tikam samurai-bagian-325-326-327-328


Si Bungsu memperlihatkan dokumen itu. Bekas Kapten itu mempelajari sejenak. Dokumen itu mempunyai sebuahmeloncat lewat jendela kaca peta darurat. Sebagai seorang bekas perwira dari pasukan Komando, tak begitu sulit bagi Kapten itu untuk membaca peta rahasia itu.
Dia kemudian bicara lagi pada seseorang lewat telpon di hotel itu.
“Nah, sahabat. Tinggallah dahulu. Anda istirahatlah. Malam ini kita akan bergerak. Anda akan saya jemput sekitar jam delapan nanti malam..”
Mereka bersalaman. Kemudian bekas perwira baret hijau itu berlalu. Si Bungsu seperti bermimpi saja. Alangkah banyaknya pengalaman yang dia timba dari kehidupan yang dua hari ini.
Dia tengah duduk termenung di kamarnya ketika pintu kamar diketuk. Ketika pintu dia buka, seorang lelaki Barat, mungkin dari Amerika masuk dengan sebuah tas.
“Saya Donald. Mac Donald dari pasukan Green Barets. Saya disuruh Kapten Fabian untuk menemui anda disini…” orang yang baru masuk itu langsung saja bicara dan menyalami si Bungsu.
“Saya si Bungsu. Apa yang bisa saya perbuat?”.
Serdadu yang bernama Donald itu tak bicara. Dia membuka ritsleting tas kulitnya. Dari dalamnya dia mengeluarkan sepucuk thompson. Sejenis senjata otomatis bermagazine bundar.
“Anda bisa mempergunakan besi tua ini?”
Si Bungsu menggeleng. Dia memang tak pernah melihat bedil seperti itu.
“Nah, caranya mudah saja…begini” dan anak buah Kapten Fabian itu memberikan petunjuk selama beberapa saat pada si Bungsu tentang penggunaan senjata otomat itu.

Lalu setelah dia merasa si Bungsu bisa, diapun berlalu. Senjata itu dia bawa kembali dengan tas kulitnya yang usang. Dan kembali si Bungsu tinggal dalam biliknya sendirian.
Dan tanpa terasa haripun malamlah. Di luar terdengar mobil berhenti. Si Bungsu bersiap.
Tak lama setelah mobil itu berhenti, terdengar suara langkah masuk. Makin lama makin dekat ke kamarnya. Dia sudah bermaksud membukakan pintu, ketika firasatnya yang amat tajam, firasat yang terlatih di rimba Gunung Sago mengirimkan denyut peringatan.
Hanya beberapa detik, dia segera merasa ada sesuatu yang tak beres. Tangannya cepat memadamkan lampu. Lalu dalam dua loncatan dia sampai dekat jendela.
Ketika tubuhnya melambung dalam loncatan ketiga, pintu ditendang dengan sangat kuat. Pintu itu tanggal dengan engsel-engselnya.
Ketika daun pintu tercampak menerpa tempat tidur, tubuh si Bungsu menerpa kaca jendela. Kaca itu hancur berderai. Tubuhnya jatuh bergulingan di halaman hotel. Dan saat itu terdengar enam deram tembakan di dalam kamar. Sepi. Suara langkah kaki memburu ke jendela yang pecah.
Seseorang mengintai lewat jendela itu dengan bedil otomatis di tangannya. Dia melihat bayangan. Dekat sekali. Orang itu mengulurkan senapannya, dan menarik kepalanya masuk. Tapi terlambat. Bayangan sekilas yang dia lihat itu tak lain dari berkelabatnya pedang samurai.
Si Bungsu memang menanti diluar jendela. Dan dia tak peduli lagi, siapapun orangnya yang menembak-nembak dalam kamarnya pastilah menghendaki nyawanya. Dan orang itu harus mendapat ganjaran yang setimpal. Dalam sekali ayun, samurai panjang yang dia bawa dari Situjuh Ladang Laweh, yang telah membunuh banyak manusia, termasuk ayah, ibu dan kakaknya, memakan leher orang berbedil di jendela itu.
Leher orang itu putus. Seperti membabat batang pisang saja. Kepalanya jatuh keluar jendela. Tubuhnya terkulai di jendela itu. Senapannya masih tergenggam di tangan. Tak ada suara pekikan. Tak ada keluhan.
“Ada dia disana?” terdengar pertanyaan dari dalam kamar. Suaranya jelas beraksen asing. Seperti suara orang eropah. Mirip suara Kapten Fabian siang tadi!
“Ada, dia lari keseberang jalan…” si Bungsu berkata sambil mendekatkan dirinya ke mayat di jendela. Dadanya berdebar kencang. Dia ingin tahu siapa orangnya yang di dalam itu.
Langkah mendekat ke jendela. Nampaknya orang itu tertegun kaget melihat temannya tak berkepala. Dan waktu itulah si Bungsu berdiri. Tegak persis di depan jendela. Menatap dalam ke arah orang yang kaget itu.
Orang itu, teman sipenembak yang telah putus kepalanya itu tersurut begitu melihat ada orang yang tegak tiba-tiba di depannya. Dia memang orang barat. Tapi bukan Kapten Fabian seperti dugaan si Bungsu.
Orang itu nampaknya seperti orang Texas. Tinggi besar dan bermata coklat. Mereka bertatapan sejenak sebelum keduanya sama-sama bergerak untuk saling membunuh. Orang texas itu, sebagaimana lazimnya orang-orang dari Amerika, amat mengandalkan kecepatannya menggunakan pistol.
Si Texas mengangkat pistol yang memang telah dia genggam sejak tadi. Si Bungsu masih tetap tegak menatapnya. Ketika pelatuk pistol ditarik, si Bungsu menghayunkan samurai. Ujung samurainya memang tidak ditujukan pada tubuh si Texas. Melainkan memukul ujung pistolnya ke bawah.
Pistol itu menekur. Dan meledak. Pelurunya menghujam ke punggung mayat temannya yang tergantung di jendela. Sementara orang ramai mulai berkerumun. Namun semuanya melihat saja dari kejauhan.
Ketika si Texas itu akan mengangkat pistolnya lagi, si Bungsu mentikam samurainya lurus ke depan. Samurai itu masuk ke leher si Texas. Si Texas kaget dan kesakitan luar biasa, dia berusaha terus mengangkat pistolnya. Namun si Bungsu menekankan lagi samurainya yang luar biasa runcing dan luar biasa tajamnya itu.
Bilah samurai itu masuk mengenai tulang leher. Mencong sedikit kekiri. Kemudian tembus ke tengkuk. Texas itu masih berdiri. Matanya mendelik. Darah tak setetespun keluar dari lehernya yang luka. Darah justru menyembur lewat tengkuknya.
Si Texas menarik pelatuk pistol. Sebuah ledakan bergema. Tapi pelurunya sudah kelantai arahnya. Si Bungsu menarik samurainya dengan cepat. Si Texas menggelepar. Jatuh ke tempat tidur. Kemudian kejang. Mati!
Si Bungsu melompat lagi ke dalam lewat jendela. Menyambar dokumen yang terletak diatas meja. Kemudian ketika orang-orang mulai heboh, dia menyelinap keuar.
Begitu dia tiba diluar, mobil polisi datang.
“Tuan saya tahan…” kata seorang polisi berpangkat letnan ketika seseorang berkata bahwa anak muda itulah yang telah membantai kedua orang dikamar tersebut.
Si Bungsu berniat melawan, tapi tahu-tahu saja tiga orang polisi Singapura telah memegangnya. Dan borgol segera pula dilekatkan ketangannya.
Dia masih ingin memberikan penjelasan. Tapi dia telah dinaikkan ke sebuah jeep berpengawal dan berdinding baja. Jeep spesial membawa tawanan berbahaya. Dan jeep itu segera dilarikan ke markas polisi.
Si Bungsu heran kenapa Kapten Fabian yang berjanji akan datang jam delapan itu tak kunjung tiba. Perjalanan didalam jeep Polisi itu terasa amat lama.
Ketika akhirnya Jeep itu berhenti, dengan terkejut si Bungsu menyadari bahwa dia tak dibawa ke markas Polisi Singapura. Tidak. Gedung dimana mereka berhenti ini adalah sebuah gedung tua di luar kota. Keadaannya sepi saja.
Suatu perasaan tak enak menyelusup kehatinya.
Apakah polisi yang membawanya adalah anggota komplotan sindikat itu? Dia segera di suruh turun. Kemudian dengan tangan terborgol, dibawa masuk. Dia dibawa masuk lewat sebuah lorong yang panjang. Dan sebuah ruangan terbuka.
Dia tertegak dengan tubuh kaku menatap siapa didepannya. Seorang lelaki tinggi besar duduk di sebuah kursi. Di depannya sebuah meja yang penuh oleh bedil. Dan selain lelaki tinggi itu ada tiga orang lagi lelaki yang lain.
Yang membuat tubuhnya terasa kaku adalah lelaki tinggi besar itu. Dia tak lain daripada Kapten Fabian! Orang Australia yang mengatakan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas itu. Yang berjanji akan membantunya menumpas sindikat perdagangan wanita itu. Kini apa kerjanya disini? Dan ternyata dia pula yang menyuruh keempat polisi Singapura itu menangkap dirinya!
Begitu dia masuk, Kapten itu menoleh.
“Hai. Sangat tidak enak diangkut dengan tangan terbogrol bukan..?” suara Kapten itu terdengar ramah dengan senyum di bibirnya. Si Bungsu tak menjawab. Hanya menatap dengan diam.
Kapten itu memberi isyrat pada anak buahnya. Dan Polisi yang tadi memborgolnya segera membuka borgol itu.
Kapten itu berdiri.
“Nah, Bungsu, ini teman-teman saya ketika di Komando dulu. Itu Sony, sersan spesialis alat peledak. Itu Tongky, negro yang ahli menyelusup kemana saja. Itu Fred, ahli karate. Dan keempat Polisi yang menyergapmu ini adalah empat anggota Green Barets yang ahli dalam pertempuran… tuan-tuan, inilah saudara Bungsu yang saya katakan itu. Seorang anak Indonesia yang ahli dengan samurai. Tidak hanya sekedar ahli, tapi dia memiliki predikat Grand Master dalam hal itu. Selama beberapa pekan di Singapura ini dia sendirian memerangi sindikat perdagangan wanita. Silahkan tuan-tuan berkenalan..”
Si Bungsu jadi malu pada persangkaannya tadi. Dia sangka Kapten inilah komandan sindikat itu. Dia punya alasan untuk berprasangka demikian. Sebab dia dibawa kemari dengan tangan terborgol. Ke tujuh bekas anggota baret hijau itu tegak dan menyalami si Bungsu. Tubuh mereka rata-rata kekar. Ada yang berwajah sadis, ada yang berwajah murung, ada yang biasa-biasa saja. Namun satu hal yang dirasakan si Bungsu tentang orang-orang ini. Mereka semua adalah individu-individu yang tangguh dan kelompok kecil yang sanggup menaklukan satu bataliyon tentara.
Selesai mereka berkenalan, Kapten itu membawa mereka ke ruang sebelah. Di sana ada sebuah kertas besar dengan peta yang dibuat darurat sekali. Mereka segara duduk di kursi yang tersedia.
“Sebelum saya mulai menerangkan detail penyerangan malam ini, kepada saudara Bungsu ingin saya sampaikan sesuatu. Kami telah mengetahui bahwa ada yang akan menyerang saudara ke hotel jam delapan tadi. Ada maksud kami untuk memberitahukan saudara. Tapi ternyata kami harus berpacu dengan waktu.
Akhirnya diambil keputusan bahwa saudara akan kami jemput setelah pertarungan itu selesai. Kami yakin saudara yang akan keluar sebagai pemenang. Untuk mengelabui, maka keempat anggota yang menjemput saudara saya suruh berpakaian polisi.
Dan kalau ternyata saudara yang kalah dalam pertarungan tadi maka keempat polisi ini bertugas menyudahi kedua penyerang itu. Mereka berempat sebenarnya saya beri dua alternatif. Pertama membantu saudara dalam perkelahian itu, atau “menangkap” saudara setelah perkelahian usai.
Ternyata mereka memilih alternatif kedua. Mereka ingin membuktikan apakah engkau memang seorang master dengan samurai seperti yang kukatakan sebelum mereka berangkat menjemputmu”
Kapten itu menoleh pada keempat “polisi” Singapura yang tadi menangkap si Bungsu. keempat mereka tersenyum.
“Ya, kami menonton saja kejadian itu tadi. Kami datang setelah kedua orang itu turun dari kendaraannya. Kami sudah diberi tahu, bahwa akan ada serangan pada anda. Kami lalu memarkir kendaraan sejauh sepuluh meter. Dan kami melihat anda melompat dengan memecah jendela kaca. Kemudian membunuh kedua orang itu. Nah, ketika orang ramai itulah kami datang menangkap anda…” Polisi gadungan berpangkat letnan yang tadi menyarungkan borgol pada si Bungsu bercerita.
Si Bungsu hanya menarik nafas. Bagi orang-orang sisa perang dunia ini, pertarungan hidup dan mati seseorang rupanya merupakan tontonan yang mengasyikan.
“Nah. Saya rasa perkelanan itu sudah cukup sekian. Kini silahkan lihat detail pada peta ini. Peta ini merupakan gabungan dengan dokumen yang dibuat Overste Nurdin dari Konsulat Indonesia yang saya peroleh dari saudara Bungsu dengan hasil penyelidikan selama 12 jam terakhir.
Malam ini mereka menanti pengiriman dua belas wanita dari Indonesia. Dan delapan orang dari Siam, enam orang dari Hongkong. Semua wanita ini akan dibawa ke eropah dan Afrika. Di kedua negeri itu, wanita-wanita Asia berharga tinggi.
Menurut rencana mereka, yang sempat diselidiki oleh Tongky, wanita itu akan didaratkan serentak”
Kapten Fabian berhenti.
Dia menatap anggotanya. Juga menatap pada si Bungsu. tak seorangpun yang bicara. Dan Kapten itu melanjutkan lagi:
“Sekarang perhatikan ini. Ini peta bahagian Selatan dari pulau Singapura. Ini gugusan pulau di selatan yang masih belum berpenghuni. Pulau yang terletak paling barat ini bernama pulau Pesek.
Barangkali mereka telah mengetahui bahwa gerakkan mereka telah tercium oleh Overste Nurdin. Itulah kenapa sebabnya sejak sebulan terakhir ini, perempuan-perempuan itu tak lagi diturunkan lewat pelabuhan resmi sebagai turis atau sebagai pencari kerja sebagaimana biasanya.
Mereka diturunkan dimalam hari di pulau Pesek ini. Nah, sekarang markas dimana kita berada ini terletak di daerah Bukit Timah. Dari sini kita akan naik jeep sekita sepuluh menit ke tepi sungai Jurong. Dari muara sungai itu kita akan naik sampan layar sekitar dua jam menuju pulau itu.
Jika angin berhembus kencang, dan malam ini menurut Minguel yang ahli meteorologi dalam pasukan kami dahulu, malam ini memang akan bertiup angin utara. Berarti kita akan dibantu sangat banyak.
Sengaja tidak kita gunakan mesin boat, karena kita tak ingin kedatangan ini diketahui mereka. Nah, sampai disini ada pertanyaan?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: