tikam samurai-bagian-228-229-230-231


Keempat anggota Kumagaigumi itu menghentikan gerakan mereka dan menoleh ke pintu. Si Bungsu juga menoleh images (27)ke pintu. Lewat keempat tubuh lelaki itu dia melihat seorang lelaki Jepang tegak di pintu. Lelaki yang baru muncul itu berambut sangat pendek. Hanya satu senti.
Tubuhnya agak gemuk. Memakai kimono berwarna coklat. Dia tegak dibalik pintu yang telah ditutupkan. Rupanya tak seorangpun yang tahu kapan dia membuka pintu dan masuk kemudian menutupkan pintu.
Kini dia tegak dengan kepala menunduk.
“Siapa kau?” bentak yang memegang tombak.
Lelaki itu masih menunduk.
Di tangannya dia memegang sebuah tongkat panjang. Dan si Bungsu segera mengenali, bahwa tongkat di tangan lelaki itu mirip dengan “tongkat” yang selalu dia bawa.
Tongkat di tangan lelaki itu pasti samurai! Tapi berlainan dengan samurai yang dia miliki, samurai di tangan lelaki itu nampaknya lebih kecil ukurannya. Meski panjangnya sama, tapi lebarnya berbeda.
“Siapa kau!!” yang bertombak itu membentak lagi. Dengan masih menunduk, terdengar suara lelaki yang baru muncul itu perlahan:
“Hmmm… alangkahnya tak bermalunya. Ramai-ramai mengeroyok orang asing di kota ini”
Keempat lelaki itu saling pandang sesamanya. Mereka sungguh mati tak pernah mengenal lelaki ini. Si Bungsu juga heran.

Dia tak pernah mengenal lelaki ini sebelumnya. Mengapa lelaki tak dikenal ini tiba-tiba saja muncul dalam kamarnya?
“Engkau pemilik samurai ini orang asing?” lelaki itu bertanya perlahan. Dan di tangannya rupanya telah tergenggam samurai si Bungsu yang tadi disepakkan ke dekat pintu oleh anggota Kumagaigumi itu.
“Ya….” Kata si Bungsu perlahan.
“Nah, ambillah kembali…” lelaki asing yang baru datang itu berkata dan tiba-tiba melambungkan samurai itu tinggi-tinggi. Melewati kepala keempat anggota Kumagaigumi itu. Dan tanpa dapat dicegah jatuh tepat di depan si Bungsu.
Sudah tentu si Bungsu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan sisa tenaga, dia menyambar samurainya itu.
Keempat anggota Kumagaigumi itu bukan main berangnya. Mereka sesaat melupakan si Bungsu yang tak berdaya. Serentak mereka menyerang orang lancang yang baru masuk itu.
Namun yang berada paling depan, yaitu yang memakai samurai, terpekik dan terguling rubuh. Dia mendekap mukanya yang berdarah.
Ketiga lelaki lainnya segera maju. Namun lagi-lagi mereka terpekik. Dan kali ini, dua diantaranya mati. Yaitu yang memegang tombak bercabang tiga dan yang memekai rantai!
Si Bungsu sendiri kaget bukan main melihat kecepatan lelaki ini. Dia seperti tak melihat pada keempat anggota Kumagaigumi itu. Namun gerakannya demikian cepat. Samurainya berkelabat seperti kilat yang amat sulit diketahui.
Dua orang anggota Kumagaigumi yang masih hidup jadi kaget. Mereka kini terjepit antara dua lelaki yang kemahirannya bersamurai bukan main. Yaitu antara lelaki baru masuk itu di pintu, dengan orang Indonesia itu dibahagian dalam kamar.
“Sis…siapa engkau….?” Yang memakai tombak itu bertanya gugup.
Lelaki itu mengangkat wajahnya. Dan dengan kaget, baik si Bungsu, terlebih lagi anggota Kumagaigumi itu mengetahui, bahwa lelaki ini ternyata buta!
Zato Ichi….!” Suara anggota Kumagaigumi itu terdengar seperti tangisan.
Lelaki yang buta itu menunduk. Dan yang tak tanggung-tanggung kagetnya adalah si Bungsu. dia kaget mendengar nama Zato Ichi itu.
Siapa di antara orang di Jepang yang tak mengenal dan mendengar nama Zato Ichi?
Nama itu sebuah legenda. Nama seorang pahlawan rakyat Jepang.
Seorang lelaki buta yang kecepatan samurainya hampir-hampir tak tertandingi. Dan dengan kemahiran bersamurai itu, meskipun buta, dia malang melintang di seluruh tanah Jepang. Berkelana dari satu negeri ke satu negeri menegakkan keadilan. Dia seperti malaikat penolong orang-orang teraniaya. Meskipun matanya buta, tapi hatinya sangat mulia. Orang Jepang mendewakan dia. Kaum penjahat sangat menakutinya.
Dan si Bungsu mendengar kisah kepahlawanan Zato Ichi si pendekar buta ini. Dia mendengar cerita itu dari Kenji dan adik-adiknya.
Namun, bukankah masa Zato Ichi sudah lama sekali berlalu? Nama itu kini hanay terdengar sebagai suatu legenda. Seorang tokoh di masa lalu.
Dan kalu kini dia hadir dalam kamarnya, bukankah itu suatu keanehan? Dan keanehan itu juga terasa di hati anggota Kumagaigumi itu. Zato Ichi sudah lama lenyap. Bahkan banyak orang menyangka dia telah lama mati. Kini siapa yang tegak di pintu itu?
Dan suara lelaki buta itu seperti menjawab pertanyaan tersebut:
“Ya, saya Zato Ichi….”
Suaranya perlahan, lembut dan sabar sekali.
“Tet….tet…tetapi engkau sudah lama mati…”
Zato Ichi tertawa renyai. Dia menunduk.
“Ya, saya sudah lama mati. Dan yang ada kini adalah hantu yang akan memusnahkan kejahatan kalian….” Suaranya seperti bergurau, namun anggota Kumagaigumi itu takutnya bukan main.
Dia mundur, dan tiba-tiba tangannya yang bertombak itu menyerang si Bungsu. kalau orang ini benar Zato Ichi, maka dia harus berjuang keras untuk bisa hidup.
Dan jalan pertama yang dia tempuh adalah menyudahi orang Indonesia yang masih duduk terhenyak ke dinding itu.
Tombaknya terangkat. Namun si Bungsu sudah waspada. Begitu tombak orang itu terayun, tangannya yang bersamurai juga terayun.
Tombak itu meluncur amat kencang. Tapi pada saat yang bersamaan, samurainya juga lepas terhayun menyerang anggota Kumagaigumi itu. Si Bungsu melontarkan samurainya sambil menggulingkan tubuhnya ke lantai.
Tombak bercabang tiga itu menghujam ke dinding, sejari dari leher si Bungsu. dan lelaki anggota Kumagaigumi itu terlolong. Lontaran samurai si Bungsu persis menerkam jantungnya.
Lelaki itu mendelik, menggelepar. Dan mati!
Kini hanya seorang anggota Kumagaigumi lagi. Yaitu yang tadi mukanya disabet dengan samurai hingga berlumur darah oleh Zato Ichi.
Lelaki itu mundur ketakutan. Dia mengambil rantainya dan menyerang Zato Ichi di pintu. Suara rantainya gemercing dan menimbulkan angin yang bersuit.
Namun dengan sebuah putaran tubuh yang cepat samurai Zato Ichi bekerja. Lelaki itu mati dengan bahu belah!
Kamar itu kini berubah jadi kamar pembantaian. Darah membanjir dimana-mana. Dan empat mayat melang melintang.
Kini yang hidup dalam kamar itu hanya mereka berdua. Si Bungsu dari Situjuh Ladang Laweh dan Zato Ichi, pahlawan samurai negeri Jepang!
Si Bungsu kembali duduk di sisi tombak bercabang tiga yang menancap dalam di dinding kamar. Dia belum mampu tegak. Sebab dada, perut, tangan dan pahanya luka parah. Yang terasa sangat sakit adalah luka dipahanya bekas dihujam tombak bercabang tiga itu.
Dia menatap pada Zato Ichi.
Zato Ichi bersandar ke pintu. Dan perlahan, tubuhnya yang bersandar itu meluncur turun lalu duduk dilantai dengan tetap bersandar.
Kepalanya terangkat. Dia seperti menatap pada si Bungsu.
Dan untuk pertama kalinya si Bungsu melihat bahwa lelaki yang bernama Zato Ichi ini sebenarnya sudah tua.
Kerut di wajahnya, serta rambutnya yang sudah memutih membuktikan ketuaannya itu. Namun, secara menyeluruh, lelaki itu kelihatan penyabar dan tenang. Sikapnya tidak hanya menimbulkan rasa kasihan, tapi juga menimbulkan rasa simpati.
Domo arigato gozaimasu Ichi-san. Saya banyak mendengar kehebatan Zato Ichi-san…” dia berkata perlahan.
Zato Ichi menarik nafas panjang. Kemudian menunduk.
“Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Seorang asing menjadi jagoan samurai yang ditakuti di negeri Jepang. Heh…heh..engkau benar-benar seorang yang luar biasa Bungsu-san…”
Zuara Zato Ichi bergema dari tempat duduknya di lantai dan bersandar ke pintu. Si Bungsu diam. Dia berusaha tegak. Namun dengan keluhan sakit, dia terduduk lagi.
“Hmmm, nampaknya engkau luka parah. Kamar ini terlalu bau bangkai, engkau harus keluar dari sini anak muda….” Zato Ichi berkata.
“Ya, saya rasa saya menang harus keluar. Tapi….” Suaranya terhenti.
“Saya bisa membantumu. Mari…..” Zato Ichi berdiri. Dan si Bungsu melihat betapa lelaki itu tegak bertumpu dengan samurainya yang merangkap sebagai tongkat.
Kemudian dengan tongkat itu pula, dia melangkah tertatih-tatih mencari jalan. Bila ujung tongkatnya menyentuh mayat salah seorang anggota Kumagaigumi, dia lalu menghindarkan langkahnya dari sana.
Caranya berjalan sangat mengharukan. Dengan beberapa kali tersandung pada tubuh mayat-mayat itu, akhirnya Zato Ichi sampai ke dekat si Bungsu.
Dia berjongkok. Meraba tangan, dada dan paha si Bungsu.
“Hmmm, mereka membantaimu Bungsu-san…” katanya perlahan.
Dan dengan berpegang ke tangan Zato Ichi si Bungsu berdiri.
Diam-diam Zato Ichi merasa kagum atas ketangguhan anak muda ini. Tangguh dalam bersamurai dan tangguh dalam mengahadapi derita.
Dan senja itu, dia pindah dari hotel tersebut. Dengan sebuah taksi yang dipanggilkan oleh pelayan hotel dia dibawa Zato Ichi jauh ke luar kota. Ke sebuah kuil tua.
Di bahagian belakang kuil itu ada sebuah rumah kecil. Dan rupanya di rumah inilah Zato Ichi tinggal. Itu terbukti dengan bergantungan beberapa helai pakaian Zato Ichi.
“Nah, tenanglah. Kita akan coba mengobati luka-lukamu. Disini engkau aman. Takkan ada orang yang mencarimu kemari….” Kata Zato Ichi sambil berjalan ke meja.
Kamar ini nampaknya sudah dia kenali betul letak-letak barangnya. Sebab si Bungsu melihat betapa dengan mudah dia melangkah ke segenap penjuru tanpa menabrak benda-benda dalam rumah kecil itu.
Sementara Zato Ichi merabut obat, si Bungsu masih digeluti penasaran heran dan takjub. Heran kenapa lelaki yang jadi tokoh legenda itu bisa hadir di kamarnya tadi?
Takjub, apakah benar bahwa lelaki ini adalah Zato ichi, pahlawan samurai yang tersohor itu?
“Kota nampaknya semakin ramai….” Suara Zato Ichi terdengar perlahan. Si Bungsu yang terbaring di tempat tidur menolehkan kepala. Tak berniat memberikan komentar. Dia ingin mendengar lebih banyak tentang lelaki ini.
“Dahulu, tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih muda, Kyoto adalah kota yang tenang. Penduduknya memang ramai. Tapi mobilnya tak sebanyak sekarang. Hanya ada dua atau tiga mobil. Kini ribuan. Ah, orang buta seperti saya akan hancur digilasnya kalau sering ke kota….”
Si Bungsu tetap tak memberikan komentar. Zato Ichio meneruskan meramu obat. Dan si Bungsu segera mengetahui, bahwa Zato Ichi ternyata juga seorang yang mahir dalam meramu obat tradisional. Hal itu segera dia ketahui ketika melihat lelaki itu mengeluarkan akar-akar dan beberapa jenis batu-batuan yang dia kikis.
“Negeri ini dahulu adalah negeri yang aman. Tapi tentara membuat seluruh jadi berobah. Keinginan untuk berkuasa di Asia merembet untuk berkuasa di dunia. Akhirnya menjerumuskan bangsa kedalam kancah peperangan yang menghancurkan diri sendiri….” Zato Ichi berkata terus sambil terus pula meramu obat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: