tikam samurai-bagian-150-151-152


Tangan anak muda itu menggelepar dan buih air menggelembung ke atas! Gelembung air merah! Merah darah!

si bungsu

si bungsu

Tangan si Bungsu sekali lagi kelihatan menggelepar. Harimau itu meraung panjang.
Mengejutkan dan membuat isi rimba didarat kampung Buluh Cina itu berteperasan lari. Menyurukkan diri ketempat yang paling jauh. Raungan raja hutan itu benar-benar dahsyat. Bilal sendiri seperti dicopoti tulang belulangnya.
Ya Allah, Bungsu….” ucapan perlahan terdengar keluar dari bibirnya yang pucat. Demikian hebatnya terjangan harimau itu tadi. Sehingga mementalkan tubuh si Bungsu dan dirinya ke bancah ini. Lontaran yang jauhnya enam depa dari tempat si Bungsu duduk bersila memejamkan mata tadi!
Semua lelaki dari kampung kecil itu tegak dengan wajah pucat dan mulut ternganga. Harimau besar itu menoleh keliling. Dan tiba-tiba tubuhnya miring. Dan rubuh ke dalam air bancah yang telah menjadi merah disekitarnya!
Tangan si Bungsu yang dirinya berada dalam air di bawah perut harimau itu sekali lagi seperti akan memegang sesuatu di udara. Meregang-regang. Kemudian tenggelam ke dalam air. Terlihat gelembung-gelembung air. Dan tiba-tiba kepalanya muncul! Dia menarik nafas terbatuk-batuk.

Bungsuuu!!” Bilal berteriak dan memburu, si Bungsu terbatuk-batuk lagi. Kemudian memuntahkan air bancah yang terminum olehnya. Dia dibantu tegak oleh Bilal. Sementara lelaki-lelaki yang lain masih tertegak diam. Takjub dan terpana. Untuk menegakkan si Bungsu, Bilal terpaksa mendorong harimau itu ke pinggir.
Harimau itu ternyata mati! Samurai si Bungsu menancap persis dijantungnya! Tembus hingga ke punggung. Dan tiba-tiba belantara itu seperti akan robek oleh pekik dan sorak gembira lelaki-lelaki dari Buluh Cina tersebut.
Mereka melupakan celananya yang basah karena kencing. Bahkan dua orang diantaranya melupakan kentut dan berak yang memenuhi celana mereka takkala harimau itu meraung dengan menghimpit tubuh si Bungsu!
Mereka berlarian mengelilingi anak muda itu.
Si Bungsu membuka bajunya yang basah. Dan tiba-tiba semua lelaki dari Buluh Cina itu tertegun. Mereka menatap punggung, dada dan perut si Bungsu.
Tubuh anak muda itu seperti habis sembuh dari suatu penjagalan. Bekas luka lebih dari selusin simpang siur pada tubuhnya itu. Mereka saling pandang sesamanya. Kemudian menatap pada si Bungsu. Dan si Bungsu segera mengetahui bahwa parut bekas luka yang malang melintang di tubuhnya menarik perhatian lelaki-lelaki itu. Dia memeras bajunya yang basah kuat-kuat untuk mengeringkan air bancah tadi.
“Kita kuburkan Belanda-Belanda ini? Katanya sambil menoleh pada Bilal. Bilal yang tegak didekatnya tersenyum dan mengangguk.
Mereka lalu kembali mengangkati mayat-mayat Belanda yang tadi berjatuhan di dalam bancah. Kemudian kembali naik ke daratan menerobos hutan diseberang bancah itu. Menggali lobang besar di tanah. Kemudian memasukkan keenam mayat Belanda itu sekaligus ke satu lobang. Lalu menimbunnya.
“Nah, kini kita kembali ke kampung. Kita bawa bangkai harimau ini. Saya rasa ini adalah harimau yang menangkapi kambing kita. Dan mungkin juga yang menangkap dan memakan Tuar, Karim dan Bodu dahulu….” Bilal berkata.
Dan para lelaki itu lalu mengikat kaki-kaki harimau tersebut. Dan sebuah kayu besar betis ditebang. Lalu dimasukkan diantara keempat kaki raja hutan itu. Dan dengan kayu itu, bangkai harimau besar tersebut dipikul oleh enam orang lelaki menuju ke kampung.
Di kampung mereka berpapasan dengan penduduk yang tadi disuruh Bilal menguburkan jenazah orang-orang yang meninggal dalam pertempuran di Pasar Jumat itu.
Dan penduduk segera saja jadi gempar takkala melihat mereka membawa bangkai raja hutan itu.
Raja hutan itu segera diletakkan di pekarangan mesjid di tengah kampung.
Berita bahwa ada harimau mati dan bangkainya dihalaman mesjid, segera saja menjalar ke seluruh rumah penduduk. Penduduk yang tadinya setelah penguburan pada naik ke rumah masing-masing, takut keluar disebabkan peristiwa dengan tentara Belanda itu, kini segera berdatangan.
Dalam waktu tak sampai lima belas menit, semua penduduk kampung yang sekitar seribu orang itu telah berkumpul dihalaman mesjid. Mereka ternganga melihat bangkai harimau yang hampir sebesar kerbau itu.
Kemudian lelaki-lelaki yang tadi pergi bersama si Bungsu dan Bilal, menyaksikan perkelahian itu pada bercerita pada orang di sebelahnya. Mereka menceritakan jalan perkelahian yang belum pernah terjadi itu.
Dan bahkan ada yang menyatakan bahwa merekalah yang pertama melihat harimau itu.
“Saya lihat kepalanya diantara semak” kata lelaki yang ketika perkelahian itu terjadi, terpancar kencingnya dalam celananya.
Empat lima orang penduduk merapatkan tegaknya.
“Lalu bagaimana? Waang lari?”
“Jangan menghina ya! Buruk-buruk begini saya pesilat. Begitu kepalanya saya lihat, saya berkata: Maaf Inyiak, kami akan liwat” Lelaki itu berhenti dan menatap pada penduduk yang mendengakan ceritanya. Penduduk itu pada ternganga. Sementara Bilal dan si Bungsu dan beberapa pemuka kampung lainnya kelihatan bicara serius di teras mesjid.
“Kemudian “ lelaki itu menyambung lagi
”Saya lihat harimau itu ragu. Saya menyuruh teman-teman semuanya berhenti. Saya letakkan mayat Belanda ditanah. Saya maju dua langkah…” lelaki itu membuat gerakan seperti meletakkan sesuatu di tanah, kemudian maju dua langkah. Penduduk mengikuti dengan tak berkedip.
“Kemudian saya baca ayat Kursi. Dan saya berkata: menghindarlah Inyiak, cucumu akan lewat..”
“Waang maju mendekati harimau ini Pudin?” seorang lelaki tua yang tahu benar Pudin ini penakut bertanya memutuskan cerita lelaki itu. Lelaki itu mendelik, membusungkan dada.
“Ya. Tentu saja saya mendekati dan minta lewat. Bukankah begitu tata tertib dalam rimba? Saya tahu bagaimana caranya bersikap dalam rimba…”
“Lalu apa kata harimau itu?”
“Katanya, eh, mana pula dia bisa berkata. Tapi dia mendengus. Saya membuka langkah empat. Kalau dia menyerang saya sudah siap. Eh tahu-tahu harimau itu menyerang si Bungsu. Mungkin dia melihat tak ada “pintu” masuk dari pertahanan yang saya buat seperti ini…” dia menirukan langkah empat yang pernah dia pelajari sambil lalu dahulu.
Tiba-tiba dia terhenti. Karena ketika dia menoleh ternyata tak seorang pun diantara penduduk yang tegak mengelilinginya. Semua penduduk kini telah berkumpul dikeliling Bilal di depan teras mesjid. Pudin si pembual itu tak jadi ber-akting. Dia juga membuat langkah empat menuju kerumunan orang ramai itu.
Di teras mesjid Bilal angkat bicara.
Saudara-saudara, pertama kami minta maaf atas jatuhnya korban kanak-kanak, perempuan dan beberapa orang penduduk kampung kita ini dalam perkelahian dengan Belanda tadi. Ada sembilan orang yang meninggal, suatu jumlah yang banyak.
Tapi itulah resiko perjuangan. Kami berterimakasih atas kerelaan saudara-saudara terhadap korban yang jatuh itu.
Semoga Tuhan memberikan iman yang teguh bagi keluarga yang kematian familinya hari ini.
Belanda barangkali akan mencari teman-teman mereka tadi kemari. Mungkin akan ada lagi korban yang jatuh. Meskipun kedatangannya kemari sangat tipis, mengingat jaraknya kampung ini yang terpencil dan jauh dari Pekanbaru, namun tak ada salahnya kita waspada.
Kita akan menempatkan setiap hari dua orang pengintai. Yang satu dibahagian hulu sana. Yaitu untuk menjaga kalau-kalau Belanda datang lewat sungai dari Teratak Buluh seperti pagi tadi.
Yang seorang lagi akan menjaga di kampung Kutik. Yaitu untuk mengawasi kalau-kalau patroli Belanda datang lewat darat. Hanya dua jalur itu yang akan ditempuh Belanda untuk datang ke Kampung ini.
Penjagaan akan bergilir tiap hari. Kalu kelihatan mereka datang, yang bertugas harus memukul tontong sebagai isyarat, penduduk harus segera meninggalkan kampung. Ada kesempatan satu jam untuk menyelamatkan diri. Bersembunyilah ke hutan. Jangan takut dengan harimau. Sebab mereka juga akan lari begitu melihat kita datang ramai-ramai.
Bersembunyilah yang jauh, agar tak tertangkap. Tentang keselamatan kampung ini, rumah dan harta benda, jangan khawatir. Kami para anggota fisabilillah akan menjaganya. Kalau Belanda masuk kemari, mereka akan kami sambut dengan peperangan.
Kaum lelaki akan membantu kami. Untuk sampai ke kampung ini mereka harus naik sampan atau motor boat. Kami akan berusaha menenggelamkan mereka sebelum turun dari sampannya.
Untuk mengatur penyergapan itu nanti semua lelaki yang mau menyumbangkan bhaktinya untuk kampung ini, silakan masuk mesjid. Yang bersedia silahkan menunjuk”
Bilal tak usah menanti terlalu lama. Sebab begitu dia selesai ngomong, semua lelaki pada mengacungkan tangannya ke atas.
Si Bungsu melihat betapa tidak hanya pemuda-pemuda yang mengacungkan tangannya ke atas. Tetapi juga kanak-kanak dan lelaki-lelaki tua. Bahkan ada enam orang perempuan!
“Maaf kami bukan menolak yang tua-tua dan kanak-kanak. Tidak pula menganggap enteng akan kemampuan perempuan, tapi buat sementara kita belum lagi akan berperang”
Bilal berkata atas berusaha ikut berpartisipasinya yang tua, kanak-kanak dan kaum perempuan. Dia mencari cara yang baik untuk menolak mereka.
“Pada akhirnya bila pertempuran terjadi, tidak hanya kami, melainkan seluruh kita, seluruh yang bernafas akan mempertahankan negeri ini dengan darah dan nyawa.
Tapi itu belum sekarang. Sekarang hanya dibutuhkan beberapa belas orang lelaki yang dewasa saja. Kaum perempuan kami harapkan bersama anak-anak dan adik-adiknya di persembunyian.
Bapak yang tua-tua kami harapkan tak tersinggung. Berikanlah kesempatan pada kami yang muda-muda untuk melindungi bapak”
Cara Bilal ini amat kena. Tak seorangpun yang membantah. Bilal segera saja menghimbau pada lelaki dewasa yang jumlahnya sekitar seratus orang. Memberi beberapa petunjuk. Kemudian dia sadar, bahwa ada sesuatu yang terlupa. Untuk itu dia lalu bicara lagi pada penduduk yang kini perhatiannya beralih pada bangkai harimau itu.
“Oh ya, Kami baru saja kembali dari rimba sana. Dan kami dicegat harimau besar ini. Kami telah menyaksikan suatu perkelahian yang dahsyat antara harimau itu dengan saudara Bungsu”
Bilal tahu menceritakan secara lengkap bagaimana perkelahian terjadi. Semua penduduk pada mendecah-decah. Kemudian beberapa orang lelaki pada mengguliti harimau tersebut. Perutnya dengan hati-hati dibelah dengan pisau tajam.
Pekerjaan itu memakan waktu cukup lama. Hari telah senja. Mereka berhenti untuk sembahyang magrib. Selesai sembahyang mereka melanjutkan pekerjaannya. Beberapa lelaki telah berangkat ke pos pengintaian seperti yang dikatakan si Bilal. Tapi dalam mesjid itu seperti pasar malam. Mereka datang ke sana dengan memakai suluh.
Dua buah lampu petromaks milik mesjid dibawa keluar. Cahayanya menerangi halaman mesjid tersebut.
Tiba-tiba terdengar seruan. Orang berbondong-bondong mendekati harimau tengah dibelah itu.
Para perempuan berteriak kaget. Demikian pula lelaki. Dari dalam perut harimau itu, mereka mengeluarkan beberapa buah gelang dan cincin emas. Ada cincin berbatu akik besar.
“Gelang Sumi! Ya, ini gelang Sumi!!” terdengar teriakan-teriakan. Orang makin banyak berkerumun.
“Nudin!Nudin! ini gelang istrimu!!” suara teriakan yang kacau balau timpa betimpa. Seorang lelaki dengan kumis jarang menyeruak.
Dan dia tertegun tegak takkala melihat gelang emas yang baru diambil dari perut harimau besar itu. Kemudian terdengar dia memekik. Ditangannya terpegang pisau. Dan sebelum orang sempat mencegahnya pisau itu sudah merajah bangkai harimau tersebut. Dan ketika orang-orang sadar bahwa kulit harimau itu harus diselamatkan, maka kesadaran itu sudah terlambat.
Nudin sudah merajah harimau itu dengan caci maki sambil menikamkan pisaunya berulang kali. Dan akhirnya dia tertegak terperangah. Orang-orang yang melihatnya juga pada terperangah.
Bangkai harimau itu seperti dicencang.
“Kenapa dia? Si Bungsu berbisik perlahan pada Bilal yang tegak disisinya.
“Lima bulan yang lalu, dia kehilangan istri. Waktu itu dia pergi menjual ikan ke Pekanbaru. Sepeninggalnya istrinya pergi menakik getah. Ketika dia kembali sore hari, istrinya tak dirumah. Mereka baru saja tiga bulan menikah.
Ketika magrib datang, istrinya belum juga muncul, dia mulai mencari ke tetangga. Tapi para tetangga mengatakan bahwa tak melihat istrinya sejak pagi. Dia jadi curiga. Bukankah pagi tadi istrinya berkata akan pergi menakik getah?
Bersama penduduk dia menyusul istrinya ke kebun getah mereka di hilir kampung sana. Dengan membawa suluh daun kelapa, mereka meneliti kebun tersebut.
Dan dekat sepohon karet yang dikelilingi semak rimbun, mereka menemukan jejak-jejak. Ada terompa, ada kantong tempat getah segrap. Ada darah dan tanah yang meninggalkan jejak harimau.
Mereka mengikuti jejak tersebut. Sebab bekas tubuh perempuan itu diseret nampak jelas di tanah. Tiga puluh depa dari tempat semula, mereka menemukan pisau penakik getah perempuan itu.
Nampaknya ketika ditangkap harimau, dia belum mati. Bahkan nampaknya berusaha melawan ketika tengkuknya dicengkram taring harimau itu dan menyeretnya pergi. Namun ditempat pisau pemotong karet itu jatuh, disanalah mungkin ajalnya tiba.
Dan malam itu mereka tidak menemukan apa-apa. Besok dan besoknya lagi mereka mencari terus. Sepekan lamanya pencarian itu berlangsung. Namun mayat istrinya tak pernah dijumpai. Dan ternyata hari ini dia temui gelangnya dalam perut harimau itu…”
Si Bungsu sudah terbiasa hidup dalam kekerasan. Sudah tak lagi mempan akan kesedihan-kesedihan. Sebab hidupnya sendiri adalah rangkaian dari pada kesedihan yang sambung menyambung.
Namun mendengar kisah tragis yang menimpa diri lelaki dari Buluh Cina ini, hatinya jadi terharu. Dan ketika dia melihat betapa lelaki itu duduk terhenyak di tanah, memandang dengan wajah pucat dan air mata berlinang. Si Bungsu jadi tak tahan.
Dia beranjak dari sana. Berjalan masuk ke mesjid. Di dalam rumah Allah itu dia sembahyang sunat. Kemudian duduk membaca zikir.
Itu adalah hari terakhir si Bungsu di Buluh Cina. Sebab malamnya datang kurir Kapten nurdin dari Pekanbaru memberitahukan bahwa besok ada kapal menuju Singapura. Dan di Singapura kelak ada orang Indonesia yang mengurus keberangkatan si Bungsu ke Jepang.
Malam itu juga si Bungsu kembali ke Pekanbaru. Meninggalkan Buluh Cina. Dia diantar oleh Bilal dan Badu sampai ke Marpuyan. Disana sudah ditunggu oleh anak buah Kapten Nurdin.
Esoknya sesuai dengan pesan Kapten Nurdin dia berangkat ke Singapura. Kapal yang ditompanginya adalah sebuah kapal kecil yang selalu hilir mudik di sungai Siak membawa para pedagang dan penyelundup.
Di Singapura beberapa pejuang bawah tanah Indonesia yang berada disana sebagai pencahari senjata telah menunggu dan memberangkatkan si Bungsu ke Jepang. Dia ditompangkan di sebuah kapal Jepang yang dicarter Inggeris. Kapal itu bernama Ichi Maru.
Dalam perjalanan menuju Jepang, debar jantungnya terasa mengencang. Dia kini tengah menuju sebuah negeri darimana pernah dikirim pasukan fasis yang amat kejam menjajah negerinya. Dia menuju sebuah negeri, darimana pernah dikirim tentara yang telah merobek-robek negeri dan kaum perempuan Indonesia. Membunuh banyak sekali kaum lelaki, kanak-kanak dan orang dewasa, lewat pembantaian dan…kerja paksa sebagai Romusha!
Dia kini menuju sebuah negeri dimana berdiam musuh besarnya. Orang yang pernah membunuh ayah, ibu dan kakanya. Dia kini menuju negeri Saburo Matsuyama!!
Ke Jepang dia datang, disana maut menghadang!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: