tikam samurai-bagian-224-225-226-227


Suara Michiko terdengar lantang dan bergetar. Dan hanya dalam waktu beberapa detik setelah ucapannya itu, sibungsusemua orang yang hadir segera mengetahui, bahwa anak muda itulah rupanya yang telah mengalahkan Obosan kuil Shimogamo ini dan beberapa murid utamanya!
Semua mereka kini memperhatikan dengan seksama.
Indonesia-Jin…. Indonesia-Jin….” (Orang Indonesia…orang Indonesia!) terdengar suara berbisik-bisik.
Para pendeta kuil Shimogamo itu berlarian mengelilingi Michiko dan si Bungsu.
Wakil Saburo di kuil itu, seorang pendeta tua gemuk dan berwibawa segera membungkuk hormat dan berkata perlahan:
“Mohon Michiko-san jangan menuruti hati marah. Obosan meninggal dengan terhormat. Dia mati dengan Harakiri. Bukan dibunuh oleh anak muda ini. Lagipula bukankah kemaren sebelum dia meninggal Obosan berpesan bahwa dia tak ingin ada dendam yang berlanjut antara kita dengan Bungsu-san…? Bukankah Obosan sudah menerima salah atas perbuatannya terhadap keluarga Bungsu-san? Mohon Michiko-san menyabarkan hati….”

Namun Michiko nampaknya sangat terpukul atas kematian ayahnya. Itu terbukti ketika dia berkata dengan lantang:
“Dengan pihak kuil Shimogamo boleh tak ada urusan. Tapi dengan diriku, huh, kenapa harus kalian larang? Apakah ada aturan yang melarang seorang anak menuntut balas kematian ayahnya?”
Pendeta itu tersurut mendengar ucapan yang kurang pantas ini. Si Bungsu masih tegak. Tangannya tergantung lemas. Bahu kirinya berlumur darah.
Namun dia tetap tegak dengan tenang. Dan dengan tenang pula dia menghadap pendeta-pendeta kuil Shimogamo, lalu berkata:
“Saya minta maaf atas kejadian kemaren. Dan saya ikut berduka atas kematian Obosan Saburo…” dia membungkuk dalam. Dua belas pendeta yang tegak mengitarinya membalas penghormatannya dengan membungkuk pula dalam-dalam.
“Terimakasih atas kunjunganmu kemari Bungsu-san. Kami menghargai sikap satria. Dan kami memuliakan kejujuran…” wakil obosan itu menjawab.
Ucapan mereka diputus oleh Michiko:
“Nah, kita lanjutkan persoalan antara kita yang belum selesai. Cabutlah samuraimu. Jangan kau kira engkau saja yang mampu mempergunakannya!”
Suara Michiko terdengar nyaring, getir dan bernada luka. Si Bungsu menatapnya. Dan dia dapat merasakan betapa hancurnya hati gadis itu.
Bukankah dia juga pernah menaruh dendam yang sama seperti yang dialami gadis ini? Dendam dan kebencian yang berkobar, yang menjalani segenap pembuluh darah dan segenap tulang belulang terhadap orang yang membunuh ayah, ibu dan kakaknya?
Dan itulah kini yang dialami Michiko.
Tidak, yang dialami Michiko sebenarnya bukan hanya kebencian dan dendam saja. Jika dibandingkan antara dia tujuh dan delapan tahun yang lalu, yaitu ketika ayah, ibu dan kakaknya dibunuh Saburo, maka keadaan gadis ini jauh lebih menyedihkan.
Perbedaannya terutama pada dua hal. Pertama, si Bungsu adalah seorang lelaki. Betapapun sengsara yang menimpa dirinya, sebagai seorang lelaki dia masih tetap punya keteguhan.
Sementara Michiko adalah seorang wanita. Betapa perkasanya seorang perempuan, namun fitrahnya tetap saja seorang perempuan. Lengkap dengan kelemahan-kelemahannya.
Dan perbedaan yang kedua adalah soal perasaan. Si Bungsu mendendam dan membenci Saburo sebagai lawan yang benar-benar tegak berlain sisi dengan dirinya. Artinya, dia tak kenal Saburo. Dan dalam situasi itu, Saburo justru adalah lelaki yang harus dia bunuh. Sebab lelaki itu adalah tentara dari suatu negeri yang menjajah negerinya.
Jadi tak ada beban jiwa yang dipikul si Bungsu dalam memusuhi Saburo.
Berlainan halnya dengan Michiko. Dia kini membenci dan memusuhi lelaki yang telah menyelamatkan kehormatan dan nyawanya. Dan lebih daripada sekedar hanya pertolongan itu, yang lebih parah adalah karena dia harus membenci dan mendendam pada lelaki yang dia cintai! Inilah beban yang paling berat yang harus dipikul gadis itu!
Sejak anak muda itu menyelamatkan dirinya dari perkosaan di hotel Asakusa di Tokyo dahulu, dia sudah tak bisa melupakannya. Dan peristiwa di kereta api ketika menuju ke Kyoto ini menyebabkan hatinya benar-benar tertambat pada pemuda Indonesia ini.
Sikap si Bungsu yang lembut, tutur sapanya yang sopan dan tahu menempatkan diri, dan sudah tentu keperkasaannya, meruntuhkan hatinya.
Setiap yang dia pikirkan adalah bagaimana bisa bertemu dengan anak muda itu. Dia benar-benar merindukannya.
Dan dalam saat seperti itulah bencana itu terjadi. Si Bungsu ternyata mencari ayahnya untuk membalaskan dendam. Dan dalam pertarungan kemarin, si Bungsu telah melukai punggungnya dan mengalahkan ayahnya. Meskipun ayahnya mati karena harakiri, namun hal itu takkan terjadi kalau tidak karena si Bungsu.
Kematian ayahnya adalah kematian segala-galanya bagi gadis ini. Itulah sebanya kenapa dia merasa benci dan berniat menuntut balas pada si Bungsu. membenci dan memusuhi orang yang sangat dicintai! Adakah hal lain yang lebih menyiksa dalam hidup ini selain yang dialami Michiko?
Dan si Bungsu menyadari hal itu. Itulah sebanya dia tak sampai hati melayani amarah gadis tersebut.
Dan ketika Michiko kembali melontarkan tantangannya, si Bungsu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam, kemudian dengan tangan kanan tetap memegang luka yang mengalirkan darah di bahu kirinya, dia melangkah pergi.
Michiko yang perasaannya benar-benar terluka dan menderita, berteriak menahannya:
“Lelaki pengecut, jangan pergi sebelum kau lunasi hutang nayawamu!!”
Sambil berkata begini, dia menghayunkan samurai di tangannya. Namun pendeta-pendeta kuil Shimogamo yang mengitarinya segera turun tangan mencegah. Para pendeta ini memang menghormati sikap si Bungsu.
Dan secara kesatria pula, mereka mengagumi anak muda itu. Mereka memang menghormati Obosan mereka. Tapi kisah anak muda ini, bagaimana bertahun-tahun dia mencari Saburo yang telah jadi Obosan itu untuk membalaskan dendamnya, benar-benar membuat mereka jadi simpati!
Apalagi dari mulut Saburo sendiri sesaat sebelum meninggal mereka mengetahui bahwa anak muda itu telah menolong Michiko dari perkosaan tentara Amerika di Tokyo.
Michiko terkulai pingsan.
Bukan karena dendamnya tak kesampaian untuk membunuh si Bungsu. tidak. Dia pingsan karena pukulan bathin yang luar biasa.
Dia ingin si Bungsu tak meninggalkan tempat itu. Dia ingin si Bungsu menemaninya dalam saat dukanya ini. Dia ingin pemuda itu melindunginya dalam dekapan yang kukuh. Dia ingin pemuda itu membelai wajahnya. Menciumnya dengan penuh sayang. Dia ingin sekali semuanya.
Tapi disaat yang bersamaan, dia juga ingin anak muda itu mati ditangannya. Dia ingin anak muda itu tercencang tubuhnya oleh samurainya. Dia ingin membalaskan dendam kematian ayahnya. Dia ingin anak muda itu tak pernah ada di permukaan bumi ini.
Dan keinginan yang alangkah bertolak belakangnya ini, memukul bathinnya secara dahsyat. Itulah yang membuat dirinya tak sanggup tegak dan rubuh pingsan! Gadis ini benar-benar seorang yang patut dikasihani. Demikian berat cobaan yang mendera dirinya dalam usia yang belum cukup dua puluh tahun.
Si Bungsu tak mengetahui, bahwa di saat dia membelakang dan menjauhi tempat itu. Michiko rubuh pingsan.
Dia melanjutkan langkahnya meninggalkan altar tersebut. Meninggalkan kuil Shimogamo itu. Meninggalkan prosesi pemakaman Obosan Saburo Matsuyama. Lelaki yang pernah dia cari selama bertahun-tahun untuk membalaskan dendam keluarganya.
Dan hari ini, lelaki itu dikuburkan dengan upacara penuh kehormatan.
***0***
Sepuluh hari lamanya dia terbaring dalam musim dingin itu. Terbaring dihotelnya sambil mengobati luka bekas hantaman samurai Michiko.
Namun hari ke sepuluh nampaknya dia harus meninggalkan hotel itu. Sore harinya dia tengah duduk selesai minum sake ketika di luar dia dengar suara bertengkar.
Salah satu suara itu dikenalnya baik sebagai suara seorang pelayan hotel tersebut.
Kemudian didengarnya suara tamparan. Dan pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Dia menatap empat lelaki tegak dipintu kamarnya. Keempatnya memakai senjata.
Dua orang menggantungkan samurai di pinggangnya. Seorang memakai rantai sebesar ibu jari kaki yang digantungkan ke lehernya. Seorang lagi memakai trisula. Sejenis senjata seperti tombak yang mempunyai tiga cabang.
“Kami dari Kumagaigumi!” yang memegang tombak trisula itu berkata dengan suara serak. Dan ucapannya diiringi dengan hayunan tombak trisulanya ke arah si Bungsu!
Si Bungsu sudah merasa sejak dia mendengar pertengkaran di luar tadi. Bahwa orang yang datang ini pastilah berniat tak baik.
Dan ketika lelaki itu menyebut Kumagaigumi, dia segera ingat pada organisasi bandit yang anggotanya pernah dia sudahi di depan stasiun kota Gamagori.
Yaitu ketika dia menyelamatkan Michiko dari gangguan dua orang anggota komplotan itu. Kemudian ternyata yang dua orang ini memanggil tiga temannya lagi. Salah seorang diantaranya ternyata adalah pimpinan Kumagaigumi di kota itu.
Dan kini kelompok itu datang membalas dendam. Si Bungsu sudah waspada disaat orang itu menghayunkan tangannya menghujamkan tongkat trisula.
Anak muda ini menggulingkan tubuh ke belakang. Dan tombak itu menghujam di kasurnya. Dan tanpa memberi waktu sedikitpun, ketiga lelaki lainnya segera mengepungnya dan mengahntamnya dengan senjata di tangan mereka.
“Tahan….!” Si Bungsu berseru.
Anak muda ini sudah merasa jenuh dengan perkelahian. Dia sudah merasa seperti tukang bantai. Karena itu, dia tak ingin berlarut-larut.
Untungnya, keempat lelaki itu mau menahan serangan mereka.
“Kalian datang untuk membalaskan kematian lima teman kalian di stasiun Gamagori?”
Keempat lelaki itu menyeringai. Dan yang menjawab adalah yang memakai tombak trisula itu. Nampaknya dia adalah pimpinan di antara keempat lelaki tersebut.
“Ya. Kami datang untuk menuntut balas kematiannya. Dan kini engkau bersiaplah menerima nasibmu…”
“Tunggu! Untuk apa kita memperpanjang persengketaan ini? Saya tidak ingin mengatakan siapa yang salah dan siapa yang benar dalam peristiwa itu, tapi apakah tak ada jalan lain untuk menyelesaikannya tanpa menumpahkan darah?”
Keempat lelaki itu saling pandang.
Dan malangnya, keempat mereka jadi salah duga terhadap maksud ucapan si Bungsu. anak muda ini benar-benar tak ingin menumpahkan darah lagi. Dia sudah merasa penuh dosa.
Tapi keempat lelaki itu justru menafsirkan bahwa anak muda ini takut kepada mereka berempat. Dan inilah pangkal celaka itu. Kalau saja mereka mau sedikit berfikir agak waras, bahwa anak muda ini datang dari jauh tanpa bekal kecuali samurai dan dendam, mungkin mereka akan dapat mengerti.
Namun sudah dasarnya kaum rampok dan penyamun, yang ada pada mereka adalah keangkuhan. Sikap mengalah orang dia duga sebagai sikap takut.
“He…he…jangan menangis anak muda. Engkau barangkali bisa kami ampuni kalau engkau mau merangkak keliling kamar ini….:
Si Bungsu menatapnya. Keempat lelaki itu menyeringai.
“Ya, kalau kau mau merangkak dan minta ampun pada kami, maka kami akan pertimbangkan untuk tetap membiarkan engkau hidup…”
Si Bungsu masih menatap mereka.
“Kalau kau mau, mulailah….”
Si Bungsu masih menatap dengan diam.
“Kau tak mau? Kami akan menguliti kepalamu dan engkau akan kami cencang…”
“Apakah persoalan memang bisa selesai dengan hanya merangkak dan minta ampun?” suara si Bungsu terdengar perlahan.
Anak muda ini sebenarnya memang bersedia melakukan seperti yang diminta oleh bandit-bandit Kumagaigumi itu. Yaitu kalau persoalan itu memang bisa diselesaikan dengan cara demikian.
Tapi orang Kumagaigumi ini mana mau persoalan hanya sampai disana. Mereka datang memang untuk membalas dendam. Kemudian dengan pernyataan anak muda itu, mereka merasa di atas angin.
Mereka menduga anak muda itu takut. Karena itu, kesombongan mereka menjadi-jadi.
“Ya, merangkaklah. Dan kemudian menyembah minta ampun. Lalu tindakan berikutnya boleh kita pikirkan apakah engkau bisa bebas atau ditambah dengan acara lainnya…” kembali yang memakai tombak trisula itu bicara.
Si Bungsu menyadari, bahwa apapun yang dia lakukan, maka keempat orang ini hanya berniat satu. Yaitu menghendaki nyawanya.
Dia jadi menyesal. Menyesal karena tak bisa menghindarkan diri dari perkelahian. Kalau berkelahi, itu tak lain artinya adalah maut. Sampai bila dia harus jadi tukang bantai?
Dia menarik nafas panjang.
Dan karena dia tetap tak merangkak, tidak pula minta maaf atau menyembah seperti yang diminta, maka yang memakai rantai segera melecutkan rantainya ke arah si Bungsu.
Anak muda ini kembali bergulingan di lantai dengan jurus lompat tupai itu. Dan dia luput dari hantaman rantai besar itu. Tiga orang lagi maju dengan senjata mereka. Si Bungsu menyambar samurainya yang terletak di tempat tidur.
Dan sebelum orang-orang Kumagaigumi itu sadar apa yang terjadi, terdengar mereka saling berseru kaget.
Dan mereka tersurut. Dada mereka keempatnya terasa perih. Ketika mereka menoleh, ternyata kimono mereka telah robek tentang dada. Melintang dari kanan ke kiri. Dan dari balik kimono yang robek itu darah mengalir perlahan.
Si Bungsu telah bergerak amat cepat,. Namun tetap saja anak muda ini tak menginginkan ada nyawa yang tercabut. Itulah sebabnya dia tak mau membunuh keempat lelaki itu. Meskipun kalau dia mau, dengan mudah bisa dia lakukan.
Kini dia tegak di atas tempat tidur dengan samurai sudah berada dalam sarungnya.
“Saya berharap hal ini bisa diselesaikan dengan baik-baik” kembali suaranya terdengar perlahan.
Namun keempat anggota Kumagaigumi itu bukannya merasa beruntung bahwa anak muda itu telah berlaku sabar. Mereka justru merasa terhina dan menjadi meluap amarahnya. Seperti dikomando, mereka lalu serentak maju menyerang.
Kembali samurai si Bungsu berkelebat. Dia tak mau menjatuhkan tangan kejam.
Samurainya kembali hanya melukai kaki dan tangan mereka. Dia berharap dengan itu keempat mereka jadi jera. Namun karena tak mau mencederai, maka gerakannya jadi lambat. Suatu saat, rantai besar itu berhasil membelit samurainya. Dan disaat yang sama dua samurai yang lain membabat tangannya.
Benar-benar berbahaya.
Dan satu-satunya jalan untuk selamat adalah melepaskan samurai tersebut! Dan itulah yang dilakukan anak muda ini.
Dia melepaskan samurainya yang terbelit rantai. Dengan demikian tangannya selamat dari pancungan kedua samurai lawannya. Serangan tombak trisula yang datang menghujam rusuknya dia elakkan dengan melompat ke sisi.
Serangan berikutnya, yaitu hantaman rantai, terkaman mata samurai dan tikaman tombak, dia elakkan dengan bergulungan di lantai memakai lompat tupai yang terkenal itu.
Tapi sampai kapan dia dapat bertahan? Nafasnya memburu. Lawan yang dia hadapi bukan lawan sembarangan. Lawannya ini adalah pembunuh-pembunuh kelas satu di kota Kyoto. Pembunuh kelas satu dalam organisasi Kumagaigumi!
Maka dia hanya dapat bertahan dengan bergulingan beberapa saat saja. Sambil bergulingan dia mencari kemungkinan untuk lari keluar. Tapi keempat lelaki itu seperti menebak apa yang dia inginkan. Karena itu pintu mereka jaga dengan ketat!
Dan akhirnya si Bungsu lelah diburu keempat senjata Kumagaigumi ini. Pada jurus keenam belas dari serangan mereka, rantai sebesar empu kaki dengan panjang dua meter itu menghajar perut si Bungsu.
Sakitnya bukan main.
Dia bergulingan berusaha mencapai samurainya. Namun samurai itu ditendang oleh yang memakai tombak hingga terpental ke dekat pintu.
Dan kembali rantai itu menghajar punggungnya! Dia tersandar ke dinding. Tubuhnya lemah. Keempat anggota Kumagaigumi itu berhenti.
Menyeringai buruk.
Yang memakai samurai tiba-tiba bergerak. Dan tanpa ampun, kedua bilah samurai itu berkerja. Dada, perut, bahu dan paha si Bungsu kena sabet oleh samurai itu. Luka menganga!
Si Bungsu berusaha untuk tak memekik meski sakitnya bukan main! Darah merembes terus.
“Indonesia jin! Engkau telah lancang dan kurang ajar membunuh lima orang anggota kami di kota Gamagori. Kini saatnya kau merasakan pembalasan kami…!”
Yang bicara ini adalah yang pakai tombak trisula. Dan kata-katanya diakhiri dengan meluncurnya tombak bercabang tiga di tangannya.
Si Bungsu yakin, betapapun dia coba mengelak, namun sudah tak ada gunanya lagi. Dia tak lagi punya tenaga. Dan tombak bercabang tiga itu menghujam dalam di pahanya!
Hanya Tuhan yang tahu betapa sakitnya paha si Bungsu. namun dia tak memekik sedikitpun! Bukankah azaban yang jauh lebih dahsyat, yaitu ketika kuku dan jarinya dicabut dan dipatahkan Jepang di terowongan bawah tanah Bukittinggi dulu jauh lebih hebat?
Dia hanya menatap diam pada keempat anggota Kumagaigumi itu. Keempat lelaki Jepang itu mau tak mau mengerenyitkan kening mereka. Dan saling pandang sesamanya. Ketabahan dan ketangguhan anak muda Indonesia ini benar-benar luar biasa bagi mereka!
“Kita sudahi saja cepat anak ini…” kata yang memakai samurai.
Dan keempat mereka nampaknya sepakat untuk “menyudahi” orang Indonesia itu.
Si Bungsu sudah pasrah pada nasibnya. Tanpa dia sengaja, jari jemarinya meraba cincin bermata berlian di jari manisnya.
Cincin pemberian Salma. Sesaat dia teringat pada gadis itu. Teringat pada kampung halamannya. Pada Situjuh Ladang Laweh. Pada Gunung Sago dan Payakumbuh.
Tugasku selesai, aku rela mati di sini, hatinya berkata perlahan begitu keempat lelaki itu mengambil ancang-ancang untuk menyudahi nyawanya.
Dia menatap keempat anggota Beruang Gunung itu. Menatap dengan tak berkedip.
Namun saat itu terdengar seseorang batuk di pintu.


One response to “tikam samurai-bagian-224-225-226-227

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: