tikam samurai-bagian-147-148-149


Orang-orang yang disuruh itu melaksanakan tugas mereka.

si bungsu

si bungsu

Dan Bilal membawa si Bungsu ke arah mayat-mayat Belanda itu diangkuti. Mayat-mayat itu teranyata diangkuti ke belakang kampung. Ke hutan belantara yang masih perawan. Kaum lelaki berkumpul disana. Menanti Bilal dan si Bungsu.
Semua mereka menoleh pada Bilal dan si Bungsu yang baru muncul. Menatap dengan diam. Guruh tiba-tiba menderam di angkasa. Bilal berhenti, demikian pula si Bungsu. Para lelaki melirik ke samurai yang terpegang ditangan kanan si Bungsu.
Dari cerita yang pernah mereka dengar, anak muda ini mahir dan amat cepat dengan samurai Jepang itu. Tapi dipasar Jumat tadi, beberapa orang sempat melihatnya. Itupun secara tak pasti. Sebab hampir semua mereka terlibat dalam perkelahian yang hanya sebentar.
Hanya saja, dari mayat-mayat yang mereka bawa ini, ada dua orang tentara Belanda yang belah perut dan dadanya. Dan itu pasti termakan samurai. Jadi dengan kopral yang putus kaki dan tangan kananya itu, ada tiga serdadu Belanda yang dibabat samurai tersebut.

Hanya itu sebagai bukti bagi penduduk bahwa anak muda ini memang cepat dengan samurainya. Hanya sayangnya tak seorangpun yang sempat melihat dengan pasti bagaimana caranya dia memainkan senjata maut itu.
Kini mereka tegak membisu. Bilal yang merupakan seorang pemuka dikampung itu akhirnya bersuara.
“Asir saya suruh membawa motor tempel Belanda itu ke Danau Baru. Menenggelamkan di sana. Saya rasa kalaupun ada pencaharian oleh pihak Belanda kemari mereka takkan menemukan jejak sedikitpun”
Dia berheti. Para lelaki itu tak ada yang bersuara. Bilal menyambung:
“Kini kita kuburkan mayat-mayat Belanda ini. Kuburkan bersama pakaian mereka. Senjata simpan di rumah Suman. Kita kuburkan mereka lebih ke hutan sana. Lewati paya-paya tersebut agar jejak kita tak mudah ditemukan. Kubur yang dalam, agar mayat mereka tak digali harimau…!”
Masih tanpa suara, kaum lelaki itu mulai mengangkati mayat keenam serdadu Belanda tersebut. Guruh kembali menderam rusuh dikaki langit. Mengirimkan suasana seram ke hati mereka.
Satu demi satu mulai menyeruak rimba menuju paya-paya.
“Biar saya didepan membuka jalan….” Si Bungsu berkata sambil mendahului rombongan pemangku mayat tersebut. Di depan dia menghunus samurainya.
Ketika dia akan menebas semak untuk membuka jalan, dia terhenti mendengar seruan Bilal.
“Jangan ditebas!”
“Tapi ini menyulitkan perjalan yang memangku mayat..”
“Ya, tapi tebasan itu juga akan memudahkan Belanda masuk untuk mencari jejak mayat teman-temannya”
Si Bungsu menjadi mengerti duduk soalnya. Dia mengagumi ketajaman firasat Bilal. Oleh karena itu dia memasukkan kembali samurainya. Kemudian dengan mempergunakan samurai bersarung itu dia menguakkan semak-semak untuk membuat jalan bagi temannya yang di belakang.
Mereka berjalan dengan diam.
Yang terdengar hanyalah geseran tubuh dengan dedaunan. Mereka melalui rimba yang lebat. Tak lama kemudian, mereka tiba ketepi rawa dan bancah yang tadi disebutkan Bilal.
Si Bungsu menekankan samurainya ke dalam air. Menduga dalam bancah ini. Ujung samurainya menekan tanah dasar air. Cukup keras. Kemudian dia mulai melangkah masuk air. Yang lain menuruti.
“Kita ke seberang sana…?” tanyanya sambil menoleh pada Bilal yang berada ditengah barisan itu. Bilal mengangguk. Bungsu menepi memberi jalan kepada orang yang dibelakangnya. Lelaki itu lewat dengan mayat leutenant Belanda dibahunya. Berturut-turut lewat lelaki yang lain.
Namun tiba-tiba si Bungsu merasa dirinya jadi tegang.
Matanya menyipit. Inderanya yang sudah terlatih di rimba Gunung Sago tiba-tiba mengisyaratkan bahwa ada bahaya mengancam. Samurainya dengan cepat berpindah ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menggantung melemas.
Beberapa lelaki lagi lewat dihadapannya. Dia menatap dengan tegang. Bahaya yang tercium oleh firasatnya itu makin mendekat. Lelaki yang paling depan telah naik kembali ke tanah di seberang bancah sana. Jaraknya dengan si Bungsu ada sekitar dua depa.
Si Bungsu kenal benar dengan isyarat yang dia tangkap ini. Amat kenal. Hanya kini dia memastikan dimana sumber bahaya itu. Sedetik dia memejamkan mata, inderanya yang terlatih, yang melebihi ketajaman indera binatang buas manapun, segera mengetahui bahaya itu.
Tiba-tiba dia memekik seperti pekikan raja hutan. Pekikannya yang dahsyat itu diikuti oleh terangkatnya tubuhnya dari tempatnya tegak. Dirinya yang tadi tegak dalam rendaman air sebatas paha, tiba-tiba melambung dalam suatu lompat tupai yang terkenal itu.
Tubuhnya mengapung segera dari permukaan air bancah. Melambung ke arah depan dimana lelaki yang memangku mayat leutenant itu tegak.
Tidak hanya lelaki dengan mayat leutenant itu saja yang tertegak diam. Semua anggota rombongan pengubur mayat itu, termasuk Bilal yang berjumlah empat belas orang pada tertegak kaget, dan seperti dipakukan ke tanah begitu mendengar pekik si Bungsu tadi.
Dan kini dengan pandangan tak berkedip, mereka melihat tubuh si Bungsu turun di depan sekali. Persis disisi Soli yang memangku mayat Leutenant itu.
Tangan kanan si Bungsu dengan kuat mendorong tubuh Soli. Karena dibahunya ada beban, Soli tak bisa menguasai keseimbangan, tubuhnya segera saja terdorong ke samping. Tak hanya sekedar terdorong, tapi terjatuh duduk.
Belum habis kaget Soli dan semua teman-temannya melihat tindakan si Bungsu, tiba-tiba saja dari hadapan tempat Soli tegak tadi, melesat suatu bayangan dengan suara menggeram hebat.
Bayangan itu justru menerpa tempat Soli tegak tadi bersama mayat leutenant tersebut dibahunya. Kini di tempat itu yang tegak bukan lagi Soli, tapi si Bungsu. Si Bungsu tak berani menerima terkaman itu. Yang menerkamnya tak lain daripada seekor harimau besar!
Dia melambung dengan lompat tupai ke kanan! Dan harimau itu menerpa tempat kosong! Semua lelaki yang segera melihat harimau itu pada tegak melongo. Hanya Bilal yang mengucap istigfar. Yang lain tanpa dapat dicegah pada menggigil. Mereka rata-rata memang pesilat. Tapi tak semua pesilat berani menghadapi harimau. Apa lagi di siang bolong dan di dalam rimba raya!
Mayat-mayat yang tadi mereka panggul. Pada berjatuhan tanpa mereka sadari. Dan mereka pada tegak menggigil!
“tetaplah diam ditempat kalian!” si Bungsu berteriak memperingati ketika dia lihat ada seorang dua yang ingin ambil langkah seribu.
Semua pada tertegak. Si Bungsu memperingatkan hal itu untuk menghindarkan korban. Sebab dia telah hidup dalam belantara Gunung sago. Telah berkelahi dengan harimau-harimau di gunung Sago tersebut untuk mempertahankan hidupnya.
Dan dia jadi sangat kenal pada sifat harimau-harimau. Mereka akan memburu orang yang membelakanginya. Yang lari terbirit-birit! Harimau justru jadi segan dan agak gentar pada orang yang tegak diam dan menatapnya!
Dan kini harimau yang besarnya bukan main itu mengeram. Beberapa lelaki ada yang terkencing. Si Bungsu dengan langkah ringan memutar tegak.
Dan kini dia persis dihadapan harimau itu.
Harimau itu mengais-ngaiskan kakinya ke tanah. Meninggalkan jejak kuku yang dalam pada tanah keras tersebut. Dan tiba-tiba tubuhnya merendah. Matanya nyalang menatap si Bungsu tak berkedip.
Si Bungsu tegak dengan tenang. Dan kedua kakinya terpentang lebar.
Dia balas menatap harimau itu dengan pandangan tak berkedip. Mereka sama-sama mengukur. Dan tiba-tiba tanpa memberitahu, tanpa bersuara sedesahpun, tubuh harimau itu melesat dengan kecepatan yang tak terikutkan oleh mata. Menghambur kearah si Bungsu.
Demikian cepatnya sergapan itu, sehingga hampir-hampir tak terikutkan oleh mata lelaki-lelaki yang ada disana. Yang dapat melihat dengan jelas gerakan itu hanyalah Bilal yang telah masak ilmu silatnya.
Dia melihat betapa harimau itu tidak menerkam, tapi dalam lompatannya dia menampar ke arah si Bungsu. Dan hanya Bilal pulalah yang dapat sedikit melihat betapa dengan kecepatan yang sulit dimengerti, tangan kanan si Bungsu tiba-tiba telah memegang samurainya. Dan samurainya itu membabat ke arah harimau yang menerkamnya itu.
Hanya itu yang terlihat. Bilal tak tahu apakah antara kedua lawan itu ada yang kena atau tidak. Tapi dia dan semua lelaki yang tertegak diam itu melihat betapa kini kedua mereka saling berhadapan kembali!
Harimau itu tegak mencekam tanah empat depa di belakang si Bungsu. Tegak tanpa cedera apapun. Sebaliknya si Bungsu juga tegak dengan posisi seperti tadi. Dengan tubuh tegak lurus dan dengan kaki yang terpentang lebar. Bedanya kini samurainya kembali telah tersisip dalam sarangnya ditangan kiri. Sementara tangan kananya tergantung lemas!
Dia juga tegak tanpa luka segorespun! Semua mereka menghela nafas. Ini adalah pertarungan yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup. Belum pernah dan mungkin tak pernah terjadi untuk kedua kalinya!
Mereka memang banyak mendengar, bahwa pesilat-pesilat tangguh biasanya memutus kaji dengan bertarung melawan harimau. Dan mereka juga tahu, bahwa diantara pesilat-pesilat yang tangguh itu, Bilal konon adalah salah seorang yang telah lulus dari perkelahian seperti ini.
Entah benar entah tidak, tapi sudah menjadi rahasia umum, sudah menjadi buah bibir, bahwa Bilal telah lulus dari ujian dengan “Niniek” belang. Mereka tak mengetahui dengan pasti karena tak melihatnya. Dan sebaliknya Bilal pun tak pernah membantah atau mengiyakan desas-desus itu. Yang jelas dia memang seorang pesilat tangguh yang telah masak!
Dan kini. Manusia melawan harimau! Bila ada kesempatan seperti itu? Maka meski dengan celana basah karena kencing, mereka berusaha juga untuk tetap tegak. Berusaha agar mata mereka terbuka lebar menyaksikan perkelahian itu. Menyaksikan dengan tubuh terguncang-guncang karena menggigil ngeri!
Tiba-tiba mereka menyaksikan sesuatu yang aneh. Di belakang sana, harimau itu kembali mencengkamkan kaki depannya ke tanah. Matanya menatap marah pada si Bungsu yang membelakanginya. Membelakang! Bayangkan, ada manusia yang berani membelakanginya! Bukankah itu suatu penghinaan! Harimau itu benar-benar berang!
Dia tak mau dihina demikain. Apalagi dihadapan tatapan sekian banyak manusia. Dan dia berniat kali ini untuk mengoyak tubuh manusia sombong yang membelakanginya ini!
Akan halnya si Bungsu, kelihatan memejamkan matanya. Kemudian perlahan merendahkan tubuh. Lalu duduk bersila di tanah! Duduk dengan mata tetap terpejam! Inilah yang membuat heran dan terkejut lelaki-lelaki dari Buluh Cina itu. Termasuk Bilal!
Tak seorangpun yang tahu, bahwa jika dia telah berbuat demikian itu berarti disekitarnya nada maut yang siap merengut nyawa setiap makhluk yang mendekati tubuhnya yang diam terpejam itu! Tak seorangpun yang mengetahui itu.
Bahkan Bilal yang pesilat tangguh itu tak pula bisa menangkap secara penuh. Dia hanya bisa menerka-nerka. Bahwa anak muda itu sebenarnya barangkali sedang memusatkan inderanya. Sedang menghimpun segala makrifat. Tapi itu hanya dugaannya saja. Dia tetap saja cemas melihat hal itu.
Dan tiba-tiba, tanpa suara sedesahpun seperti tadi, bahkan kini seperti tak ada angin terkuat sedikitpun oleh tubuhnya yang besar dan dahsyat itu, harimau tersebut melesat dengan kecepatan hampir-hampir tiga kali kecepatan loncatannya yang pertama tadi. Meloncat dengan mulut yang diarahkan untuk menerkam tepat-tepat ke tengkuk si Bungsu!
Bilal tak melihat gerakkan sedikitpun dari pihak si Bungsu. Dan saat berikutnya, terlalu cepat buat diikuti mata siapapun. Terlalu cepat! Hanya bayangan yang tak jelas!
Mereka hanya melihat betapa kelebatan bayangan yang cepat itu akhirnya berhenti dalam bancah dari mana si Bungsu tadi melambung ke luar.
Harimau itu tertegak dengan keempat kakinya di bancah itu. Separuh tubuhnya bahagian bawah terendam dalam bancah. Dan dibawahnya terhimpit si Bungsu. Yang kelihatan keluar mencuat dari bawah perut harimau itu hanyalah tangannya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: