tikam samurai-bagian-180-181-182-183


Musim dingin sudah hampir berakhir. Salju tak turun lagi. Yang berada di bumi atau di pohon sudah mulai unduhanmencair.
Saat itu sudah di akhir bulan Nigatsu. Dimana salju berhenti turun. Tak lama lagi, musim bunga akan segera menyusul. Tapi perpindahan musim yang indah itu justru perpindahan nasib yang malang bagi si Bungsu.
Dia tengah sholat lohor ketika pintu diketuk dari luar. Hannako membuka pintu dan merasa heran bercampur kaget dengan kemunculan tentara Amerika dirumah mereka.
Merasa bahwa tentara Amerika itu salah alamat, dia membuka pintu lebar-lebar.
“Selamat siang” sapa Polisi Militer itu dengan sikap tertib.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Hanako.

Sementara itu Kenji juga keluar. Dia juga ikut merasa heran atas kunjungan tentara Amerika itu.
Mereka merasa heran sebab selama ini si Bungsu tak pernah menceritakan peristiwa di penginapan Asakusa itu. Peristiwa itu tetap disembunyikan si Bungsu agar mereka tak ikut panik memikirkannya.
Sikap waspada tentara Amerika itu mengundang perasaan tak sedap pada hati Kenji. Dan ketika dia menoleh ke belakang, dengan terkejut dia mendapati bahwa rumah mereka telah dikepung oleh seregu tentara Amerika bersenjata lengkap.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Kenji.
Sementara itu si Bungsu sudah mengucap salam akhir dari sholatnya di kamar. Telinganya amat tajam menangkap desah sepatu menginjak salju. Dan telinganya juga menangkap percakapan Kenji dan Hannako di luar.
Dia segera tahu, tentara Amerika telah mencium jejaknya. Perlahan dia menyelesaikan membaca doa.
“Apakah disini tinggal seorang Indonesia?” Kapten yang memimpin penangkapan itu bertanya dengan sikap hormat.
Hannako bertukar pandangan dengan Kenji.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Hanako. Dan hal itu sudah cukup bagi Kapten itu untuk mengetahui bahwa mereka memang tak salah alamat.
Dia mengeluarkan sepucuk surat.
“Markas besar memerintahkan kami menangkap orang Indonesia bernama..” dia melihat surat perintah penangkapan itu, “ bernama Bungsu. Dia dituduh telah membunuh dua tentara Amerika di penginapan Asakusa beberapa bulan yang lalu…” Kapten itu berkata dengan sikap hormat sambil memberikan surat itu pada Kenji.
Kenji tak menerimanya. Mereka bertatapan. Tapi saat itulah si Bungsu muncul. Dia merasa kalaupun dia berniat melarikan diri, usahanya itu akan sia-sia. Sebab lebih dari selusin tentara mengepung rumah itu.
“Sayalah yang tuan cari….” Katanya perlahan. Kapten itu memandang keluar.
“Andakah yang bernama Bungsu?”
“Ya, sayalah orangnya…”
“Maafkan kami. Kami diperintahkan untuk menangkap anda dengan tuduhan membunuh dua orang serdadu kami di penginapan Asakusa beberapa bulan yang lalu. Kami harap saudara bisa mengikuti kami…”
Kapten itu memberi hormat sambil memperlihatkan surat perintah penangkapan.
“Ya, saya ikut…”
“Bungsu-san…” Hanako berteriak. Tangisnya segera pecah. Dan dia berlari sambil memeluk si Bungsu. Kenji tertegak diam.
“Tenanglah Hanako-san. Saya harus pergi”
“Tidak…tidak, oh jangan tinggalkan kami Bungsu-san….jangan tinggalkan kami…” tangis gadis itu tak terbendung lagi. Kapten Amerika itu tetap tegak di luar dengan sikap hormat.
Si Bungsu menatap pada Kenji. Air mata Kenji berlinang. Tuduhan membunuh pendudukan adalah tuduhan yang tak ada ampunannya. Bila terbukti, maka satu-satunya hukuman adalah hukuman mati.
“Apakah engkau memang melakukannya Bungsu-san?” Kenji bertanya dengan suara gugup.
Si Bungsu tak segera menjawabnya. Ada beberapa saat dia terdiam. Matanya menatap pada Kenji. Kemudian menatap pada Hanako pada Kenji. Kemudian menatap pada Hanako. Mereka semua pada terdiam. Kemudian terdengar suara si Bungsu perlahan, tapi pasti.
“Benar Kenji-san. Malam itu seorang letnan Amerika memakai kamar saya. Dia membawa seorang gadis Jepang yang tak pernah saya kenal. Saya dengar gadis itu menangis dan menolak untuk dinodai si Letnan
Saya tak bisa melihat orang lain dianiaya. Saya minta letnan itu secara baik-baik untuk membebaskan gadis itu. Tapi dia justru menghantam dan berniat membunuh saya. Maka tak ada jalan lain bagi saya, saya harus membela diri bukan?
Begitu dia terbunuh temannya dari kamar sebelah datang dengan bedil di tangan. Dan saya kembali harus mempertahankan nyawa saya. Keduanya mati karena samurai saya.
Malam itu saya melarikan diri dari penginapan Asakusa. Berlindung dari udara dingin di terowongan bawah tanah di Yotsui. Tak lama setelah saya berbaring, seseorang datang dan tidur pula disisi saya. Dan paginya saya ketahui, teman baru itu adalah Hanako-san”
Hanako merasa dirinya runtuh.
“Kalau tak ada lagi yang akan dibicarakan, kami ingin tuan mengikuti kami…” Kapten dari Polisi Militer tentara Amerika itu bicara dengan tetap dalam nada yang sopan dan sikap hormat.
“Ya, saya sudah siap…nah, Kenji-san saya banyak belajar tentang hidup di Jepang darimu. Terimakasih untuk segalanya, sahabat. Saya takkan melupakanmu. Saya takkan melupakan kalian. Jaga adik-adikmu baik-baik. Barangkali kita takkan bertemu lagi, selamat tinggal…”
Kenji tak dapat menahan airmatanya yang runtuh. Si Bungsu baginya tidak hanya seorang sahabat, tapi juga seorang saudara yang telah melindungi mereka. Dan dia tahu, Hanako adiknya mencintai pemuda itu. Dia suka kalau mereka menikah. Tapi dia tak pernah mau memulai pembicaraan ke arah itu.
Dia tahu, si Bungsu mempunyai tugas yang amat besar datang kemari. Dia tak punya waktu memikirkan jodoh.
Kini ketika anak muda itu pergi, dia merasa suatu kehilangan yang alangkah pedihnya. Si Bungsu menyalaminya. Kemudian memegang bahu Hanako. Gadis itu tak berani menatap mukanya.
“Baik-baik di rumah Hannako-san. Saya akan selalu mengingat budi baikmu….”
Dan dia berbalik. Kapten Polisi Militer itu melekatkan belenggu ke tangannya. Kemudian semua barang-barangnya diambil. Samurai, bungkusan dan pakaiannya dimasukkan ke dalam sebuah kantong sebagai barang bukti.
Hanako terduduk di depan pintu begitu Jeep Polisi Militer meninggalkan jalan Uchibori di depan rumah mereka.
“Kenji-san…dia telah pergi meninggalkan kita…” katanya lirih.
Kenji tiba-tiba teringat pada sesuatu.
“Tenanglah Hanako. Kita akan berusaha membebaskannya. Dia telah menolong kita banyak sekali. Kita harus menolongnya. Tak ada orang lain yang akan menolongnya kalau tidak kita. Dia tak punya siapa-siap di negeri ini….”
“Tapi bagaimana kita akan menolongnya…?”
“Tenanglah Hanako. Kita akan mengusahakannya…” namun bagaimana Hanako akan bisa tenang? Pemuda Indonesia itu telah mencuri separuh hatinya. Kini pemuda itu pergi, dirinya tiba-tiba terasa amat sepi.
***000***
Tokugawa sedang menerima laporan dari berbagai cabang Jakuza. Dia berkantor di Nikko Hotel di jalan Ginza di bilangan pusat kota Tokyo. Dia mencarter lima buah ruangan utama di tingkat paling atas dari hotel tersebut.
Tak seorangpun yang akan menyangka bahwa lantai teratas dari Nikko Hotel itu adalah pusat dari suatu organisasi yang selalu mengacau di kota Tokyo.
Teror terhadap individu atau orang ramai yang dibuat oleh Jakuza, diatur dari hotel ini. Orang takkan pernah menyangka, karena tak ada lift ke tingkat itu.
Ada sebuah lift yang sampai ke tingkat atas. Tapi lift itu tak boleh digunakan oleh umum. Di pintu lift tertulis kalimat : Khusus Untuk Staff
Tak dijelaskan Staff apa yang boleh naik itu. Hanya di pintu lift yang satu itu, selalu ada penjaga dengan pakaian sopan dan sikap ramah menolak dan menyilahkan orang naik ke lift lain yang sama kunonya dengan lift yang satu itu.
Orang-orang di hotel itu tak pernah memperdulikan akan orang yang turun naik ke tingkat atas. Sebab di tingkat lain, ada juga beberapa ruangan yang dipakai untuk kantor.
Di hotel itu ada kantor Perusahaan Honda. Kantor perusahaan pembangunan dan kantor perusahaan penerbangan. Dan tak seorangpun yang pernah menduga bahwa pelayan lift yang sopan dan ramah itu, sewaktu-waktu bisa berobah menjadi pembunuh yang berdarah dingin.
Tak ada yang tahu bahwa pelayan itu sebenarnya seorang ahli karate, judo dan samurai.
Ketika Tokugawa sedang memberi beberapa instruksi seseorang masuk. Membungkuk memberi hormat. Kemudian berbisik dan menyerahkan sesuatu.
Tokugawa menerima pemberian itu. Membuka bungkusnya. Dan segera dia mengenal bahwa yang dikirim padanya itu adalah kain putih bekas pembungkus potongan kelingkingnya dahulu.
“Dimana dia?”
“Di bawah”
“Antarkan dia kemari”
“Hai…”
“Rapat ini saya skor sementara. Saya menerima tamu. Seorang anak lindungan”
Tak lama mereka menanti, Kenji yang membawa bungkusan kain putih berdarah bekas potongan kelingking Tokugawa itu masuk diantarkan penjaga tadi.
Tokugawa bangkit dari duduknya. Demikian pula tiga orang “staf” Jakuza lainnya yang hadir disana.
“Anda pastilah Kenji-san. Kakak Hannako dan sahabat Bungsu-san orang Indonesia itu…” katanya ramah menyambut Kenji.
“Selamat siang tuan Tokugawa….saya…”
“Saya senang dapat membantu anda dan adik-adik anda. Maafkan atas kejadian yang lalu. Kawabata telah mendapat balasan yang setimpal atas dosanya. Bungsu-san benar-benar seorang yang mahir mempergunakan samurai. Nah, apa yang bisa saya bantu…?”
“Saya…saya…”
“Jangan gugup. Mari, silakan duduk. Kita sahabat bukan? Nah, ceritakan apa yang terjadi. Ada yang mengganggu Hannako?”
“Tidak. Terimakasih, Tokugawa telah melindungi kami. Tapi… ini mengenai Bungsu-san…”
“Ya, bagaimana dengan dia?”
Kenji terdiam. Dia tak tahu dari mana harus mulai. Tokugawa memberinya minum sake. Begitu pula teman-temannya yang ada di kantor itu. Mereka minum bersama.
Setelah agak tenang. Kenji bercerita tentang nasib yang menimpa Bungsu-san. Tokugawa terdiam.
“Itulah yang terjadi tuan Tokugawa . saya mohon tuan bisa membantunya keluar dari tahanan. Kalau tidak, hukuman mati menantinya di sana…”
“Maafkan saya Kenji-san. Kalau yang menangkap Bungsu-san adalah Polisi Jepang, maka saya bisa menjamin untuk mengeluarkannya. Tapi yang menahannya adalah tentara Amerika. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan kami….”
Kenji berlutut lantai. Membungkuk memberi hormat.
“Tolonglah dia tuan. Dia membunuh tentara Amerika itu karena ingin menolong seorang gadis Jepang yang tak dia ketahui siapa orangnya. Tentara itu akan menodai gadis itu. Pemilik penginapan Asakusa itu sendiri orang Jepang, tapi dia tak berniat menolong gadis Jepang malang itu. Malah dialah yang memberi tempat untuk menodai gadis itu. Bungsu-san lah justru yang turun tangan menolongnya.
Orang asing yang tak punya kepentingan apa-apa dengan negeri kita, bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk membela seorang gadis yang tak dia kenal. Apakah kita tak patut membantu orang yang begini?”
“Engkau benar Kenji-san. Tapi percayalah, melawan tentara Amerika berarti punahnya organisasi kami. Kami tak bisa berbuat apa-apa…”
Sekali lagi Kenji bersujud dilantai dan memohon:
“Maafkan saya kalau terlalu menyusahkan Tokugawa. Tapi, kami ikhlas Tokugawa mencabut perlindungannya pada kami adik beradik asalkan Tokugawa mau membebaskan Bungsu-san. Tolonglah dia….”
Tokugawa dan ketiga pimpinan Jakuza yang ada disana jadi tertegun mendengar permohonan ini. Tokugawa tak hanya tertegun. Tapi hatinya jadi sangat terharu melihat kesetia-kawanan Kenji adik beradik dengan orang Indoensia ini.
Mereka bersedia tidak dilindungi. Artinya bersedia diganggu dan dianiaya oleh Jakuza atau kelompok lain asal dapat membantu sahabatnya.
Kepala penjahat ini benar-benar diberi pelajaran tentang setia-kawan dan rasa saling menyayang sesama makhluk.
“Bangkitlah anak muda. Rupanya dunia semakin tua. Kesetiaan kalian bersahabat sangat mengharukan hati saya. Pertama saya mendapatkan betapa Bungsu-san, seorang asing mau mengorbankan dirinya bertarung dengan orang-orang Jakuza untuk menyelamatkan kalian. Kini engkau datang, rela untuk tak dilindungi asal sahabatmu itu dibebaskan. Ah, kami selama ini tak pernah berpikir tentang adanya persahabatan yang demikian mulia. Yang tak memandang suku dan bangsa. Yang rela mengorbankan nyawa demi membela sahabat…. Kami selama ini hanya berfikir, bahwa persahabatan hanya diikat atas dasar laba rugi.
Baiklah, saya mendapat suatu pelajaran yang sangat berharga. Pulanglah, sampaikan pada adik-adikmu, bahwa Tokugawa bersumpah akan membebaskan Bungsu-san…”
Kenji bersujud di lantai. Lama sekali. Tubuhnya terguncang menahan tangis.
Domo arigato gozaimasu. Domo arigato…. Terimakasih banyak tuan Tokugawa….terimakasih banyak…” suaranya tersendat dalam sujud itu.
Tokugawa memegang bahunya. Membawanya bangkit.
“Tenanglah, tak ada yang tak bisa kita atur. Kenapa kita harus takut pada Amerika di negeri kita ini? Ini negeri kita bukan? Tenanglah nak…”
Kenji diantar pulang dengan sedan milik Tokugawa. Dia menceritakan janji Tokugawa pada Hannako. Siang itu juga mereka lalu pergi ke candi Gokokuji. Sebuah candi jauh dipinggir kota. Mereka sembahyang bersyukur dan memohonkan keselamatan si Bungsu.
**000**
Tokugawa memang seorang lelaki turunan Samurai yang memegang teguh janjinya. Begitu Kenji meninggalkan kantornya, dia mengangkat telepon di mejanya.
“Coba selidiki sebab musabab seorang lelaki Indonesia bernama Bungsu yang ditangkap Polisi Militer Amerika dua hari yang lalu…”
Dia bicara di telepon itu. Tak diketahui pada siapa dan kemana dia bicara. Tapi Jakuza mempunyai jaringan hampir di seluruh kantor di Tokyo.
Dua hari kemudian, laporan itu masuk. Tokugawa membacanya. Mengerutkan kening. Dari kantornya yang tinggi itu dia menatap keluar melewati jendela kaca. Memandang kesibukan kota yang bergerak di bawah sana.
Lama dia memandang keluar. Nampak bahwa dalam pikirannya bergulat pertarungan yang luar biasa. Meski wajahnya tetap kelihatan tenang, namun matanya tak demikian.
Akhirnya dia berjalan kembali ke meja besarnya di sudut ruangan. Menekan sebuah tombol. Tak selang berapa detik., dinding di sebelah kanannya terbuka. Nampaknya dinding itu semacam pintu rahasia.
Seorang lelaki bertubuh sedang berwajah tampan muncul dan membungkuk memberi hormat.
“Kawasaki…” katanya perlahan.
“Hai….” Jawab lelaki itu.
Tokugawa menarik laci mejanya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil sepanjang dua jengkal berwarna merah.
Menyerahkan pada lelaki tampan itu.
Lelaki itu membungkuk lagi memberi hormat. Kemudian menghilang ke balik dinding rahasia tadi. Dinding itu menutup kembali. Persis seperti tadi. Disana tergantung sebuah lukisan candi besar. Tak ada tanda-tanda bahwa sebenarnya ruang Tokugawa itu dihubungkan oleh pintu rahasia ke empat jurusan.
Kawasaki, pimpinan Jakuza cabang pelabuhan itu tinggal di seberang taman Hamarikyu di tepai sungai Sumida yang besar di pinggir kota Tokyo.
Rumahnya indah dengan pekarangan luas. Dia tinggal dirumah itu bersama isteri mudanya. Seorang gadis Jepang bekas Sri Panggung di Kabukiza Theater.
Gadis itu cantik. Bertubuh padat. Isteri pertamanya sudah terlalu gembrot. Meski belum begitu tua, tapi Kawasaki sudah menceraikannya.
Saat itu dia tengah istirahat di ruangan tengah ketika sebuah kendaraan berhenti jauh di jalan di depan rumahnya.
Dari pintu yang terbuka lebar, dia segera mengenal bahwa mobil yang berhenti itu adalah mobil dari “markas besar” Jakuza.
“Ada pesan penting nampaknya,….” Katanya sambil berdiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: