tikam samurai-bagian-143-145-146


Saat leutenant tersebut masih mencekal rambut dikepalanya. Dengan sebuah tendangan yang penuh kebencian,

tikam samurai

tikam samurai

lututnya menghantam perut leutenant itu. Leutenant itu mendelik matanya menahan sakit. Cekalannya pada rambut Bilal lepas. Kedua tangannya segera saja memegang perut yang dimakan lutut pejuang itu.
Dan Bilal tak berhenti sampai disana, dia segera mencekik leher leutenant itu dari belakang. Kemudian sebilah pisau yang dia simpan dibalik pinggang celananya segera saja keluar dan ditekankannya kuat-kuat ke dada sebelah kiri si Belanda .
“Kubunuh anjing ini kalau kalian bergerak!!” dia berteriak mengancam tentara Belanda yang lain. Yang semuanya masih tertegun kaget.

Seorang sersan mayor coba mengokang bedil. Namun saat berikutnya dia terhenti bersamaan dengan pekik si leutenant. Bilal rupanya memang tak sekedar menggertak.
Begitu dia lihat sersan itu mengokang bedil, pisau beracunnya dia tekankan. Demikian kuatnya, hingga menembus baju loreng si Letnan dan menembus dadanya. Meski pisau itu hanya menembus kira-kira sejari, tapi sakit dan kagetnya leutenant itu bukan alang kepalang.
Kejadian tiba-tiba jadi tegang. Semua pada terdiam. Bilal sendiri tak tahu apa lagi yang akan dia perbuat. Dan si Bungsu segera menangkap keraguan ini. Dia bangkit dan melangkah. Namun gerakannya justru melindungi seorang kopral dari tatapan mata Bilal.
Kopral itu menyambar seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Dan persis seperti yang diperbuat Bilal, Kopral KNIL ini menodongkan bedilnya persis ke pelipis gadis kecil itu.
“Lepaskan leutenant itu, atau anak ini saya hancurkan benaknya!” kopral itu ganti menggertak. Bilal membalik dan baru saja akan balas bicara ketika tiba-tiba ibu anak tersebut memekik dan menghambur ke arah anaknya.
“Biarkan dia, jangan dekati…..!” Bilal coba mengingatkan perempuan itu. Namun perempuan itu mana mau anaknya terancam bahaya. Sambil memekik dia terus memburu kopral itu.
“Jangan dekati kesanaaa!!” Bilal berteriak lagi sementara tangannya tetap mengunci leher leutenant itu. Tapi perempuan itu tak peduli. Dia memegang tangan anaknya. Dan kini dia saling tarik dengan kopral KNIL itu.
“Lepaskan anakku! Lepaskan anakkuuu!!” pekiknya sambil menolong-nolong.
“Anjing pigi kowe! Pigi kowe sana!!” kopral itu membentak.
Dan suatu saat, kakinya terangkat. Sepatu larasnya yang berpaku menerjang perempuan tersebut. Perempuan itu tercampak. Dadanya kena hantam. Dia muntah darah. Dan tergolek diam ditanah!
Keadaan kembali tegang. Empat serdadu Belanda yang lain tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Sebab mereka melihat betapa ujung pisau Bilal tetap saja menancap di dada komandan mereka.
“Ayola lepaskan Leutenant!!” kopral KNIL itu membentak lagi.
Namun Bilal segera dapat menguasai kekagetannya.
“Kau perintahkan semuanya melemparkan bedil letnant!” Dia mendesis dipangkal telinga leutenant itu. Dan ketika letnan itu masih berdiam diri, dia menekankan lagi ujung pisaunya.
“Perintahkan mereka melemparkan senjatanya!!”.
Namun tiba-tiba saja tanpa disengaja sedikitpun, mungkin karena gugup, senjata ditangan kopral yang mengancam gadis kecil itu meledak.
Dan bencana tak dapat dihindarkan. Kepala gadis itu rengkah dan dia mati tanpa memekik sedikitpun. Semua jadi kaget. Semua seperti dipakukan ke tanah. Bilal lah yang pertama mengadakan reaksi.
“Anjiiing! Kubunuh kalian!! Kubunuuuuuuh!” dan dia memang membuktikan ucapannya. Dia memang tak main-main. Dia memang siap dengan segala kemungkinan. Dia memang kental hatinya. Kental darah pejuangnya.
Dia menekankan pisaunya hingga membenam seluruh ke dada leutenant itu. Seluruhnya terbenam. Leutenant itu memekik dan meronta-ronta mengelak dari renggutan maut. Namun pisau beracun itu sebenarnya sudah sejak tadi beraksi ditubuhnya.
Pisau itu begitu ditekankan begitu menghujam ke jantungnya. Dan dengan mata mendelik, dia tercampak di tanah. Kembali semua orang jadi tertegun. Kaget dan ngeri. Tentara-tentara Belanda yang lima orang itu juga ternganga. Tertegak kaget. Tertegak ngeri.
Namun hanya sebentar. Dan setelah itu mautpun menyeringai serta merenggut nyawa disekitar pasar itu. Yang pertama berakasi adalah sergeant. Bedil ditangannya menyalak. Yang dia tuju adalah Bilal. Tapi pesilat itu sudah lebih dahulu arif. Dia cepat bergulingan di tanah. Dia terhindar dari terkaman maut.
Tapi orang yang berada dibelakangnya, yaitu seorang lelaki petani justru jadi korban. Lelaki itu terpekik dan terpental lalu roboh dan mati.
Dan setelah itu tak lagi diketahui siapa-siapa yang terkena tembak. Sebab letusan telah membahana. Si Bungsu hanya bisa bergerak menurut firasatnya saja.
Tubuhnya bergulingan, dan begitu tegak, samurainya bekerja. Kopral yang menembak mati gadis kecil itu jadi korban pertama mata samurainya. Tangan kopral yang memegang bedil itu putus hingga lengan dekat bahu.
Kemudian samurai si Bungsu berkelabat lagi. Dan kaki Belanda itu putus. Cukup sekian. Si Bungsu membiarkan Belanda itu memekik-mekik tanpa tangan kanan dan tanpa kaki kiri!
Sebuah desingan dan rasa panas menyambar pelipisnya. Dia menjatuhkan diri. Bergulingan kekanan menurut arah peluru tadi datang. Kemudian sambil bangkit, samurainya bekerja.
Sergeant yang tadi menembak, terkena makan mata samurainya. Perut sergeant itu belah. Dan tubuhnya menggelepar-gelepar lalu diam. Lalu mati! Dan suasana tiba-tiba juga diam! Si Bungsu menyisipkan samurainya. Memandang keliling.
Keenam serdadu Belanda itu telah tergeletak. Lima diantaranya mati! Dua orang mati ditangan si Bungsu. Yang lain disudahi oleh Bilal dan enam orang lelaki yang menyerang memakai pisau, parang dan golok!
Tiba-tiba semua mata memandang pada tubuh kopral KNIL yang masih tergolek dan meraung-raung itu.
Mereka beranjak dari tempat masing-masing. Mendekati tubuh kopral itu. Membuat lingkaran mengitarinya.
Dan tiba-tiba seorang lelaki menyeruak. Dia masuk ke tengah memangku mayat gadis kecil yang tadi ditembak si Kopral. Dia adalah ayah gadis itu.
Semua pada diam menatapnya. Dia tidak anggota fisabilillah. Dia hanya seorang petani biasa. Tapi tadi dia telah ikut menghujamkan pisaunya ke dada dua orang Belanda.
Dan kini dia tegak dengan kaki terkangkang memangku mayat anaknya. Menatap pada tentara Belanda yang telah membunuh putrinya itu.
KNIL itu tiba-tiba terdiam pula dari raung kesakitannya. Dia menatap dengan mata terbuka lebar pada lelaki yang memangku gaduis kecil itu. Dia segera mengenali gadis berambut hitam lebat itu. Gadis yang dia bunuh tadi.
“Mengapa kau bunuh dia?” lelaki itu bertanya.
Suaranya perlahan. Aneh. Pertanyaan yang jujur dari seorang lelaki jujur dan bodoh. Lelaki kampung yang tak tahu menahu dengan peperangan atau politik.
“Mengapa kau bunuh anakku, padahal dia tak pernah menyakitimu? Kami tak pernah menyakiti kalian. Kenapa kau bunuh anakku, kau sakiti istriku?”
Suara lelaki itu terdengar serak. Dia tatap tentara KNIL itu tepat-tepat. Dan KNIL itu tiba-tiba seperti kehilangan seluruh rasa sakit dilengan dan dikakinya yang putus.
Dia merasa heran, merasa takjub dan sekaligus juga merasa luluh atas pertanyaan yang lugu dan polos itu. Dan isteri lelaki itu, yang tadi kena tendang berdiri disamping suaminya. Menangis melihat mayat anaknya.
Dan tiba-tiba lelaki itu melangkah lewat disisi KNIL itu, melangkah terus memangku anaknya.
“Ampunkan saya…ampunkan saya pak…” KNIL itu bermohon. Sementara air mata penyesalan mengalir dipipinya. Namun lelaki itu seperti tak mendengar ucapannya. Dia melangkah terus bersama istrinya. Membawa mayat anaknya.
“Ampunkan saya…” KNIL itu bermohon. Dia benar-benar merasa amat berdosa. Dan dia merasa tersiksa atas perlakuan lelaki pribumi yang tak mau membalas sakit hatinya. Kenapa lelaki itu hanya bertanya, kemudian pergi? Kenapa dia tak menikamnya saja?
Dan akhirnya KNIL itu menangis terisak-isak.
“Bunuhlah saya… bunuhlah saya. Saya tak layak untuk diampuni. Bunuhlah saya…bunuhlah saya….!” Dia bermohon pada penduduk yang mengitarinya. Namun semua penduduk hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
Kemudian satu demi satu mengurusi mayat teman-temannya yang mati kena tembakan tadi. Yang perempuan menangisi suaminya yang mati. Demikian pula kanak-kanak menangisi mayat ayahnya atau ibunya.
Dalam perkelahian yang singkat itu, selain kelima tentara Belanda yang mati itu, ternyata ada enam penduduk yang meninggal. Empat orang lelaki dewasa, seorang perempuan dan seorang anak-anak.
Kemudian satu demi satu mayat-mayat itu mereka angkut ke rumah masing-masing. Dan kini dilapangan bekas Pasar Jumat itu hanya ada enam tubuh tentara Belanda.
Lima diantaranya sudah jadi mayat, yang satu lagi menatap kesekitarnya dengan perasaan tak menentu. Dia adalah tentara KNIL yang menembak anak ibu yang tangan dan kakiknya dibabat si Bungsu.
Dia menoleh keliling. Dan matanya berpapasan dengan tatapan mata si Bungsu. Dia menatap pada samurai di tangan anak muda itu.
“Tolonglah saya. Bunuhlah saya. Jangan biarkan saya menderita seperti ini…” mohonnya.
Si Bungsu menatapnya dengan tenang. Dia teringat pada nasib seorang Datuk penyamun yang nasibnya juga sama dengan KNIL ini.
Yaitu ketika Datuk itu bersama temannya datang ke Penginapan kecil di Aur Tajungkang untuk membalas dendam padanya. Kemudian menista Mei-mei. Datuk itu dia babat kedua tangan dan kedua kakinya.
Kemudian dia tinggalkan berguling mengerang dan memohon-mohon untuk dibunuh di lantai penginapan dan demikian pulalah yang dialami KNIL ini. Dia lebih suka mati daripada menanggung malu tak bertangan dan tak berkaki.
Si Bungsu sebenarnya memang ingin membunuh KNIL jahanam ini. Tapi dia ingin memberi pelajaran atas pembunuhan yang telah berkali-kali dilakukan si KNIL tersebut.
“Tolong bunuhlah saya…” KNIL itu memohon lagi.
“Bukan urusan saya. Orang kampung ini akan menentukan nasibmu. Engkau datang ke kampung ini membawa bedil, membunuh kanak-kanak. Menembaki perempuan dan lelaki yang tak berdosa. Bukankah penduduk di kampung ini tak pernah menyakiti kalian? Kenapa hari ini kalian datang membunuhi mereka”
KNIL itu tak bisa bicara.
Sementara itu, pedagang-pedagang selesai mengumpulkan jualan yang terlambat ditepian batang Kampar itu. Lalu tanpa bicara ba atau bu, mereka segera membuka tambatan sampan.
“Harap jangan terdengar oleh Belanda di Teratak Buluh atas peristiwa yang terjadi disini. Katakan saja bahwa kalian tak pernah bertemu dengan Belanda di kampung ini…”
Bilal berseru dari tebing kepada pedagang-pedagang itu. Sebab kalau sempat saja peristiwa ini bocor, maka dia sudah bisa meramalkan bahwa akan ke kampung ini seluruh pasukan Belanda untuk membunuhi mereka. Para pedagang itu tak ada yang menyahut.
“Kalau ternyata peristiwa ini bocor, maka ingatlah, kami akan mencegat kalian bila hilir ke Langgam. Dan kita akan bermusuhan sepanjang zaman….!” Bilal berseru lagi.
Sumpahnya ini membuat bulu tengkuk pedagang-pedagang yang akan berkayuh itu pada merinding. Kalau penduduk kampung ini memang bermusuhan dengan mereka sepanjang zaman itu berarti sepanjang zaman pula mereka tak dapat melayari sungai ini!
Dan itu berarti mereka kehabisan mata pencaharian pula. Sebab satu-satunya tempat berjualan yang menghasilkan uang adalah ke Teratak Buluh. Dan bila dagangan disana habis, mereka bisa jalan darat membeli dagangan baru ke Pekanbaru.
“Percayalah Bilal, dari kami takkan pernah terbuka rahasia ini. Kami bangga pada kalian, yang telah berani melawan dan membunuhi penjajah…” Pimpinan dari pedagang-pedagang itu berseru pula.
Dan mereka lalu berkayuh ke hulu satu demi satu. Ada dua belas sampan dan tongkang pedagang itu. Bergerak seperti siput merangkak pada arus sungai Kampar ke arah hulu.
Bilal menatap sampan itu bergerak. Setelah jauh, dia membalik. Menghadap pada kopral KNIL yang masih terbaring itu. Sementara penduduk kampung yang lain, atas petunjuk Suman mengangkati mayat-mayat Belanda yang lain ke arah perkampungan.
Bilal melangkah mendekati KNIL itu.
“Kami takkan membunuhmu. Kematian merupakan hal yang terlalu enak bagimu. Tapi engkau akan tetap mati kehabisan darah”
Bilal mencabut pisau yang tadi dia tikamkan ke dada leutenant. Melemparkan hingga tertancap disisi tubuh KNIL itu.
“Engkau boleh pilih, mati secara perlahan disini atau bunuh diri dengan pisau itu…”
Dan Bilal memberi isyarat pada si Bungsu untuk meninggalkan tempat tersebut!
Bungsu melangkah mengikuti Bilal ke arah mayat-mayat Belanda tadi diangkuti. Namun beberapa langkah mereka berjalan, KNIL tadi terdengar mengeluh. Mereka menoleh, dan melihat betapa pisau yang diberikan Bilal tadi telah menancap didadanya. KNIL itu ternyata lebih suka bunuh diri daripada tetap dibiarkan terguling tak berdaya disana. Dia lebih suka mempercepat kematiannya daripada harus menunggu maut merangkak secara perlahan menyakiti nyawa dan jasadnya.
“Dia memilih jalan singkat….” Bilal berkata.
Bungsu hanya diam menatap. Bilal menyuruh dua orang penduduk untuk mengangkat mayat KNIL itu.
“Bersihkan bekas-bekas darah di tanah! Dan Asir…kau biasa membawa motor tempel. Bawa motor tempel Belanda itu ke Danau Baru. Tenggelamkan disana…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: