tikam samurai-bagian-220-221-222-223


Dia melangkah di jalan yang terbuat dari batu dalam taman di depan kuil Shimogamo itu. Kemudian ke luar ke si bungsu duduk bersilajalan raya Shimogamo Hon. Dia melangkah ke mana saja kakinya membawa.
Di jalan raya, dia berbaur dengan tentara Amerika yang berseliweran. Berbaur dengan orang-orang Jepang yang juga berseliweran. Dia tak tahu ke mana kakinya membawa.
Dia tak ingin berhenti. Tapi juga tak ingin berjalan. Dia tak ingin berbuat apa-apa. Dia tak ingin, tak ingin…. Apa yang dia ingini kini?
Akhirnya dia mendapatkan dirinya terduduk di sebuah kursi kayu yang dingin di sebuah taman yang rasanya belum pernah dia jejak. Bila pula dia akan menjejak taman di kota ini, padahal baru tiga hari dia di Kyoto ini?
Tak ada orang di taman itu. Siapa pula orang yang akan berada di taman dalam musim dingin begini? Dia duduk sendiri.
Duduk menyesali diri. Kenapa Saburo tak dia bunuh? Kenapa dia lepaskan setelah bertahun dia mencarinya. Kenapa dia biarkan jahanam itu hidup padahal ayahnya bersumpah akan membunuh jahanam itu sesaat sebelum dia menghentakkan nafasnya?

Apakah dia menjadi lemah karena Michiko? Apakah nyawa ayah dan ibunya, kehormatan dan nyawa kakaknya, dan kehormatan puluhan gadis serta nyawa puluhan orang kampungnya, penduduk Situjuh Ladang Laweh di kaki Gunung Sago di Minangkabau sana lebih rendahnya daripada nyawa Saburo? Apakah hanya karena sayang pada Michiko dia biarkan ayah, ibu dan kakak serta orang kampungnya mati tanpa ada yang menuntut bela?
Dia merasa pikirannya jadi buntu. Jadi tak menentu. Sampai suatu saat, di taman itu dia mendengar bunyi tabuh. Suara tabuh mengingatkan dia pada sholat.
Tabuh apakah itu? Pastilah gendang upacara agama Shinto. Dan dia teringat bahwa belum sholat. Dia sedang berniat bangkit ketika tiba-tiba dia mendengar suara azan!
Suara azan di Kyoto! Mungkinkah itu? Dia tegak tertegun sambil mempertajam pendengaran nya.
Asyhaduala ila hailallaaaahh….”
Suara azan itu berkumandang dalam suara dingin. Tanpa dapat dia tahan, bulu tengkunya merinding dan matanya basah mendengar azan itu.
Ya, pastilah beduk tadi dari sebuah mesjid atau langgar di sekitar taman ini. Dia coba mencari suara itu.
Suara azan di Kyoto. Menyebabkan dia teringat pada kampung halamannya. Suara azan itu seperti suara azan dari mesjid di kampungnya. Menyelinap diantara dedaun pohon. Menembus udara dingin.
Dan kakinya melangkah mencari sumber suara azan itu. Dimanakah dia kini?
Seorang tua terlihat berjalan cepat-cepat dengan sandal kayunya yang berbunyi berdetak-detak di jalan yang terbuat dari semen.
Maaf, numpang tanya…”
Hai….” Jawab orang tua itu sambil berhenti.
Dengar suara itu?”
Anda maksud suara azan itu?” tanya lelaki tua itu.
Ya, suara azan itu…” jawab si Bungsu heran. Heran kenapa orang tua Jepang ini mengetahui kalau suara itu adalah suara azan.
Apakah anda orang Kristen?” tanya orang tua itu.
Tidak, saya orang Islam…”
Itu dari mesjid kami. Mesjid Okazaki….” Kata orang tua itu sambil mempercepat langkahnya. Si Bungsu mengikuti langkah orang tua itu. Setelah berbelok ke kiri dua kali, tiba-tiba dia melihat sebuah gedung tua yang ditengahnya ada kubah.
“Mesjid…!” katanya hampir-hampir tak percaya. Orang tua itu telah masuk.
Di kanan mesjid yang tak seberapa besar itu ada sebuah kolam yang airnya mengalir terus. Si Bungsu mengambil wudhuk di sana. Kemudian menaiki tangga mar-mar. lalu dia berada di pintu sebuah ruangan yang bersih mengkilap.
Assalamualaikum…” katanya.
Waalaikumussalam…” belasan lelaki yang ada dalam ruangan itu menjawab tanpa menolehkan kepala.
Jam dinding tua yang tergantung menunjukkan angka tiga romawi. Suara detaknya bergema perlahan. Seorang Imam langsung tegak. Dan sembahyang berjemaah itupun mulai.
Si Bungsu tegak di saf kedua.
Bacaan ayat Imam tua itu terdengar lancar dan fasih sekali. Si Bungsu seperti sholat ketika di Bukittinggi bersama penduduk Tarok. Yaitu takkala dia hidup di kampung kecil itu bersama Mei-mei.
Ketika membaca doa, tiba-tiba dia rasa tenteram dan bahagia menyelimuti hatinya. Dia merasa suatu ketentraman karena tak membunuh Saburo.
Dia yakin, ayah, ibu dan kakaknya yang sudah almarhum juga menyetujui putusannya untuk tidak membunuh Saburo.
Bukankah melupakan dendam merupakan suatu pekerjaan mulia? Memang suatu pekerjaan yang alangkah sulitnya buat melupakan segala amarah. Menghapuskan dendam. Tapi bukankah Islam mengajarkan bahwa melupakan dendam itu merupakan bahagian dari keimanan?
Dia sendiri, sudah berapa nyawa yang dia cabut? Benar dia membela diri. Tapi bagaimana kalau anak dari orang-orang yang dia bunuh lalu mencari dirinya dan menuntut balas?
Dia terduduk lama sekali di mesjid kecil disudut taman Okazaki di daerah Higashiyama-ku. Yaitu suatu taman di seberang sungai Takano.
Dia merasa tenteram.
Kini tugasnya selesai. Dia harus kembali ke Indonesia. Begitu ingatan untuk kembali menyelusup dihatinya, dia segera teringat pada cincin jari manisnya.
Dia menatap cincin itu.
Cincin pemberian Salma di Bukittinggi. Sedang mengapa gadis itu kini? Sudah berlalu masa empat tahun sejak dia meninggalkan kota itu.
Apakah dia sudah menikah? Dia lalu berniat pulang ke hotelnya. Tapi kemana dia harus pergi?
Hari sudah senja. Tadi dia berjalan tanpa tujuan. Tak dinyana dia sudah sampai kemari. Jalan mana saja yang dia tempuh?
Dia keluar dari mesjid itu dengan perasaan benar-benar lapang dan lega.
Ketika tiba di jalan besar, sebuah taksi tua lewat. Dia menyetopnya.
Bisa mengantar saya ke hotel Kamo di daerah persimpangan Imadegawa?”
Bisa, silakan naik….” Jawab sopir taksi tersebut. Dia lalu naik. Dan tak si tua itu melaju mengantarkannya ke hotel dimana dia menginap.
Hari telah senja benar ketika dia sampai di hotelnya. Dia tidur dengan lelap malam itu. Apalagi yang harus dia fikirkan? Selama ini dia selalu tak lelap tidur. Bagaimana dia akan tidur nyenyak kalau dihatinya selalu membara dendam yang amat dahsyat?
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun terakhir ini, dia bisa bernafas dengan lega. Dia tak lagi memikirkan bagaimana cara untuk mencari Saburo. Dan tak pula harus memikirkan bagaimana caranya berkelahi melawan bekas perwira itu. Fikirannya tak lagi dibebani ketakutan. Takut berhadapan dan takut dikalahkan.
Bekankah beban mental begini selalu dialami oleh orang-orang yang akan bertarung? Kekalahan adalah sesuatu yang amat ditakuti setiap orang yang akan bertanding.
Padahal dalam kalimat pertarungan hanya ada dua kemungkinan. Kalah atau menang. Keinginan untuk menang adalah hasrat terakhir dari setiap orang yang bertarung. Namun kekalahan adalah juga merupakan haknya.
Setiap yang menginginkan kemenangan harus sadar bahwa kekalahan juga mengintainya. Dan kini masa, memikul beban seperti itu sudah dia lalui.
Barangkali dia dianggap orang lemah. Bertahun mencari musuh. Dan ketika musuh itu dengan mudah bisa dibunuh, dia melepaskan begitu saja. Apakah itu suatu “kelemahan?” atau itu juga suatu “Kekalahan?”
Kalau itu dianggap suatu kelemahan atau suatu kekalahan, maka dia dengan lapang hati menerima kenyataan itu. Yang jelas, dia merasa lega kini. Lega karena tak membunuh orang lebih banyak.

Pagi harinya dia jadi heran. Di jalan raya di depan hotelnya, kelihatan arak-arakan para pendeta menuju ke utara. Dari berbagai penjuru jalan, kelihatan barisan pendeta-pendeta Budha dan Shinto berbaris dengan wajah sedih.
Ada apa?” tanyanya pada seorang pengurus hotel.
Pendeta Besar kuil Shimogamo meninggal karena harakiri kemaren..” jawab pengurus hotel itu.
Si Bungsu merasa dirinya terlambung. Dia tertegak kaku.
Bunuh diri?” desisnya perlahan.
Ya. Pagi kemaren, kabarnya seorang musuhnya datang ke sana untuk menuntut balas. Muridnya, para pendekar kuil Shimogamo yang tersohor pendekarnya itu, berusaha membantunya.
Namun kabarnya delapan orang di antara mereka mati dimakan samurai musuh Obosan itu. Menurut orang yang menyaksikan di kuil itu kemaren pagi, belum pernah ada manusia yang demikian cepatnya mempergunakan samurai di Jepang ini, seperti musuh Obosan itu.
Mungkin orang itu murid atau turunan dinasti Tokugawa. Pendekar Samurai yang tersohor itu…..”
Pengurus hotel itu bicara terus.
Namun si Bungsu tak mendengarkannya. Dia teringat pada pekikan Michiko kemaren sesaat dia akan meninggalkan kuil Shimogamo itu.
Apakah saat itu Saburo bunuh diri?
Kini semua pendeta dari seluruh kuil yang ada di Kyoto ini menuju ke sana …” pengurus hotel itu melanjutkan “Untuk memberikan penghormatan pada Obosan itu. Obosan itu sangat disegani di kota ini. Sangat berpengaruh dan dihormati…”
Si Bungsu tak mendengarkannya. Dia justru tengah melangkah mengikuti palunan manusia menuju kuil Shimogamo!
Pikirannya yang malam tadi telah tenang, kini kembali mendapat beban lagi.
Kini beban itu justru makin berat. Dia sampai di altar kuil dimana kemaren dia melihat puluhan pendeta muda sedang berlatih beladiri.
Altar itu kini sudah penuh di kiri kanannya. Ada jalan selebar tiga meter di tengah untuk menuju ke tangga utama di kuil tersebut.
Dan di sana, di puncak anak tangga kuil yang belasan jumlahnya itu, terletak peti jenazah Obosan kuil Shimogamo. Diselimuti dengan kain beludru merah.
Jenjang kuil itu dialas seluruhnya dengan beludru kuning. Dan di samping peti yang diletakkan agak tinggi itu, kelihatan seorang gadis berbaju serba putih duduk berlutut. Tangannya menelungkup bersama wajahnya ke peti jenazah.
Michiko….” Kata si Bungsu perlahan. Di sekitar peti jenazah kelihatan puluhan lilin tengah dipasang. Dan berjejer di setiap anak tangga, kelihatan puluhan pendeta kuil Shimogamo berjubah merah dan kuning berguman membaca doa.
Jarak antara si Bungsu dengan peti jenazah di mana Michiko menelungkup itu masih jauh. Si Bungsu berusaha mendekat lewat di antara jubelan manusia yang ribuan orang banyaknya itu.
Yang hadir dalam upacara tersebut ternyata tidak hanya pendeta dari kuil-kuil di kota Kyoto saja. Berita itu ternyata telah pecah dan menyelusup ke seluruh pelosok kota.
Orang berdatangan ingin memberi penghormatan akhir pada Obosan itu. Selain itu, tentara Amerika juga berdatangan. Ada yang datang karena bersifat politis, ada yang datang karena ingin melihat upacara sakral itu dilangsungkan.
Gong tiba-tiba dipalu. Berdengung dan bersipongang. Menggetarkan hati setiap orang yang berada di sekitar kuil itu. Si Bungsu baru menyadari bahwa musuh bebuyutannya itu ternyata memang bukan orang sembarangan. Ternyata dia orang terhormat dan berpengaruh. Upacara dihari kematiannya ini membuktikan hal itu.
Begitu gong ketiga berakhir, utusan-utusan dari selusin kuil yang ada di kota Kyoto itu maju dalam barisan yang teratur. Dua orang tiap kuil. Mereka maju membawa semacam baki mendaki tangga upacara.
Michiko berdiri menerima penghormatan itu. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu bengkak bekas menangis. Wajahnya yang cantik kelihatan pucat sekali.
Dan saat itulah Michiko melihat si Bungsu tegak di baris kedua dari jalan di tangga paling bawah. Mata mereka saling tatap.
Wajah Michiko tiba-tiba jadi keras. Dan tiba-tiba pula lilin ditangannya jatuh. Dia menatap lurus pada si Bungsu.
Semua orang jadi kaget. Termasuk para pendeta, para biksu dari seluruh kuil yang hadir di sana.
Michiko-san…” seorang pendeta tua wakil Saburo mengingatkan Michiko atas sikapnya itu. Namun Michiko sudah melangkah menuruni anak tangga. Menuju lurus-lurus ke arah si Bungsu.
Michiko-san…!” wakil Obosan itu kembali menegur Michiko yang meninggalkan altar upacara.
Namun Michiko sudah sampai di bawah. Melihat gadis itu datang padanya, si Bungsu maju menyeruak di antara barisan pendeta. Dan kini berdiri di depan.
Semua mata menatap kedua anak muda ini. Selain para pendeta dari kuil Shimogamo, tak seorangpun yang mengenal anak muda asing itu.
saya turut berduka cita yang…” ucapan si Bungsu sambil membungkuk dalam itu terhenti takkala tiba-tiba tangan Michiko secepat kilat menyambar samurai dari seorang pendeta yang tegak di dekatnya.
Dan samurai itu dengan kecepatan yang sulit diikuti mata pula, menghajar bahu si Bungsu!
Darah menyembur dari bekas luka yang menganga itu!
Michiko-san!!!” wakil Saburo di kuil Shimogamo itu membentak seiring dengan teriakan-teriakan kaget dari seluruh pengunjung melihat kejadian itu.
Si Bungsu bukannya tak tahu bahwa ada bunyi senjata menyerangnya. Kalau dia mau, dia bisa mengelak. Bahkan dia bisa mematahkan serangan itu.
Namun dia sengaja tak melakukannya! Bukankah hal yang sama juga dia lakukan dahulu ketika ayahnya mati ditangan Saburo? Bukankah waktu itu dia ingin berlari memeluk ayah dan ibunya tapi kemudian Saburo membabatnya dengan samurai?
Dan itulah penyebab kenapa dia bertahun-tahun mencari Saburo sampai kemari. Kini, kalau dia patahkan pula serangan Michiko. Gadis itu tentu akan mencarinya untuk membalas dendamnya!
Dia tak ingin hal itu terjadi. Dia ingin hal ini selesai disini. Makanya dia membiarkan dirinya dilukai.
Lelaki jahanam! Cabut samuraimu! Aku Michiko Matsuyama akan membalas dendam kematian ayahku! Apakah engkau sangka engkau saja yang berhak membalas kematian ayah dan ibumu?”


3 responses to “tikam samurai-bagian-220-221-222-223

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: