tikam samurai-bagian-313-314-315-316


Disamping Polisi ini, adalah seorang lelaki yang dikenal si Bungsu sebagai seorang staf konsulat! Ya, dia adalah menodongkan pistolnyaorang Indonesia yang menduduki tempat penting pada staf konsulat itu.
Lelaki itu tersenyum. Kedua tangannya berada dalam kantong. Senyumnya lebih mirip seringai.
“Tetap sajalah duduk di sana tenang-tenang nyonya…” lelaki itu bicara sopan dan masih tersenyum pada Salma yang akan bangkit. Suaranya terdengar perlahan ketelinga si Bungsu.
Salma bukan main kagetnya melihat kejadian ini. Sebab dia tahu benar lelaki ini Staf Konsulat, teman sejawat suaminya.
Akan halnya Nurdin yang terbaring sakit itu tetap saja bersikap tenang. Dia mengunyah makanan dalam mulutnya perlahan.
“Selamat malam Overste…” lelaki itu berkata dengan senyum tetap menghias bibirnya.
“Selamat malam…” jawab Nurdin.
“Hmm, nampaknya anda tak terkejut dengan kehadiran saya….” Staf konsulat itu berkata. Nurdin tak segera menjawab. Dia meminta air pada isterinya. Minum beberapa teguk. Lalu kembali menatap pada rekannya itu.
“Kenapa saya harus terkejut. Saya sudah menduga anda terlibat dalam sindikat ini. Lagipula dalam sebuah negeri penghianat-penghianat merupakan kejadian yang lumrah…”

Muka lelaki itu jadi merah. Senyumnya lenyap. Namun dia masih tetap tegak di tempatnya. “Saya datang untuk menawarkan kerjasama Overste…”
“Hmm, menarik juga. Kerjasama bagaimana…?”
“Anda ikut dalam sindikat kami. Dan anda akan mendapat perlindungan berikut seluruh keluarga anda. Itu dari segi keamanan . dari segi materi anda dapat memiliki apa saja. Dari segi jabatan, anda bisa kami angkat menjadi Panglima Tentara di Indonesia..”
“Tawaran yang menarik. Tapi anda mempergunakan kalimat “kami”. Siapa yang lainnya?”
“Itu akan overste ketahui kelak”
“Bagaimana kalau saya tak mau..”
“Tak soal. Anda bisa memilih. Dan kami tinggal melaksanakan pilihan anda itu. Kalau anda menerima, maka serahkan dokumen yang anda susun itu pada kami, dan anda akan menerima imbalan sesuai dengan yang saya ucapkan tadi. Kalau anda tak mau menerima, maka anda tak perlu susah-susah lagi bekerja. Kami datang untuk menyudahi hidup anda..”
Salma jadi pucat. Dia memeluk anaknya. Pembicaraan kedua lelaki itu nampaknya biasa-biasa saja. Namun siapapun bisa mengetahui, bahwa pembicaraan mereka adalah mengenai soal hidup atau mati. Soal sebuah sindikat dan sebuah negara.
Si Bungsu masih tetap diam bergelantungan di luar jendela. Dia ingin tahu apa kelanjutannya. Kini jelas olehnya “orang dalam” yang terlibat dalam sindikat perdagangan wanita ini. Hanya dia ingin melihat bagaimana Nurdin keluar dari saat yang genting ini. Sementara Polisi Singapura itu tetap saja menodongkan pistolnya ke arah Nurdin.
Sementara itu Nurdin bicara lagi.
“Kalaupun saya anda bunuh, namun anda takkan pernah mendapatkan dokumen itu. Dan anda takkan pernah selamat. Saya sudah mengirimkan nama anda ke Jakarta….”
Lelaki itu tertawa perlahan.
“Apa artinya bagi saya pengiriman nama itu ke Jakarta. Di Jakarta laporan anda itu akan diterima oleh teman saya. Dan kalaupun jatuh ketangan orang lain, saya juga tak usah khawatir. Saya tak perlu kembali ke Indonesia. Seluruh keluarga saya…”
“Sudah di Tiongkok…” overste Nurdin memutus ucapannya.
“Hmm, anda mempunyai pengamatan yang tajam juga…”
“Ah. Siapapun akan bisa menebak, bahwa anda adalah orang Komunis. Setelah gagal dengan pemberontakan Madiun kalian menyelusup ke seluruh departemen…”
Lelaki itu tertawa lagi.
“Bukankah itu suatu bukti, bahwa pemerintah berada di pihak kami? Buktinya, meski kami telah memberontak, kami diterima lagi Departemen-departemen. Bahkan menduduki posisi kunci. Nah, kita tak usah berpanjang lebar lagi Overste… kini serahkan dokumen itu dan bekerja sama dengan kami, atau kalian bertiga kami sudahi di sini..”
Lelaki itu mengeluarkan tangannya yang sejak tadi tersimpan dalam kantong celananya. Dan kalau tadi dia selalu tersenyum ramah, kini wajah aslinya kelihatan. Mukanya berkerut masam.
“Tak satupun yang akan anda peroleh…” jawab overste itu tenang. Sementara tangan kanannya tetap membelai kepala anaknya yang berada dipangkuan isterinya.
“Kami tidak main-main Overste…” berkata begini, tangannya segera merenggutkan tangan Salma. Perempuan itu tertegak oleh renggutan kasar itu.
“Hajar dia..!” kata lelaki itu pada Polisi Singapura yang nampaknya merupakan bahagian dari sindikat itu.
Polisi itu maju setapak dan bersiap menarik picu pistolnya. Si Bungsu sudah menggebrak kaca jendela, ketika tiba-tiba terdengar letusan. Terlambat, pikirnya. Dan seiring dengan letusan itu tubuhnya menghantam kaca jendela. Hanya beberapa detik, dia sudah tegak dalam kamar itu. Dan tangannya yang telah menggenggam dua samurai kecil terayun.
Namun gerakannya terhenti. Dia melihat Polisi Singapura itu rubuh dengan dada berlumur darah. Sementara staf konsulat yang tadi menyentakkan tangan Salma tegak kaget memandang ke jendela dan juga pada Overste Nurdin.
Lalu tiba-tiba tangannya bergerak ke balik jasnya. Sepucuk pistol kecil muncul dan sebuah letusan lagi bergema. Gema letusan itu berasal dari bawah selimut overste Nurdin. Staf konsulat itu terputar. Bahunya dihantam peluru. Dan ketika Nurdin mengeluarkan tangan kirinya, dia menggenggam sebuah revolver enam silinder.
Si Bungsu masih tetap tegak diam. Nurdin teranyata berhasil keluar dari saat kritis itu dengan baik.
Nurdin dan si Bungsu bertatapan. Kemudian overste itu tersenyum.
“Terimakasih. Anda telah menjaga diriku dari balik jendela kaca itu…” kata Nurdin sambil tersenyum.
Si Bungsu tak sempat menjawab, sebab Salma dan gadis kecilnya telah memeluk Nurdin. Lalu saat itu pintu terbuka. Dan dipintu tegak Konsul Indonesia bersama tiga orang petugas keamanan.
“Saya dilaporkan ada tembakan disini…” kata konsul itu.
“Ya. Dan yang kena tembak adalah dia. Yang menembak saya…” Nurdin berkata sambil menunjuk pada staf konsulat yang saat itu tengah duduk dilantai. Bersandar kedinding sambil memegang bahunya mengalirkan darah.
Konsul itu menatap pada stafnya itu. Lalu menatap pula pada Nurdin.
“Ya. Dialah orangnya…” kata Nurdin.
Konsul itu melihat pada staf seniornya itu dengan berang.
“Komunis jahanam! Kau akan mendapat ganjaran, laknat!” kemudian memerintahkan untuk mengangkat mayat polisi singapura itu. Menyerahkannya pada pihak penguasa disertai laporan lengkap tentang sindikat perdagangan wanita tersebut. Sementara staf senior konsulat Indonesia itu dijebloskan ke dalam tahanan.
Nampaknya Nurdin telah meporkan soal sindikat itu pada Konsul. Namun satu hal yang pasti. Nurdin tetap tak pernah mengatakan soal dokumen yang ada pada si Bungsu.
“Engkau harus ke Jakarta Bungsu. saya punya firasat bahwa apa yang dikatakan staf senior konsulat itu memang benar. Bahwa setiap laporan tentang sindikat yang saya kirim ke Jakarta, jatuh ketangan komplotan itu sendiri. Artinya, di departemen yang menangani kasus ini juga terdapat orang-orang Komunis yang menjadi dalang sindikat ini di Indonesia.
Karena itu engkau berangkat ke sana. Meski pun saya sembuh, namun saya tak bisa bertindak drastis. Ada peraturan yang harus saya taati sebagai seorang militer. Tapi sebaliknya saya tak ingin mengampuni sindikat perdagangan wanita ini. Dan saya tak mau toleransi pada Komunis. Keduanya, sindikat dan Komunis itu sama jahanamnya. Mereka telah gagal dalam pemberontakan di Madiun. Namun saya yakin, suatu saat nanti, cepat atau lambat, mereka akan memberontak lagi. Mungkin korban yang jatuh akan lebih banyak. Bagi mereka menjual wanita, membunuh orang tak ada artinya sama sekali. Mereka tak mengenal Tuhan.
Saya ingin mereka dibunuh saja semua. Bayangkan betapa menderitanya sanak famili dari perempuan-perempuan yang dijual oleh sindikat itu. Saya tak tahu dengan pasti berapa orang sudah perempuan dari Indonesia yang berhasil mereka bujuk dan mereka jual sampai ke Eropah sana untuk dijadikan penghuni rumah lacur. Namun menurut catatan selama saya bertugas disini, tak kurang dari seratus wanita telah dibawa dari Indonesia.
Sindikat ini harus digulung. Anggotanya harus dibunuh. Ya, itu hukuman yang patut buat mereka. Namun saya tak bisa melaksanakan itu. Makanya engkau yang saya minta Bungsu…”
Si Bungsu duduk dengan diam disisi pembaringan Nurdin. Mendengarkan ucapan Overste itu dengan tenang. Pembicaraan itu sepekan setelah penembakan terhadap staf senior konsulat itu.
Si Bungsu tak segera bisa memberikan jawab atas permintaan Nurdin. Sebab dihatinya semula telah ada rencana untuk pulang ke kampungnya. Dia terlalu rindu pada harumnya bau padi dan bunga jagung. Dia rindu pada kesejukan angin yang bertiup dari kaki Gunung Sago.
Ah, siapa yang takkan rindu pada kampung halamannya? Siapa yang takkan rindu pada kampung dimana mereka berlarian mengejar layang-layang sewaktu kecil. Mengendap-endap mengintai burung balam. Bermain dan berlari di jalan yang membelah kampung. Meskipun jalan kampung tak pernah diaspal, namun kerinduan padanya tak pernah padam.
Kini akan kemanakah dia? Pulang ke kampung dahulu baru kemudian ke Jakarta. Atau ke Jakarta dahulu baru ke kampung setelah tugasnya selesai?
Keduanya mempunyai resiko.
Kalau dia ke Jakarta dahulu, lalau baru pulang ke kampung, apakah dia akan selamat dalam tugasnya itu. Kalau tidak, maka kampungnya takkan pernah dia pijak lagi. Dia tahu, sindikat ini adalah sindikat yang berbahaya. Memiliki tukang bunuh bayaran. Memiliki manusia-manusia yang siap mengerjakan apa saja demi uang.
Tapi kalau dia pulang dulu ke kampung, itu berarti memberi kesempatan bagi sindikat itu untuk beroperasi terus. Selama ia berada di kampung, berapa orang gadis dan perempuan akan jadi korban pula.
Lama si Bungsu memikirkan kedua kemungkinan ini di hotelnya. Dia tak menyangka bahwa dirinya akan terlibat dalam urusan serius seperti ini.
Dia tengah tegak menatap ke pelabuhan lewat jendela kaca di hotelnya itu ketika dia lihat di depan hotel sebuah sedan berhenti.
Dari dalamnya turun dua orang Barat. Kedua orang itu langsung masuk ke hotel. Si Bungsu tak begitu memperhatikan kedua orang itu. Pikirannya tengah melayang. Memikirkan kemungkinan untuk pulang ke kampung atau langsung ke Jakarta.
Kalau saja pikirannya tak tengah menerawang, dia pasti segera mengenali kedua orang Barat itu. Mereka tak lain dari bekas tentara Australia yang terlibat baku hantam dengannya di hotel Sam Kok sebulan yang lalu.
Mereka baku hantam karena soal Mei-Mei. Anak gadis pemilik hotel itu. Bekas tentara sekutu berkebangsaan Australia itu semula berjumlah tiga orang. Dan mereka berniat memperkosa Mei-Mei. Si Bungsu yang datang sesaat sebelum gadis itu dinistai, berhasil membunuh salah seorang diantaranya.
Si Bungsu masih tegak di depan jendela ketika kedua orang Australia itu sampai di depan pintu kamarnya. Dia baru sadar ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia mengalihkan pandangannya dari kapal-kapal di tengah laut ke pintu kamar.
“Siapa…?”
“Saya, pelayan…”
Tanpa curiga dia berjalan ke pintu. Membukanya. Pintu itu baru saja terbuka sedikit, ketika tiba-tiba ditendang dengan keras dari luar.
Pelayan yang diminta mengetukkan pintu itu kaget. Dia tak menyangka bahwa tamu ini akan main tendang. Padahal mereka tadi minta tolong tunjukkan kamar orang Indonesia ini dengan sikap yang sopan. Kok sekarang pakai tendang segala.
Dia sebenarnya ingin marah. Sebab pintu hotelnya ditendang. Induk semangnya bisa berang. Namun bekas tentara Australia itu telah mengirimkan sebuah bogem mentah ke kepala si Bungsu. anak muda itu terpental ketempat tidur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: