tikam samurai-bagian-240-241-242-243


Suara Zato Ichi terdengar getir tapi pasti! Si Bungsu tertegun. Dia hampir tak percaya pada pendengarannya. Zato tikam samuraiIchi menarik nafas panjang. Dan suaranya terdengar perlahan:
“Ya, engkaulah orangnya yang harus saya cari dan harus saya bunuh Bungsu-san…”
Si Bungsu masih tetap tak berbicara. Tak kuasa bicara. Kalau benar dia yang harus dibunuh lelaki ini, kenapa dia menolongnya dari ancaman maut di hotel dulu? Kenapa dia juga mengobati lukanya?
Ada hal-hal yang tak masuk akal!
“Saya tak berdusta Bungsu-san. Lelaki yang menolong saya dua puluh tahun yang lalu itu adalah Saburo Matsuyama…”
Kalau ada petir yang menyambar, mungkin si Bungsu takkan seterkejut ini.
“Ya. Dialah yang menolong nyawa saya Bungsu-san. Waktu itu dia belum memasuki dinas ketentaraan. Setahun setelah peristiwa itu dia baru jadi tentara kekaisaran Tenno Heika.
Dan beberapa hari yang lalu, saya dengar dia meninggal di kuilnya Shimagamo. Saya ada disana ketika upacara penguburan itu. Dan saya mendengarkan apa yang terjadi antara puterinya Michiko-san dengan Bungsu-san. Saya mengetahui semuanya. Itulah kenapa saya datang ke hotel Bungsu-san…”
“Kalau begitu….yang menyuruh Ichi-san membunuh saya pastilah…pastilah puterinya, Michiko!”

Zato Ichi menggeleng beberapa kali.
“Tidak Bungsu-san. Gadis itu sangat mencintai dirimu. Dia melukai dirimu pagi itu di Shimogamo hanya karena pukulan bathin yang dahsyat. Kini dia sakit. Yang menyuruhku untuk membunuhmu adalah adik Saburo. Doku Matsuyama. Dia seorang pegawai pemerintah di kota Kyoto….”
Dan mereka sama-sama terdiam. Angin bersuit perlahan. Bagi si Bungsu, ini adalah sesuatu yang teramat dahsyat. Bagaimana dia bisa mempercayai bahwa orang yang akan membunuhnya adalah orang yang menyelamatkan nyawanya?
“Kalau begitu….kenapa Ichi-san menolong saya dari kematian di hotel itu? Bukankah hari itu saya harusnya sudah mati dan Ichi-san tak usah susah-susah turun tangan sendiri…?”
Zato Ichi menarik nafas lega.
“Itulah malangnya Bungsu-san. Saya paling tak bisa melihat ketidakadilan terjadi. Keluargamu dibunuhnya semua. Dan saya juga akhirnya tahu, bahwa Saburo-san bukan engkau yang membunuhnya. Meskipun engkau sanggup melakukan itu padanya. Saya tahu, Saburo-san harakiri. Dan sebelumnya dia telah meminta kepada para pendeta di kuil itu untuk tidak memperpanjang soal ini.
Sebenarnya soal itu sudah selesai sampai disana. Tapi, adik Saburo meminta saya untuk melakukan pembalasan padamu. Engkau barangkali akan bertanya, kenapa aku harus mematuhi permintaan adiknya, padahal saya tidak berhutang apa-apa pada adiknya bukan?
Seharusnya demikian. Tapi adiknya ternyata ikut membantu saya. Meskipun secara tidak langsung. Doku Matsuyamalah yang setiap hari membawa obat dan makanan bagi saya di kebun persembunyian itu.
Karenanya, saya ikut berhutang budi padanya. Dan kini dia meminta saya untuk membayar hutang budi itu…”
Si Bungsu duduk terdiam. Zato Ichi juga. Dia tatap lelaki itu. Tokoh legenda yang dicintai rakyat Jepang itu. Kelihatan tua dan lelah. Alangkah kasihannya, pikir si Bungsu, sudah setua ini masih harus dibebani oleh hutang budi yang alangkah mahalnya.
Dia tiba-tiba membayangkan bahwa Zato Ichi itu adalah dirinya yang sudah tua. Bagaimana kalau dia mengalami hal yang dialami Zato Ichi saat ini?
“Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan Ichi-san…” akhirnya si Bungsu berkata perlahan.
Zato Ichi mengangkat kepala. Dia menoleh pada si Bungsu. meski matanya buta, tapi dia seperti menatap wajah anak muda itu tepat-tepat.
Dan tiba-tiba Zato Ichi berdiri. Berjalan ke arahnya. Dia menanti dengan tegang. Sedepa di depannya, lelaki buta perkasa itu berhenti.
Si Bungsu tak bisa menatap matanya. Kalau orang biasa dengan menatap matanya bisa menebak apa gerakan yang akan dia lakukan, maka terhadap Zato Ichi yang buta ini tak bisa dipakai teori demikian.
Si Bungsu justru menatap ke bahu lelaki itu. Dia akan perhatikan gerakannya melalui bahunya. Dan tiba-tiba Zato Ichi bergerak. Melangkah maju. Dan memegang bahu si Bungsu.
“Barangkali kita akan bertarung Bungsu-san. Bukan sebagai orang yang bermusuhan, tapi sebagai dua lelaki yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Sebagai dua lelaki yang berjiwa samurai sejati. Tapi itu tidak sekarang. Kita perlu istirahat…”
Dan terompa kayunya terdengar berdetak-detak masuk kembali ke rumah kecil di halaman belakang kuil tua itu. Si Bungsu menarik nafas panjang.
Dia tahu, istirahat yang dimaksud oleh Zato Ichi itu adalah khusus untuk dirinya. Sebab dia baru saja sembuh sakit. Baru saja memeras tenaga melawan enam anggota Kumagaigumi tadi.
Jadi, dialah yang dimaksudkan istirahat tadi. Zato Ichi ingin memberi kesempatan padanya untuk memulihkan kesehatan. Baru nanti menantangnya berkelahi.
Si Bungsu jadi terharu. Lelaki itu benar-benar seorang satria sejati. Dia patut menjadi pujaan seluruh rakyat Jepang.
Dia menatap keliling. Melihat enam samurai yang berserakan malang melintang. Yang tadi dia pukul terpental dari tangan anggota Kumagaigumi itu.
Kemudian dia melangkah masuk ke rumah kecil itu mengikuti langkah Zato Ichi. Di dalam dia disambut oleh bau panggang ikan yang harum.
“Hm, Bungsu-san, mari makan. Ini saya punya ikan kering, dan sudah saya bakar…ini ada sedikit roti…”
Si Bungsu tegak di pintu. Menatap betapa lelaki buta itu mengulurkan ikan bakar padanya.
“Ambilah. Bungsu-san. Kita masih tetap sahabat. Kini dan sampai kapanpun…” suara lelaki buta itu terdengar jujur dan mengharukan.
Si Bungsu melangkah. Memegang ikan bakar itu. Kemudian duduk di sisi Zato Ichi.menyenduk bubur di panci. Memasukkannya ke dalam mangkuk. Memberikannya ke tangan si Zato Ichi.
“Arigato…” kata si buta itu perlahan.
Si Bungsu menyenduk semangkuk lagi untuknya. Kemudian mereka makan dengan berdiam diri.
Selesai makan siang itu, Zato Ichi kembali meramu obat-obatan. Cukup lama dia meramu obat itu. Si Bungsu menatapnya dengan diam dari pembaringan. Betapapun jua, dia belum pulih seratus persen.
Entah berapa lama Zato Ichi meramu obat tersebut. Si Bungsu tak begitu pasti. Tapi yang jelas dia jatuh tidur setelah makan siang itu.
Barangkali hari sudah sangat sore ketika dia terbangun. Rumah kecil itu kosong. Tapi dari luar terdengar bunyi suling yang merawankan hati.
Dia segera tahu bahwa yang meniup suling itu adalah Zato Ichi. Dia pernah mendengarkannya ketika dia dirawat dua hari yang lalu.
Suling dimanapun nampaknya sama. Dia juga punya sebuah suling yang bernama bansi. Dan dia membawanya. Bansinya sering dia tiup kalau hatinya sedang gundah. Kalau dia sedang sepi sendiri.
Dan kini dia dengar Zato Ichi meniup sulingnya. Lelaki buta itu adalah lelaki yang menjalani lorong sepi yang tak berujung. Yang hidup dari magma sepi yang satu ke pusat sepi yang lain.
Perlahan dia bangkit. Dipan kayu dimana dia berbaring berdenyit halus ketika dia turun. Suara suling di luar berhenti. Kemudian terdengar suara Zato Ichi:
“Minumlah obat di dalam mangkuk itu Bungsu-san. Itu adalah obat terakhir untukmu. Kalau obat selama tiga hari ini merawat lukamu dari luar, maka di mangkuk obat itu akan memulihkan peredaran darahmu dari dalam. Minumlah….”
Si Bungsu menarik nafas. Zato Ichi rupanya mendengar bunyi denyit tempat tidurnya ketika dia turun.
Dan dari sana, dapat diterka, betapa tajamnya pendengaran pendekar buta itu. Si Bungsu jadi terharu. Ternyata Zato Ichi masih meramu obat untuknya.
Si Bungsu yakin, bahwa obat ini memang obat. Takkan mungkin seorang berhati mulia seperti Zato Ichi akan memperdayakan dirinya dengan obat tersebut.
Dia mengangkat mangkuk itu. Memang ada kelaianan bau. Tapi dengan keyakinan penuh dia meminum obatnya. Tapi pada teguk pertama saja, celaka sudah menjemput pemuda dari Gunung Sago ini.
Seharusnya dia sudah bisa menebak dari bau obat yang amat keras itu. Bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam obat tersebut. Dan mangkuk obat itu segera saja jatuh ke lantai. Pecah dan isinya tumpah.
Tubuh si Bungsu menggetar. Rasa panas yang amat luar biasa menyerang jantungnya!
“Racun…!” bisiknya.
Di luar, suara suling Zato Ichi terdengar berbunyi kembali. Lembut dan menimbulkan perasaan haru. Namun si Bungsu mendengarkannya dengan penuh penderitaan. Dia tengah berjuang dengan maut.
Dia merangkak ke pembaringan, menggapai ke atas. Mengambil samurainya. Kemudian tangannya menyentuh gelas. Jatuh pecah! Suara dentingnya membuat suling Zato Ichi terhenti.
Si Bungsu muntah darah. Tapi dia menahannya sekuat mungkin. Jahanam itu pasti menanti bunyi muntah atau tubuh yang jatuh. Dan dia akan masuk menyudahi nyawaku, pikir si Bungsu.
Tak dia duga sedikitpun. Lelaki yang jadi legenda Jepang itu berhati pengecut seperti ini. Dia tak berani menghadapinya dengan samurai secara terang-terangan. Dan dia memakai racun!
Jahanam yang benar-benar pengecut, sumpah si Bungsu. dia tahan muntahnya sedapat mungkin agar tak terdengar keluar.
Namun suara suling itu terhenti lagi. Si Bungsu menahan nafas. Dia tak ingin telinga si buta yang tajam itu mendengar bahwa nafasnya memburu.
“sudah engkau minum obat itu Bungsu-san?” terdengar suara Zato Ichi perlahan. Si Bungsu kembali menyumpah.
Benar-benar seorang pemain watak yang jahanam sumpahnya. Kalau dia jawab “sudah” si buta itu tentu akan masuk dan menonton betapa dia menyudahi lawannya.
“Belum….!” Jawabnya berusaha bersuara dengan wajar. Dan sehabis mengucapkan itu, kembali darah segar muncrat dari bibirnya.
“Minumlah agar engkau pulih kembali seperti biasa….” Suara Zato Ichi terdengar lagi. Si Bungsu menggertakkan gigi.
Dan dia mulai melangkah menuju pintu. Betapapun jua, sebelum mati, dia harus menghajar si buta itu. Dia tak mau mati terkapar seperti anjing yang terminum racun.
Tiba di pintu tubuhnya menggigil. Panasnya sudah tak tertahankan lagi. Dia meminum obat itu hanya setengah teguk. Tapi akibatnya sangat fatal. Seluruh wajahnya berobah jadi hitam. Tangannya juga!
Dia sudah banyak mengenal jenis racun ketika berada di Gunung Sago. Tapi dia tak mengetahui racun apa yang dipakai Zato Ichi kali ini. Dan dia pasti takkan sempat membuat obat untuk memunahkan serangan racun ini. Sudah terlambat!
Dia tegak di pintu. Dia ingin bersandiwara. Ingin pura-pura jatuh. Zato Ichi tentu masuk. Dan saat dia muncul dipintu, akan dia hantam dengan samurai!
Namun dia bukan seorang pengecut. Hatinya memprotes sikap demikian. Tidak, dia harus menghadapi lelaki itu secara jantan. Namun engkau telah dianiaya. Dia tak jujur. Bikin apa dihadapi secara jujur pula, bantah pikiran panasnya.
Biar dia tak jujur. Tapi ketidakjujuran buat apa dibalas dengan ketidak jujuran pula? Hanya kaum pengecut yang membalas ketidakjujuran dengan ketidakjujuran, bisik hati jernihnya. Dan dengan sikap demikian, dia melangkah ke luar.
Angin dingin menyambutnya. Dan di luar enam depa di depan rumah itu, di atas kursi batu tadi, Zato Ichi duduk meniup sulingnya! Amat tenang!
Dia muntah darah lagi!
“Zato Ichi!” bentaknya dengan keras mengatasi rasa panas dan denyut jantungnya yang alangkah pedihnya! Zato Ichi terhenti. Ada sesuatu yang tak beres dalam nada suara si Bungsu itu.
Dia tak menoleh, tapi mengarahkan telinga kanannya ke arah pintu rumah dimana si Bungsu tegak.
“Bungsu-san…!” katanya heran.
“Ya, saya disini Ichi-san! Saya telah minum obatmu. Tapi saya belum mampus. Saya bukan seorang pengecut seperti engkau! Kini cabut samuraimu!”
Berkata begini si Bungsu melangkah. Dia hampir rubuh. Namun dia yakin bisa melawan Zato Ichi. Dan itu harus dia lakukan demi kejahanaman yang dilakukan Zato Ichi padanya.
Zato Ichi wajahnya tiba-tiba jadi mengeras. Kelihatan dia jadi tegang. Dia menyisipkan sulingnya kepinggang. Kemudian mengambil samurai yang dia letakkan disisinya.
Lalu dengan wajah keras sekali, dia melangkah dengan pasti ke arah si Bungsu! si Bungsu memperhatikan bahu dan tangan si buta itu.
“Jahanam! Benar-benar jahanam busuk!” Zato Ichi menyumpah dengan wajah yang tiba-tiba berobah bengis!
“Kau lah yang jahanam busuk Zato Ichi! Tak kusangka engkau pahlawan rakyat Jepang memiliki hati sebusuk engkau! Kenapa tak kau tantang saja aku berkelahi secara jantan. Kenapa kau pilih memasukkan racun keminuman yang kau katakan obat itu? Begitukah sikap satria dan samurai sejati yang tadi kau katakan?”
Si Bungsu terhenti bicara. Dia sudah demikian lemah. Zato Ichi tegak sedepa didepannya. Tegak dengan kaki terpentang dan sikap yang kaku serta wajah yang amat membiaskan amarah!
Dan kalau biasanya si Bungsu menanti orang lain yang menyerang, kali ini tidak. Kini dialah yang membuka serangan! Dia mencabut samurainya secepat yang bisa dia lakukan. Dan dengan sisa tenaganya dia menghayunkan samurai panjang itu kearah Zato Ichi!
Namun gerakannya hanya sampai separoh jalan. Tenaganya lenyap. Dan dia rubuh ke lantai batu dengan mulut kembali menyemburkan darah segar! Dia rubuh dengan tangan tetap menggenggam samurai!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: