tikam samurai-bagian-165-166-167


“Dia disana?”tendangan Mae Geri
“Ya, begitu katanya tadi”
Si Bungsu jadi tertarik. Dia sudah melihat betapa para serdadu Jepang di Minangkabau dahulu berkelahi dengan tangguh dengan mengandalkan Karate atau Judo. Dia sangat mengaguminya. Karenanya dia ingin melihat tempat latihan itu.
Dia pernah dengar nama Budokan. Yaitu pusat latihan Judo dan Karate di Tokyo. Kiranya inilah gedungnya.
“Akan ke sana?” Hanako bertanya.
Si Bungsu mengangguk.
“Akan saya suruh Naruito mengantarkan. Oto-san antarkan Bungsu-san ke Budokan…”
Naruito muncul. Tersenyum pada si Bungsu. Si Bungsu membalas senyum adik Kenji yang paling kecil ini.
Kemudian mereka berangkat. Melangkah dihalaman rumah mereka yang terbuat dari batu bulat-bulat tipis.
Kemudian menusuri jalan Uchibori. Lalu berbelok ke kanan. Melalui jalan selebar dua meter menuju ke gedung Budokan itu. Jalan yang terbuat dari semen.
“Budokan ini semacam gedung serba guna….” Naruito bercerita, ”disini sering diadakan pertandingan Judo, Karate atau pementasan besar lainnya. Ruang latihan Karate ada disamping kanan. Ruang latihan Judo disudut kiri. Nah, kita akan ke ruang utama…”

“Kenapa harus ke sana. Bukankah kita melihat Kenji?’
“Ya, Kenji-san pasti ada di ruang utama. Kini ada ujian kenaikan tingkat bagi pemegang Sabuk Hitam…”
Si Bungsu jadi sangat tertarik. Mereka memasuki gedung itu dari arah Selatan. Yaitu dari pintu utamanya.
Dan disaat mereka masuk, disaat itu pula nama Kenji dipanggil. Di ruang tengah kelihatan ada sekitar enam puluh Karateka pemegang Sabuk Hitam. Duduk berjejer dengan diam.
Di seberang mereka kelihatan benda-benda tersusun.
“Abang akan ujian memecah benda-benda keras…” Naruito bicara perlahan. Kenji nampak tegak di tengah. Membungkuk ke arah Utara, dimana disana ada seorang lelaki gemuk duduk di lantai Tatami dengan bendera Jepang besar dilatar belakangnya.
Terdengar aba-aba. Dan Kenji menuju ke susunan batu genteng setinggi pinggang.
Bungsu menatap dengan tegang. Kenji melakukan konsentrasi. Dan memukul genteng itu perlahan sekali. Lalu mengangkat tangannya. Ada tiga kali hal itu dia lakukan, seperti memukul tapi hanya meletakkan tangannya saja.
Kemudian dia mengangkat tangannya kembali kesisi pinggang. Dan seiring dengan teriakan yang mengguntur pukulannya meluncur keras ke bawah. Terdengar suara berderam. Dan genteng setinggi pinggang itu ambruk semua!
Si Bungsu kaget melihat kekuatan ini. Lalu disusul dengan ujian pemecahan benda keras lainnya.
Empat orang Karateka Sabuk Coklat maju. Di tangan mereka terpegang papan setebal dua jari dengan ukuran empat segi.
Mereka membuat lingkaran disekitar Kenji.
Kenji tegak ditengah dan kembali memusatkan konsentrasi. Ketika aba-aba “Hajime” (mulai) terdengar, dengan cepat sekali tangan dan kakinya bekerja menghantam keempat papan yang diatur dan dipegang oleh keempat karateka itu.
Yang pertama adalah pukulan tangan kanan lurus ke papan yang seukuran dada. Papan tebal itu pecah dua. Gerakan berikutnya adalah menendang melingkar ke papan yang ada di sebelah kiri yang ditaruh setinggi kepala.
Papan itu kena tendang dengan bantalan dipangkal jari kaki persis ditengah. Dan patah dua! Masih dalam gerakan yang sama, Kenji berputar menghantam papan ditangan Karateka yang ketiga. Papan itu dia hantam dengan ujung-ujung keempat jari kanannya. Persis seperti orang menikam sesuatu.
Papan yang ditaruh setinggi dada itu anjlok! Pecah dua. Dan dengan pekikan kuat, tubuhnya melambung dan tendangan sambil melompat yang dia lakukan menghantam papan ke empat.
Papan keempat ini dipegang dengan kuat dan ditaruh jauh di atas kepala karateka yang keempat. Untuk mencapainya dengan tendangan, Kenji harus melompat terlebih dahulu.
Tapi papan itu kembali hancur dimakan kakinya.
Tak ada tepuk tangan. Ujian ini dianggap hal yang lumrah saja. Para Karateka yang puluhan jumlahnya itu yang kesemuanya bersabuk hitam, pada memandang dengan wajah tenang.
Kenji menarik nafas dan menghapus peluh.
Kini tiba gilirannya ujian Kumite bebas. Yaitu ujian perkelahian.
Karateka yang telah menempuh ujian terdahulu maju ke depan. Mereka saling berhadapan. Seorang Karateka lain maju ke tengah. Nampaknya dia adalah salah seorang sensei (pelatih)nya.
Dia memerintahkan memberi hormat.
Kemudian memberi aba-aba untuk mulai. Mereka mencari posisi.
Saling mengintai. Tiba-tiba lawan Kenji membuka serangan dengan mengirimkan sebuah tendangan kilat ke lambung Kenji. Kenji menyilangkan tangannya ke bawah. Sebuah tendangan Mae Geri ditangkis dengan tangkisan Gedan Juji Uke yang menyilang.
Namun disaat itu pula pukulan tangan kanan lawan Keji meluncur dengan cepat sekali.
Waza ari Oui-tsuki!” instruktur itu memberi isyarat kemenangan ke arah lawan Kenji. Naruito adik Kenji menahan nafas.
Kedua orang itu saling intai lagi.
Saling maju, saling mundur, saling gertak. Suatu saat kaki kanan Kenji menyapu kaki kiri lawannya yang ada di depan. Teknik sapuan Ashi Barai yang sempurna.
Keseimbangan lawannya lenyap, tubuh lawannya miring ke kiri. Dan saat itulah pukulan kanan Kenji meluncur dengan cepat ke arah pelipis kiri lawannya.
Terdengar suara pukulan mendarat. Lawan Kenji terpekik dan tubuhnya terbanting ke lantai. Si Bungsu menarik nafas lega. Hampir saja dia bertepuk tangan. Namun di bawah sana terdengar bentakan guru besar yang duduk di depan bendera Jepang itu.
“Hansoku mate!” katanya sambil menunjuk pada Kenji. Kenji berlutut dan memberi hormat dalam-dalam. Lawannya yang tergolek dengan mulut berdarah itu digotong oleh karateka-karateka yang lain.
“Abang dihukum…” Naruito berkata perlahan.
“Dihukum..?” tanya si Bungsu kaget.
“Ya, dia melakukan kesalahan yang berat. Mencederai lawannya”
“Mencederai? Bukankah pukulannya masuk dengan telak?”
“Ya. Telak dan tak terkontrol. Itu terlarang dalam karate. Setiap karateka harus mampu mengontrol pukulannya. Kontrol pukulan sebagai simbol dari kontrol diri. Orang yang tak bisa mengontrol pukulan, tandanya tak mampu pula mengontrol diri di luaran. Orang yang begini berbahaya bila tak diawasi. Sebab di negeri ini ada peraturan, setiap pemegang sabuk hitam Karateka disamakan dengan seseorang yang memakai senjata tajam…”
Si Bungsu tak dapat mengerti keseluruhan ucapan Naruito. Dan ketika di pintu keluar dia bertemu dengan Kenji, dia lihat temannya itu tersenyum kecut.
“Saya kurang latihan….” Kenji berkata sambil menghapus peluh diwajahnya.
“Tapi engkau sanggup memecah genteng, memecah empat papan penguji, dan memukul roboh lawanmu Kenji-san” si Bungsu berkata tak mengerti.
“Ya, saya lulus dalam ujian memecah benda-benda keras. Tapi tak lulus dalam ujian Kumite. Kau ingat peristiwa saya dipukul penumpang di bawah kerek di kapal dulu Bungsu-san?”
Si Bungsu tentu segera saja ingat peristiwa itu.
“Ya, saya ingat, kenapa?”
“Kau tahu Bungsu-san, kalau saya mau, waktu itu saya bisa menghancurkan kepalanya. Dengan sekali genjot tidak hanya giginya yang rontok, tapi nyawanya juga bisa rontok. Namun saya telah diajar di perguruan untuk tidak melakukan kekerasan begitu Bungsu-san. Percuma saya belajar dan membaca sumpah perguruan selama bertahun-tahun kalau saya tak bisa menguasai diri saya…”
“Tapi orang itu terlalu kurang ajar…”
“Ya. Dan apakah kekurang ajarannya itu harus saya pergunakan untuk menghancurkan dirinya? Orang memang menghendaki saya melakukan kekerasan. Tapi perguruan tak menghendaki demikian Bungsu-san…”
“Saya tak mengerti apa tujuan perguruanmu Kenji-san. Kalau untuk membela diri saja kepandaian yang kita miliki tak bisa digunakan saya rasa percuma saja belajar payah-payah..”
“Ya pendapatmu tak salah Bungsu-san. Bahkan diantara murid-murid Karate dan Judo sendiripun pendapat begitu cukup banyak terdapat. Tapi, percayalah ada hal-hal yang tak dapat saya tuturkan dengan kalimat. Betapa sumpah perguruan itu mengikat kami para senior. Ada hal-hal yang mendasar dan sangat hakiki, yang saya tak bisa mengutarakannya. Terkadang hal itu juga menyiksa saya. Saya toh manusia biasa juga bukan?
Sekali saat saya juga ingin menghantam lawan saya. Dan kalu itu sampai terjadi, lawan seperti yang di kapal itu, mungkin sekedar enam atau tujuh orang bisa saya libas semua. Namun hidup ini rupanya tidak hanya sekedar untuk memuaskan hati saja…ah, sudahlah Bungsu-san…”
Dan si Bungsu memang jengkel untuk memikirkannya. Kenji ternyata memiliki kepandaian yang tak tanggung-tanggung. Tapi kenapa dia tak mau membalas kekasaran yang ditujukan padanya?
Dan tadi dalam ujian kenaikan tingkat, jelas pukulannya bisa merobohkan lawannya, lalu kenapa dia tak dinyatakan lulus. Malah dinyatakan dihukum? Bah, dia jadi malas memikirkannya.
+++00+++
Bandit-bandit Jakuza bawahan Kawabata akhirnya mendapat kesempatan yang elok untuk membawa Hannako kembali ke rumah Kawabata.
Kesempatan itu datang ketika di rumahnya tinggal Hannako sendiri. Hannako memang dilarang Kenji untuk sering keluar. Dia tahu bahwa Jakuza adalah bandit-bandit yang tak kenal kasihan.
Hari itu kedua adiknya yang lelaki sedang pergi sekolah. Kenji pergi latihan ke Budokan. Sementara si Bungsu telah lebih dahulu pergi ketempat yang tak dia sebutkan. Hannako tengah menyediakan makan tengah hari ketika pintu depan diketuk orang.
Gomenkudasai…”(Assalamualaikum)
Hannako meletakkan piring, kemudian bergegas ke depan.
Haai, Donata desu ka…”(ya, siapa?) katanya sambil membuka pintu.
Dan pintu itu didorong dengan kasar. Tiba-tiba saja tiga lelaki telah ada dalam rumah.
“Hmmm, Hanako. Kawabata mencarimu. Dia rindu sekali” salah seorang yang bertubuh gemuk bicara. Sementara matanya seperti akan menerkam tubuh Hannako. Hannako benar-benar kecut. Dia kenal tampang para lelaki ini.
“Jangan ganggu saya…” katanya sambil berusaha lari ke belakang.
Tapi seorang anggota Jakuza yang lain menghadangnya. Hannako sampai menubruk tubuh orang itu karena gugupnya. Dan orang itu memeluknya sambil tertawa menyeringai. Temannya yang dua lagi ikut tertawa.
Hannako meronta dan berhasil melepaskan diri.
“Ayo ikut kami baik-baik. Kawabata ingin bicara denganmu….”
“Jangan ganggu saya….” Hannako mulai menangis. Ketika anggota Jakuza itu saling pandang. Mata mereka seperti akan menjilati tubuh Hannako yang padat berisi. Kemudian mata mereka juga meneliti rumah itu.
“Hmmm, kalau kau tak mau pergi segera, kita boleh main-main dulu disini…”
Hannako kembali bermohon agar ketiga lelaki itu pergi. Dia khawatir kalau-kalau abangnya atau si Bungsu kembali. Dia tahu lelaki-lelaki ini adalah orang yang tak kenal belas kasihan.
Namun dia salah duga kalau menyangka ketiga lelaki itu akan pergi begitu saja.
Yang seorang lalu menangkap tangan Hannako. Kemudian menyeretnya ke kamar Kenji. Hannako berteriak-teriak.
Musim salju di Tokyo adalah musim yang sepi. Namun demikian, daerah Uchibori Dori dimana rumah mereka berada tetap saja daerah yang cukup ramai.
Ada orang-orang yang lalu lalang di jalan. Dan mereka mendengar teriakan Hannako. Tapi Tokyo saat itu adalah Tokyo yang depresi. Tokyo yang kalut setelah kalah perang.
Orang lebih suka mengurus diri sendiri daripada mengurus urusan orang lain. Itulah sebabnya kenapa tak seorangpun yang datang melihat apa yang terjadi dirumah itu.
Beberapa orang menolehkan kepala. Tapi cepat-cepat melanjutkan perjalanan mereka. Mereka tak mau berurusan dengan Jakuza atau tentara Amerika. Bagi mereka, kedua badan itu sama saja menakutkannya.
Hannako memang bernasib malang. Lelaki yang menyeretnya ke kamar itu telah merobek pakaiannya. Dan menampar Hannako berkali-kali hingga gadis itu terkulai lemah.
Dan dalam keadaan begitulah dia memuaskan nafsu jahanamnya! Cukup lama dia berbuat demikian. Kemudian keluar kamar sambil menghapus peluh.
“Giliranku….” Kata yang bertubuh pendek sambil berjalan ke kamar. Dan saat itu di luar terdengar orang bernyanyi menuju ke rumah.
Suaranya terdengar berat dengan nada barito.
Watashi o wasurenaide kudasai
Nakanaide kuda-sai
Ame ga futtemo ikimasu”
(Jangan lupakan saya
Jangan menangis
Meskipun hujan turun, saya akan pergi)
Nyanyian itu adalah nyanyian pelaut-pelaut yang berangkat meninggalkan pelabuhan. Yang menyanyi adalah Kenji abang Hannako.
Dia tiba di pintu depan yang tertutup.
Berhenti sejenak di bawah teras depan. Membuka mantel tebalnya yang dipenuhi salju. Mengipaskannya.
Hanako-saaan……” panggilnya sambil menyangkutkan mantelnya di paku di tiang depan. Kemudian dengan menjinjing Judoki (pakaian Judo) nya dia membuka pintu. Dia membuka pintu sambil hidungnya mencium bau harum masakan Hannako yang terletak di meja.
Siulnya berhenti. Dua lelaki berpotongan kasar yang tak dia kenal kelihatan duduk di meja dan di kursi. Duduk dengan sikap yang benar-benar kurang ajar.
Kedua orang itu memandang padanya dengan sikap cengar cengir dan anggap enteng.
Kenji masih akan bersikap sopan bertanya siapa mereka, tapi pertanyaan itu dia lulur cepat takkala dari pintu yang terbuka dia lihat Hannako terlentang tanpa pakaian. Dan disampingnya berdiri seorang lelaki yang tengah menanggalkan celana.
“Hanako………!” serunya sambil menghambur. Namun secepat itu pula kedua lelaki itu memegangnya. Dia meronta.
“Diamlah anak baik. Adikmu tak apa-apa. Dia justru tengah merasakan nikmatnya hidup….”
Kenji menggertakkan gigi. Dan tiba-tiba dengan sebuah bentakan nyaring, orang yang memegang tangan kanannya dia renggutkan. Dan dengan sebuah bantingan yang telak orang itu terhempas ke lantai.
Tak hanya berhenti disitu, tangan kanannya bergerak cepat pula. Dan yang tegak di kirinya kena bogem mentah yang tak tanggung-tanggung. Sebuah pukulan karate bernama Cudan tsuki menghajar gigi lelaki itu hingga rontok enam buah! Lelaki itu terlolong.
Lelaki yang dikamar mengurungkan niatnya. Menghambur ke luar kamar dan di tangannya memegang samurai pendek.
“Hai! Berani kau melawan Jakuza…” katanya sambil mengayunkan samurai pendek itu. Namun Kenji yang telah kalap melihat adiknya diperkosa menghantam tangan lelaki itu dengan sebuah tendangan Mae Geri yang telak.
Tangan orang itu berderak. Sikunya kena tendangan Kenji. Samurainya terlempar ke atas dan menancap di loteng. Dan serangan berikutnya merupakan sebuah tendangan Kikomi. Tendangan menyamping yang menghajar dada lelaki itu.
Dia tersurut dengan mata mendelik. Jantungnya pecah kena tendang. Dan maut merenggutnya segera!
Namun saat itu pula sebuah tikaman samurai dari lelaki yang tadi dia banting tak bisa dihindarkan. Lelaki itu, setelah merasakan sakit yang amat sangat, merangkak bangkit dan menghunus samurainya.
Dan ketika Kenji memusatkan amarah dan konsentrasinya pada lelaki yang keluar dari kamar adiknya itu saat itu pula tikaman tiba.
Rusuknya terasa pedih begitu samurai merobek kimono dan pakaian dalamnya. Darah menyembur. Tikaman samurai itu cukup dalam dan memanjang.
Dia berbalik, dan samurai itu kembali menghajar perutnya. Dia terpekik. Perutnya robek dan darah menyembur lagi. Dia jatuh terduduk. Dan saat itu pintu terbuka.
Di pintu tegak si Bungsu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: