tikam samurai-bagian-317-318-319-320


Dan melihat keadaan gawat begini, pelayan yang orang Cina itu cepat-cepat berlalu.makmur hendrik
“Awas jangan lu telepon Polisi…!” ancam orang Australia yang satu lagi padanya. Pelayan itu menggeleng sambil angkat langkah seribu.
Mereka lalu masuk ke kamar si Bungsu. menutupkan pintu!
Si Bungsu yang tadi terlempar ke tempat tidur kena pukul, kini mulai bangkit. Karena kedua orang itu telah berada dalam biliknya, dia terpaksa tegak di atas tempat tidur.
Kedua lelaki itu menatap padanya dengan wajah sadis. Dan dipinggang mereka tersembul gagang pisau komando.
Rupanya mereka masih ingat bahwa salah seorang teman mereka mati ditangan anak muda ini karena lemparan sebuah pisau kecil. Makanya kini mereka membawa pisau komando. Yaitu pisau pengganti sangkur yang sangat mahir mereka mempergunakannya ketika dalam perang dunia ke II dahulu. Betapa mereka takkan mahir, sebab mereka berada dalam pasukan Green Barets. Pasukan Komando tentara Inggris yang tersohor itu.
“Monyet, dulu kau mempergunakan pisau kecilmu untuk membunuh teman kami. Sekarang mari kita coba siapa yang lebih cepat melemparkan pisau…”
Salah seorang diantara kedua lelaki itu, yang memakai kaos oblong berwarna merah darah buka suara. Dan pisau komando yang kuning, runcing berkilat itu telah berada ditangannya. Tergantung ke bawah dengan ujung yang runcing terjepit diantara telunjuk dan jarinya.
Pisau itu siap untuk dilemparkan.

Si Bungsu masih tegak diam di atas kasur. Kedua tangannya juga terjuntai kebawah. Ada enam samurai tersisip di kedua tangannya. Tersembunyi dibalik lengan bajunya yang panjang.
Dia yakin, melihat gerakan kedua lelaki ini ketika mengambil pisau, kemudian melihat caranya memegang ujung pisau komando itu, kemudian menggantungnya dengan tangan lemas disisi badan, kedua orang ini adalah pelempar pisau yang tangguh.
Tapi apakah dia akan melayani mereka? Dia terlibat perkelahian dengan kedua orang ini hanya soal Mei-Mei. Mereka akan memperkosa anak pemilik hotel Sam Kok itu. Dan dia datang menolong. Hanya soal itu mereka berkelahi. Sudah jatuh korban nyawa. Apakah masih perlu ditambah?
Kalau saja kedua orang ini adalah bahagian dari sindikat perdagangan wanita itu, maka dia pasti sudah membereskannya sejak dahulu. Tapi karena mereka bukan anggota sindikat yang dia benci itu, makanya kedua orang ini tak dia bunuh dahulu. Hanya dia tendang kerampangnya sekedar untuk melumpuhkan.
Tak dinyana, kedua orang ini ternyata menaruh dendam. Dendam karena teman mereka dibunuh. Dan dendam karena kerampang mereka kena tendang.
Kedua lelaki itu memencar. Yang satu berada dibahagian kiri. Yang satu dibahagian kanan. Jarak antara mereka ada sekitar empat depa. Dan jarak masing-masing mereka dengan si Bungsu yang masih tegak di tempat tidur itu sekitar tiga depa lebih.
Dengan demikian mereka menghindarkan diri dari kena serangan yang amat cepat. Mereka bukannya tak yakin bahwa anak muda ini seorang pelempar yang cepat. Itu sudah dibuktikan dengan kematian teman mereka di hotel dulu.
Demikian cepatnya kejadian itu. Mereka tak melihat bagaimana anak muda itu mencabut dan melemparkan samurainya. Itulah sebabnya kini mereka bertindak hati-hati. Dan dengan tegak agak terpisah satu dengan yang lain dalam jarak yang empat depa itu, mereka yakin akan susah diserang sekaligus.
Anak muda itu harus membuat dua gerakan. Dan harus berputar untuk menyerang mereka berdua.
Sementara itu, si Bungsu yang mendengar tantangan lelaki Australia itu, menarik nafas. Lalu suaranya terdengar perlahan.
“Saya rasa tak ada gunanya perkelahian ini…”
“Babi! Tak ada gunanya katamu, setelah teman kami engkau bunuh, setelah perlakuanmu terhadap diri kami di hotel itu?”
“Saya berharap hal itu bisa berakhir. Dan saya bersedia minta maaf pada tuan-tuan…”
Kedua orang Australia itu berpandangan. Namun mereka tetap tegak dengan kaki terpentang dan tangan memegang ujung pisau komando.
“Apakah engkau takut melihat pisau kami anak muda?”
Si Bungsu tersenyum lembut. Menatap ke pisau di tangan kedua bekas pasukan Komando itu.
“Ambillah pisaumu. Mari kita pertahankan nyawa kita sebagai seorang jantan…” suara tentara Asutralia itu kembali terdengar menantang.
“Maafkan saya. Saya tak bermaksud meremehkan kalian berdua. Saya yakin tuan-tuan sangat cepat mempergunakan pisau Komando itu. Cepat menurut ukuran tentara…”
Kedua bekas tentara sekutu itu tak begitu faham dengan ucapan si Bungsu. namun mereka tetap tegak dengan waspada.
“Saya menantang anda untuk mempertahankan nyawa dengan kecepatan melemparkan pisau anak muda…” lelaki yang berada di sebelah kanannya berkata.
Si Bungsu menggerakkan tangan kananya perlahan. Suatu gerakan yang benar-benar tak mencurigakan kedua bekas tentara sekutu itu. Demikian pula tangan kirinya. Sistim menjepitkan samurai di kedua tangannya itu dibuat sedemikian rupa menurut petunjuk Tokugawa. Sehingga ikatannya seperti bersatu dengan saraf. Bisa diatur kapan meluncur turun meski dengan gerakkan yang amat halus. Sebaliknya, meski dengan gerakan kuat seperti memukul misalnya, jika tidak dikehendaki, samurai itu takkan lepas.
Sistim ini sulit diuraikan menurut ilmu logika atau menurut sistim simpul buhul. Namun bagi orang-orang yang mahir mempergunakan pisau, semacam senjata rahasia di Tiongkok, atau samurai kecil di Jepang, sistim itu mudah dimengerti. Meski tak mudah mempergunakannya. Sebab untuk mempergunakannya diperlukan latihan dan kemahiran yang jarang orang bisa mencapainya.
Si Bungsu masuk yang beruntung dan menguasai pada taraf sangat mahir.
Kini, tanpa diketahui oleh kedua bekas tentara sekutu itu, anak muda itu telah memegang dua buah samurai. Masing-masing ditiap tangannya. Dan kedua bilah samurai itu terlindung dari penglihatan kedua tentara sekutu itu oleh punggung tangannya. Hulunya berada di pergelangan, sementara ujungnya terjepit antara jari tengah dan jari telunjuk.
“Bagaimana caranya tuan menghendaki pertarungan ini berlangsung?” si Bungsu bertanya perlahan.
“Engkau dapat melempar pisaumu pada kami setiap saat engkau suka, dan kami akan menandinginginya dengan kecepatan…”
Demikian yakinnya kedua tentara itu akan kemahiran mereka. Mereka memang mendapat brefet pelempar pisau komando. Dan kini mereka mempraktekkannya pada anak muda ini.
“Setiap saat saya suka?” tanya si Bungsu.
“Ya. Setiap saat…” yang dikiri si Bungsu berkata sambil matanya waspada melihat tangan si Bungsu. si Bungsu mengangkat kedua tangannya. Kedua tentara itu jadi tegang dan amat waspada. Tapi si Bungsu ternyata hanya menyisir rambutnya dengan kesepuluh jari tangannya. Lalu menurunkan tangannya kembali.
Kedua bekas tentara itu menatap tajam pada si Bungsu. ada suara berdetak perlahan disisi mereka. Namun mereka tak mau menoleh. Sebab tak mau kehilangan pengawasan dari anak muda yang masih tegak di pembaringan itu.
“Mulailah..” suara orang Autralia yang dikanan bergema. Sementara pisau komandonya sudah siap sejak tadi.
“Maafkan saya. Anda telah kalah…” kata si Bungsu. kedua tentara itu menatap tajam padanya.
“Apa yang anda maksudkan bahwa kami telah kalah?”
“Ya. Kalau saya mau, tuan berdua sudah mati seperti teman tuan di hotel itu. Mati dengan samurai menancap di antara dua mata, atau menancap persis di jantung…”
Kedua tentara itu tersenyum tipis.
“Anda punya mental yang cukup tangguh anak muda. Tapi kalau anda bermaksud menggertak, maka bukan kami orangnya…”
“Saya tidak menggertak. Lihatlah ke lantai. Di antara kedua sepatu tuan…”
Tanpa dapat ditahan, kedua mereka melihat ke bawah. Dan demi Yesus yang mereka agungkan, mereka hampir tak percaya.
Betapa mereka akan percaya, kalau diantara kedua kaki mereka kini tertancap sebilah samurai kecil hingga hampir separoh tertanam di lantai?
Mereka tak melihat bila anak muda itu melemparkannya. Apakah sudah sejak tadi samurai itu ada di sana, dan mereka tak melihatnya? Mustahil. Mereka melihat lagi pada si Bungsu.
Dan saat itu tangan anak muda itu bergerak perlahan.
“Kini ada dua samurai diantara kaki tuan…” katanya perlahan. Dan kedua mereka melihat lagi. Dan demi Tuhan, ya Nabi dan ya Malaikat! Memang benar ada dua samurai kecil diantara kaki mereka!
Mereka menatap pada si Bungsu. si Bungsu mengangkat tangan kanannya. Membuka lengan bajunya. Dan disana nampak sebuah samurai tersisip.
“Jika saya mau, tak terlalu sulit untuk membunuh tuan. Tapi apakah itu ada gunanya?”
Si Bungsu berkata perlahan. Dan kedua bekas tentara itu segera sadar, bahwa mereka berhadapan dengan seorang lelaki yang ketangguhannya melempar pisau ada puluhan, barangkali ratusan lebih cepat dan lebih mahir dari diri mereka yang sudah termasuk jagoan di pasukan komando dahulu.
Anak muda ini tidak membual ketika berkata bahwa dia sanggup membunuh mereka dengan mudah. Buktinya, sama sekali mereka tidak melihat bagaimana caranya anak muda ini melemparkan pisaunya. Tahu-tahu telah tertancap saja!
Mereka berpandangan satu dengan yang lain. Muka mereka jelas sebentar pucat sebentar merah.
Kini anak muda itu tegak menatap pada mereka dengan tenang. Dengan kedua tangan tergantung disisi tubuhnya. Dan tangan itu, kalau dia mau, memang sanggup menyebar maut. Diam-diam kedua bekas tentara Australia itu pada merinding bulu tengkuknya.
Tapi, yang seorang lagi, yang berdiri di bahagian kiri si Bungsu, tetap saja merasa kurang puas. Dia bergerak ke arah meja. Di meja itu terletak gelas, piring dan bekas kaleng minuman.
Dia memungut kaleng minuman yang telah kosong itu. Lalu berjalan ke sudut ruangan. Menyeret sebuah kursi kesana. Kemudian meletakkan kaleng bekas itu di kursi tersebut.
Dan dia tegak lagi ketempatnya semula. Si Bungsu menatap saja dengan diam.
“Nah, anak muda. Kini kita buktikan siapa yang lebih cepat mempergunakan pisau. Engkau atau kami. Jarak antara kaleng itu dengan ketiga kita, sama-sama sekitar empat depa. Pisau saya bertanda merah. Pisau teman saya kuning hulunya. Dan samurai kecilmu jelas berbeda dengan milik kami. Saya akan melemparkan kotak korek api ke atas. begitu kotak itu jatuh di lantai, kita lempar kaleng itu dengan pisau. Yang dituju adalah lingkaran huruf O yang ada di tenagh kaleng itu. Dengan demikian kita akan ketahui siapa yang cepat..”
Bekas tentara itu memandang pada temannya. Temannya mengangguk. Kemudian mereka sama-sama memandang pada si Bungsu. si Bungsu masih diam. Dia bukannya tak tahu, banyak orang-orang yang licik.
Apakah tak mungkin ini adalah suatu jebakan? Apakah tak mungkin, disaat dia melemparkan kaleng bekas minumannya itu dengan pisau, saat itu pula kedua bekas tentara itu melemparkan pisaunya. Tapi bukan ke arah kaleng, melainkan kearah dirinya!
Itulah sebabnya dia memandang saja dengan diam dan tak segera menjawab tantangan itu. Dan barangkali kedua bekas tentara itu mengerti jalan pikirannya.
“Jangan khawatir anak muda. Kami takkan berbuat curang. Yang punya sifat curang biasanya adalah kalian, orang-orang Melayu. Kami menjunjung tinggi nilai-nilai sportif. Kami tahu engkau cepat dengan pisaumu. Dan kalau kau mau, kau bisa menghabisi kami sejak tadi. Nah, kami menghargai sikapmu itu. Kini kami ingin menguji sampai dimana ketangguhan kami sebagai bekas tentara komando. Yang amat mahir mempergunakan pisau. Kami ingin membandingkan dengan dirimu…”
Kembali si Bungsu menarik nafas panjang.
“Baiklah, kalau itu yang tuan-tuan kehendaki” akhirnya dia berkata.
Yang meletakkan kaleng bekas minuman tadi segera merogoh kantong dengan tangan kirinya. Dari dalam kantongnya dia mengeluarkan kotak korek apai.
“Siap?” tanyanya. Temannya mengangguk. Si Bungsu juga mengangguk perlahan. Kedua bekas serdadu itu bersiap. Tangan kanan mereka yang memegang hulu pisau komando itu tadi mengeras. Sementara tangan si Bungsu melemas. Sebuah gerakkan kecil lengan kanannya membuat samurai terakhir di sebelah kanan itu meluncur turun.
Korek api itu dilambungkan keatas. Ujung-ujung jari si Bungsu menjepit ujung samurai kecil yang meluncur dari lengannya.
Kotak korek api itu rupanya terlalu kuat dilemparkan. Dia membentur loteng. Dan benturannya menyebabkan korek itu cepat pula terpukul ke bawah. Ketiga mereka tak melihat kotak itu. Hanya mempertajam pendengaran. Menanti suara jatuhnya korek api itu menyentuh lantai kamar.
Kedua bekas serdadu sekutu itu memang cepat luar biasa dengan lemparannya. Dan lemparannya juga tepat. Buktinya, kedua pisau komando mereka menancap saling dempet di dinding!
Ya, kedua pisau komando itu menerkam dinding di belakang kaleng bekas minuman tadi. Sementara kaleng minuman itu sendiri sudah terpental dan terpaku ke dinding sedikit ke bawah dari kedua pisau komando itu.
Kedua bekas tentara sekutu itu menatap dengan mata tak berkedip pada kaleng bekas minuman itu. Selain takjub pada kecepatan anak muda itu, mereka dengan kaget juga melihat bahwa pada huruf O yang menjadi sasaran lemparan tersebut, tertancap tidak hanya sebilah samurai kecil melainkan dua bilah! Dua bilah samurai kecil pada sasaran yang amat kecil dan dalam kecepatan yang sama dengan ketepatan yang fantastis!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: