tikam samurai-bagian-140-141-142


tikam samurai

tikam samurai

“Saya berharap mereka tak menemukan apa-apa. Semoga lewat Bancah Limbat hujan turun malam tadi. Dan jejak terhapus sama sekali…..”
Dan memang itulah yang terjadi. Malam tadi hujan meski tak lebat, tapi turun dibahagian hutan lewat rawa yang bernama Bancah Limbat sampai Kutik. Dan semuanya melenyapkan jejak kemaren.
Belanda meneliti tiap jengkal yang mereka lewati dalam usahanya mencari jejak patroli yang lenyap itu. Tak lama kemudian mereka berhenti disebuah sungai kecil yang melintasi jalan.
Sungai itu jernih sekali airnya. Jernih dan sejuk dengan pasir putih didasarnya. Mayor Antonius menyuruh berhenti jeep komandonya. Dia tegak dibangku. Memandang dengan teropong kependakian diseberang sungai dangkal itu. Tak ada apa-apa yang mencurigakan.
Dia turun. Mencuci muka disungai kecil yang sejuk itu. Meminum airnya yang juga terasa sejuk. Sementara dia mencuci muka dan minum itu, pasukannya siap dikedua sisi jalan dengan senjata siaga.
“Kita kembali!” perintahnya. Dan semua kendaraan itu, satu persatu berputar disungai kecil tersebut. Daerah dibawah pendakian itu memang cukup lebar untuk berputar. Kendaraan berputar disana sambil menambah air untuk kendaraan mereka.

Dan putusan Mayor itu termasuk hal yang menyelamatkan penduduk kampung Kutik, Buluh Cina dan Perhentian Marpuyan!.
Sebab, kalau saja Mayor itu meneruskan langkahnya agak dua puluh meter lagi kepertengahan pendakian dari sungai kecil dimana dia mencuci muka dan minum, maka dia pasti akan menemukan jejak pertempuran kemaren yang terkikis oleh hujan, dan tak terlenyapkan oleh penduduk Kutik.
Jejak itu berupa lobang-lobang bekas terkaman peluru 12,7 yang dimuntahkan oleh Suman! Di pertengahan pendakian itu ada lebih dari selusin jejak peluru. Kemaren memang ditimbun baik oleh Suman maupun penduduk Kutik. Tapi hujan yang turun malam tadi membuat timbunanitu melorot ke dalam. Dan jejak itu justru muncul lagi. Tapi untunglah, Tuhan masih melindungi mereka semua!
Dan sebelum petang datang, pasukan Belanda itu cepat-cepat menuju ke markas kembali. Mereka memang tak berani berada didaerah Republik itu dimalam hari meski dengan kekuatan persenjataan yang tak tanggung-tanggung.
Mereka hanya berani berpatroli disiang hari. Dan begitu malam akan turun mereka cepat-cepat menarik diri ke markas.
Besoknya pencarian dilanjutkan lagi. Namun jejak yang mereka cari semakin lenyap. Dan akhirnya pencaharian itu dihentikan sama sekali. Sebab setelah itu, Belanda disibukkan oleh peperangan-peperangan dengan tentara Indonesia.
–00000—
Di Buluh Cina.
Rumah-rumah kampung itu semuanya adalah rumah panggung dengan tiang-tiang tinggi. Kampung itu terletak di seberang sungai Kampar, kalau datang dari arah Pekanbaru. Sungai itu senantiasa menghanyutkan airnya yang berwarna jernih ke hilir.
Hanya ada sekitar seratus rumah di kampung itu. Memanjang ditepian sungai Kampar dari Barat ke Timur. Di bagian tengah kampung ada sebuah mesjid. Di bagian agak ke hulu ada pandam pekuburan kampung.
Kampung dipenuhi oleh rumpun kelapa. Di bawah bayang-bayang daun kelapa ini rumah-rumah penduduk didirikan. Rumah dibuat tinggi dari tanah dengan dua maksud. Pertama menghindarkan banjir dari sungai Kampar yang selalu datang melanda. Kedua menghindarkan diri dari serangan harimau yang sering mengganas di kampung itu.
Mata pencaharian penduduk tak ada yang tetap. Itu bukan berarti disana banyak sekali mata pencahariannya. Tidak. Sumber kehidupan mereka hanya tigal hal. Satu karet, kedua ikan dan ketiga berladang.
Karet dan ikan merupakan mata pencaharian yang agak tetap. Sementara hasil ladang hanya cukup untuk keperluan anak beranak. Mereka masih menerapkan sistim berladang kaum Nomaden. Hari ini berladang disuatu tempat yang subur. Kalau akan membuka ladang, terlebih dahulu harus menebas hutan belantara. Kemudian dibiarkan kering. Lalu dibakar. Dan setelah itu bekas bakar dibersihkan ala kadarnya.
Kemudian langsung ditanami jagung dan padi. Selama proses ini tak kenal penggunaan cangkul atau alat-alat pertanian lainnya. Untuk menanam padi atau jagung lobang dibuat dengan menghujamkan tugak, yaitu sepotong kayu sebesar lengan yang diruncingkan ujungnya kebawah dan dihentakkan ke tanah. Ke lobang itu benih jagung atau padi dimasukkan.
Dan hanya proses waktu dan alam saja yang mereka tunggu selanjutnya untuk menumbuhkan, membesarkan dan membuat padi dan jagung itu panen. Tapi begitu panen sudah dipetik, maka ladang itu mereka tinggalkan. Tahun depan mereka merambah hutan yang lain pula untuk berladang. Begitu terus.
Ini menyebabkan mereka tak pernah mempunyai ladang yang tetap. Tak pernah berladang dimana tumbuh tanaman keras. Mereka pindah terus dari satu hutan ke hutan lain untuk berladang meski ladang terdahulu tanahnya masih tetap subur untuk beberapa tahun lagi.
Kebun karet mereka umunya tak terurus. Ditumbuhi semak belukar dan dijalari rotan. Bahagian yang baik hanyalah sedikit disekitar pohon yang akan ditakik saja. Tak heran kalau kebun karet yang mereka sebut dengan kebun para itu menjadi sarang harimau. Dan tak heran pula banyak penakik-penakik getah itu menjadi mangsa raja hutan tersebut.
Mata pencaharian yang ketiga adalah ikan. Mereka menangkapi ikan di sepanjang batang Kampar atau didua danau kecil yang terdapat dibalik kampung itu.
Karet dan ikan inilah mata pencaharian mereka yang agak memadai. Memadai dalam arti sekedar cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Sebab baik memotong karet maupun menangkap ikan mereka lakukan secara tradisionil. Bila hujan turun karet tak dapat ditakik, mereka menangkap ikan. Bila air besar dan hujan turun pula, dimana getah dan ikan tak dapat ditangkap, mereka hanya berdiam dirumah.
Demikian kehidupan penduduk dikampung itu musim ke musim. Kampung itu merupakan salah satu dari sekian kampung disekitarnya yang mempunyai struktur ganda. Maksudnya, dalam hal adat istiadat mereka berkiblat ke Minangkabau. Sebab dari sanalah nenek moyang mereka berasal.
Karenanya dikampung itu dikenal juga dengan sistim Suku dan gelar seperti jamaknya dikenal di Minangkabau. Dan sistim keluarga yang dianut juga sistim ibu sebagaimana jamaknya di Minangkabau.Namun dalam segi pemerintahan, mereka tunduk ke Riau.
Sebagaimana jamaknya di Minangkabau, dikampung ini pemuda-pemudanya juga belajar silat. Silat yang berkembang disini adalah silat aliran Pangian. Yaitu silat yang berasal dari negeri Pangian di Kabupaten 50 Kota dekat Lintau.
Silat merupakan kebanggaan tua dan muda.
-00-
Hari itu adalah hari jumat. Yaitu setiap Jumat dimana pedagang-pedagang bersampan dan berkapal kecil-kecil singgah dalam perjalanan mereka menuju Teratak Buluh dihulu dari Langgam di hilir.
Penduduk kampung berdekatan seperti Bontu diseberang agak ke hilir, dan penduduk dari kampung Kutik diseberang agak ke darat sudah berdatangan. Hari sekitar jam sepuluh pagi ketika tiba-tiba dari hulu terlihat orang berlarian.
“Belanda! Tentara Belanda datang!” pekiknya. Suasana ditengah pasar itu mula-mula terbengong-benging saja. Tapi begitu tembakan pertama terdengar, suasana panik segara menjalar. Penduduk berlarian bertemperasan. Pedagang-pedagang berusaha menyelamatkan jualannya.
Mereka berteriak meminta uang pada pembeli yang begitu panik menjalar segera saja angkat kaki. Lupa membayar barang yang telah dia ambil.
Namun penduduk yang berlarian itu tak lama kemudian kembali lagi ke pasar darurat tersebut. Mereka dihalau kesana oleh tentara Belanda yang rupanya telah mengepung kampung itu dari hulu dan dari hilir.
Tentara yang datang tak berapa orang. Hanya enam orang. Tapi enam orang tentara Belanda dengan senjata lengkap memang sudah cukup membuat penduduk jadi terkencing-kencing.
“Ayo kumpul semua!” bentakan terdengar dari mulut seorang Leutenant. Dan kembali serentetan tembakan dari sten menyalak.
Anak-anak pada bertangisan. Perempuan pada terpekik dan mereka digiring ke lapangan kecil dimana tadi seorang pedagang berjual obat.
Kaum lelaki dan perempuan segera saja dipisahkan. Ada sekitar tiga puluh orang lelaki yang terjaring. Mereka semua disuruh duduk berjongkok di tanah.
“Periksa!” Leutenant itu memberi perintah. Dan tiga orang serdadu yang terdiri dari seorang sersan, seorang kopral dan seorang soldaat segera menghampiri para lelaki yang duduk mencangkung itu.
“Bagaimana, kita lawan mereka?” si Bungsu yang terdapat diantara para lelaki itu berbisik pada Bilal yang duduk di sebelahnya.
“Tunggu dulu. Nampaknya mereka bukan mencari kita” Bilal menjawab. Dan karenanya si Bungsu hanya diam menanti. Hari itu adalah bulan ketiga dia berada di kampung Buluh Cina ini semenjak peristiwa penyergapan di pendakian Pasir putih itu.
Tiga peluru yang menghajar tubuhnya, ternyata tak cukup kuat untuk merenggut nyawanya. Atau katakanlah, bahwa Bilal telah menolong nyawanya dari renggutan maut. Lelaki itu melarikan tubuh si Bungsu yang luka parah di Buluh Cina. Kemudian di kampung itu si Bungsu ditolong dengan obat-obatan kampung.
Lukanya diobat dengan berbagai ramuan. Diantaranya dengan bubuk yang dibuat dari kikisan tempurung kelapa. Pedih dan sakitnya bukan main.
Namun Tuhan masih memanjangkan umurnya. Buktinya dia berangsur sembuh. Sementara itu senjata yang berhasil mereka rampas dari Belanda-Belanda di pendakian Pasir Putih telah dikirim ke Pekanbaru. Kepada anggota-anggota fisabilillah dan tentara Indonesia.
Dan di kampung ini hanya ada dua pucuk bedil. Satu pada Bilal, yaitu sebuah sten, kemudian sebuah lagi pada Badu. Yaitu sebuah jungle. Namun kini kedua bedil itu berada dirumah mereka. Dan kini Bilal, Badu dan si Bungsu terperangkap di Pasar Jumat tersebut.
Dengan perasaan tegang mereka menanti ketiga serdadu Belanda itu menggeledah mereka. Satu demi satu mereka diperiksa. Diraba pinggang celana dan kantong-kantong mereka.
“Apa yang mereka cari?” si Bungsu berbisik.
“Entahlah…!” jawab Bilal perlahan.
Dan akhirnya penggeledahan itu selesai. Tak seorangpun nampaknya yang dicari oleh tentara Belanda tersebut. Si Bungsu menarik nafas panjang.
Ketiga serdadu yang memeriksa itu berjalan ketempat Leutenat yang memimpin mereka. Melaporkan hasil pemeriksaan. Namun mata Leutenat itu menatap tepat-tepat pada Bilal. Bilal yang tahu bahwa dia sedang diperhatikan mencoba untuk tak acuh. Mencoba menatap ke bawah.
Si Bungsu juga melihat kelainan tatapan mata Leutenant tersebut. Dan tiba-tiba saja Leutenant itu melangkah mendekati mereka.
“Dia kemari…!” si Bungsu berbisik.
“Ya, mau apa dia?” balas Bilal sambil menoleh ke tempat lain acuh tak acuh. Padahal hatinya berdebar keras.
“Apakah bapak dia kenali?” Bungsu bertanya.
“Saya tak tahu….” Jawab Bilal.
Pembicaraan itu terhenti takkala tiba-tiba saja tangan Leutenant itu menjambak rambut Bilal. Menyentakkan ke atas sehingga kepalanya tertengadah.
Hampir saja Bilal menghantam kerampang Leutenant itu dengan lutut karena berangnya. Tapi untung dia dapat menahan emosi. Dia sadar, kalau berbuat yang tidak-tidak, banyak penduduk yang akan jadi korban sia-sia. Dia menahan amarahnya sambil mengikuti sentakan pada rambutnya hingga dia berdiri.
Mata Leutenant itu menatap wajahnya dengan teliti.
“Hei, bukankah ini orang yang lewat di Simpang Tiga beberapa bulan yang lalu?” Leutenant itu berseru pada anak buahnya.
Anak buahnya menatap pada si Bilal. Dan si Bilal segera ingat pada saat mereka diperiksa di penjagaan Simpang Tiga. Yaitu ketika dia dengan si Bungsu dan Suman. Disaat dimana dia diludahi oleh seorang tentara KNIL.
Lelaki yang lain pada berkuak.
Tentara Belanda ini sebenarnya datang ke Buluh Cina bukannya mencari Bilal atau si Bungsu. Peristiwa lenyapnya tentara Belanda dengan sebuah Jeep dan sebuah Power Wagon tiga bulan yang lalu tak ada sangkut pautnya dengan kedatangan mereka kini.
Mereka datang kemari dalam rangka memburu seorang pembunuh. Seorang lelaki pribumi telah membunuh seorang pedagang di teratak Buluh. Pedagang itu orang asli Teratak Buluh yang terletak tiga jam bermotor tempel di hulu Teratak Buluh.
Dan Belanda memburunya sampai kemari bukan tanpa alasan. Ada dua alasan kenapa tentara Belanda memburu pembunuh yang menghiliri sunagi Kampar itu. Pertama, pedagang yang dibunuh itu adalah mata-mata Belanda. Kedua memang menegakkan hukum dengan baik meski ditanah jajahannya.
Mereka menyangka bahwa pembunuh itu berada di Pasar Jumat ini. Makanya mereka menghentikan motor tempel mereka dihulu. Kemudian dengan jalan kaki mengepung Pasar jumat ini. Tapi Leutenant yang memimpin pemburuan itu ternyata mengenali Bilal.
Dan karena dia mengenal Bilal, dia segera ingat kembali akan lenyapnya teman-temannya tiga bulan yang lalu. Yaitu persis setelah lewatnya Bilal dengan kedua temannya di Simpang Tiga!
“Benar, dialah yang kita periksa dulu. Saya ingat benar, dia saya ludahi waktu dalam pos pemeriksaan…”
“Kalau begitu dia punya hubungan dengan lenyapnya teman-teman kita tigabulan yang lalu. Cari temannya yang lain!” perintah leutenant itu menggelegar. Si Bungsu kaget mendengar perintah itu. Dia ingin bertindak, namun tindakannya tinggal beberapa detik dari tindakan yang diambil oleh Bilal.
Bilal yang pesilat itu, merupakan salah seorang pejuang dari pasukan Fisabilillah, segera menyadari bahwa bahaya yang hebat mengancam mereka bila dia tertangkap. Makanya begitu leutenant itu memerintahkan untuk mencari temannya yang lain, yang tak lain dari si Bungsu dan Suman, Bilal segera bertindak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: