tikam samurai-bagian-244-245-246-247


Setengah depa dari kepalanya, Zato Ichi pendekar samurai Jepang yang tersohor itu tegak dengan kaku!zato ichi
Wajahnya tetap saja menggambarkan kemarahan yang luar biasa.
“Benar-benar jahanam yang tak tahu budi, telah diampuni nyawanya, masih saja berlaku kotor!” suara pahlawan samurai itu terdengar penuh kebencian.
“Heh…he..heh…!!” suara tawa terdengar menyahuti ucapan Zato Ichi. Dan seiring dengar tawa itu, tiga orang lelaki segera saja muncul dari balik pohon
sepuluh depa dari pondok itu.
Dan mereka adalah anggota Kumagaigumi. Di antara yang bertiga itu, seorang diantaranya ternyata yang memimpin serangan terhadap si Bungsu pagi tadi!
Kini dia muncul lagi dengan dua temannya yang lain. Yang nampaknya jauh lebih andal dari dirinya. Kalau tidak, mana berani dia datang kemari.
“Heh-heh….Ichi-san. Antara kita sebenarnya ada persoalan hutang nyawa. Kau telah membunuh tiga anggota kami di hotel empat hari yang lalu. Tapi biarlah,
yang mati tak mungkin hidup lagi. Kini kami hanya ingin membunuh orang Indonesia ini. Dia sudah terlalu banyak membuat susah kita. Orang asing yang sok
jago dengan senjata tradisionil kita. Nah, kami datang selain untuk melihat kematiannya, juga mengambil samurai yang kami tinggalkan tadi pagi….”

Wajah Zato Ichi jadi merah padam.
“Kalian yang memasukkan racun ke dalam obat yang diminum Bungsu-san…” suaranya terdengar bergetar menahan marah yang dahsyat.
“Ah, tak usah dipikirkan benar Ichi-san. Kami hanya sekedar memberi bubuk penyedap ke dalam obatmu yang kurang sedap itu. Sebetulnya kami ingin
meminta persetujuanmu. Membawamu ikut serta dalam membunuh lelaki jahanam itu. Bukankah engkau juga menghendaki kematiannya? Bukankah engkau
harus menuntut balas atas kematian Saburo Matsuyama, orang yang telah menolongmu 20 tahun yang lalu?
Kami yakin engkau pasti mau kerjasama untuk melenyapkan jahanam ini. Tapi siang tadi Ichi-san sembahyang terlalu lama dalam kuil. Makanya kami masuk
saja. Kami lihat orang itu tidur terlalu nyenyak. Kami ingin menyudahninya dengan samurai, tapi kabarnya lelaki ini firasatnya amat tajam. Dan samurainya
amat cepat. Makanya kami mencari jalan aman yang tak mengandung resiko. Kami hanya memasukkan racun pembunuh ikan paus kedalam obatmu itu.
Dan buktinya, kerja kami selesai, tugasmu untuk melenyapkan orang itu juga selesai. Ichi-san hanya tinggal melapor pada Doku Matsuyama bahwa orang itu
telah mati oleh samuraimu. Beres bukan? Hehe..”
Zato Ichi tak bergerak. Tubuhnya tetap tegak diam. Setelah meramu obat tadi, dia pergi sembahyang ke kuil di depan rumah itu. Cukup lama dia sembahyang.
Dan di saat itulah kiranya jahanam ini masuk.
Dan dia benar-benar menyesal meninggalkan si Bungsu sendirian di dalam rumah itu.
“Jangan khawatir Ichi-san. Kami tidak akan menganiaya mayatnya. Kami hanya menginginkan samurainya sebagai bukti, bahwa dia sudah mati. Sekaligus juga
sebagai kenang-kenangan bukan? Nah, mundurlah agar kami bisa mengambil samurainya….’
Wajah Zato Ichi membersitkan amarah yang amat hebat.
“Datanglah kemari, ambil samurainya setelah kalian melangkahi mayatku….” Suaranya terdengar mendesis. Pahlawan samurai Jepang ini benar-benar merasa
muak melihat tingkah laku anggota Kumagaigumi itu.
Dia jadi sangat marah, karena si Bungsu menyangka bahwa dialah yang meletakkan bubuk racun itu ke dalam obat tersebut.
Dia sangat membenci sikap licik begitu. Kini meski si Bungsu adalah orang yang harus dia bunuh demi membalas hutang budi pada Saburo, namun dia tak
mau mempergunakan sikap licik. Kalaupun dia harus membunuh si Bungsu, maka itu akan dia lakukan dengan sikap satria. Menantangnya bertarung dengan
samurai.
“Heh….he. zamanmu telah berlalu Zato Ichi, kini minggirlah….” Suara pimpinan Kumagaigumi itu terdengar memerintah. Dan mereka lalu mengurung tubuh
Zato Ichi.
Mereka kini mengurung Zato Ichi dalam jarak yang sangat ketat. Meski pahlawan samurai itu sudah kelihatan tua, namun ketiga mereka yakin bahwa Zato Ichi
masih tetap Zato Ichi yang dahulu.
Cepat dan sangat mahir dengan samurai. Itulah kenapa sebabnya kini mereka agak ragu untuk membuka serangan.
Lelaki buta itu menunduk. Tangan kanannya tergantung lemas di sisi tubuh. Tangan kirinya memegang samurai yang diangkat agak tinggi. Setinggi pinggang.
Yang mula membuka serangan adalah yang tegak di belakang Zato Ichi. Lelaki itu mempergunakan gerak tipu. Dia melempar Zato Ichi dengan sarung
samurainya.
Telinga Zato Ichi yang sangat tajam mendengar desiran angin. Dan samurainya membabat sangat cepat. Saring samurai itu putus tiga! Namun saat itu pula
lelaki yang tegak di sisi kanan dan di belakangnya bergerak tak kalah cepatnya.
Samurai mereka berkelabat! Namun suatu hal yang di luar dugaan terjadi pula. Tubuh si Bungsu yang tadi rubuh muntah darah, pada saat yang sangat tak
terduga bergerak.
Tangannya yang masih menggenggam samurai terhayun. Dan lelaki yang tegak disisi Zato Ichi, yang menyerang lelaki buta itu, tak sempat berbuat apa-apa.
Bahkan untuk kagetpun dia tak sempat. Sebab gerakan dari orang yang sudah diduga “mati” itu tak pernah dia bayangkan.
Dari bawah samurai anak muda itu membelah ke atas. Kerampang Jepang itu belah. Ikut pula terbelah beberapa alat peraga di kerampangnya itu.
Matanya mendelik, dan dia mengejang-ngejang. Lalu rubuh mati! Si Bungsu duduk bertelekan di kedua lututnya.
Namun saat itu pula Zato Ichi yang tadi ditipu dengan lemparan sarung samurai itu kena babat perutnya. Terdengar dia mengeluh. Tubuhnya terhuyung, yang
dibelakangnya memburu.
Namun dia masih tetap Zato Ichi yang mampu bergerak cepat. Begitu anggota Kumagaigumi melangkah dua langkah memburunya, dia menjatuhkan diri di
lutut kanan. Kemudian samurai di tanggannya memancung ke belakang.
Anggota Kumagaigumi itu seperti pisang kena tebang. Perutnya dimakan samurai Zato Ichi. Berkelonjotan sebentar. Kemudian mati!
Dan kini yang tinggal hanya seorang. Dengan terkejut dia memandang pada Zato Ichi dan si Bungsu bergantian.
Dan yang masih hidup ini adalah lelaki yang memimpin penyergapan pagi tadi.
“Telah kukatakan pagi tadi, bahwa siapa saja yang menghalangi jalanku, akan kubunuh pada kesempatan pertama….” Suara si Bungsu terdengar bergema
dingin.
Dia masih duduk di atas kedua lututnya. Samurainya tergenggam di tangan kanan. Nampaknya dia sudah lemah sekali. Dia bertelakan untuk tetap seperti itu
pada sarung samurainya yang dia tekankan kuat-kuat ke lantai batu.
Pimpinan Kumagaigumi ini berfikir. Kedua lawannya ini amat berbahaya. Tapi kini keduanya tidak dalam keadaan normal. Zato Ichi terluka perutnya. Si Bungsu
terminum racun. Tapi kenapa lelaki asing itu tak segera mampus? Apakah racun yang mereka taruh dalam obatnya tadi kurang keras? Padahal seingatnya,
jumlah racun yang dimasukkan ke obat anak muda itu sanggup untuk membunuh sepuluh ekor anjing sekaligus?
Kini akan dia serangkah kedua orang yang tak berdaya ini? Atau lebih baik kabur? Kedua pilihan ini dipertimbangkannnya. Dia memang mencintai
organisasinya. Tapi sudah tentu dia lebih mencintai nyawanya.
Kalau dia mati, bagaimana dengan dua orang isterinya yang muda-muda dan cantik itu? Tentu akan diambil alih oleh teman-temannya yang lain. Ih,
mengingat ini, dia benar-benar tak mau mati.
Dan satu-satunya jalan untuk menghindar dari kematian adalah minggat dari tempat ini! Kedua lawannya ini takkan tertandingi olehnya dalam berkelahi.
Meskipun mereka dalam keadaan sekarat. Hal itu sudah dia buktikan dengan anak muda asing ini.
Makanya, setelah ucapan si Bungsu tadi dia nyengir. Kemudian berkata:
“Bikin apa aku susah-susah melawan kalian. Cepat atau lambat, kalian akan mati disini. He….he…tinggallah…he..he..”
Dan dia berbalik.
Namun si Bungsu sudah berkata, bahwa dia akan membunuh lelaki itu. Dan itu dia buktikan.
Dengan mengerahkan sisa tenaganya, anak muda ini bergulingan dua kali. Pimpinan Kumagaigumi wilayah Kyoto itu terkejut dan berpaling ke belakang. Saat
itulah sambil bangkit dari duduk, si Bungsu melemparkan samurainya.
Dan dalam saat yang bersamaan, tangan Zato Ichi bergerak pula. Semula pimpinanKumagaigumi ini hanya merasa heran melihat anak muda itu bergulingan.
Tapi melihat dia menghayunkan tangan, dia segera menyadari bahaya. Sebagai salah seorang pimpinan Kumagaigumi, komplotan bandit yang ditakuti, dia
tentu punya kepandaian yang tak dapat dianggap enteng.
Dia segera mencabut samurai untuk memukul jatuh lemparan si Bungsu. Namun saat itu pula dia melihat tangan Zato Ichi yang terduduk tiga depa
disampingnya bergerak.
Untuk sesaat, dia menoleh. Tapi waktu yang hanya sesaat itu adalah kesalahannya yang paling fatal. Paling fatal dan paling akhir. Sebab setelah itu, tak ada
lagi kesalahan-kesalahan yang bisa dia perbuat.
Samurai kecil yang dilemparkan Zato Ichi meleset karena dia berputar. Meleset dari sasaran yang mematikan. Zato Ichi membidik dadanya, tapi yang kena
hanyalah bahunya.
Namun lemparan samurai si Bungsu justru menancap di lehernya yang berpaling ke arah Zato Ichi itu!
Demikian kuatnya lemparan dalam jarak dua depa itu. Samurai tersebut menancap hampir separoh. Tembus ke samping lehernya yang kiri.
Urat nadi besar di lehernya putus keduanya. Dan lelaki ini mati sebelum tubuhnya jatuh ke lantai batu!
Si Bungsu menoleh pada Zato Ichi. Zato Ichi menunduk.
“Lemparanmu sangat cepat dan mahir sekali Bungsu-san…” katanya pelan.
“Engkau tak apa-apa Ichi-san?”
Zato Ichi menggeleng lemah.
Namun begitu geleng kepalanya selesai, tubuhnya rubuh. Perutnya yang luka terlalu banyak mengeluarkan darah.
Si Bungsu tak segera dapat membantu. Buat sesaat dia masih bertelekan ke sarung samurainya. Dia masih jongkok di atas kedua lututnya. Memejamkan mata.
Mengatur konsentrasi. Kemudian mengatur pernafasan menurut methode Silek Tuo Praiangan!
Dan sebenarnya, sistim pernafasan inilah kembali yang menyelamatkan nyawanya. Begitu tadi dia terminum racun, dia memang segera menyangka bahwa
Zato Ichilah yang berbuat laknat itu.
Dia benar-benar tak menyangka bahwa pahlawan rakyat Jepang itu mau berbuat serendah itu. Meracuni orang yang sedang sakit.
Karena itu, dia segera mengatur pernafasan. Pernafasan secara silat Tuo Pagaruyung itu menghentikan denyut darah merah ke arah jantungnya.
Dia tak menghirup nafas dengan hidung, melainkan dengan mulut. Demikian juga ketika menghembuskannya keluar. Dengan menahan nafas sebisanya, dia
berhasil mencegah masuknya racun itu ke jantung.
Dengan tetap mempertahankan sistim pernafasan begitu, dia berjalan keluar. Dan menantang Zato Ichi. Ketika dia bicara, sistim pernafasan itu sudah tentu
tak bisa dia pertahankan, dan saat itulah dia muntah darah.
Namun segera setelah muntah darah hitam itu, dia mendapatkan dirinya agak lebih segar sedikit. Ketika Zato Ichi mendekatinya tadi, dan di saat dia bersiap
untuk mencabut samurai melawannya, saat itu pulalah telinganya yang tajam itu mendengar nafas beberapa orang di belakangnya.
Firasatnya bekerja cepat sekali. Suara nafas itu pastilah berasal dari beberapa orang yang sedang bersembunyi. Kalau ada orang yang bersembunyi, tentulah
ada hal yang tak beres.
Dia mencabut samurainya, dan berpura-pura rubuh! Dan kejadian selanjutnya, yaitu munculnya ketiga anggota Kumagaigumi itu, kemudian dialog Zato Ichi
dengan mereka, membuat persoalan jadi jelas bagi si Bungsu.
Sambil tetap telungkup, pura-pura mati, dia mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi sekaligus dia juga mengatur pernafasannnya. Dia memang dibuat
seperti akan lumpuh oleh pengaruh racun yang terminum dalam obat itu.
Untung saja racun itu hanya sedikit yang dia minum. Obat itu tak dia teguk semua karena firasatnya berkata bahwa ada yang tak beres dengan obat tersebut.
Lalu dia bangkit menebaskan samurainya pada saat yang tepat sekali. Yaitu ketika ketiga orang itu akan mengeroyok Zato Ichi.
Kini dia mengatur pernafasannya. Memang tak pulih seperti sediakala. Racun itu masih menggerogoti tubuh dan darahnya. Namun keadaan sudah jauh lebih
baik. Dia membuka mata, dan melihat tubuh Zato Ichi terbaring diam.
Dengan mengumpulkan tenaganya si Bungsu melangkah mendekati Zato Ichi. Dari gelombang didadanya, dia tahu lelaki itu masih hidup.
Dia tak mungkin mengangkat tubuh Zato Ichi ke dalam. Satu-satunya jalan adalah menyeret tubuhnya ke rumah kayu itu.
Namun perkelahian di depan rumah di belakang kuil itu bukan merupakan perkelahian yang terakhir bagi si Bungsu.
Empat hari setelah itu, sekawanan anggota Kumagaigumi mengepung tempat itu kembali. Jumlah mereka tak kurang dari sepeuluh orang. Si Bungsu yang
memang telah waspada, mendengar kedatangan mereka sebelum mereka sampai ke rumah tersebut.
Dia tengah meramu obat sesuai dengan petunjuk Zato Ichi ketika langkah kaki kesepuluh orang itu tertangkap oleh telinganya.
Dia menatap pada Zato Ichi, pendekar Jepang itu, yang terbaring lemah, yang juga mendengar suara kaki mengitari rumah dimana mereka tinggal itu,
berusaha untuk bangkit.
Tapi dia segera terbaring lagi dengan meringis. Luka di perutnya tak segera bisa sembuh. Meskipun obat yang diramu si Bungsu sama dengan yang dia ramu
untuk mengobati luka si Bungsu dahulu.
Meski kemujaraban obatnya sama, tapi perbedaan usia mereka membuat daya kerja obat itu berbeda pula kemanjurannya.
Pada tubuh si Bungsu, lukanya cepat sekali jadi sembuh oleh obat itu, sebab usianya masih muda. Karena itu rekasi jaringan darahnya bekerja cepat begitu
dibubuhi obat.
Lain halnya pada tubuh Zato Ichi. Usianya yang telah amat tua menyebabkan reaksi jaringan darah ditubuhnya bekerja lebih lambat. Makanya lukanya jadi
lambat pula untuk sembuh.
Zato Ichi ingin menghadapi orang yang mengepung rumah ini bersama dengan si Bungsu. namun lukanya tak mengizinkan.
“Tidak udah khawatir Ichi-san. Berbaringlah dengan diam. Saya akan membereskan mereka…” suara si Bungsu terdengar perlahan.
Zato Ichi menatap padanya dengan perasaan menyesal.
“Pergilah Bungsu-san. Tinggalkan tempat ini. Engkau masih bisa menyelamatkan dirimu…”
Si Bungsu tersenyum.
“Kenapa harus lari dari mereka? Tidak, mereka menginginkan saya, dan itu akan mereka peroleh…”
“Saya terlalu lemah Bungsu-san. Saya tak bisa membantumu…”
“Tetaplah disini Ichi-san. Saya akan menghadapi mereka…”
Dan si Bungsu meraih samurainya. Tubuhnya kini memang sudah sembuh benar.
Angin menerpa wajahnya ketika dia tegak di pintu rumah kayu di belakang kuil tua itu. Dan kesepuluh orang Kumagaigumi itu tegak membentuk setengah
lingkaran dihadapannya.
Mereka semua diam.
Si Bungsu juga diam.
Mereka saling tatap dan saling mengukur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: