tikam samurai-bagian-177-178-179


Dan dia ingin melihat kekalahan dan kemenangan itu berlangsung dengan pasti. Akan dia perhatikan setiap gerak

Si Bungsu

Si Bungsu

kedua orang ini dengan cermat.
Dan saat itulah Kawabata melakukan serangan yang amat cepat. Serangannya tertuju pada dua arah dengan dua kali hayunan cepat.
Yang pertama menghantam kaki yang tegak sejajar itu. Ada dua kemungkinan. Kalau anak muda itu cepat, maka dia akan melompat tinggi. Dan saat itulah Kawabata akan menyerang bahagian kepalanya. Yaitu di saat dia melompat tersebut. Ini adalah tipuan yang berbahaya. Dan Kawabata tersohor dengan serangan tipuannya ini diantara para samurai.
Namun anak muda itu tak menggerakkan kakinya sedikitpun untuk melompat. Tahu-tahu samurai Kawabata membentur samurai si Bungsu di bawah. Bunga api memmercik!

Kawabata melanjutkan serangannya yang kedua, membabat kepala. Serangannya bukan main cepat. Namun si Bungsu adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi seorang samurai yang mahir karena nasib.
Begitu tangan Kawabata membabat ke atas, kaki kanannya melangkah ke depan. Tubuhnya merendah dengan cepat dan samurainya memintas di bawah rusuk Kawabata.
Cresss!
Kawabata tersurut. Kejadian itu amat cepat. Tak seorangpun yang melihat bagaimana anak muda itu menyerang. Mereka hanya melihat anak muda itu menjatuhkan dirinya di atas lutut kiri. Hanya itu!
Dan tiba-tiba mereka berseru kaget, karena mereka melihat darah menetes ke lantai dari rusuk kanan Kawabata! Kawabata sendiri bukan main kagetnya. Dia menatap anak muda itu. Dan anak muda itu sudah tegak lagi seperti tadi dan samurainya entah sejak kapan sudah tersarung lagi dalam sarangnya.
Dia tegak dengan tangan kiri memegang samurai dan tangan kanan kosong melompong. Mereka semua seperti berhenti bernafas takkala Kawabata maju lagi.
Darah terus mengalir dari lukanya yang cukup lebar. Tiba-tiba Kawabata memekik dan menyerang bertubi-tubi ke arah anak muda itu.
Anak muda itu tiba-tiba berputar dan ketika berbalik, samurainya bekerja.
Tiga babatan di bahagian atas. Kawabata berusaha menangkis. Tiga babatan di atas, di tengah dan di bawah! Kawabata berusaha menangkis dan mengelak.
Benar-benar luar biasa. Kawabata yang tadi menyerang kini dipaksa untuk bertahan dan bergerak mundur. Sebuah sabetan cepat ke tengah. Kawabata melompat dua tindak ke belakang! Nafasnya terengah!
Dan di ujung sana, si Bungsu tegak seperti posisinya tadi. Persis! Tak berobah sedikitpun. Tegak dengan kaki terpentang, tangan kiri memegang samurai yang tersarung dalam sarungnya, dan tangan kanan kosong serta merta menatap lurus ke depan!
Peluh tidak hanya membasahi punggung Kawabata. Tapi juga membasahi tubuh ke 19 anggota Jakuza yang lain. Mereka belum pernah melihat pertarungan samurai sehebat dan seaneh ini.
Orang asing ini jelas bergerak tanpa mepergunakan kuda-kuda samurai. Tapi gerakannya hanya malaikat saja yang tahu betapa cepatnya.
Dan diantara semua orang itu, hanya ada tiga orang yang tahu dengan persis, bahwa sebenarnya Kawabata sudah sejak tadi harus mati. Tapi dia sengaja dipermainkan.
Ketiga orang yang tahu dengan pasti itu adalah si Bungsu yang sengaja mempermainkan Kawabata. Kemudian Tokugawa dan Kawabata sendiri. Si Bungsu sudah dapat menaksir sampai dimana kecepatan orang ini. Karena itu dia ingin menghajarnya atas perbuatan yang dia lakukan atas diri Hannako.
Sebenarnya dalam gebrakan pertama tadi, dia sudah bisa membunuh Kawabata.
Tiba-tiba Kawabata menggeram dan maju lagi. Dan kali ini, si Bungsu bergerak cepat.
Ketika Kawabata maju, dia bergulungan di lantai. Lompat tupai. Kawabata menghindar kekiri sambil membacok rendah. Namun anak muda itu melenting tegak tiba-tiba. Dan sret!!!
Kimono Kawabata di bahagian punggung belah dua! Punggungnya tersingkap dan belah mengalirkan darah! Terdengar seruan tertahan dari para anggota pimpinan Jakuza itu.
Tokugawa memandang tak berkedip. Bagaimana bisa seorang yang memegang samurai amat panjang bergulingan di lantai, kemudian menyerang? Bergulingan dengan memegang samurai itu saja sudah suatu pekerjaan yang amat berbahaya.
Salah-salah mata samurai itu bisa melukai muka atau perut ketika bergulingan. Gerak atau jurus seperti itu tak pernah dikenal oleh para samurai Jepang bahkan nenek moyang Tokugawa sendiripun!
Kawabata menyerang lagi. Tapi tiga buah sabetan cepat menantinya. Pahanya terbusai. Tangannya yang memegang samurai putus hingga siku. Dan perutnya robek!
Kawabata jatuh berlutut. Si Bungsu tegak didepannya dengan samurai telah masuk ke sarungnya! Suasana benar-benar sepi. Di luar salju turun seperti kapas. Di dalam darah mengalir seperti kran yang terbuka sumbatnya.
Ke 19 anggota Jakuza Tokyo yang ada dalam ruangan itu jadi pucat melihat kejadian tersebut. Andainya Tokugawa tak berjanji untuk melindungi Hannako, maka mereka sendiripun kini takkan mau ambil resiko mengganggu gadis itu.
Dengan anak muda yang kecepatan samurainya seperti iblis ini yang melindungi Hannako, siapa yang bakal berani mengganggu? Bah, lebih baik cari kerjaan lain daripada mendekati orang begini, pikir mereka kecut.
“Bunuhlah saya…” Kawabata berkata perlahan dengan suara yang melemah.
“Saya bukan pembunuh…” si Bungsu menjawab.
“Tetapi…engkau telah membunuh lima orang anak buah saya…” Kawabata menyanggah.
“Kematian terlalu enak buatmu Kawabata….” Si bungsu berkata lagi. Tapi tiba-tiba ucapannya terhenti. Ada angin bersuit ke arahnya.
Anak muda ini seorang yang memiliki indera yang sangat terlatih. Samurainya bekerja lagi dan membabat ke samping.
Mata samurai itu beradu dengan sebuah benda tipis yang melayang amat cepat. Benda itu terpukul dan mental lalu menancap di loteng! Sebilah samurai pendek! Semua orang menoleh pada lelaki yang melemparkan samurai gelap itu.
Dan dia adalah Tokugawa!
Si Bungsu juga menghadap padanya. Tokugawa tersenyum.
“Sempurna! Seorang samurai yang sempurna. Memiliki kecepatan dan ketajaman penglihatan. Memiliki ketajaman firasat. Engkau adalah seorang samurai yang sempurna yang pernah ditemui Tokugawa, anak muda. Kecuali gerak kakimu yang tak bisa kami mengerti, maka engkau memang seorang hebat…” Tokugawa berkata dengan nada jujur.
Dan sementara itu, Kawabata terjatuh di lantai. Dia mengerang. Mengelupur. Orang jadi ngeri melihat lelaki itu mengakhiri nyawanya. Sangat sakit dan menggenaskan.
Tangan Tokugawa bergerak lagi. Kali ini sebilah samurai kecil, tak lebih dari sejengkal, melayang dari tangannya. Tikam Samurai itu menancap persis di jantung Kawabata. Kawabata mati saat itu. Berakhirlah penderitaannya.
Gedung tua itu sepi. Tak ada yang bergerak. Si Bungsu yang tegak dengan kaki terpentang dekat mayat Kawabata juga tegak diam.
Ketika dia merasa sudah cukup, maka dia menarik nafas panjang. Dan bernafas biasa kembali.
“Sudah saatnya saya pergi. Terimakasih saya yang tak tehingga pada Tokugawa….” Berkata begini dia membungkuk memberi hormat pada lelaki tua gagah itu.
Lelaki itu membalas penghomatannya. Kemudian si Bungsu melangkah keluar. Di luar, angin dingin dan salju yang turun seperti kapas, menyambutnya.
Dia melangkah melintasi taman Shinjuku yang seperti lapangan kapas itu. Di rumah besar itu, Tokugawa dan 19 anggota pimpinan Jakuza lainnya menatap kepergiannya dengan diam.
Dia sampai ke depan rumah ketika hari telah sore. Hannako berlari ke depan begitu dia muncul.
“Bungsu-san, kami khawatir engkau tak kembali…”
“Saya sudah kembali bukan? Nah, bagaimana Kenji-san?’
“Dia sudah agak baik. Kini tengah melatih diri. Jakuza suatu saat, cepat atau lambat pasti datang lagi kemari. Dan Kenji-san tak mau engkau sendiri yang menghadapinya…”
Si Bungsu masuk. Dia melihat Kenji tengah melatih tangan kananya yang luka. Kenji terus melakukan gerakkan-gerakan Karate. Begitu dia melihat Bungsu masuk, dia menghentikan latihannya.
“Kami khawatir engkau pergi terlalu lama Bungsu-san. Negeri ini sangat buas terhadap orang-orang asing” Bungsu tersenyum. Dia mengeluarkan bungkusan kain putih itu.
Memberikannya pada Kenji yang menatapnya dengan heran.
“Apa ini Bungsu-san…?
“Bukalah. Hadiah untuk engkau dan Hannako..”
Kenji membuka kain itu. Dan tiba-tiba matanya terbelalak melihat kelingking yang putus itu. Hannako menjerit kecil.
“Sumpah samurai…” Kenji yang mengetahui sumpah pemotongan kelingking itu bicara perlahan.
“Ya. Sumpah seorang samurai…”
“Kelingking siapa ini…?” tanya Kenji.
“Kelingking Tokugawa..”
“Tokugawa?”
“Ya. Tokugawa keturunan pahlawan samurai itu. Dia salah seorang diantara mereka menjadi pimpinan Jakuza wilayah Tokyo. Kelingkingnya lah itu…”
Kenji dan Hannako tak mengerti. Lalu si Bungsu menceritakan tentang perjanjian itu. Menceritakan sedikit tentang perkelahiannya dengan Kawabata. Menceritakan bahwa Kawabata telah mati. Dan menceritakan tentang janji Tokugawa.
Hannako tak dapat menahan rasa harunya. Dia memeluk dan mencium si Bungsu. Akan halnya Kenji beberapa kali berlutut memberi hormat dan mengucapkan terimakasih pada si Bungsu.
—000—
Namun persoalan tidak selesai sampai disitu. Diantara anak buah Tokugawa, yaitu salah seorang pimpinan cabangnya, ternyata mata-mata tentara pendudukan Amerika.
Dia hadir ketika pertarungan antara Kawabata dengan si Bungsu.
Ketika mendengar pengakuan anak muda itu, bahwa dialah yang membunuh kelima anggota Jakuza itu, dan melihat bagaimana mahirnya dia mempergunakan samurai, maka dia teringat pada pembunuhan dua orang tentara Amerika di penginapan Asakusa.
Dia tahu sampai saat ini pembunuhan kedua tentara Amerika itu belum terungkap. Tentara Amerika berkeyakinan bahwa yang membunuh anggota mereka itu adalah orang Jepang.
Tapi penyelidikan menemui jalan buntu. Dan pimpinan cabang Jakuza itu kini melihat suatu kemungkinan. Apakah tak mungkin bahwa yang membunuh tentara Amerika itu adalah orang asing ini?
Dia tahu, Tokugawa sudah menjamin dengan sumpah seorang samurai bahwa Jakuza takkan mengganggu Hannako dan saudara-saudaranya.
Tapi kalau yang diganggu itu adalah orang asing ini, bukankah tak ada soal? Yang dijamin dibawah perlindungan Tokugawa adalah Hannako dan saudaranya. Tidak si Bungsu anak Indonesia itu!
Pimpinan cabang wilayah pelabuhan Tokyo itu tersenyum. Betapapun juga dia merasa benci pada anak Indonesia itu. Bukankah Indonesia adalah negeri di lautan Hindia yang direbut Jepang dari Belanda kemudian menyatakan diri merdeka setelah Bom Atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki?
Anaknya seorang tentara Jepang, mati di Indonesia. Karenanya dia merasa benci pada orang Indonesia itu. Untuk menghadapi sendiri atau menyuruh anak buahnya anggota Jakuza menyikat anak muda itu, terang dia tak berani. Usahkan anak buahnya, sedang Kawabata saja, seorang jagoan samurai diantara mereka, dibuat tak berkutik sedikitpun.
Lagipula, bukankah Tokugawa sendiri telah memuji anak muda itu sesaat setelah selesai pertarungan dengan ucapan : Samurai yang sempurna!
Kalau Tokugawa saja, tokoh samurai diantara mereka sampai memuji demikian, bukankah itu sudah merupakan suatu bahaya yang luar biasa kalau dihadapi sendiri?
Pimpinan cabang pelabuhan Tokyo itu, seorang Jepang dari keluarga Kawasaki. Dia mempergunakan otaknya yang licik. Untuk menghadapi orang Indonesia itu, dia mempergunakan tangan Polisi Militer Amerika.
Seminggu setelah peristiwa perkelahian Kawabata dengan si Bungsu, dihadapan rumah Kenji di jalan Uchibori berhenti sebuah Jeep putih Polisi Militer. Dibelakangnya berhenti sebuah truk penuh tentara.
Mereka berlompatan dan segera mengepung rumah itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: