tikam samurai-bagian-184-185-186-187


“Masuklah ke dalam. Ada tamu penting….” Katanya pada isterinya yang sedang membaca koran pagi. Perempuan dia terduduk di atas kedua lututnyacantik itu tegak. Berjalan ke kamar dengan lenggang pingulnya.
Dua orang lelaki kelihatan memasuki pintu pekarangannya. Kemudian melangkah di taman. Semacam perasaan tak sedap menyelinap di hati Kawasaki. Kedua lelaki ini dia ketahui sebagai pembawa pesan “amat khusus”. Dan keduanya adalah pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Dua orang spesialis yang langsung berada di bawah perintah Pimpinan Wilayah, Tokugawa.
“Gomenkudasai…” salah seorang diantaranya bicara sopan di luar pintu.
Hai, dozo ohairi kudasai…” jawabnya menyilahkan kedua tamu khusus itu masuk
Kedua tamu itu membuka sepatu. Kemudian mereka masuk ke ruang tengah itu. Duduk membelakangi pintu di lantai.
Ogenki desu ka..” (ada kabar apa?) tanya Kawasaki sopan, setelah ikut duduk berlutut dua depa di hadapan kedua tamunya ini.

“Kami disuruh menyampaikan pesan ini….” Jawab yang bertubuh kurus berwajah dingin seperti burung gagak.
Dia mengangsurkan sebuah surat beramplop panjang ke hadapan Kawasaki. Dengan perasaan tak sedap, Kawasaki mengambil surat itu. Dan darahnya serasa seperti berhenti mengalir takkala melihat surat dalam amplop itu tertulis di kertas merah.
Itu berarti perintah bunuh diri!
Dia berusaha menguatkan hatinya. Kemudian membaca surat merah itu.
“Tuan hadir dalam rapat di Shinjuku di rumah Kawabata. Saya telah menjamin dengan sumpah putus jari dihadapan seorang Indonesia untuk keselamatan Hannako bersaudara. Saya telah membiarkan Indonesia-jin itu pergi. Suatu pertanda bahwa saya juga menjamin keselamatannya. Seorang Tokugawa tak mau melanggar sumpah. Dan lebih tak mau lagi kalau ada orang yang menodai sumpah itu. Indonesia-jin (orang Indonesia) itu kini ditangkap tentara Amerika atas penghianatan tuan.
Bersama ini saya kirimkan untuk tuan sebuah peti merah.
Tokugawa
Begitu selesai membaca, lelaki yang tadi masuk ke kamar Tokugawa, segera mengeluarkan kotak kecil berwarna merah yang diberikan Tokugawa. Kotak kecil yang dia ambil dari dalam laci mejanya.
Dengan sikap sangat hormat, lelaki tampan ini meletakkan kotak ramping itu di lantai. Kemudian dengan kedua tangannya dia menyorongkan kotak itu ke depan Kawasaki.
Kawasaki jadi pucat.
“Ini tidak betul. Saya menghadap sendiri ke Pimpinan….” Katanya gugup. Namun kedua lelaki itu menatap padanya dengan pandangan dingin.
“Saya bisa membebaskan Indonesia-jin itu…” dan ucapannya terhenti. Dengan berkata begitu jadi jelas bahwa memang dia yang “mengatur” agar si Bungsu tertangkap.
“Saya akan menelpon….” Suaranya terhenti. Kedua lelaki itu menggeleng perlahan.
Dengan isyarat halus, keduanya menunjuk pada kotak merah kecil itu.
Namun Kawasaki tegak.
“Saya akan menemui pimpinan….” Suaranya lebih mirip orang takut dan putus asa. Dia bergegas memutari kedua lelaki itu dalam jarak yang jauh menuju pintu.
Kedua lelaki itu tetap duduk tak memutar sedikitpun. Kawasaki sudah sampai di pintu. Tiba-tiba kedua lelaki itu bergerak sangat cepat. Mereka berbalik serentak setelah mengambil sesuatu dari balik jas mereka.
Demikian cepat gerakan kedua orang itu, sehingga tak diketahui siapa yang lebih dahulu bergerak. Yang jelas, begitu mereka berbalik. Kawasaki merasa dada dan rusuknya perih dan linu sekali.
Dia berpaling, tapi tubuhnya tak kuat tegak. Dia rubuh di atas kedua lututnya. Tangannya jadi lumpuh. Pada dada dan rusuknya yang terasa linu dan menyebabkan kelumpuhan itu, tertancap dua bilah samurai pendek. Tak lebih dari sejengkal.
“Pimpinan menghendaki tuan harakiri. Mati sebagai Jakuza yang terhormat. Tapi tuan lebih menginginkan mati secara begini. Maafkan kami….”
Kedua lelaki itu, yang kini duduk berlutut di depan Kawasaki yang terhenyak tak bisa bergerak, berkata perlahan. Aneh, tak sedikitpun wajah mereka menunjukkan emosi. Tak terlihat mereka marah atau menyesal, apalagi takut. Mereka bicara seperti sedang bicara dengan orang biasa saja.
Padahal Kawasaki sedang berjuang dengan sakratul maut. Mulut Kawasaki bergerak. Namun tak ada suara yang keluar.
“Maafkan, kami mohon diri….” Kata yang berwajah tampan. Kedua mereka segera membungkuk dalam-dalam ke lantai. Kemudian tegak. Yang satu berjalan ke tengah ruangan. Mengambil surat yang tadi dibaca Kawasaki. Kemudian mereka melangkah pergi. Melangkahi tubuh Kawasaki yang terbelintang di tengah pintu.
Kawasaki hanya bisa menatap kepergian orang itu dengan gerak matanya yang makin melayu. Kedua orang itu berjalan di batu di tamannya. Suara sepatu mereka berdetak satu-satu. Jantung Kawasaki juga berdetak satu-satu.
Kedua orang itu membuka pintu mobil, lalu masuk. Menghidupkan mesin. Lalu pergi. Suara mesin mobilnya makin jauh makin lenyap. Dan ketika suara deru mobil itu lenyap sama sekali, nyawa Kawasaki juga lenyap.
Aneh terdengar. Seorang Tokugawa membunuh tokoh Jakuza bawahannya. Dia bunuh hanya karena Kawasaki membocorkan rahasia pada Amerika bahwa yang membunuh tentara Amerika di Asakusa adalah si Bungsu. Karenanya anak muda itu tertangkap.
Namun seperti bunyi suratnya pada Kawasaki, dia membiarkan anak muda itu bebas keluar dari rumah Kawabata setelah memenangkan perkelahian hari itu, adalah sebagai tanda, bahwa dia juga menjamin keselamatan anak muda itu.
Dan keanehan-keanehan memang banyak terjadi di dunia para penjahat ini. Meski mereka kumpulan pembunuh, pemeras, penodong, penjambret, namun mereka mengenal kesetiaan, keperwiraan, kejujuran dan kasih sayang.
***0***
Si Bungsu mengakui seluruh tuduhan yang diajukan padanya. Memang dia yang membunuh seorang letnan dan seorang sersan di penginapan Asakusa.
Meskipun dia membela orang lain, namun tentara pendudukan selalu berkuasa. Tentara yang dalam perang selalu mendahulukan kepentingan para prajuritnya ketimbang ketentuan hukum.
Lagipula, terhadap kasus si Bungsu, tak ada ketentuan hukum yang harus dipertimbangkan. Di Jepang tak ada konsulat Indonesia saat itu. Karenanya, tak ada perlindungan diplomatik.
Amerika tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia sepanjang menyangkut hak-hak kewargaannya di negeri Jepang. Maka sesuai undang-undang yang berlaku, si Bungsu diperlakukan dengan hukum perang.
Meskipun belum disidangkan oleh Mahkamah Militer, namun kepadanya telah disampaikan kira-kira hukuman apa yang bakal dia dapatkan.
Hukuman tembak mati!
Si Bungsu tak menyesal. Dia malah berharap agar gadis yang dia tolong itu selamat.
Sebulan dia dalam tahanan, persidangannya segera dibuka. Agak aneh juga, ternyata pengadilan terhadap dirinya dipercepat.
Di gedung pengadilan, tiba-tiba dia bertemu dengan Kenji dan Hannako serta adiknya.
“Bungsu-san….” Terdengar suara halus ketika dia turun dari mobil tahanan. Dia menoleh, dan melihat Hannako bersama Kenji.
Hannako memeluknya.
“Bungsu-san…” katanya lirih.
“Hanako, Kenji….terimakasih, kalian datang menengokku, domo arigato gozaimasu…” katanya perlahan.
Hannako menyerahkan ke tangannya setangkai bunga Sakura yang berwarna merah jambu.
“Sekarang sudah musim bunga Bungsu-san …”katanya perlahan.
“Arigato…”
“Lihatlah, dimana-mana bunga Sakura pada mekar. Engkau akan bebas Bungsu-san….”tambah Hannako.
Si Bungsu benar-benar terharu. Gadis itu memakai baju dari sutera berwarna biru berkembang-kembang. Wajahnya cantik. Dia tersenyum menatapnya.
Dan ketika persidangan dimulai, seorang ahli Hukum terkenal di Tokyo saat itu, tuan Yasuaki Yamada muncul sebagai pembela si Bungsu.
Tentara pendudukan Amerika seperti ditekan oleh pihak lain yang punya kekuatan terselubung untuk mengadili orang Indonesia itu secara terbuka.
Semula tentara Amerika akan mengadilinya secara penjahat perang. Ada alasannya, membunuh tentara Amerika yang sedang bertugas di negeri taklukan. Bukankah itu sama dengan kejahatan perang?
Namun “kekuatan terselubung” yang meminta agar perkara itu diadili secara terbuka, nampaknya punya kekuatan yang benar-benar tak dapat diabaikan.
Tentara pendudukan Amerika terpaksa menyetujui permintaan yang diajukan lewat ahli hukum Yasuaki Yamada itu.
Dalam persidangan terjadi debat yang amat sengit antara Jaksa Militer dengan pembela si Bungsu.
“Pembelaan terhadap terdakwa tak bisa diakui secara hukum. Terdakwa bukan warga negara jepang. Dan pembunuhan terhadap tentara Amerika yang sedang bertugas haruslah diadili oleh mahkamah perang”
Demikian oditur militer Amerika menuntut pembatalan persidangan secara terbuka ini.
Ruang sidang itu sendiri penuh sesak. Ada sekitar lima ratus orang hadir. Terdiri dari tentara Amerika dan penduduk sipil Jepang.
Yamada, pembela dan ahli hukum terkenal itu segera bangkit.
“Terdakwa memang bukan orang Jepang. Tapi dia membunuh tentara Amerika karena membela seorang warga negara Jepang. Maka selayaknyalah kami orang Jepang membelanya”
Ucapannya mendapat tepuk tangan yang gemuruh dari pengunjung yang penduduk Jepang.
“Meski demikian, dia membunuh 2 tentara Amerika yang sedang bertugas….”
“Apa tugasnya? Memperkosa seorang gadis Jepang?” potong Yamada. Tepuk tangan gemuruh lagi. Muka oditur Militer yang berpangkat Mayor itu jadi merah.
“Tak ada bukti yang menguatkan bahwa kedua tentara itu akan memperkosa seorang gadis Jepang. Mana buktinya. Buktinya haruslah gadis yang akan diperkosa itu sendiri….kami minta gadis itu diajukan sebagai saksi!”
Yamada benar-benar jadi terdiam. Semua isi pengadilan itu juga terdiam. Inilah kartu mati bagi Yamada. Dalam sebulan ini dia telah berusaha mencari tahu siapa gadis yang ditolong di hotel Asakusa. Namun usahanya sia-sia.
Gadis itu tak pernah ditemui. Dan kini, kelemahannya itu dijadikan sebagai truf oleh Oditur untuk membatalkan persidangan ini.
Pemilik penginapan yang diajukan sebagai saksi, hanya mengatakan bahwa kedua tentara itu datang membawa dua gadis. Sebenarnya mereka bertiga. Dan setelah mereka masuk kamar, dia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dia hanya mendengar serentetan tembakan dan ketika dia muncul di kamar itu, kedua tentara itu telah mati.
Orang Indonesia yang menginap disana sudah lenyap entah kemana. Itulah kesaksian yang bisa dia berikan. Dia tak mengenal siapa gadis yang dibawa letnan Amerika itu.
Yamada sudah menyangka bahwa dia akan menghadapi kesulitan ini. Namun Tokugawa yang berdiri dibalik pembelaan terhadap si Bungsu ini, membayarnya amat tinggi untuk membela anak muda tersebut.
“Bela dia sampai bebas. Sekurang-kurangnya hanya dihukum setahun dua. Tentang biaya jangan tuan pikirkan. Saya yang menjamin….” Kata Tokugawa.
++0++
Persidangan diundur untuk memberi kesempatan pada Yamada mencari saksi. Tokugawa tak berani memasang iklan untuk memanggil gadis itu.
Pihak lain bisa saja menjegal gadis tersebut di perjalanan. Terutama pihak Amerika yang ingin persidangan itu dilakukan secara Militer.
Tokugawa menyebar mata-matanya ke seluruh pelosok untuk mencari gadis itu. Ciri-cirinya ditanyakan pada si Bungsu dan pemilik penginapan. Si Bungsu teringat, bahwa sebelum lama berdarah itu dia pernah bertemu dengan gadis itu di daerah Ginza.
Maka Tokugawa menyapu seluruh toko, kantor, tempat-tempat mandi uap dan rumah-rumah pelacuran atau rumah-rumah pribadi dalam usaha mencari gadis tersebut.
Tapi mencari seorang gadis cantik di Tokyo dengan ciri-ciri yang samar-samar alangkah sulitnya. Di Tokyo ada ratusan ribu gadis cantik. Dan hampir semua punya ciri tubuh seperti gadis yang dikatakan si Bungsu. Bagaimana menandainya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: