tikam samurai-bagian-188-189-190-191


Sepekan setelah itu persidangan dibuka lagi.mengetukkan palunya
“Kami berpendapat, percuma sidang ini diadakan kalau tak ada saksi utama. Tak ada yang melihat atau mendengar bahwa ada perkosaan kecuali tertuduh. Dan tertuduh tak bisa diminta keterangannya sebagai saksi. Hukuman mati patut dijatuhkan padanya…” Oditur Militer itu berkata tegas setelah bertegang urat leher dengan Yamada.
Yamada bangkit. Dia memandang keliling. Kemudian memandang pada Hakim Militer yang mengadili perkara ini.
“Amerika sudah cukup banyak membunuh orang di negeri ini. Hitunglah yang mati di kancah peperangan. Terakhir hitung pula mereka yang mati tanpa dosa di Hiroshima dan Nagasaki. Dimakan Bom Atom laknat itu. Apakah kalian masih akan menambah angka kematian itu lagi?”
Tubuh Yamada sampai menggigil mengucapkan kalimat ini. Dia mengucapkan itu memang dengan penuh kebencian. Tapi juga dengan penuh tantangan. Dia bisa diseret sebagai menghina tentara Amerika!
Beberapa pejabat kota Tokyo pada duduk dengan pucat. Meskipun yang diucapkan pembela itu adalah isi hati mereka, namun mereka menilai Yamada terlalu berani dengan ucapannya ini.
Ruangan pengadilan itu jadi sepi.

Semua pada terdiam dan gugup. Yamada sendiri tetap tegak ditempatnya yang mirip api yang membakar sumbu dinamit. Yang bisa meledakkan seluruh Jepang dalam peperangan yang lebih dahsyat.
Seperti dikatakan, hampir seluruh balatentara Jepang tak menghendaki menyerah pada sekutu. Semua mereka siap untuk berperang sampai tetes darah terakhir. Itulah kenapa ribuan di antara mereka yang memilih mati bunuh diri dengan harakiri ketika Tennoheika tetap menyuruh mereka menyerah.
Dan kini, masalah bom atom di Nagasaki dan Hiroshima itu merupakan sesuatu yang tak pernah dibicarakan orang. Sesuatu yang amat sensitif.
Akhirnya Hakim menarik nafas. Menjilat bibirnya. Kemudian bicara, suaranya terdengar tenang berwibawa:
“Anda benar tuan Yamada. Kami tak dapat lagi untuk menambah korban. Oleh karena itu peperangan harus dihentikan. Pengadilan ini akan berjalan terus. Tak ada korban yang boleh jatuh dengan sia-saia. Kedua tentara Amerika itu menurut file pemeriksaan sebelum tuan jadi pembela, membuktikan bahwa mereka memang membawa gadis ke penginapan itu.
Saya undurkan sidang ini 15 hari untuk memberi kesempatan pada anda tuan untuk mencari saksi utama itu. Saya juga akan memerintahkan Polisi Militer Amerika untuk mencari gadis itu. Demi kemurnian hukum”
Dan dia mengetukkan palunya. Semua pengunjung di pengadilan bertepuk menyambut putusan Hakim yang luar biasa itu. Yamada sendiri sampai berpeluh karena tak yakin akan putusan itu.
Orang-orang pada berdatangan memberi salam padanya. Rasa simpati makin hari makin mengalir pada si Bungsu. Orang jadi tahu, bahwa pemuda asing dari negeri bekas jajahan Jepang ini diadili karena membela seorang gadis Jepang. Dan terungkap pula, pemuda itu juga telah menyabung nyawanya melawan komplotan Jakuza dalam membela Hannako dan saudara-saudaranya.
Sebuah badan sosial mengumpulkan dana untuk membiayai pembelaan si Bungsu. semuanya berjalan tanpa diketahui oleh anak muda itu. Dia tetap berada dalam kamar tahanannya. Dan sama sekali tak terpengaruh oleh jalannya sidang.
Baginya, bebas ya syukur. Dengan demikian bisa melanjutkan pencariannya terhadap saburo Matsuyama. Perwira Jepang yang membunuh keluarganya.
Kalau tak bebas dan dihukum kami, dia juga tak keberatan. Dia sudah pasrah pada Tuhan. Apakah lagi yang paling pokok dalam kehidupan ini selain daripada pasrah pada kehendak Tuhan?
Orang yang telah berusaha, kemudian memasrahkan dirinya pada kehendak Tuhan YME, adalah orang yang paling bahagia. Tenteram dan tenang hidupnya. Kebahagiaan, ketenteraman dan ketenangan hidup tidak terletak pada harta atau kekayaan. Tapi terletak pada hati.
Itulah yang dilakukan si Bungsu. Memasrahkan dirinya pada kehendak Yang Satu!
***0***
Yamada tengah mempelajari berkas perkara itu di kantornya di daerah Ginza ketika tiga orang berpakaian parlente masuk.
“Kami dari Yayasan Universitas Tokyo. Ingin menyumbangkan pada tuan sedikit uang untuk membiayai pembelaan terhadap si Bungsu…” kata salah seorang diantara mereka.
Yamada menatap mereka. Pengacara terkenal dan termahal bayarannya ini kemudian tersenyum.
“Terimakasih. Semula saya memang menerima bayaran dari seseorang untuk membela pemuda itu. Tapi, semakin saya pelajari kasus ini, semakin saya malu pada diri saya. Kenapa saya harus menerima bayaran untuk membela orang ini?
Yang saya bela ini bukan seorang Indonesia. Lebih dari itu. Yang sedang diadili ini adalah harga diri dan moral orang Jepang.
Selama bertahun-tahun di negeri ini, terjadi erosi terhadap harga diri. Terjadi erosi terhadap moral bangsa. Selama perang dunia berakhir, di negeri ini kota-kota berobah jadi neraka bagi penduduk.
Kita tak lagi terharu melihat orang-orang yang teraniaya. Kita tak lagi prihatin mendengar berita perkosaan terhadap perempuan-perempuan kita. Kita tak lagi peduli terhadap penderitaaan orang lain.
Padahal sebelum tentara Amerika menduduki negeri kita ini, kita terkenal sebagai bangsa yang berbudi halus. Terkenal sebagai masyarakat yang paling homogen di dunia.
Kita cepat menaruh perhatian dan membantu penderitaan orang lain. Kini kemana semuanya itu? Kita kini saling menyelamatkan diri sendiri. Kita malah menjauh dari penderitaan orang lain. Takut kalau-kalau kita terserang pula oleh penderitaan itu.
Tiba-tiba seorang anak muda entah dari mana, entah siapa dia, datang kemari. Dia datang dari negeri yang pernah dijajah dan dirobek-robek oleh balatentara yang kita banggakan.
Dia datang dari negeri yang dimana ratusan ribu rakyat mati menjadi romusha. Kerja paksa di hutan belantara. Dia datang dari negeri dimana balatentara Kemaharajaan Jepang pernah melakukan pembantaian-pembantaian yang tak berperikemanusian.
Dari sanalah dia datang. Dan untuk kalian ketahui, secara kejiwaan saya dapat menebak, anak muda ini datang kemari dengan membawa dendam yang dahsyat.
Dia mencari seseorang di negeri ini. Seseorang dari bangsa kita. Yang barangkali pernah membunuh sanak keluarganya. Dia datang untuk membalas dendam.
Tapi takkala dia tiba di negeri ini, di saat dia sebenarnya bisa membiarkan gadis di penginapan Asakusa itu ternoda oleh tentara Amerika. Atau di saat seorang gadis lain bernama Hannako dan saudara-saudaranya terancam dibunuh oleh Jakuza. Dia bisa saja membiarkannya. Apa guna dia ikut campur? Dia tak kenal dengan mereka.
Tapi ternyata dia tak berlaku masa bodoh. Dia menyimpan dendam yang dia bawa menyebrang laut itu di dalam hatinya. Tapi turun tangan mempertaruhkan keselamatan dan nyawanya untuk membantu gadis itu di Asakusa. Dan dia turun tangan membantu Hannako dan saudara-saudaranya dari ancaman Jakuza.
Anak muda Indonesia ini, yang berasal dari Gunung Sago, dari sebuah kampung kecil bernama situjuh ladang Laweh di Minangkabau, yang dia perbuat di sini hanya dapat disimpulkan dengan satu kalimat : dia telah membela harga diri orang Jepang. Dia membelanya, disaat orang Jepang sendiri berlaku Homo Homonilupus. Orang Jepang yang satu jadi serigala bagi orang Jepang lain.
Saya bisa buktikan itu dengan ketidak acuhan kita terhadap sesama bangsa. Saya berani buktikan itu dengan ribuan manusia yang kini hidup di terowongan bawah tanah. Ribuan kanak-kanak tanpa orang tua. Ribuan orang miskin tanpa tempat berteduh. Sementara kita di atas ini hidup serba berkecukupan.
Saya merasa malu pada diri saya. Kenapa tak sadari dulu saya bela anak ini. Saya telah menerima bayaran cukup tinggi dari seseorang yang tak mau disebutkan nama dan alamatnya.
Uang bayarannya yang tinggi untuk menyelamatkan anak muda itu telah saya kembalikan dua hari yang lalu. Dan kini saya akan membelanya mati-matian. Kalau sampai dia tak bisa saya bebaskan, saya tidak hanya akan berhenti menjadi pengacara, tapi saya akan berhenti jadi orang Jepang! Saya akan harakiri!
Demi Budha, saya akan menepati sumpah saya ini. Membebaskannya atau bunuh diri. Dan kini, tuan-tuan datang kepada saya untuk menyerahkan uang pembayar pembelaan anak muda itu. Seharusnya saya marah, tapi karena tuan-tuan tak tahu, tak apalah.
Bawalah uang itu kembali. Serahkan pada yayasan lain. Bantu anak-anak yang ada dalam terowongan itu. Bantu orang-orang miskin itu. Tentang pembelaan anak muda ini, serahkan pada saya. Seluruh kekayaan saya akan saya pergunakan untuk menyelsaikan perkara ini”
Yasuaki Yamada berhenti. Matanya berkaca-kaca. Namun wajahnya memperlihatkan sikap yang teguh.
Ketiga lelaki, yang terdiri dari para Sarjana Universitas Tokyo itu, yang datang menyerahkan bantuan, duduk terdiam seperti patung mendengarkan ucapan pengacara mashyur tersebut.
“Lalu, apa yang bisa kami perbuat untuk membantu membebaskan anak Indonesia itu?” tanya salah seorang di antara mereka.
Yamada menarik nafas panjang.
“Ada satu hal, dan itu adalah soal terbesar yang bisa tuan bantu. Yaitu mencari gadis yang akan diperkosa tentara Amerika itu, yang kemudian dibela oleh si Bungsu. sampai saat ini saya belum bisa menemukannya. Jejaknya lenyap seperti salju yang mencair kemudian menguap lagi ke udara. Kita tak tahu siapa namanya. Dimana tinggalnya, nah tolonglah saya mencari gadis ini. Kalau dia bertemu, dan dia berada dipihak kita, maka saya yakin anak muda itu bisa dibebaskan…”
Dan akhirnya soal itulah yang mereka rembukan. Bagaimana mencari gadis tersebut.
“Apakah tuan telah menanyakan pada pihak Polisi Milter Amerika tentang gadis itu? Mungkin saja mereka mengetahui datanya…”
“Saya sudah tanyakan hal itu. Mereka memang mengakui menahan gadis itu semalam. Lalu dilepas lagi. Tapi mereka mengatakan tak menanyakan namanya dan tak mencatat alamat siapa-siapa…”
“Itu adalah dusta sama sekali…” kata seorang profesor diantara anggota Tokyo University itu.
“Ya. Saya tahu itu dusta yang paling jahanam. Tapi mereka memang berhak berbuat begitu menurut hukum di negeri mereka. Kitalah yang harus mencari bahan bukti…”
“apakah tak bisa didesak agar pengadilan itu diadili oleh Hakim Jepang. Bukankah negeri ini bukan negeri Amerika, sehingga secara Juridis hukum Amerika tak bisa diterapkan disini?”
“Ucapan tuan benar seandainya negeri kita tidak kalah perang. Status negri kita ini, diatas sedikit dari negeri jajahan, tak memungkinkan hal itu terjadi. Mereka berhak menerapkan pengadilan menurut sistim di negeri mereka, karena yang terbunuh justru tentara mereka. Hukum negeri kita bisa dipakai kalau kedua belah pihak yang diadili tidak ada sangkut pautnya dengan warganegara atau kepentingan orang Amerika”
“Apakah namanya juga tak diketahui?”
“Pihak Amerika mengatakan Michiko atau Machiko. Mereka tak begitu jelas perbedaaannya. Soalnya gadis itu masih nerfus malam itu”
“Michiko, Machiko…ribuan gadis bernama seperti itu di kota ini…”
“Ya, itulah kesulitannya. Apalagi pihak Amerika katanya tak menyanyakan siapa nama keluarganya. Tak pula mencatat alamatnya. Menurut proses verbal, gadis itu didapat oleh tentara Amerika dari suatu taman di tengah kota. Kalau keterangan itu benar, maka gadis itu pastilah kupu-kupu malam. Tapi saya tak yakin, sebab menurut si Bungsu, si gadis menangis tak mau dinodai. Terjadi pergumulan cukup lama. Si Bungsu mendengar suara gadis itu merintih…jangan, jangan nodai saya. Jangan! Itu suatu pertanda, bahwa gadis itu bukan seorang pelacur. Dia pastilah seorang gadis baik-baik. Hanya kenapa sampai ke taman itu dimana berkumpul pelacur-pelacur yang lain? Inilah hal-hal yang menyulitkan pencaharian terhadap gadis itu.
Saya juga telah menanyai dua perempuan yang sama-sama dibawa ke penginapan Asakusa itu. Kedua perempuan itu yang telah lama beroperasi sebagai pelacur mengatakan bahwa mereka baru malam itu bertemu dengan gadis itu. Mereka tak mengenalnya sebelum peritiwa itu”
“Ya, di Universitas juga ada ratusan mahasiswi yang bernama Michiko atau Machiko…” kata ketua Yayasan yang bergelar Profesor itu.
Mereka semua terdiam. Dan peradilan itu akhirnya dideponir oleh pihak Amerika. Meski dibawah peraturan yang sangat ketat, namun puluhan mahasiswa dan penduduk sipil suatu hari membawa poster berdemonstrasi menuntut pembebasan si Bungsu.
**000**
Tak kurang dari Jenderal Mac Arthur sendiri yang turun tangan mendeponir perkara ini. Jenderal ini adalah Panglima balatentara sekutu untuk wilayah Pasifik.
Dia bersama pasukannya semula “terusir” dari Filiphina oleh tentara Jepang. Tapi dalam suatu pertarungan ulang, dia berhasil “revans” dan tidak hanya merebut Filiphina saja, tapi menaklukan seluruh kawasan Asia yang diduduki Jepang. Termasuk menduduki Jepang sendiri!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: