tikam samurai-bagian-289-290-291-292


Gadis kecil itu menoleh ke pembaringan ayahnya. Menatap ayahnya yang masih diam tak bergerak. Ketika dia singapuramenoleh pada si Bungsu, dimatanya kelihatan linangan air.
“Ayah Eka orang baik kan Paman..?”
“Ya. Ayah Eka orang baik…”
“Lalu, kenapa ada orang yang melukainya?”
“Yang melukai orang jahat..”
“Kenapa ayah tak membalas, bukankah ayah juga punya pistol?”
Si Bungsu hampir kehilangan jawab. Anak ini ternyata cerdas sekali.
“Ayah eka tak mau menyakiti orang, meskipun dia bisa berbuat begitu. Nah, karena orang itu jahat, biar paman yang mencarinya”
“Paman akan memukulnya?”
“Ya. Pasti. Paman pasti memukulnya”
“Jangan dipukul paman”
“Kenapa?”
“Dia telah melukai ayah. Orang itu harus paman lukai pula. Paman bunuh saja, ya paman…”
“Ya…”
“Paman berjanji..?”
“Ya, paman berjanji”
“Akan membunuh orang yang melukai ayah?”
“Ya. Paman akan membunuhnya, percayalah”

Tanpa dia sadari, dia memang berjanji berbuat seperti yang diminta oleh gadis kecil itu.
“Terimakasih paman, terima kasih…” dan anak kecil itu mencium pipi si Bungsu. Yang kiri. Kemudian yang kanan.
“Paman akan sering melihat kami kemari bukan?”
“Ya, paman kan sering kemari”
“Eka dan ibu akan sunyi kalau paman tak kemari…ayah sakit dan tak bisa bermain dengan Eka…sering kemari ya paman…?”
Si Bungsu mengangguk berkali-kali. Kemudian mencium pipi gadis kecil itu. Lalu memberikannya pada Salma. Dan diapun berlalu.
Dia menginap di Sam Kok Hotel di daerah pelabuhan Anting. Yaitu sekitar tempat dimana Nurdin kena berondong peluru tempo hari.
Seperti yang dia katakan, dia memang tak mengetahui sedikitpun tentang dunia spionase. Tak tahu. Benar-benar tak tahu dia akan dunia yang banyak belitnya itu. Namun dia memang bertekad untuk melanjutkan penyelidikan dan menjalankan pesan Nurdin sesaat setelah dia kena berondong peluru senapan mesin.
Meski tak punya pengetahuan tentang dunia spion itu, anak muda ini memiliki modal yang amat besar untuk menjadi seorang spion.
Yaitu memiliki daya ingat dan firasat yang tajam sekali. Firasatnya sudah merupakan indera keenam. Yang hampir-hampir bisa memastikan setiap bahaya yang mengintai dirinya.
Dari firasatnya yang amat tajam itu pula yang mengisyaratkan padanya, bahwa sejak dia meninggalkan gedung konsulat, dia telah diikuti orang. Dalam perjalanan menuju ke hotel dia menoleh ke belakang. Tak ada yang mencurigakan. Banyak mobil yang seiring jalan dengan mereka. Selintas lihat segalanya wajar-wajar saja. Namun tidak demikian perasaan si Bungsu.
Di antara puluhan mobil yang searah dengan taksi yang dia tumpangi, dia yakin ada satu mobil yang sengaja membuntuti taksi yang dia tompangi. Barangkali mobil berwarna merah darah yang berjalan persis setelah taksi ini. Atau barangkali taksi berwarna hitam di belakang mobil merah darah ini? Dia tak tahu dengan pasti. Namun dia ingin mengujinya.
“Berhenti dibawah pohon di depan sana…” katanya pada sopir taksi yang orang melayu. Mobil itu melambat. Kemudian berhenti.
Mobil merah darah itu lewat. Di dalamnya ada tiga orang lelaki. Tak satupun yang menoleh ke arahnya. Kemudian taksi hitam gelap itu juga lewat. Di dalamnya ada seorang Cina bertubuh gemuk. Kegemukannya jelas kelihatan pada wajahnya yang membengkak dan lehernya yang sebesar leher gergasi.
Cina gepuk itu juga tak menoleh padanya. Kemudian dia menoleh ke belakang. Tak ada mobil yang berhenti. Hmm, dia tak yakin.
“Terus…” katanya pada sopir. Dan dia tetap berkeyakinan ada bahaya mengintainya. Taksi itu berhenti di depan hotel Sam Kok. Sebuah hotel bertingkat dua dengan bangunan beton yang kokoh bekas bangunan di zamannya Rafles berkuasa.
Seorang gadis Cina cantik menerimanya dibahagian penerimaan tamu.
“Mau kamar tuan?” tanya gadis itu.
Si Bungsu mengangguk. Meletakkan koper kecilnya di atas meja resepsionis. Gadis Cina itu tersenyum manis padanya sambil mencatat dibuku tamunya. Senyumnya memperlihatkan dua buah lesung pipit di pipinya.
“Nah, mari saya antar. Kamar tuan di tingkat atas” gadis itu berkata sambil mengangkat koper si Bungsu.
“Tidak usah. Biar saya yang membawa koper ini…”
Gadis itu kembali tersenyum. Dan kembali lesung pipi dipipinya kelihatan. Dia melangkah mendahului si Bungsu. dan dia tetap juga dahulu ketika menaiki sebuah tangga batu menuju ke tingkat atas. Si Bungsu yang semula tak menyadari apa-apa karena fikirannya tengah melayang pada orang yang membuntutinya tadi, tak memperhatikan gadis itu.
Namun ketika dua tangga sudah terlangkahi tanpa sengaja dia menoleh ke atas. Gadis itu berada tiga anak tangga di depannya. Dan mukanya menjadi merah takkala terpandang pada betis dan paha gadis Cina itu.
Gadis bertubuh indah itu memakai rok yang tak begitu dalam. Si Bungsu cepat-cepat menundukkan kepala. Menatap anak tangga saja.
Dia seorang lelaki. Bujangan lagi. Betapapun imannya dia, namun dalam saat-saat tertentu, darahnya gemuruh juga melihat hal-hal demikian.
Namun tunduknya yang terus-terusan itu akhirnya membuat dirinya tambah jadi malu. Dia tak tahu gadis itu sudah berhenti. Dia masih melangkah. Gadis itu memutar tubuh menghadap. Dan saat itu si Bungsu menabraknya.
Celakanya, wajahnya justru mengenai wajah gadis Cina yang cantik itu. Dia gelapapan.
“Faam, fa….eh maaf, maaf sorry. Maaf sorry” katanya gugup. Sungguh mati kejadian itu benar-benar tak dia sengaja.
Gadis itu juga bersemu merah mukanya. Perlahan dia berbalik dan membuka pintu kamar.
“Silakan, ini kamar tuan” kata gadis itu sambil mendahului masuk. Si Bungsu menurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Gadis itu membuka jendela. Di depan sana, kelihatan laut membentang dan puluhan kapal berayun-ayun dimainkan ombak.
“Kalau panas, kipas angin ini bisa tuan hidupkan. Dan kalau tuan perlu sesuatu, tuan bisa menekan bel itu untuk memanggil pelayan. Untuk ke kamar mandi dan WC tuan terpkasa berjalan ke ujung gang di luar kamar. Tak ada kamar mandi khusus di dalam kamar di hotel ini…”
Gadis itu menatap si Bungsu. si Bungsu meletakkan koper kecilnya di tempat tidur.
“Ada yang tuan perlukan?”
“Buat sementara tidak. Terimakasih”
Gadis itu mengangguk, kemudian melangkah keluar. Menutupkan pintu dan sesaat masih sempat menatap pada si Bungsu yang juga tengah menatap padanya.
Kemudian gadis itu lenyap ketika pintu ditutupkan. Si Bungsu masih tetap tegak sesaat. Kemudian membuka sepatu. Membuka baju. Lalu berjalan ke jendela. Menatap ke laut. Menatap pelabuhan yang ramai dan hinggar bingar. Menatap kapal yang membuang sauh di kejauhan.
Dilihatnya jalan raya membentang dengan mobil yang berseliweran. Dan itu di sana, sekitar lima ratus meter dari hotelnya, dia lihat jalan ke daerah pelabuhan itu.
Di sanalah mobil mereka diberondong peluru. Ingat akan Nurdin yang terbaring di gedung konsulat itu, si Bungsu ingat pula pada dokumen yang ada padanya. Dia membiarkan jendela tetap terbuka. Kemudian berjalan ke tempat tidur. Mengambil koper kecilnya. Dalam koper kecil itulah semua miliknya tersimpan. Mulai dari beberapa stel pakaian, termasuk dokumen yang mereka ambil dari rumah Nurdin di Brash Basah Road.
Dokumen itu dia letakkan di tempat tidur. Kemudian memasukkan kopernya ke lemari. Sebelum berbaring dia mengunci pintu kamar. Kemudian membuka samurai-samurai kecil yang terikat secara khusus di lengan kanannya.
Dan dia segera ingat pada Tokugawa. Bekas kepala Jakuza itulah yang mengajarnya mempergunakan samurai-samurai kecil ini.
“Ada saatnya kelak, dimana engkau tak mungkin membawa-bawa samurai panjang kemana engkau pergi Bungsu-san. Namun demikian, bukan berarti bahaya meninggalkan kita pula. Orang seperti engkau, akan tetap saja banyak musuh.
Saya yakin, permusuhan datangnya bukan dari dirimu. Tapi dari pihak orang lain. Mungkin karena niat jahatnya engkau halangi. Mungkin karena dia iri padamu. Tapi yang jelas, engkau akan tetap punya musuh. Sebab apa yang engkau jalani saat ini, telah kulalui ketika muda.
Nah, disaat seperti itu Bungsu-san, engkau memerlukan senjata khusus untuk membela dirimu. Ada berbagai cara orang membela dirinya. Ada yang belajar Karate dan Yudo, barangkali dinegerimu orang belajar silat. Ada pula yang memakai senjata api. Dan di tiongkok maupun di negeri Jepang ini, tak sedikit yang mempergunakan samurai-samurai kecil ini sebagai pelindung dirinya.
Samurai ini sangat efektif. Tak menimbulkan bunyi. Dan kalau dia diikatkan secara khusus di lengan, ditutup dengan lengan baju, maka tak seorangpun yang menyangka bahwa engkau memiliki senjata ampuh”
Dan Tokugawa memang mengajarkan si Bungsu mempergunakan samurai yang panjangnya tak sampai sejengkal dengan besar sekitar sejari. Selain itu dari Kenji dia belajar dasar-dasar Yudo dan Karate.
Dia kurang tertarik pada Yudo dan Karate. Sebab dahulupun ketika ayahnya menyuruh belajar silat, dia juga sangat tak tertarik. Ternyata samurai-samurai kecil itu telah menolongnya sangat banyak ketika melawan komplotan penjual wanita beberapa hari yang lalu di jalan Brash Basah.
Samurai-samurai kecil itu dia letakkan diatas meja. Lalu dia berbaring. Membalik-balik dokumen itu. Untung saja dokumen itu tertulis dalam bahasa Indonesia. Dia melihat beberapa peta. Beberapa foto. Beberapa alamat dan nama-nama. Peta kota Singapura yang ditandai. Kemudian peta kota Jakarta yang juga ditandai di beberapa bahagian.
Dan saat itu pula pintu kamarnya terbuka dengan paksa. Dia terlonjak bangun. Namun pada saat yang sama, seorang lelaki yang lebih mirip babi gemuk, sudah tegak disisinya. Cina gemuk yang tadi berada dalam taksi hitam pekat!
Aneh, segemuk ini tubuhnya, kenapa dia tak mendengar langkah Cina itu ketika naik. Dan lagi pula, buku-buku tangannya nampak membengkak. Tak pelak lagi, ketika tadi dia mendapatkan pintu kamar anak muda ini terkunci, dia telah mempergunakan buku tangannya memukul hancur pintu tersebut.
Sebelum si Bungsu dapat berbuat lebih banyak, tangan Cina itu yang besarnya lebih kurang sebesar paha si Bungsu, terayun. Si Bungsu menunduk. Namun tangan gemuk seperti perut babi itu alangkah cepatnya bergerak.
Kepala si Bungsu kena gebrak. Anak muda itu segera terbanting. Pukulan itu bukan main dahsyatnya. Tubuh si Bungsu terangkat, terlambung dan menabrak lemari. Kaca lemari hancur. Tubuh si Bungsu terpuruk kedalamnya. Terlipat dan tak bergerak!
Cina gemuk itu benar-benar yakin pada pukulannya. Dia tak acuh saja pada si Bungsu. dengan tenang dia mengumpulkan dokumen yang tadi di baca si Bungsu yang kini berserakan di lantai. Ketika beberapa orang yang menginap di kamar sebelah menyebelah melihat ke kamar itu, Cina gemuk itu menoleh pada mereka. Tersenyum.dan senyumnya memperlihatkan giginya yang kuning. Mungkin ada sekitar dua kilo taik gigi bersarang digiginya yang setengah gondrong itu.
“Tak ada apa-apa la. Hanya sikit gelut-gelut. We punya kawan bobok dalam lemali…he…he” Cina itu coba menjelaskan pada pengunjung di pintu kamar. Para pengunjung tak diundang itu cepat-cepat menarik diri. Masuk ke kamar mereka. Takut dibawa serta pula dalam “gelut-gelut” seperti yang dikatakan raksasa sipit itu. Dan takut kalau disuruh tidur pula dalam lemari. Hih!
Selesai membenahi dokumen, Cina gemuk itu pula berjalan kepintu tanpa menoleh pada tubuh si Bungsu yang entah hidup entah sudah berpulang ke akhirat. Dia melangkah sambil mulutnya dimonyongkan. Lalu terdengar siulnya perlahan seperti bunyi peluit kapal pecah.
Dan mungkin karena siul maut itu pula si Bungsu yang “tidur” dalam lemari itu mulai menggoyangkan kepala.
Cina gemuk itu turun ke jenjang. Si Bungsu keluar dari lemari. Bahunya luka dimakan kaca. Kepalanya berdenyut-denyut. Sempat dua kali aku dihantam Cina itu, maka akupun sampailah di jembatan Siratol Mustaqim, pikirnya.
Cina itu berpapasan dengan gadis yang tadi mengantar si Bungsu ke kamarnya.
Ternyata dia mendengar suara ribut. Karena masih ada tamu, dia tak sempat ke atas. Kini baru bisa. Dan dia berpapasan dengan Cina gemuk itu. Cina gemuk itu menghentikan siulnya yang mirip kapal retak tersebut. Tersenyum, ah lebih tepat dikatakan nyengir, kepada gadis cantik itu.
“Ada apa ribut di atas?” tanya gadis itu sambil tetap melangkah ke atas. Namun tiba-tiba tubuhnya tersentak. Cina gemuk itu menyentakkan tangan si gadis, dan tubuh gadis itu jatuh kepelukannya. Si gemuk hanya memeluknya dengan sebelah tangan. Tangan kiri. Seperti memeluk boneka kecil dari plastik saja.
“Tak ada libut. Hanya sikit gelut-gelut..” sehabis berkata begini, si gemuk mengirimkan sebuah sun kepipi gadis cantik ini.
Bukan main murka dan berangnya gadis itu, dia meludahi muka si gemuk yang kayak babi itu. Ludahnya mendarat dihidung si Cina. Tapi cina gemuk itu tak berang. Malah tertawa senang. Dia lepaskan gadis itu. Kemudian menghapus ludah di hidungnya. Lalu menjilatnya. Gila!
Gadis itu berlari ke atas. Melihat pintu kamar anak muda tadi hancur. Lalu masuk, dan saat itu dia hanya melihat punggung anak muda itu saja ketika yang terakhir ini melompat dari jendela tingkat dua itu ke jalan di depan hotel di bawah sana!
Gadis itu memburu, melihat ke bawah kelihatan parkir taksi hitam pekat yang tadi ditompangi babi gemuk itu. Tapi anak muda yang baru melompat ke bawah itu tak dia lihat. Dia balik lagi ke bawah.
Sementara itu, si gemuk itu sudah sampai di Lobby hotel. Dengan gerakkan seperti babi bunting, dia menuju ke pintu. Di pintu ada tamu yang masuk dan berjalan ke arahnya. Dan tiba-tiba Cina itu tertegak. Dia mengernyitkan kening. Salah lihatkah dia?
Tamu yang baru masuk ini mirip sekali dengan anak muda yang tadi dia gelut-gelut dan dia suruh tidur dalam lemari. Salahkah dia?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: