melanggar perintah Kapten Fabian. Dalam soal-soal begini, sebuah pasukan Komando memang ditentukan nasibnya oleh Komandan. Kecuali jika mereka telah berpencar, maka nasib mereka berada ditangan mereka sendiri. Pada saat begitulah kemampuan pribadi sangat diandalkan. Kini, betapapun juga kesatuan pasukan harus dipertahankan.
Dan itu pulalah sebabnya Tongky tak secara langsung mengajukan protes atas ramalan si bungsu. dia hanya menawarkan suatu alternatif lain dengan mengatakan : Bagaimana kalau saya tetap menyeberang dengan satua atau dua sukarelawan..
Artinya, dia ingin membuktikan bahwa ramalan si Bungsu itu tak benar. Mendengar tawaran itu, beberapa orang segera saja menyatakan akan ikut. Jumlah mereka justru enam orang.
“Saya rasa jumlahnya cukup tiga orang yang diusulkan Tongky. Dan saya masuk satu diantaranya…” yang berkata ini adalah si Bungsu. dan semua mereka jadi kaget. Sebentar ini anak muda tersebut mengatakan bahwa diseberang sana ada perangkap. Tapi dia malah menyatakan akan ikut dalam penyeberangan itu. Apakah dia hanya sekedar ingin membuat sensasi?
“oke. Jika demikian anda ikut dengan Tongky. Dan sebagai seorang Letnan, regu yang tiga orang ini berada dibawah pimpinan anda. Kami akan menanti disini…”
Kapetn Fabian akhirnya memutuskan.
Dan semua orang memang tak membantah. Soalnya waktu sudah semakin sempit. Untuk mempersoalkan apakah diseberang sana ada perangkap atau tidak ini saja, mereka telah terhenti selama lima menit.


One response to “tikam samurai-bagian-333-334-335-336

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: