tikam samurai-bagian-297-298-299-300


Meski dia tak ditugaskan untuk turun tangan langsung, namun dia ikut bertanggung jawab. Maka kalau si gemuk kepitan raksasaitu kalah nanti, dia akan ikut jadi korban. Harapannya tinggal satu kini, yaitu agar si gendut itu menang.
Perkelahian berlanjut lagi. Suatu saat si gemuk berhasil mendekap tubuh Belanda itu. Dia dekap dengan kuat ke tubuhnya seperti memeluk kekasih. Dengan kedua tangannya yang masih bebas. Belanda besar itu menghantam pelipis dan pangkal telinga Cina itu. Namun dia jadi kaget. Cina itu tak mengubris serangan itu samasekali.
Dan kini tubuhnya dipiting dengan kuat oleh Cina gendut itu keperutnya yang besar. Dengan perlahan, tapi pasti, Belanda itu mulai kehabisan nafas. Dekapan Cina itu alangkah luar biasa kuatnya. Muka Cina itu mulai merah dan berpeluh karena dia mengerahkan tenaganya. Belanda itu berusaha meronta untuk membebaskan diri. Namun pagutan Cina itu seperti pagutan gurita raksasa. Tak tergoyahkan.
Belanda itu mengangkat tangannya kembali. Memukulnya dengan kuat ke pelipis Cina itu. Cina itu menyeringai. Pukulan itu seperti tak dia rasakan. Belanda itu sudah pucat. Nafasnya sudah sejak tadi tertahan oleh kepitan raksasa itu.
Dan tiba-tiba matanya terpandang pada mata sipit Cina gemuk itu. Ya, mata Cina ini adalah bahagian terlemah yang tak terlindung. Cuma apakah bahagian matanya juga kebal? Belanda itu akhirnya menyerang dengan harapan terakhir. Dia memang tak pernah belajar tusuk menusuk dengan jari. Dia hanya tahu main bokser dan gulat. Tapi kini kedua ilmunya itu punah.

Dipunahkan oleh kekuatan Cina yang luar biasa ini. Dengan menggertakkan gigi dan mengerahkan sisa tenaganya, dia menusukkan kedua jari telunjuk dan jari jari tengahnya yang kanan ke mata Cina tersebut. Cina itu sebenarnya sudah akan meremukkan tulang belulang si Belanda. Tapi tiba-tiba matanya jadi gelap. Pedih. Dan sakit bukan main. Dia meraung. Lalu menghempaskan tubuh Belanda itu ke lantai!
Belanda itu meraung pula begitu tubuhnya tercampak. Dia seorang pegulat, jatuh terhempas merupakan hal kecil. Tapi kali ini, dengan hempasan Cina gemuk ini, sakitnya terasa amat melinukan jantung.
Cina itu menutup matanya dengan tangan. Matanya berdarah. Tusukkan jari tangan Belanda itu bukan main kuatnya. Untung saja matanya tak copot keluar. Tapi meski tak copot keluar, tusukan itu cukup membuat matanya tak bisa melihat.
Dan Cina itu tahu, bahaya tengah mengintainya. Karena itu, begitu dia mendengar lawannya memekik di lantai, dia segera maju kesana. Dia hanya memakai perkiraan saja, dan kakinya terangkat. Lalu dia hujamkan kebawah. Ketempat dimana kepala belanda itu dia perkirakan terletak. Perkiraannya tak meleset, hanya perhitungannya agak meleset. Belanda itu sudah menelentang. Begitu dia lihat Cina itu menghantamkan kakinya ke bawah, dia berguling menyelamatkan nyawa.
Lalu sambil tegak dia putar kakinya dalam bentuk sapuan yang amat kuat ke kaki Cina itu. Cina yang tak melihat apa-apa itu tersapu kakinya. Tubuhnya jatuh berdembum ke lantai. Saat berikutnya adalah peristiwa yang mengerikan. Belanda yang bertubuh besar kekar itu melambung tinggi. Dan dalam suatu gerakan gulat profesional tubuhnya meluncur turun dengan kedua kaki menghujam ke arah dada Cina yang terbaring menelentang itu.
Terdengar suara tulang patah. Cina itu meraung lagi. Darah menyembur dari mulut dan hidungnya. Merasa masih belum puas, Belanda itu mengalihkan tegak. Lalu kakinya terayun dalam bentuk sebuah tendangan yang amat kuat. Tendangan mendarat di selangkang Cina itu. Cina itu tak lagi meraung. Mulutnya ternganga. Mukanya berkerut. Tangannya yang tadi mendekap mata, dalam gerak perlahan sekali berusaha memegang selangkangnya. Namun gerakkannya terhenti setengah jalan. Gerakkan itu tak sampai. Karena nyawanya sudah terbang. Cina itu segara saja beralih status dari seorang manusia gemuk menjadi seorang almarhum.
Belanda itu berhenti dengan nafas terengah. Menatap pada bosnya dengan peluh membanjiri muka. Bosnya tersenyum. Baginya sama saja siapa yang menang atau siapa yang kalah. Tak peduli dia. Bos ini menoleh pada si keling yang tegak dengan lutut gemetar. Lalu memberi isyarat dengan gerakkan kepala. Dan si keling jadi ngerti. Dia berjalan ke arah almarhum gemuk itu. Memegang tangannya, dan menyeretnya. Tapi malang, tubuh Cina bukan main beratnya. Tak bergerak di tarik, meski Keling itu tubuhnya juga berdegap besar.
Dia beranjak dari arah tangan. Berjalan ke arah kaki. Kini dia pegang kaki Cina itu. Lalu menariknya. Tak bergerak!
Cina ini nampaknya bukan hanya karena gemuknya saja, tapi karena dosanya juga maka tubuhnya berat setelah dia mati. Menurut orang meski seseorang bertubuh besar, tapi kalau dia banyak beramal dan baik, maka kalau dia mati, tubuhnya jadi ringan. Dan kata orang pula, kalau banyak dosa, meski badan kurus kerempeng, maka mayatnya akan terasa amat berat.
Nah, Cina yang satu ini, sudahlah tubuhnya kayak kerbau bunting dua puluh bulan, ditambah dosanya yang sudah delapan belas gerobak, kini tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun ditarik kawannya. Dan yang menderita adalah temannya ini. Dengan ketakutan, keling itu coba lagi menarik mayat temannya. Tapi sungguh mati, mayat itu tak bergerak. Sedang untuk mengangkat sebelah kakinya saja, Keling besar itu harus mengerahkan seluruh tenaganya?
“Tak bisa?” Bos yang orang Inggris itu bertanya. Keling itu menunduk dengan putus asa.
“Lalu mengapa saja kau yang bisa?”
Keling itu menunduk dengan wajah yang patut dikasihani. Dia menatap mayat temannya. Dan dia merasakan kini, temannya ini justru lebih beruntung dari dirinya. Sekurang-kurangnya, mayat ini sekarang tak lagi merasakan ketakutan, pikirnya.
Perlahan tangan bos itu bergerak ke meja. Menyingkirkan koran dan majalah dengan gambar telanjang di depannya. Dan dibawah majalah dengan gambar wanita-wanita cantik bertelanjang itu, dia mengambil sepucuk pistol otomatis.
“Mau ini?” tanyanya. Keling itu mengangkat kepala. Menatap pada moncong pistol yang mengarah ke arahnya. Dia mengangguk perlahan. Tapi pada saat yang sama dia menyadari, bahwa bosnya itu bukan mau memberikan pistol itu padanya, melainkan mau memberikan timah pansanya. Makanya dia cepat menggeleng dan berkata.
“Nehi. Nehilah bos. Kita orang nehi maulah..”
Bosnya menatap dengan mata dingin. Mengangkat pistol setinggi kepala si Keling. Keling itu mengangkat tangannya seperti menutup wajahnya dari mulut pistol yang seperti menyeringai kearahnya itu.
“Nei. Nehii…” katanya sambil mundur. Dan pistol itu memang tak menyalak. Bos yang orang Inggris itu menatap ke arah si Keling. Si Keling yang merasa nyawanya selamat, memandang pada bosnya yang kelihatan memandang padanya dengan heran.
Keling itu juga jadi heran. Dan ikut-ikutan mengerutkan kening. Lalu melihat ke belakang, dan dia jadi kaget. Ternyata bosnya memandang kebelakangnya. Bukan pada dirinya. Di belakangnya, entah kapan datangnya, telah tegak seorang lelaki asing. Di tangan kirinya terpegang sebuah tongkat panjang. Orang asing itu masih muda. Dan keling ini bisa menerka, orang itu pastilah orang Melayu atau orang Indonesia. Dia menyingkir dari tempat tegaknya. Memberikan keleluasaan pada bosnya untuk menatap orang itu.
Keling itu bersukur atas kehadiran orang asing itu. Sebab dengan kehadirannya, nyawanya telah selamat. Meskipun untuk sementara. Dan orang asing itu tak lain daripada si Bungsu.
Kenapa dia bisa hadir disana, dikandang singa itu? Padahal tadi dia berada di penginapan Sam Kok setelah ditempeleng dan jatuh bergulingan bersama gadis cantik anak pemilik hotel itu?
Ceritanya.
Semula dia ingin membuat perhitungan disana juga. Dia ingin membabat habis si gendut itu. Dia yakin, sekali dia mengayunkan tangan, ketiga samurai kecil itu akan melayang dan menyudahi nyawa si gendut. Tapi secara tiba-tiba ketika si gendut itu melambai dan mengucapkan bai-bai padanya di pintu hotel, sebuah pikiran lain menyelinap di kepalanya.
Kalau dia babat di hotel, maka dia takkan tahu dimana markas mereka. Lagipula dia takkan tahu siapa-siapa di belakang sindikat jual beli perempuan ini. Makanya si Bungsu mengikuti si gendut dengan taksi.
Taksi si Bungsu berhenti di luar. Si Bungsu membayar sewanya. Dia sendiri lalu mencari jalan untuk bisa masuk. Rumah ini ternyata berpagar tinggi. Si Bungsu terpaksa memanjat pohon mahoni lalu melompat ke pagar, baru terjun ke halaman. Untung saja pengalaman di gunung Sago dahulu memudahkan pekerjaannya sekarang ini.
Dia lalu mengendap-endap ke dekat rumah tersebut. Sedan hitam itu dia lihat parkir di depan teras. Dan dari dalam terdengar suara orang bicara perlahan. Ketika dia akan mendekati lagi, dia dikejutkan oleh salak anjing. Ketika dia menoleh, anjing besar itu siap untuk menerkamnya. Tak ada jalan lain bagi anak muda ini selain mengayunkan tangan. Dan dua buah samurai kecil terbang dengan kecepatan kilat. Lalu menancap di leher anjing besar itu. Dan anjing itupun tamatlah riwayatnya. Gonggongannya yang dua kali itu sebenarnya adalah gonggong yang tadi terdengar oleh orang-orang yang ada dalam rumah tersebut.
Tapi karena saat itu si Belanda tengah bertarung dengan Cina gendut itu, maka gonggongan tersebut tak diacuhkan. Kalau saja mereka memperhatikan gonggongannya, dan melihat keluar, mungkin si Bungsu takkan sempat masuk rumah. Dan si Bungsu masih sempat mengintai perkelahian seru antara si Belanda dengan si Cina lewat kaca jendela. Dia merasa ngeri juga melihat pertarungan itu berlangsung. Kalau saja dia yang dipagut Cina gendut itu, maka dia yakin nyawanya sudah melayang dengan seluruh tulang ditubuhnya patah-patah. Dan bulu tengkuknya berdiri semua melihat Belanda itu menyudahi nyawa si Cina gendut.
Hih, ini memang bukan pekerjaan main-main pikirnya. Dan dia masuk ketika si Keling kena ancam dikala tak berhasil menyeret mayat Cina gendut itu. Dan kini, orang Inggris yang tak berbaju itu melihat kedatangan anak muda tersebut dengan heran. Kenapa orang asing ini bisa masuk, kemana si Bleki, anjing besar itu, pikirnya.
Dia bersiul. Siulnya melengking tinggi. Siulnya memanggil anjingnya. Namun anjing itu memang sudah mati kok. Tentu saja tak pernah datang.
Bos itu memberi isyarat pada si Keling. Dan seperti seekor anjing pula, si Keling itu berlari ke luar. Dan di halaman, dekat pohon pinang merah, dia melihat anjing itu ditidurkan malaikat maut. Darah mengenang dekat lehernya. Dia berlari lagi masuk.
“Mati…” katanya.
Orang inggris itu menatap pada si Bungsu.
“Kamu bunuh anjing itu he?” suara sengau seperti suara kepinding terdengar dari mulut orang Inggirs itu.
“Tidak. Saya tak minta izin padanya untuk masuk kemari. Dia lalu bunuh diri…” si Bungsu menjawab seenaknya.
Inggris itu mengeluarkan suara menggeram. Namun dia suka juga mendengar guyon anak muda ini
“Nah, kalau begitu, engkau harus minta izin pada anjing yang satu ini….” Inggris itu menunjuk pada si Keling.
Dan bagi si Keling, ini adalah perintah untuknya. Perintah untuk menyudahi nyawa anak muda itu. Dan perintah itu sekaligus juga sebagai keringanan hukuman baginya. Artinya, kalau saja dia bisa menyudahi anak muda ini, maka nyawanya akan bisa pula selamat.
Nah, diapun bersiaplah. Dia bersiap dengan suatu keyakinan bahwa dia bisa menyudahi anak ingusan ini. Bukankah temannya, Cina gendut yang telah mati itu tadi berkata, bahwa anak muda ini terberak-berak ketika digertak?
Keling itu maju. Si Bungsu tegak dengan diam. Dia tak tahu apa kepandaian orang yang satu ini. Kalau si gendut Cina itu mahir Kuntau dan Yiu Yit Su, dan si Belanda mahir dengan boksen dan gulat, maka apa pula kemahiran si Keling ini?
Dia coba mengingat-ngingat, apa kemahiran orang India dalam berkelahi. Seingatnya tak pernah ada yang menonjol. Orang India seingatnya hanya mahir bermain suling untuk menjinakkan ular atau mahir menyanyi dalam film-film. Apakah Keling ini akan memainkan suling atau akan menyanyi, pikirnya.
Tapi Keling yang satu ini bukan sembarang orang pula. Memang tak sembarang orang bisa masuk jadi anggota sindikat Internasional penjual wanita di kota Singa ini. Keling itu mengayunkan kakinya. Kakinya panjang seperti umumnya orang keling yang lain. Ayunan kakinya berisi juga. Namun si Bungsu tak usah banyak bergerak kalau hanya sekedar menghindarkan tendangan model demikian.
Samurainya dia ayunkan kebawah. Pletok!!
Sarung samurai itu menggetok lutut orang keling itu. Keling itu menyeringai. Matanya juling seketika. Namun dia tak mau kalah. Sebab kekalahan baginya berarti maut. Ini adalah kesempatan akhir baginya untuk menyelamatkan nyawa yang tinggal diujung tanduk.
Dengan memekik ala kingkong mabuk dia menyerang dengan sebuah tinju. Tinjunya mirip tinju dalam film koboi. Dan si Bungsu kembali menghantamkan samurainya. Kena tepat disiku Keling itu. Keling itu juling lagi matanya. Sakit menyerang hulu hatinya. Namun dia tak pernah mau mundur. Bukankah ini kesempatan terakhir baginya? Dia maju, dan kali ini ditangannya ada sebuah belati!
Kali ini si Bungsu tak mau main-main. Begitu tangan si Keling terayun, tangannya juga terayun. Si Bungsu ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cepat. Betapapun, dia harus kembali jadi tukang bantai. Menjual wanita! Bukankah itu sebuah pekerjaan yang alangkah jahanamnya apalagi yang diperjualbelikan adalah wanita-wanita dari Indonesia.
Dalam dokumen yang sempat dia baca sebelum Cina gemuk itu datang ke hotel Sam Kok, dia ketahui, bahwa banyak diantara gadis-gadis Indonesia yang ditipu. Anggota-anggota sindikat datang kebeberapa rumah, dikampung-kampung. Mencari gadis atau janda, bahkan isteri orang yang cantik untuk ditawari pekerjaan ringan bergaji besar. Yang mau segera dibawa. Yang tak mau dibujuk dengan berbagai cara. Dan jika sudah berhasil, lalu bukan bawa ke kantor atau ke tempat pekerjaan yang mereka harapkan.
Mereka langsung dibawa ke kapal. Dan disekap dalam ruangan bawah. Jika jumlah yang dikehendaki sudah terpenuhi, maka kapalpun berangkat. Langsung ke Singapura. Kaum sindikat ini tak pernah khawatir akan kepergok dengan patroli lautan dari pihak Indonesia. Ada tiga penyebab kenapa mereka tak takut.
Pertama, kapal patroli Indonesia saat itu memang tak berapa buah. Kedua, kalaupun kepergok, mereka cukup mengatakan bahwa mereka membawa getah. Kalau diperiksa, mereka cukup memberikan sejumlah uang. Biasanya dengan uang segalanya jadi beres. Tentang uang mereka tak usah cemas. Cukup banyak uang tersedia guna menjalankan operasi itu. Ada uang dollar ada uang rupiah. Tapi yang terbanyak adalah rupiah palsu. Namun dimata aparat Indonesia, perbedaan uang palsu dengan yang tak palsu tak mereka ketahui. Dan ditahun-tahun lima puluhan ini, uang palsu bukan main banyaknya beredar di Indonesia.
Itu baru dua hal kenapa mereka tak takut menghadapi aparat hukum di Indonesia. Kalaupun kedua hal itu gagal, artinya kalau kepergok kapal patroli,lalu aparatnya disogok, tapi masih tetap gagal karena mental dan pengabdian aparatnya kukuh, meski biasanya mental aparat Indonesia yang bertugas di laut saat itu kebanyakan bobrok, tapi mereka tetap saja tak kehilangan akal.
Akal ketiga adalah Bedil!
Ya, mereka memiliki bedil. Mulai dari pistol sampai ke mitraliur ukuran ringan. Senjata-senjata itu tersimpan dengan rapi, namun bisa diambil dan dipergunakan setiap saat diperlukan.
Dalam dokumen yang dibuat Overste Nurdin itu juga si Bungsu membaca bahwa di kapal saja perempuan itu sudah dijadikan pemuas nafsu binatang para awaknya. Dan jangan lupa, masih dalam dokumen yang sama tertulis bahwa awak kapal dan anggota sindikat yang di Jakarta, adalah orang Indonesia asli!
Tapi untuk uang, persamaan Bangsa dan Tanah Air ternyata tak berguna dalam menyelamatkan kehormatan seseorang. Dan si Bungsu memang berniat menebas seluruh anggota sindikat yang dia jumpai!
Dan Keling itu memang malang. Dia tak tahu apa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Jatuh. Dan mati.
Si Bungsu kini memandang tepat-tepat pada orang Inggris yang masih memegang pistol itu.
Bayangan sepuluh hari yang lalu melintas lagi di kepalanya. Yaitu ketika dia bersama Nurdin akan keluar dengan taksi dari daerah Pelabuhan di Anting. Sesaat sebelum taksi mereka dimakan peluru, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sebuah taksi mendekat.
Di depannya kelihatan duduk dua orang asing. Yaitu satu memegang kemudi. Yang satu kelihatan memegang sebuah tongkat. Ketika hampir mendekati taksi mereka, orang asing yang memegang tongkat itu mengeluarkan tongkatnya makin panjang. Dan dia melihat tongkat itu adalah moncong senjata. Kemudian dia menunduk. Terdengar tembakan. Nurdin terkulai. Namun wajah orang asing itu tak pernah lekang dari ingatannya. Dia ingat benar. Berambut pirang dengan mata biru.
Dan kini, dihadapannya, orang asing yang menembak Nurdin itu, duduk di depannya tanpa baju. Di tangannya terpegang sebuah pistol otomatik. Dan si Bungsu seperti mendengar suara anak Nurdin sesaat sebelum dia meninggalkan gedung Konsulat untuk pindah ke Hotel Sam Kok.
“Dia telah melukai ayah. Orang itu harus paman lukai pula. Paman bunuh saja. Ya paman? Paman mau berjanji akan membunuh orang yang melukai ayah…?’
“Ya, paman akan membunuhnya. Percayalah…”
Dan perjanjiannya dengan anak sahabatnya itu seperti menyentak jantungnya.
“Hmmm, kamu mau berlagak di depan saya he? Ayo maju koe kemari anjing!” dan sambil berkata begitu orang Inggris itu melepaskan sebuah peluru. Peluru itu menerpa pelipis si Bungsu. memutus puluhan helai rambutnya. Sebuah tembakan yang amat terlatih. Tak melukai kulit sedikitpun.
“Majulah kemari anjing! Kalau tidak, peluru ini akan menyudahi nyawamu…” Inggris itu ngomong lagi. Si Bungsu masih tegak dengan diam. Semburan peluru ketika di daerah pelabuhan dahulu masih membayang dikepalanya.
Namun saat itu orang Inggris tersebut memang membuktikan ucapannya. Pistol di tangannya menyalak dan peluru diarahkan ke jantung si Bungsu. namun mata si Bungsu yang waspada melihat gerak jarinya ketika akan menarik pelatuk. Sebelum dentuman berbunyi, dia melemparkan tubuhnya ke samping. Seiring dengan itu, samurai panjangnya melayang dalam kecepatan kilat!
Samurai itu menancap di sandaran kursi si Inggris. Persis di tentang jantungnya! Namun orang Inggris itu ternyata juga sudah matang dalam perkelahian begini. Kalau tidak, mustahil dia menduduki tempat yang cukup tinggi dalam sindikat. Karena begitu samurai si Bungsu menancap di kursinya, dia tak lagi ada disana! Dia sudah duluan menghindar. Si Bungsu segera tegak. Dan jadi kaget melihat samurainya hanya menerkam sandaran kursi. Dan lebih kaget lagi dia, ketika menoleh kesamping. Orang Inggris itu tegak di sana dengan sikap petenteng-petentengan. Memandang padanya dengan sikap seorang jagoan menatap penjahat kelas teri!
“Hmm, ayolah berlagak lagi kau monyet…!” suaranya mendesis. Si Bungsu tegak lurus. Menatap diam ke arah orang Inggris yang sejak tadi sudah memakinya sebagai anjing dan monyet ini.
Sebuah letusan bergema. Dan pelurunya menerkam paha si Bungsu. anak muda itu terpental ke belakang. Terguling di lantai.
“Ayo, bangkitlah. Coba berlagak jagoan padaku…!” dan sebuah letusan bergema lagi. Pelurunya menerkam lengan kanan si Bungsu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: