tikam samurai-bagian-236-237-238-239


Serangan itu demikian cepatnya. Namun si Bungsu tak mencabut samurai nya. Dia mengelakkan ketiga serangantikam samurai itu dengan memiringkan tubuh, membungkuk dan mengangkat kaki kanan yang dibabat samurai!
Lalu melangkah ke depan dua langkah. Ketiga serangan itu lewat tanpa mengenai sasaran. Siul Zato Ichi masih terdengar. Mendayu dan kadang-kadang terhenti pada puncak nada yang tinggi. Tiga serangan lagi menggebu ke arahnya.
Si Bungsu mempergunakan sarung samurai nya untuk menangkis serangan itu. Dia sengaja tak mencabut samurai dari sarungnya. Dan sarung samurai yang terbuat dari kayu keras itu dia pergunakan sedemikian rupa hingga ketika membentur samurai lawan jadi mencong arah serangannya.
Dua kali serangan seorang. Berarti si Bungsu sudah menggagalkan enam jurus serangan ketiga lawannya tanpa menjatuhkan korban.
Ketiga orang itu saling pandang. Demikian juga tiga temannya yang belum turun tangan ikut kaget melihat kehebatan anak muda ini.
Kemudian seperti di komandokan, mungkin karena ingin cepat menyelesaikan perhitungan ini, keenam mereka tiba-tiba maju serentak.

Enam samurai dari penjahat-penjahat Kumagaigumi yang terkenal, menggebu-gebu ke tubuh si Bungsu. keenam mata samurai itu menyerang enam tempat yang berbahaya ditubuhnya.
Sebenarnya, bagi mata samurai, bahagian manapun di tubuh manusia tetap saja merupakan bahagian yang berbahaya. Karena meskipun mengenai tempat yang tak mematikan, mengenai kaki atau tangan misalnya, tapi serangan itu bisa membuat orang lumpuh seketika. Bayangkan saja kalau tangan atau kaki putus.
Maka kini, nasib itulah yang sedang di hadapi si Bungsu. namun kali ini dia tak mau anggap enteng. Bermain samurai baginya akhir-akhir ini memang bukan merupakan suatu “kerja” yang mendatangkan rasa susah.
Gerak tangannya mempergunakan samurai itu hampir-hampir merupakan gerak yang tak diperhitungkan. Merupakan sesuatu kewajaran yang mutlak dan sangat berperhitungan.
Begitu gebrakan keenam samurai itu menderu mengurung dirinya, tangan kanannya bergerak pula. Samurai tercabut tak sampai sekerdipan mata. Dan saat berikutnya, suara beradunya baja terdengar mengoyak suitan angin dingin. Beberapa bunga api memercik dari pertemuan samurai itu.
Kemudian terdengar seruan-seruan tertahan dan rasa kaget. Keenam anggota Kumagaigumi itu tersurut setindak begitu samurai mereka dihantam samurai anak muda itu.
Tangan mereka terasa sakit dan tergetar hebat takkala samurai mereka beradu tadi. Hampir saja samurai di tangan mereka berpentalan ke udara kalau mereka tak cepat-cepat mundur.
Dan kini si Bungsu tegak dengan diam dan dengan samurai tersisip kembali dalam sarangnya!
“Sudahlah, kita akhiri saja pertikaian ini….” Dia ingin berkata demikian. Namun ucapannya belum sempat keluar takkala keenam lelaki itu dengan didahului sebuah pekik Banzai menggebrak lagi maju!
Enam samurai kembali bersuitan dengan kecepatan luar biasa. Namun saat berikutnya hanya pekik kaget dan sakit yang terdengar. Keenam samurai di tangan anggota Kumagaigumi itu mental ke udara. Tercampak jauh dan menimbulkan bunyi yang berisik ketika menimpa lantai batu di halaman belakang kuil tua itu.
Dan keenam lelaki itu merasakan betapa tangan atau rusuk mereka jadi pedih dan mengalirkan darah! Siul Zato Ichi terhenti seketika. Kepalanya tertegak.
Si Bungsu masih tetap tegak. Dan kali ini perlahan dia menyarungkan kembali samurainya. Dan keenam lelaki itu, termasuk Zato Ichi, segera sadar sepenuhnya, bahwa anak muda ini benar-benar telah bermurah hati mengampuni nyawa mereka. Kalau saja dia mau, maka dengan mudah dia bisa menghabisi mereka semua.
Tapi buktinya tak seorangpun di antara mereka berenam yang luka parah. Luka di tangan dan rusuk mereka saat ini hanyalah semacam “pemberitahuan”.
“Saya tak suka kekerasan. Saya berharap pertikaian kita selesai disini. Dan saya maafkan kalian. Namun saya peringatkan, setelah kejadian ini jika masih ada anggota Kumagaigumi yang menghadang jalan yang saya tempuh, maka saya akan membunuhnya disaat pertama?”
Suara anak muda ini terdengar amat dingin. Mengatasi udara dingin di musim dingin saat itu. Dan tak seorangpun di antara mereka yang hadir disana, termasuk Zato Ichi yang menganggap bahwa anak muda ini hanya tukang bual dengan ucapannya barusan.
Semua mereka yakin, bahwa anak muda itu akan mampu membuktikan ucapannya itu. Bukan hanya sekefar gertak sambal!
Dengan didahului oleh pimpinannya yang bertubuh kekar berkumis lebat, keenam anggota Beruang Gunung itu segera angkat kaki tanpa memungut samurai mereka yang bertebaran di halaman kuil itu.
“Ck…ck…ck! Benar-benar ilmu samurai yang luar biasa…”
Si Bungsu menoleh dan melihat Zato Ichi masih duduk di kursi batu enam depa dari tempatnya tegak.
Zato Ichio bukan hanya sekedar memuji. Dia sengaja tak ikut membantu anak muda itu karena ingin “melihat” bagaimana caranya orang asing ini mempergunakan samurai.
Dia “melihat” dengan indera pendengarannya yang tajam luar biasa itu. Ya, meski matanya buta, Zato Ichi bisa “melihat” dengan jelas melalui indera pendengaran, penciuman dan tangannya.
Dari bau yang tercium oleh hidungnya dia segera mengetahui ada manusia, hewan atau benda lain yang tak bergerak disekitarnya. Kegelapan merupakan kawan utamanya sepanjang hidup. Bayangkan hidup tanpa mata. Itulah yang selalu dilawan oleh Zato Ichi.
Dan perkelahian si Bungsu dengan keenam anggota Kumagaigumi itu dengan jelas bisa dia “saksikan”. Dia tahu dengan pasti, betapa samurai anak muda itu menghantam samurai-samurai anggota Kumagaigumi itu.
Dia tahu pula dengan pasti, bahwa anak muda itu menghantam samurai ke enam lelaki itu dengan punggung samurainya. Pukulan dengan punggung samurai itu sangat keras. Dan itulah sebabnya keenamnya terpental. Kekuatan yang dikombinasikan dengan perhitungan dan tekhnik yang hampir-hampir sempurna.
“Nampaknya engkau memiliki banyak musuh anak muda. Setiap orang di negeri ini menghendaki nayawamu…” suara Zato Ichi kembali bergema.
Si Bungsu menarik nafas panjang. Seperti sebuah keluhan yang dalam. Ya, setiap orang seperti menghendaki nyawanya. Termasuk Michiko!!
“Apakah mereka akan datang lagi?” si Bungsu bertanya perlahan.
“Barangkali. Tapi meskipun mereka tak datang kemari, mereka akan tetap menghadang jalanmu..”
“Bila itu terjadi, maka aku akan membuktikan kata-kataku tadi..”
“Ya. Engkau harus. Sebab mereka memang menghendaki nyawamu. Barangkali engkau ingin tetap mengalah. Tapi sampai bila engkau mampu bertahan? Suatu saat, engkau akan sampai pada titik, dimana engkau harus memilih antara membunuh atau dibunuh”
Si Bungsu termenung.
“Apa yang kau alami hari ini dan hari-hari mendatang, persis seperti yang kualami di zaman yang lalu Bungsu-san. Engkau memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang lain.
Engkau mempunyai kelebihan, dan orang jadi iri. Orang berusaha menjatuhkanmu. Engkau seorang yang tangguh, dan orang jadi ingin menguji sampai dimana ketangguhanmu.
Menjatuhkan dirimu merupakan kebanggan bagi orang yang iri atau musuhmu. Sebab dengan bangga mereka bisa berkata: aku telah menjatuhkan dan menghancurkan jagoan itu. Maka jalan yang akan kau tempuh, akan selalu berkuah darah”
Si Bungsu termenung.
“Negeri ini memang jauh berbeda kini Bungsu-san. Kini banyak mobil. Banyak listrik dan modernisasi. Tapi satu hal yang tak berobah. Yaitu kekerasan watak penduduknya. Di zaman saya dahulu, saya harus menjaga leher saya untuk tidak ditebas orang. Padahal yang saya perbuat tak lebih dari sekedar membela orang yang teraniaya. Menolong orang yang tertindas dari kesewenang-wenangan penguasa dan orang kaya. Saya memang tak mengharapkan balasan. Tapi musuh saya jadi terlalu banyak. Orang-orang miskinpun ikut memburu dan menghendaki nyawa saya…’
Si Bungsu jadi kaget.
“Ya. Merekapun ikut memburu saya. Karena penguasa dan orang kaya yang pernah saya gagalkan niat jahatnya, membayar mereka untuk itu. Maka uang segera saja mengalahkan hati nurani manusia. Namun mustahil saya bisa mengalah terus menerus. Ada kalanya saya terpaksa menurunkan tangan kejam.
Beberapa orang, atau tepatnya sekian ratus orang, ya Tuhan saya tak ingat lagi berapa jumlah yang pasti, telah saya bunuh. Ya, itulah yang terpaksa saya lakukan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuang samurai saya.
Tapi itu berarti bunuh diri. Saya menghindar ke hutan. Dapat kau bayangkan Bungsu-san? Kita harus menghindarkan diri ke rimba hanya untuk tidak membunuh manusia.
Peradaban ternyata lebih tinggi di rimba raya daripada di kota yang dihuni manusia. Di sana, dibelantara itu saya menemukan kedamaian. Tak ada dengki dan khianat. Tak ada penindasan. Dan sejak itulah saya dianggap lenyap dari bumi Jepang…”
Keadaan jadi sunyi. Hanya suitan angin dingin yang terdengar. Si Bungsu terdiam, karena dalam ucapannya tadi dia menangkap nada yang luka dihati Zato Ichi.
Dia tak menyangka, bahwa seorang pahlawan rakyat Jepang, yang namanya menjadi legenda yang amat dicintai orang, ternyata memendam duka hidup yang alangkah pedihnya.
“Lalu, kenapa kini Ichi-san mencul ke kota?”
“Ada suatu tugas yang harus saya lakukan…”
“Kenapa hari itu justru muncul di kamar saya dan persis ketika nyawa saya terancam?” Zato Ichi tak menyahut. Dia menunduk.
“Saya sangat bersyukur dan berhutang budi pada Ichi-san. Kalau Ichi-san tak datang saat itu, saya pasti sudah mati…”
Zato Ichi menarik nafas panjang dan berat.
“Kehadiran saya itu, termasuk bahagian dari tugas saya…” suaranya terdengar perlahan.
“Tentulah tugas besar. Dan saya akan sangat gembira kalau bisa membantu Ichi-san…”
“Tak seorangpun yang dapat membantu saya Bungsu-san…”
“Tugas apa itu yang tak mungkin dibantu?”
“Saya sendiri tak yakin, apakah saya bisa melaksanakannya…” suara Zato Ichi terdengar getir.
“Kalau boleh saya tahu, apakah tugas itu?”
“Membunuh seseorang..”
“Membunuh seseorang?”
“Ya…”
Si Bungsu menatap tak mengerti pada Zato Ichi. Padahal baru sebentar ini pahlawan itu berkata, bahwa dia terpaksa harus lari menyembunyikan diri ke rimba untuk menghindar dari orang-orang bayaran yang diupah untuk membunuhnya.
Tapi justru hanya beberapa detik setelah itu Zato Ichi sendiri mengakui bahwa dia “disuruh” seseorang untuk membunuh seseorang. Atau tugasnya, disuruh untuk membunuh orang lain. Sesuatu yang menurut ceritanya sangat dia benci.
Dan Zato Ichi nampaknya mengerti apa yang tengah dipikirkan si Bungsu.
“Saya tidak dibayar Bungsu-san. Tak ada yang bisa membayar samurai saya. Samurai saya tak pernah berlumur darah orang-orang yang tak berdosa…”
“Tapi, kenapa kali ini Ichi-san mau disuruh membunuh? Siapa yang menyuruh, dan siapa yang harus Ichi-san bunuh…”
“Saya diminta membunuh seseorang. Dan saya tak mungkin menolak. Sebab jika saya menolak, maka saya akan dianggap tidak membalas budi. Saya tak mau dianggap tak berbudi. Karena saya menjunjung budi pekerti ….”
“Saya tak mengerti apa yang Ichi-san maksudkan..’
“Ya, saya sendiri juga sulit memikirkannya Bungsu-san….hampir dua puluh tahun yang lalu, saya dalam perjalanan melarikan diri dari kejaran penjahat-penjahat di daerah Tanjung Noto.
Saya menyangka nyawa saya takkan tertolong lagi. Saya dalam keadaan sekarat karena luka yang saya perdapat dari tembakan bedil dua orang penjahat. Waktu itulah seseorang menyelamatkan saya…. Dapat Bungsu-san mengerti betapa saya berhutang budi padanya?”
Si Bungsu mengangguk. Betapa tidak, cerita itu mirip dirinya, dia telah diselamatkan dalam keadaan luka parah, diambang maut, oleh Zato Ichi.
Kalau kelak Zato Ichi meminta dia melakukan sesuatu, maka dia pasti tak pula bisa menolak.
“Ya, saya dapat mengerti sekarang…” kata si Bungsu. Zato Ichi tetap diam. Masih tetap duduk di bangku batunya. Sementara si Bungsu juga duduk di kursi batu dua depa dihadapannya.
“Dia yang menugaskan Ichi-san membunuh seseorang itu?”
“Tidak. Dia sudah mati. Yang menugaskan saya adalah adiknya….adiknya mencari saya dan menceritakan kematian abangnya. Dan meminta saya mencari pembunuh abangnya itu untuk membalaskan dendam. Yaitu membunuh pembunuh abangnya yang telah membantu saya dahulu…”
Ya. Saya mengerti sekarang. Ichi-san harus melakukannya. Dan kenapa pula saya tak bisa membantu Ichi-san? Bukankah kita bisa pergi bersama mencari orang itu, dan bersama pula membunuhnya?”
Zato Ichi manarik nafas panjang.
Dan si Bungsu dapat melihat, betapa dalam diri pahlawan Jepang itu berperang rasa yang sulit untuk diduga.
Si Bungsu mengerti. Dalam hidupnya, seperti yang dikatakannya tadi. Zato Ichi tak pernah melumuri samurainya dengan nyawa orang yang tak bersalah. Kalau Zato Ichi tentu merasa berat untuk melakukan pembunuhan itu.
Dan si Bungsu merasa kinilah saatnya dia membantu Zato Ichi. Yang penting bagi Zato Ichi tentulah orang yang dia cari itu mati. Tak perduli melalui tangan siapapun. Kalau Zato Ichi keberatan bukankah dia dapat menggantikan tugas ini?
Dia akan kembali ke Indonesia tak lama lagi. Apa salahnya sebelum pergi, sebagai tanda terimakasih, dia menolong Zato Ichi membunuh lawannya?
“Saya dapat membantumu Ichi-san. Tunjukkan siapa orangnya, dan Ichi-san tak perlu melumuri tangan Ichi-san dengan dosa, biar saya yang melakukannya…”
Si Bungsu terhenti takkala dia melihat air mata Zato Ichi mengalir dipipi.
“Tak apa-apa Ichi-san. Saya dengan rela menggantikan tugas Ichi-san. Saya dapat mengerti perasaan Ichi-san. Ini adalah negeri Ichi-san. Ichi-san sudah lama meninggalkan dunia bunuh membunuh ini. Dan Ichi-san akan tetap disini. Sementara saya, setelah tugas itu selesai, akan kembali ke negri saya. Dan orang akan melupakan peristiwa itu…”
Zato Ichi tak menyahut. Dia tetap tenang dan duduk memegang samurainya.
“Kalau Ichi-san tak keberatan, tunjukkan saja pada saya siapa orang yang harus dibunuh itu…”
“Dia orang asing…”
Si Bungsu tertegun. Orang asing! Pastilah tentara Amerika. Ya, siapa lagi yang membuat kekacauan di negeri ini selama lima-enam tahun ini kalau tidak tentara pendudukan.
Tentara Amerika itu pastilah telah membunuh orang yang pernah menolong Zato Ichi. Dan kini Zato Ichi harus membunuhnya. Patutlah Zato Ichi merasa tak enak hati untuk melakukan tugas itu.
“Tentara Amerika?” tanya si Bungsu.
Zato Ichi menggelang.
“Siapa?”
“Engkau Bungsu-san…!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: