tikam samurai-bagian-305-306-307-308


Si Bungsu tak dapat menjawab sekalimat pun. Dia menatap gadis itu dengan tatapan tak menentu. Gadis itu Gadis itu coba meronta. Menggigit. Menjeritbangkit. Mengambil sebuah tablet berwarna coklat di meja.
“Nah, minumlah ini, tablet ini bisa menenangkan anda. Degup jantung begitu bisa membuat anda sakit jantung…” gadis itu berkata sambil menoyongkan tablet itu kedekat mulut si Bungsu.
Busyet!
Si Bungsu menggeleng.
“Saya memang telah sakit jantung nona. Kalimat-kalimat anda membuat saya putus-putus..”
Gadis itu mengerutkan kening. Tersenyum. Dia tak mengerti apa yang diucapkan si Bungsu.
“Saya tak begitu mendengar anda menyebutkan nama anda tadi. Dapatkah nona ulangi kembali?” si Bungsu meminta dengan harapan bahwa dia salah dengar.
“Nama saya Mei Ling. Tapi panggilan saya Mei-Mei..”
Si Bungsu terbatuk lagi. Kemudian matanya terpejam. Nafasnya memburu. Dan lagi-lagi gadis itu meraba kepalanya. Mendekapkan telinganya ke dada si Bungsu. waktu dia berbuat begitu, tubuhnya dibahagian atas menelungkup diatas tubuh si Bungsu. terang saja debur darah dan detak jantung si Bungsu seperti deru lokomotif yang mendaki lembah Anai.
“Hei. Anda sakit jantung?”
“Tidak. Jantung saya tak sakit. Tapi sudah pecah!”

Gadis itu tertawa dan mencubit tangan si Bungsu. dan mau tak mau, anak muda itu terpaksa ikut nyengir.
“Nah, untuk merekat kembali jantung anda yang pecah itu, minumlah obat ini” gadis itu menyorongkan tablet itu lagi. Karena si Bungsu tetap saja tak membuka mulut, maka tablet itu disumbatkannya ke bawah bibir si Bungsu!
Si Bungsu seperti orang memakai sugi. Bibir atasnya membengkak. Dan dia merasa lucu. Mau tak mau dia tertawa lagi. Gadis itu juga ikut tertawa renyai. Kemudian meminumkan si Bungsu air dari cawan putih.
“Bagaimana kalau saya memanggil dengan Mei Ling saja?” si Bungsu menawarkan kemungkinan lain pada gadis itu. Sebab bagaimana dia akan bisa menyebut nama Mei-Mei sementara nama itu adalah gadis yang dia cintai buat pertamakalinya. Dan gadis yang mati sebelum mereka menikah di mesjid kecil di Tarok dahulu?
“Seharusnya orang memanggil saya dengan sebutan itu. Tapi karena sejak kecil saya dipanggil Mei-Mei, maka saya seperti tak mengenal lagi nama Mei Ling itu. Jadi kalau anda memanggil saya dengan nama itu, barangkali saya takkan menyahut”
Aduh mak, mati awak, si Bungsu mengeluh.
“Apakah anda tak menyukai nama Mei-Mei?” tiba-tiba gadis itu bertanya. Dan pertanyaan ini terang saja membuat jantung si Bungsu rengkah-rengkah. Seperti tanah sawah dihantam panas terik bertahun-tahun.
“Tidak. Ya. Eh, anu…suka. Suka, kenapa tidak. Mei-Mei…hmm, bukankah itu nama yang indah. Namanya indah, orangnya cantik…” si Bungsu ngomong asal ngomong saja. Soalnya hatinya tak menentu.
Mei-Mei tersenyum lagi. Lalu tegak membereskan meja dan piring mangkuk bekas makan si Bungsu.
“Hei, anda banyak sekali memiliki Samurai. Ada yang besar dan enam buah yang kecil. Lalu ini, dalam kopor anda ada enam buah lagi samurai kecil. Nampaknya anda seperti bersiap untuk sebuah pertempuran..”
Suara gadis itu mengejutkan si Bungsu. dia melihat tangan kiri dan kanannya. Dua hari yang lalu, ketika akan berbaring, dia lupa membuka ikatan samurai-samurai kecil di lengannya. Kini samurai itu tak ada lagi ditangannya. Dan tidak hanya itu, bajunya juga sudah ditukar. Pastilah gadis itu yang telah menukarkan bajunya, dan membuka samurai kecil-kecil itu.
“Dimana anda letakkan samurai kecil-kecil itu…?”
“Ada di bawah bantal. Saya rasa anda memerlukannya…” gadis itu kemudian meninggalkan kamar itu setelah melemparkan sebuah senyum.
Si Bungsu menarik nafas. Alangkah panjang dan berlikunya jalan yang dia tempuh.
Mei-Mei!
Mei-Mei nama gadis itu. Mana mungkin ada orang yang serupa. Dan mana mungkin dia bisa ketemu lagi dengan orang yang memiliki nama yang sama dengan nama kekasihnya yang mati diperkosa Jepang itu?
Mei-Mei gadis cina yang nyaris kawin dengannya dahulu adalah gadis yang juga merawat luka-luka yang dia derita tatkala usai dari perkelahian dengan Jepang di sebuah rumah pelacuran di Payakumbuh.
Kini, Mei-Mei yang ini juga merawat luka-luka yang dia derita dari sebuah perkelahian. Ah, dia seperti berulang-ulang menikam lagi jejak yang telah dia lalui.
Perlahan dia coba untuk bangkit. Luka bekas tembakan di paha dan dilengannya tak terasa lagi.
Namun ada yang terasa, yaitu rasa penat yang menyerang.
Dia ingin tidur, ingiin sekali. Namun diantara rasa kantuknya yang menyerang. Lambat-lambat dia mendengar suara langkah. Suara pintu ditutupkan. Kemudian suara bergumul. Dia tengah berbaring ketika pikirannya berjalan dan memikirkan apakah yang tengah terjadi. Suara apakah itu? Pikirnya.
Dan dirinya terserang oleh dua keinginan yang saling tindih. Antara keinginan untuk tidur dengan keinginan untuk mengetahui ada apa di luar. Tapi ini hotel, apa saja bisa terjadi, pikirnya pula sambil coba memicingkan mata.
Namun suara perempuan yang tertahan, seperti sedang disekap mulutnya, membuat si Bungsu tertegak tiba-tiba. Suara Mei-Mei kah itu, pikirnya. Dan dengan pikiran demikian dia segera saja menuju ke luar. Pintu kamarnya dia buka. Memandang ke lorong di depan kamar-kamar yang berderet di tingkat dua hotel itu. Lengang!
Tak ada apa-apa. Namun suara apakah sebentar ini yang terdengar olehnya? Dia tatap lagi lorong di depan kamar-kamar hotel itu. Lengang!
Perlahan dia masuk lagi. Menutupkan pintu. Kemudian tegak dibalik pintu itu dengan diam. Dia berkonsentrasi. Kalau dahulu di rimba gunung Sago, dia selalu dapat mendengarkan bunyi ular yang menjalar sekitar dua puluh meter dalam hutan dari dirinya, mengapa kini konsentrasi yang sama tidak dia lakukan?
Beberapa detik setelah dia konsentrasi, dia segera saja dapat mendengar suara orang bergumul. Tiga kamar di sebelah kiri kamarnya memang tengah terjadi pergumulan. Dan yang bergumul adalah ketiga orang Australia yang menginap disana. Yang datang ketika si Bungsu kembali dalam keadaan luka-luka tiga hari yang lalu.
Ke tiga orang Australia itu, adalah bekas tentara Sekutu dalam perang Dunia ke II yang baru saja berakhir. Mereka bekas anggota Raider Divisi III yang bertugas di India ketika Kemerdekaan RI diproklamirkan. Dan sebagai bekas tentara, bekas raiders pula, mereka adalah orang-orang yang mahir dalam perkelahian.
Tadi ketika Mei-Mei berada dalam kamar si Bungsu, mereka sudah mengintai di luar kamar. Dan begitu gadis itu keluar serta menutupkan pintu, merekapun menyergapnya. Menyeretnya ke kamar mereka. Gadis itu coba meronta. Menggigit. Menjerit. Namun mulutnya tak pernah bisa sempat untuk menjerit. Yang keluar hanyalah suara-suara tertahan. Dia langsung dibawa ke kamar ketiga bekas Raiders itu. Dibaringkan di tempat tidur.
Tangannya dipegangi. Mulutnya disekap. Dia meronta, dan akibatnya pakaiannya tersingkap hingga ke perut. Ketiga bekas tentara itu melotot matanya melihat paha dan perut Mei-Mei yang alangkah mulus dan putihnya.
Yang seorang tak sabar lagi. Dia menerkam mencium Mei-Mei. Gadis itu menerjangnya. Kena kepala. Dia terpental ke bawah tempat tidur. Lelaki itu menyeringai. Senang juga dia kena hantam jidatnya. Dia bangkit lagi.
Sementara kedua temannya yang lain sudah menggerayangi tubuh gadis itu dengan tangan mereka. Pakaian gadis itu sudah sempurna terbuka. Kini yang membalut tubuhnya hanya sehelai celana dalam yang amat kecil. Sementara tubuh bagian atasnya tak tertutup sedikitpun. Dan kesanalah tangan ketiga bekas serdadu perang dunia ke II itu menggerayang silih berganti.
Gadis Cina itu menerjang-nerjang. Mencakar-cakar. Dia tidak bisa bersuara. Karena mulutnya disekap oleh salah seorang diantara mereka. Namun terjang dan rontaan tubuhnya justru membuat menaiknya nafsu ketiga bekas serdadu Australia itu. Karena meronta ingin melepaskan diri, pinggul gadis itu naik turun. Menggeliat kekiri dan kekanan. Dan gerakkan itu merangsang ketiga lelaki tersebut.
Mereka tengah menikmati gerak merangsang pinggul gadis yang hanya tertutup celana kecil itu ketika pintu tiba-tiba terbuka. Ketiga bekas serdadu itu menoleh. Dan mereka melihat dipintu berdiri anak muda yang beberapa hari yang lalu dilayani dengan baik oleh gadis Cina itu.
“Hei! Giliranmu sudah cukup lama bukan? Engkau sudah cukup puas. Kini giliran kami. Nah, pergilah. Jangan mengganggu..” suara yang pakai brewok dan bermata coklat terdengar serak. Sementara tangannya tak pernah lepas dari dada gadis itu.
Si Bungsu, yang tegak di pintu itu, tiba-tiba merasa perutnya mual melihat tingkah ketiga orang ini.
“Lepaskan dia…!” suaranya terdengar datar dengan wajah tenang seperti danau yang tak beriak.
Namun mana mau ketiga orang itu melaksanakan perintahnya. Mereka justru melanjutkan pekerjaan tangan mereka.
“Lepaskan dia. Atau kalian saya bunuh…!” ketiga lelaki itu benar-benar terhenti. Bukan karena takut dibunuh, tidak. Bagaimana mereka akan takut kena gertak meski gertak bunuh sekalipun? Ah, mereka sudah kenyang akan pembunuhan. Bukankah mereka bekas balatentara sekutu yang bergelimang elmaut di India? Ah, mereka tak pernah takut menghadapi maut.
Tapi mereka terpaksa berhenti karena nada suara anak muda itu. Nadanya dingin dan menegakkan bulu roma. Tidak besar mengguntur. Tidak pula diucapkan dengan nada marah. Namun dalam nada yang perlahan itu tersimpan bahaya yang alangkah mengerikannya. Dan itulah yang menyebabkan mereka berhenti.
Mereka tak mengenali siapa anak muda ini. Namun ada firasat yang membisiki diri mereka, bahwa yang mereka hadapi sekarang ini adalah bahaya yang luar biasa.
Perlahan mereka melepaskan gadis itu. Perlahan mereka tegak. Perlahan mereka turun dari pembaringan. Namun ketika Mei-Mei akan berlari dari tempat tidur itu ke arah anak muda tersebut, yang brewok menamparnya keras sekali. Gadis itu terjerembab pingsan.
Namun lelaki brewok itu dengan perbuatannya itu telah menentukan saat kematiannya. Karena begitu selesai menampar Mei-Mei, dia lalu berputar menghadap pada si bungsu. dan saat itu pula tangan si Bungsu menyerang. Samurai dilengannya lepas, jatuh dan disambut oleh jari-jarinya. Kemudian dengan sebuah ayunan yang sangat cepat, samurai kecil itu terbang ke arah si Brewok.
Tak seorangpun yang tahu persis apa yang telah terjadi. Sebab tahu-tahu si brewok mengeluh. Kemudian jatuh terlentang ke lantai. Dan persis diantara kedua matanya yang coklat itu, tertancap hulu samurai kecil. Darah mengalir sedikit membasahi matanya yang terbuka. Mulutnya ternganga. Nyawanya terbang mengirap!
Kedua temannya terbelalak. Menatap pada si Bungsu. Anak muda itu masih tegak dengan diam dan menatap pada mereka dengan tatapan mata yang dingin. Kedua lelaki ini adalah tentara yang telah terbiasa dengan bahaya. Namun menghadapi ketenangan anak muda yang satu ini, dalam keadaan damai pula, mereka tak bisa menyembunyikan rasa kaget dan takut.
Tapi itu hanya sesaat. Dan saat berikutnya, terdorong oleh rasa superior orang-orang barat, merasa diri mereka lebih mampu dan lebih kuat dari orang-orang Melayu yang dianggap ketinggalan dalam segala hal, yang bertubuh besar dengan otot kekar, mirip tukang jagal, maju menyerang si Bungsu.
Dia menyerang dengan pukulan. Namun si Bungsu sudah waspada. Dia mengelak tepat pada waktunya. Pukulan bekas tentara Australia itu menerpa pintu dimana tadi kepala si Bungsu berada. Pintu itu berdebrak. Dan anjlok sebesar kepalan tangan orang itu!
Bekas tentara itu menarik tangannya kembali. Dan tampa membayangkan rasa sakit sedikitpun, dia menyerang lagi!
Si Bungsu mengelak. Tapi orang Australia yang satu lagi, yang tadi hanya tegak diam, tiba-tiba mendorong si Bungsu dari belakang. Akibatnya elakan si Bungsu tak terkontrol. Pukulan maut itu mendarat di wajahnya! Prakk!! Ada rasa asin dimulutnya. Ada cairan hangat meleleh dihidungnya.
Dia membuka mata. Aneh, tiba-tiba saja dia mendapatkan dirinya diatas tempat tidur. Melingkar diujung sebeleh ke dinding. Tiga depa dari bekas serdadu yang tadi memukulnya! Kalau demikian, ternyata dia telah terpental sejauh itu akibat pukulan tersebut. Dan si Bungsu tak merasa heran. Dia memang yakin bahwa demikianlah kejadiannya, makanya dia sampai ke pembaringan ini!
Dia menggelengkan kepala. Merangkak di pembaringan.
“Babi, sok jago koe disini…!” yang memiliki kepalan seperti godam itu menyumpah sambil mendekat ketempat tidur. Dia menjangkaukan tangannya yang berotot besi bertulang kawat itu kearah tengkuk si Bungsu. namun saat itu pula, si Bungsu bertelekan ke kasur. Lalu kakinya menyorong kebawah perut, langsung ke dada bekas tentara itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: