tikam samurai-bagian-269-270-271-272


Buat sesat mereka masih bertatapan. Dan ketika bagasi belakang mobil berdentam ditutupkan Nurdin, si Bungsu salmacepat menguasai diri.
Dia menyambar tangan Salma. Menyalaminya. Dan dengan suara yang jelas dipaksakan untuk gembira dan wajar, dia berkata:
“Senang berkenalan dengan ibu. Saya dari Situjuh Ladang Laweh. Ibu dimana di Minangkabau?”
Nurdin saat itu sudah berjalan kembali ke arah mereka. Salma buat sesaat masih tergagau. Namun dia juga cepat menguasai diri. Dia tersenyum meski hatinya menggigil.
“Saya dari Bukittinggi…” katanya lemah.
“Jauh kota itu dari kampungmu Bungsu?” suara Nurdin memutus. Si Bungsu melepaskan salamnya. Menoleh pada Nurdin. Dan sungguh mati, tak sedikitpun Nurdin menangkap bayangan lain pada wajahnya. Entah belajar dari mana, tapi saat ini baik Salma, lebih-lebih lagi si Bungsu adalah pemain sandiwara yang alangkah sempurnanya.
“Cukup jauh. Saya pernah datang ke Bukittinggi. Tapi hanya sebentar…”
Mereka lalu masuk. Rumah itu alangkah besarnya. Berisi perabotan yang mewah.
Seorang anak perempuan tiba-tiba berlarian dari kamar belakang. Mukanya belepotan bedak dan lipstik.
“Ayaaah…!” anak yang berusia sekitar tiga tahun itu berlari dan tanpa memperdulikan pakaian ayahnya yang mentereng, dia lantas saja menghambur kepelukan ayahnya. Dan Nurdin mencium anak perempuan yang mungil itu. Hingga wajahnya ikut berlepotan bedak dan lipstik.

Si Bungsu menatapnya dengan rasa tak menentu. Salma menatap anak dan suaminya dengan mata berbinar. Namun hatinya, jelas tak kesana. Hatinya sedang bergemuruh.
“Hei, Eka, salam sama paman Bungsu, ayo…” Nurdin berkata sambil menurunkan anaknya dari pangkuan. Anak kecil hitam manis dengan tubuh montok itu melangkah mendekati si Bungsu.
Sesaat dia tegak menengadah keatas, menatap si Bungsu. si Bungsu berjongkok. Gadis kecil yang mungil itu mengulurkan lidahnya. Menjilat bibir. Matanya berbinar-binar. Kemudian mengulurkan tangan.
Si Bungsu menyambut tangan anak itu. Menyalaminya.
“Siapa namanya…?”
“Eka….” Jawab gadis kecil itu.
Si Bungsu mencium pipinya yang berlepotan bedak. Kemudian memangkunya. Salma mengundurkan diri dari ruangan itu. Dia pergi ke kamar yang diperuntukan bagi si Bungsu. membenahi kamar itu baik-baik.
Ada gigilan aneh ketika dia membereskan tempat tidur di kamar itu. Dan tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia teringat, ketika akan berangkat dari Bukittinggi dahulu, dia memberikan sebuah cincin bermata berlian pada si Bungsu. apakah cincin itu masih ada?
Perlahan dia meninggalkan kamar. Berjalan ke tengah. Melihat si Bungsu masih menggendong Eka. Suaminya barangkali ada di kamar depan.
Dan si Bungsu tiba-tiba juga terpandang pada Salma yang tegak antara ruang depan dengan ruang tengah. Mereka bertatapan. Salma mencari-cari. Dan tiba-tiba dia melihat cincin di jari manis tangan kiri si Bungsu.
Si Bungsu tanpa sengaja mengikuti pandangan mata Salma ke jarinya. Dan dia terpandang pada cincin yang telah bertahun-tahun menemaninya itu.
Ketika dia melihat lagi pada Salma, perempuan itu telah berbalik. Yang kelihatan hanyalah punggungnya yang berjalan ke kamar belakang. Nurdin muncul.
“Hei, masih gendong terus. Ayo, turun Eka. Paman lelah. Bungsu, mari saya tunjukkan bilikmu. Engkau harus disini. Saya merasa sepi di kota ini. Rindu terus ke kampung…”
Nurdin yang berkata sambil membimbing tangan puterinya dan menunjukkan si Bungsu ke kamarnya. Di kamar itu, Salma tengah melipatkan selimut wool berbunga merah jambu. Meletkkannya ke atas tempat tidur.
“Nah, inilah kamarnya. Seadanya. Kami harap uda betah di sini….” Nyonya rumah berkata perlahan sambil tersenyum. Bagi Nurdin ucapan itu adalah ucapan biasa. Namun tidak demikian di telinga si Bungsu. dan tidak demikian juga di hati Salma.
“Ah, saya…saya barangkali tak bisa tertidur ditempat sebagus ini nyonya…” jawabnya.
“Jangan sebut saya dengan sebutan nyonya. Panggil nama saya saja….” Salma berkata.
Nurdin telah berada lagi diluar kamar mengejar anaknya yang berlari ke ruang tengah. Sesaat Salma dan si Bungsu bertatapan lagi. Dan si Bungsu melihat betapa mata perempuan cantik itu berkaca-kaca.
“Udaaa….” Suara Salma seperti desahan.
“Saya bahagia, bisa bertemu lagi dengan engkau Salma…”
“Maafkan saya,….Udaaa..”
Si Bungsu menggeleng.
“Tak ada yang harus dimaafkan Salma. Saya ikut bahagia dengan kebahagianmu. Nurdin sahabat saya. Saya banyak berhutang budi padanya…’
Suara terputus. Langkah-langkah kaki terdengar mendekati kamar. Salma tak berusaha menghapus matanya yang basah. Nurdin muncul dipintu kamar menggendong anaknya. Si Bungsu merasa marah pada dirinya sendiri. Kenapa kejadian ini bisa terjadi, pikirnya. Dan dia pura-pura sibuk meletakkan koper ke atas meja. Membukanya dan memasukkan beberapa potong pakaian kain ke lemari.
“Bersiaplah Bu, kita ke Konsulat sore ini. Bungsu, engkau juga ikut kami. Di Konsulat ada pertemuan keluarga Indonesia, kita kesana ya?”
“Maafkan saya Nurdin. Saya terlalu lelah. Saya ingin sekalai berkenalan dengan orang-orang se bangsa di kota ini. Tapi barangkali lain kesempatan. Saya ingin istirahat…”
Nurdin sebenarnya ingin membawa si Bungsu dan memperkenalkannya pada teman-temannya di Konsulat. Dia agak kecewa memang. Sebab dia benar-benar ingin membanggakan si Bungsu pada teman-temannya.
Dan ketika suami isteri itu berangkat bersama puteri mereka, tinggallah si Bungsu terbaring di kamarnya yang mewah. Ada kipas angin besar berputar di loteng kamar. Membuat udara dalam kamar itu jadi sejuk. Namun tubuh si Bungsu tetap saja mengalirkan keringat dingin.
Siang tadi, ketika akan makan di restoran padang dekat Arab Street, dia sangat merasa bahagia bertemu dengan sahabatnya Nurdin. Betapa tidak, Nurdinlah yang membantunya ketika di Pekanbaru. Nurdin yang saat itu adalah Komandan Gerilya untuk Pekanbaru dan sekitarnya, yang berasal dari kampung Buluh Cina, juga telah menolongnya untuk bisa menuju ke Jepang.
Nurdin menompangkannya ke sebuah kapal yang menuju Singapura ini dahulu. Kapal kecil yang menyelundupkan senjata. Tapi, siapa sangka pertemuan itu menyeretnya ke situasi yang begini sulit.
Tanpa sadar, dia memainkan jarinya di cincin emas bermata berlian di jari manis tangan kirinya. Bertahun-tahun cincin pemberian Salma ini tak pernah tanggal dari jarinya. Dan bertahun-tahun dia menyimpan kerinduan pada gadis itu.
Dia telah berniat untuk segera pulang ke Minangkabau. Ingin bertemu dengan Salma. Dan kalau gadis itu belum menikah, dia ingin melamarnya. Ingin sekali!
Tapi, ya Tuhan. Siapa sangka bahwa nasib akan begini jadinya. Dahulu, ketika dia akan berangkat dari rumah gadis itu, dia memberikan oleh-oleh berupa sebuah cincin, gelang dan liontin. Kemudian sehelai kain bekal baju dan sehelai kain batik.
“Ini bukan sebagai pembalas budimu Salma. Tidak. Budimu takkan bisa kubalas. Ini hanya sebagai kenang-kenangan. Guntinglah kain ini. Buat kebaya panjang dan kebaya pendek. Saya bahagia, kalau kelak engkau menikah, engkau memakai kain dan perhiasan ini…’
Begitulah dia berkata dahulu. Ya, dahulu!
Dan tadi, ketika akan pergi ke Konsulat itu, Salma memakai seluruh yang dia berikan dahulu. Kebaya panjang berwarna biru. Kain batik buatan Jawa. Cincin dan gelang serta liontin pemberiannya dahulu. Mereka berpapasan di ruang tengah. Salma nampaknya seperti sengaja memakai pakaian itu hari ini. Untuk memperlihatkan pada si Bungsu, bahwa dia mengabulkan permintaan si Bungsu dahulu. Dan si Bungsu merasakan tubuhnya menggigil melihat perempuan itu. Kenangan masa lalunya menikam amat dalam hulu jantungnya.
Salma menatap padanya tanpa bicara, tanpa berkedip. Si Bungsu menghela nafas panjang di pembaringan. Berguling ke kanan. Merasa gelisah. Berguling ke kiri. Merasa tak betah. Menelentang. Merasa resah. Duduk. Berdiri dan berjalan ke tepi jendela besar dan tinggi. Memandang ke taman yang luas dengan rumput hijau. Dan pikirannya merangkak lagi ke masa lalunya.
Ketika dia akan berangkat meninggalkan Bukittinggi, Salma mencegatnya di pintu. Menatapnya dengan mata basah. Kemudian berkata lembut:
“Terimakasih atas pemberian Uda kemarin. Tak ada yang bisa saya berikan sebagai tanda terimakasih. Tapi…. Saya berharap uda mau menerima ini….sebagai kenang-kenangan dari saya. Dimanapun uda berada lihatlah cincin ini, dan ingatlah bahwa pemiliknya selalu mendoakan semoga uda selamat dan bahagia selalu…”
Gadis itu menanggalkan cincin emas bermata berlian dari jari manisnya. Kemudian perlahan memegang tangan kiri si Bungsu, memasukkan cincin itu ke jari manis si pemuda. Lalu mereka bertatapan. Mata gadis itu basah. Air mata merembes perlahan ke pipinya. Si Bungsu menghapus air mata itu perlahan dengan jarinya. Sesaat, Salma ingin mendekap pemuda itu erat-erat. Namun yang dia lakukan hanyalah berlari ke biliknya. Menghempaskan diri ke pembaringan dan menagis terisak. Si Bungsu turun ke halaman. Menyalami Kari Basa, ayah Salma. Kemudian meninggalkan Bukittinggi.
Si Bungsu yang hari ini tegak dalam sebuah rumah besar dan mewah di bilangan Bras Basah Road Singapura, melihat bayangan masa lalunya itu berlarian di taman rumah.
Dan tiba-tiba, dia merasa menyesal kenapa harus bertemu dengan Nurdin siang tadi. Dan yang lebih disesalkannya, kenapa ketika diperkenalkan tadi dia tak berterus terang saja bahwa dia sudah mengenal Salma?
Dia tak mengerti kenapa tiba-tiba saja dia ingin menyembunyikan pada Nurdin bahwa dia telah mengenal gadis itu. Bukan hanya sekedar kenal, tapi dia malah mencintai gadis itu. Kenapa dia merahasiakannya? Apakah itu karena pertimbangan bahwa dia tak mau membuat hati Nurdin jadi kecewa?
Kini keadaan jadi rumit sekali. Bagaimana dia akan bersikap terhadap Salma dihadapan Nurdin? Akan bersandiwara teruskah? Dan dia juga jadi tak mengerti kenapa keinginan untuk menyembunyikan bahwa mereka telah saling mengenal itu juga dilakukan oleh Salma siang tadi.
Ini adalah situasi yang sangat tidak baik. Benar dia mencintai gadis itu. Tapi dia tak boleh menggganggu rumah tangga mereka. Tidak. Lalu bagaimana? Dia harus pergi dari rumah ini secepat mungkin. Harus! Ya, itulah satu-satunya jalan yang harus dia tempuh.
Dia harus berani menerima kenyataan bahwa situasi telah berobah. Dan kalau selama ini dia selalu kuat menerima kenyataan, selalu tabah dalam tiap cobaan yang bagaimanapun kerasnya datang menerpa, kenapa kini tidak?
Dan akhirnya dia mengambil ketetapan. Dia harus pergi. Hatinya jadi tenteram setelah ketetapan itu dia putuskan. Dia memang mencintai gadis itu. Merindukannya. Kini gadis itu telah dia temukan. Dan dia dapati kenyataan bahwa gadis itu berbahagia. Lagi pula, suaminya adalah seorang lelaki yang dia hormati pula. Sahabat yang dia kenal baik semasa perjuangan fisik dahulu.
Dan ketika keluarga yang dia tompangi itu pulang malam hari, dia bisa menanti mereka dengan senyum menghias bibir. Gadis kecil anak suami isteri itu berlari mendapatkannya.
“Paman sudah makan…?” tanyanya begitu dia dipangku si Bungsu. si Bungsu tak segera dapat menjawab. Sudut matanya melirik, menyambar cepat sekali ke arah Salma yang tegak di jenjang. Perempuan itu menatap padanya.
Ada tikaman halus menyelusup ke lubuk si Bungsu. Pertanyaan gadis kecil ini, pastilah ibunya yang menyuruh. Dan pertanyaan itu, adalah pertanyaan yang selalu diucapkan Salma ketika dia di Bukittinggi dahulu. Pertanyaan masa lalunya yang berbekas.
Anak itu dia cium sambil membawanya naik ke rumah.
“Paman sudah makan….?” Gadis kecil itu kembali bertanya.
“Sudah….sudaah….!” jawab Si Bungsu. gadis kecil itu tersenyum. Dan senyumnya membuat wajahnya kelihatan lucu.
“Engkau harusnya ikut tadi Bungsu. ada beberapa teman dari Jakarta yang ingin mengenalmu. Mereka mengenalmu namamu sejak lama. Dari teman-teman yang pernah berjuang di Minangkabau. Ah, mereka menganggapmu sebagai seorang tokoh dongeng…” Nurdin berkata ketika mereka duduk di ruang tengah.
Si Bungsu hanya tersenyum.
Malam itu mereka lewatkan sambil bercerita tentang masa lalu mereka. Nurdin yang duduk di sebelah Salma menceritakan pula mula awal dia bertemu dengan isterinya itu.
Ternyata setelah Agresi ke II di tahun 49 Nurdin dipindahkan ke Bukittinggi. Dan disinilah dia bertemu dengan Salma. Dua tahun dia tinggal di kota itu. Dan ketika dia akan dipindahkan ke Jakarta, dia melamar Salma. Namun Salma menolak dengan halus. Setahun di Jakarta, Nurdin cuti. Dia kembali ke Bukittinggi dan kembali melamar Salma.
Ayah Salma, Kari Basa tahu betapa anaknya mencintai si Bungsu. namun kemana harus mencari anak muda itu? Dan bagi Salma, sampai bila dia harus menanti? Usianya bertambah juga tahun demi tahun. Teman-teman seusianya sudah pada menikah semua. Bahkan ada yang sudah punya anak empat. Saat itu usianya sudah dua puluh dua tahun. Dan bagi gadis sebayanya, usia demikian sudah bukan main tuanya.
Dan akhirnya, karena desakan keluarga, ditambah pertimbangan-pertimbangan lain, Salma menerima lamaran Nurdin. Pemuda itu memang seorang yang menarik hati wanita. Seorang yang sopan dan berbudi. Kalau saja belum ada si Bungsu dalam hidupnya selama ini, maka Salma tak usah malu untuk mengakui, bahwa dia sebenarnya juga terpikat pada Nurdin.
Nah, mereka menikah. Memang bukan proses yang mudah. Tapi waktu membuat yang jauh jadi dekat. Waktu juga menjalin kehidupan keluarga mereka jadi bahagia. Nurdin membawa Salma pindah ke Jakarta. Dan setahun setelah pernikahan mereka, Nurdin ditugaskan menjadi atase militer di Konsulat RI di Singapura.
Si Bungsu mendengarkan cerita itu sambil mengangguk sekali-sekali. Namun esok paginya ketika dia bangun tidur, hari telah siang sekali. Dan dia mendapatkan dirinya hanya berdua di rumah itu dengan Salma. Lewat jendela yang dia buka lebar, dia melihat Eka, gadis kecil anak Nurdin berlarian di taman bersama pembantu rumah tangga mereka.
Selesai mandi dia keluar ke ruang tengah. Begitu kakinya tiba di luar kamar, Salma kebetulan juga tengah menuju ke ruang itu. Mereka berpapasan di depan kamar. Sama-sama tertegak. Diam. Memandang. Si Bungsu sudah bertekad untuk berlaku wajar dan menghormati keluarga ini sebagai keluarganya sendiri. Dia harus bersikap wajar seolah-olah tak pernah ada apa-apa antara mereka.
Dan saat begini, Nurdin tak ada di rumah. Dia telah pergi ke konsulat. Alangkah tak baiknya kalau dia justru mempergunakan kepercayaan kawannya itu untuk berlaku tak sopan.
Namun mereka masih tetap tegak diam. Dan tiba-tiba saja, entah siapa yang memulai diantara mereka, tahu-tahu mereka telah saling peluk. Dan dengan terkejut si Bungsu mendapatkan Salma menangis dalam pelukannya.
“Udaaa…kenapa begini jadinya….” Perempuan cantik itu berkata diantara isaknya yang tertahan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: