tikam samurai-bagian-248-249-250-251


Si Bungsu dapat menduga, bahwa yang datang ini tentulah bukan sembarangan orang.tikam samurai
“Engkau yang bernama si Bungsu dari Indonesia?”
Seorang lelaki berkepala botak, yang mirip pendeta di kuil Shimogamo, bertanya dengan suara datar dan dingin.
Si Bungsu tak segera menjawab. Dia menyapu kesepuluh orang itu dengan tatapan mata menyelidik. Bagaimana dia harus menghadapi orang sebanyak ini?
Tapi akhirnya dia mengangguk ketika orang gemuk itu kembali bertanya tentang namanya.
“Dimana Zato Ichi…?” kembali si kepalabotak itu bertanya setelah si Bungsu mengangguk.
“Dia ada di dalam…” jawabnya.
“Suruh keluar dia…”
“Dia tak bisa keluar. Dia sakit…”
“Dia harus keluar. Katakan bahwa pimpinan Kuil Kofukuji dari Nara datang menuntut balas…”
“Tidak. Apapun urusan kalian dengannya ki ni harus melalui tanganku…”
“Hmm, anak muda asing. Sejak kapan kau mencampuri urusan orang lain di negri ini?”
“Sejak kalian mencampuri urusanku…”
Lelaki gemuk itu tertawa berguman.
“Sejak kapan saya mencampuri urusanmu anak muda?”
“Bukankah kalian datang untuk mencabut nyawaku?”

Lelaki gemuk itu tertawa lagi perlahan. Suaranya seperti berguman rendah. Nampak bahwa dia sangat tenang sekali. Dan itu membuat si Bungsu jadi waspada. Orang gemuk ini tentulah orang yang sangat berisi.
“Siapa bilang bahwa kami menghendaki nyawamu? Tak ada urusan kami denganmu anak muda. Engkau boleh pergi kemanapun engkau suka. Kami hanya berurusan dengan Zato Ichi”
Si Bungsu tertegun. Benarkah lelaki ini bukan dari Kumagaigumi? Dan benarkah mereka bukan menghendaki nyawanya? Ketika dia tengah berfikir itu, dia mendengar suara dengus nafas perlahan di belakangnya. Dia menoleh. Dan Zato Ichi berdiri di sana sambil menahan sakitnya.
“Ichi-san….!” Katanya kaget.
Zato Ichi menatap pada lelaki botak itu.
Dia coba mengenalinya. Namun dia benar-benar tak mengenal lelaki itu.
“Saya dengar anda mencari saya…” katanya. Lelaki botak yang mengaku dari Kuil Kofukuji di kota Nara itu menatap tajam pada Zato Ichi. Pendekar buta itu seperti menatap padanya dengan matanya yang buta. Aneh dan agak menyedihkan memang.
“Ya. Saya mencari anda….masih ingat kuil Kofukuji di Nara?”
Zato Ichi menarik nafas panjang. Menghembuskannya seperti menghembuskan masa lalu yang pahit.
“Ya. Saya masih ingat. Siapa anda?” tanyanya perlahan.
“Saya dahulu pernah mengepalai pendeta di kuil itu. Nama saya Zendo…”
“Zendo…” Zato Ichi mengulang menyebut nama itu seperti berfikir.
“Zendo….maafkan saya tak bisa mengingat”
“Ya, engkau takkan pernah mengingat nama itu Zato Ichi. Karena ketika pemimpin Kuil Kofukuji yang bernama Akira engkau bunuh, empat puluh tahun yang lalu, aku masih kecil. Masih berusia sepuluh tahun…”
Zato Ichi kembali menarik nafas panjang.
“Akira…..” katanya perlahan.
“Ya. Akira dari Kofukuji adalah abangku yang paling tua…”
Zato Ichi jadi sangat terkejut.
“Engkau adik Akira?”
“Ya. Dan kini aku datang untuk menuntut pembantaian yang sudah empat puluh tahun itu…”
“Ah, sudah lama sekali…” suara Zato Ichi terdengar perlahan. Sementara dia mengangsurkan dirinya ke samping. Kemudian perlahan duduk di kursi batu. Tiga depa dari si Bungsu.
“Ya. Sudah lama sekali. Sudah empat puluh tahun. Dan selama itu pula saya menanti kesempatan ini Zato Ichi. Kesempatan untuk membalaskan dendam kematian abang saya…”
“Apakah engkau mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara saya dengan abangmu itu Zendo? Maksud saya, apakah engkau mengerti sepenuhnya kenapa kami bertarung, dan menyebabkan kematiannya?”
“Kenapa tidak. Suatu malam seorang buta datang ke kuil, kelak saya ketahui bahwa orang buta itu adalah engkau, abang saya nampaknya bersahabat dengan anda. Dia menerima anda dengan baik. Tapi esok paginya, dia telah terbujur jadi mayat dengan seorang imam kuil, sementara engkau tak ada lagi disana.
Menurut penuturan imam yang lain, kalian bertengkar perkara sumbangan keluarga Kendo pada kuil. Dan sumbangan yang merupakan wakaf itu adalah milik kuil. Kenapa engkau ikut campur urusan abangku yang menjadi pemimpin Kuil itu? Tapi kini persoalannya adalah hutang nyawa di bayar nyawa. Kami datang untuk menuntut balas”
Sehabis berkata begini, tanpa menunggu reaksi dari Zato Ichi, kesepuluh orang itu segera saja mendekat.
“Tunggu….” Pendekar buta itu masih coba menghindarkan pertumpahan darah.
Zendo memberi isyarat. Dan kesembilan temannya yang bergerak maju menghentikan langkah.
“Harapkan dengarkan dahulu Zendo-san. Saya tak ingin kesalahpahaman itu terulang lagi…”
“Apakah engkau akan berkata bahwa yang bersalah dalam hal itu adalah abangku?”
“Dengarlah dulu…”
Tapi Zendo tak mendengarkan. Nampanya dendam selama 40 tahun itu merupakan dendam yang harus dibalaskan hari ini.
Namun mereka terhenti lagi ketika anak muda yang bernama Bungsu itu maju tegak antara mereka dan Zato Ichi.
“Anak muda, sudah kukatakan, kami tak ikut campur urusanmu, maka jangan ikut campur urusanku…”
Suara Zendo terdengar perlahan mengingatkan.
“Maafkan. Saya berhutang nyawa pada Zato Ichi. Maka kalau ada orang lain yang menghendaki nyawanya, maka saya harus membantunya….”
“Apakah negerimu tak beradat anak muda. Sehingga engkau bisa demikian saja ikut campur urusan orang lain?”
Muka si Bungsu jadi merah padam. Negerinya dikatakan tak beradat. Amboi! Dia teringat pada Minangkabau. Negeri yang adatnya tak lapuk dek hujan. Tak lekang dek panas.
Negeri leluhur dimana darahnya tumpah ketika dilahirkan. Negeri bergunung megah berlembah indah yang melantunkan rasa rindu. Negeri yang telah mengorbankan ribuan nyawa untuk mempertahankan adat istiadatnya dari jajahan Jepang, kini dikatakan oleh Jepang Gemuk Botak dihadapannya sebagai negeri yang tak beradat!
Dia tersenyum. Tapi jelas senyumnya bukanlah senyum tanda suka hati. Senyumnya jelas membayangkan luka dan amarah yang besar. Barangkali dia takkan semarah itu benar, kalau si gemuk itu memaki dirinya yang tak beradat. Tidak, dia takkan seberang itu benar.
Tapi kini negerinya yang dikatakan tak beradat. Meskipun dia seperti telah dibuang oleh orang kampungnya, oleh anak negeri, namun rasa cinta kampung, cinta negeri di lubuk hatinya tak dapat dipupus hanya karena kebencian orang kampung padanya.
Tidak. Kebencian pada orang kampung, yaitu kalaupun ada kebencian dihatinya, merupakan hal yang terpisah dari rasa cintanya pada negerinya.
“Jangan diulang lagi ucapan yang mengatakan negeri tak beradat….” Suaranya terdengar perlahan. Pendeta yang bernama Zendo itu masih akan melanjutkan seringainya. Namun seringai ejekannya itu dia telan cepat-cepat begitu mendengar suara anak muda itu. Dia jadi tertegun melihat ekspresi muka anak muda itu.
Dan dia tahu suara anak muda yang mirip bisikan itu merupakan suatu peringatan yang berbahaya. Dia menatap wajah anak muda itu. Anak muda itu juga menatapnya dengan wajah yang dingin.
Si Bungsu teringat lagi pada negerinya yang baru sebentar ini dikatakan tak beradat oleh pendeta itu. Meskipun di negerinya itu kini banyak kaum cerdik pandai dan ninik mamak yang mempergunakan adat untuk kepentingan pribadi mereka, namun dia tetap tak bisa menerima negerinya dicerca.
Kesepuluh orang yang ternyata bukan anggota Kumagaigumi itu menatap anak muda tersebut dengan diam. Mereka sudah mendengar tentang kehebatan anak muda ini. Mereka dengar dari cerita di kuil Shimogamo. Mereka dengar dari anggota bandit Kumagaigumi. Mereka menatap dengan perasaan takjub dan ingin tahu. Apakah anak muda ini memang hebat seperti yang diceritakan itu?
Dan ketika mereka tengah berfikir begitu, anak muda itu berkata lagi:
“Di Negeri saya, untuk mau didengarkan orang, maka kita harus mau mendengarkan kata-kata orang. Apa salahnya tuan mendengarkan penjelasan Ichi-san tentang peristiwa itu…”
Zendo tertawa. Untuk pertama kalinya sejak kehadiran mereka di sekitar kuil itu, lelaki ini tertawa. Tawanya merupakan guman perlahan saja. Dan dia sebenarnya adalah lelaki yang berwibawa.
“Apa artinya mendengarkan atau tidak. Sebab apapun yang dia ceritakan saya tak pernah merobah niat untuk membunuhnya. Menuntut balas kematian abang saya…”
“Apakah itu suatu penyelesaian?”
“Ya. Itulah satu-satunya penyelesaian…”
“Tak perduli apakah abang tuan bersalah atau tidak”
“Anak muda, tak perlu segala omong kosongmu itu. Saya tahu dengan pasti apa yang akan saya perbuat. Kini menghindarlah dari sana…!” dan tanpa menunggu reaksi si Bungsu dia memberi isyarat kepada sembilan orang temannya.
Kesembilan orang itu serentak mencabut samurainya dan berjalan menghampiri Zato Ichi. Yang terakhir ini masih tetap duduk dengan tenang dan kepala tunduk di kursi batu tiga depa dari si Bungsu.
Namun si Bungsu melangkah menghampiri Zato Ichi. Dan tatapan matanya serta ekspresi wajahnya kembali membuat kesembilan lelaki itu terhenti.
Anak muda ini nampaknya tak main-main.
“Kalian dengar dulu apa sebabnya perkelahian itu terjadi…” desisnya tajam.
“Kalau saya tak mau?” Zendo balas mengancam dengan muka merah.
“Kalau tuan tak mau, maka tuan harus menyabung nyawa dengan saya…” suara si Bungsu tegas. Dia tak mau Zato Ichi dikeroyok secara tak adil begini. Dia tahu kesehatan pahlawan samurai Jepang itu belum pulih. Barangkali dia masih akan mampu menewaskan empat atau lima orang. Tapi tak lebih dari itu, setelah itu nyawa tokoh legenda Jepang itu sudah bisa diramalkan. Dibantai oleh bangsanya sendiri.
Nampaknya pertumpahan darah memang tak terhindarkan. Salah seorang bawahan Zendo yang tegak di belakang si Bungsu menjadi berang melihat anak muda ini berlancang mulut menghalangi pimpinannya.
Lelaki itu tinggi kurus. Memegang samurai yang berhulu pendek terbungkus oleh sutera merah. Nampaknya dia seorang pesolek juga.
Tanpa menunggu isyarat, tanpa mengacuhkan si Bungsu yang tenah bicara, dia menghayunkan samurainya yang sejak tadi telah terhunus. Hayunan samurai ini mengarah ke leher. Memancung dari atas kanan ke bawah kiri.
Zato Ichi yang duduk mengangkat kepala. Dia mendengar suitan samurai itu. Dan dia tahu, bahwa suara itu bukan berasal dari suara samurai si Bungsu. dan firasatnya mengatakan bahwa anak muda itu dibokong dari belakang.
Dia berteriak memperingatkan si Bungsu.
“Bungsu-san di belakangmu…!” teriakannya belum berakhir ketika dia dengar suara mengeluh. Lalu diam Zato Ichi tertegak! Suitan angin yang kencang di musim dingin ini membuat pendengarannya sebentar ini kurang jelas. Siapakah yang mengeluh?
Tak ada gerakan sedikitpun yang tertangkap oleh telinganya. Dia tegak diam. Aneh, kemana lelaki yang sepuluh orang itu? Kenapa tak terdengar mereka menghela nafas?
“Bungsu-san….!” Dia menghimbau dengan nada khawatir. Dia tak berani bergerak. Sebab dia tak mau terperangkap oleh kesalahan yang kecil sekalipun. Kalaupun si Bungsu cedera, maka itu berarti dia harus mempertahankan dirinya sendirian!
“Saya disini, Ichi-san…tetaplah duduk di sana. Biar saya menyelesaikan soal ini…” terdengar suara si Bungsu perlahan.
Zato Ichi menarik nafas lega. Perlahan degup jantungnya yang tak teratur tadi jadi tenang kembali. Ah, dia memang telah tua. Ketuaan telah membuat dirinya terlalu cepat khawatir.
“Syukurlah….” Katanya perlahan sambil melangkah dan mencari-cari bangku kayu itu dengan tongkatnya. Ketika ujung tongkatnya kembali menyentuh bangku kayu itu, dia lalu duduk perlahan.
Seluruh gerakannya diperhatikan oleh ke sembilan lelaki yang mengurung mereka. Ya, mereka kini hanya tinggal sembilan orang.
Orang kesepuluh, yaitu si kurus bersamurai dengan hulu sutera merah itu, yang tadi membokong si Bungsu dari belakang, kini tertelungkup di lantai batu!
Dari bawah tubuhnya yang tertelungkup itu, merembes darah merah. Membasahi kimono musim dinginnya yang berwarna gelap.
Takkala tadi si kurus itu menyerang dengan sabetan samurai sambil melangkah maju, tak seorangpun diantara kesembilan temannya yang melihat anak muda itu bergerak.
Mereka melihat betapa samurai si kurus membabat maju. Bahkan sejengkal lagi samurai itu akan mencapai lehernya, anak muda asing itu tak tahu sedikitpun akan bahaya yang mengancam di belakangnya.
Namun entah kapan saatnya bergerak, tiba-tiba saja anak muda itu melangkah surut selangkah. Dan disaat yang hampir-hampir fantastis ketepatannya, dia menjatuhkan diri di lutut kanannya. Lalu samurainya tercabut. Dan ditikamkan kebelakang tanpa menoleh sedikitpun!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: