tikam samurai-bagian-134-135-136


 

Perkelahian dibahagian si Bilal ini berakhir beberapa detik setelah perkelahian dipihak si Bungsu berakhir.

tikam samurai

tikam samurai

Sebenarnya tak dapat disebut perkelahian. Sebab dalam suatu perkelahian senantiasa ada lawan ada yang melawan.Sedangkan dalam peristiwa di pendakian Pasir Putih ini keempat Belanda itu tak ada yang melawan. Katakanlah, mereka sebenarnya tak punya kesempatan untuk melawan sedikitpun. Kejadian ini tak pernah mereka duga. Terlalu cepat kejadiannya bagi mereka. Mereka semua menyangka yang mati tergolek di pendakian itu adalah serdadu KNIL yang tadi ikut dengan jeep itu mengantarkan dua perempuan yang telah mereka kerjakan di Perhentian Marpuyan. Tak tahunya dibalik pakaian loreng itu ternyata tubuh para ekstremis. Tubuh kaum perusuh dan pemberontak, menurut istilah mereka.Dan inilah jebakan yang diatur oleh si Bungsu itu. Yaitu jebakan yang tak mempergunakan peluru sebagai pengganti jebakan yang direncanakan oleh Bilal yang akan mencegat Belanda di pendakian ini dengan menghajar mereka memakai senjata 12,7.

Si Bungsu menerangkan rencananya itu sambil membukai pakaian KNIL yang tergolek di bak belakang jeep. Kemudian memakainya. Pejuang-pejuang Indonesia lainnya jadi mengerti. Dan yang berminat ikut bersama si Bungsu untuk pura-pura jadi mayat adalah Bilal.
Dia disebut dengan panggilan Bilal adalah karena sehari-harinya di Buluh Cina tugasnya adalah memang jadi Muazin dan imam di Mesjid.
Nama aslinya jarang orang yang tahu. Sebab sejak kecil, sejak pandai mengaji, dia telah jadi muazin dikampungnya. Dan nama Bilal melekat pada dirinya.
Dia memang pesilat yang tangguh. Di Buluh Cina ada puluhan muridnya yang menjadi pendekar yang disegani orang. Dan si Bungsu menyetujui pendakian Pasir Putih itu sebagai tempat memasang jebakan.
Pendakian itu cukup tinggi. Di bawahnya mereka melalui sebuah sungai dangkal yang melintang di jalan. Dasar sungai itu berpasir sangat putih dan airnya sangat jernih. Dikiri kanannya terdapat tebing yang berhutan dan bersemak lebat.
“Kita turun disini, dan antarkan jeep ini kebalik pendakian” si Bungsu berkata sambil melompat turun. Bilal dan kedua pejuang lainnya juga menghambur turun. Jeep itu terus ke puncak pendakian. Kemudian lenyap dari pandangan.
Tak lama kemudian sopirnya muncul. Si Bungsu dengan cepat menyuruh pejuang itu bersembunyi ditebing kiri dan kanan tebing tersebut.
“Engkau menunggu di jeep….” Dia berkata pada Suman. Suman jadi kaget.
“Kenapa harus disana?”
“Rencana ini belum tentu berhasil seluruhnya. Kalau kami gagal, maka engkau menjadi harapan terakhir untuk menyudahi mereka dengan mitraliyur itu..”
“Tapi,,,”
“Mereka bukan orang bodoh Suman. Mungkin saja kami segera mereka kenali. Nah, kalau hal itu terjadi, maka kami akan jadi korban sia-sia. Kalau mereka mengenali kami dan mereka justru tak berhenti, mereka tentu akan melindas tubuh kami dengan truk itu.
Yang bersembunyi ditebing itu takkan ada artinya. Nah, bila hal ini terjhadi. Maka komado kami serahkan padamu. Bila truk itu ternyata sampai ke puncak pendakian itu berarti aku dan Bilal sudah jadi mayat dilindasnya. Engkau sambut mereka dengan mitraliyurmu….”
Suman dan yang lainnya segera jadi mengerti. Tanpa banyak tanya lagi Suman yang sama-sama datang dari Pekanbaru itu segera berlari ke jeep dibalik pendakian itu.
Namun ternyata Belanda-Belanda itu memakan umpan yang dipasang si Bungsu. Mereka berhenti dan berniat mengangkat “mayat” teman-temannya. Dan disitulah kesahalan mereka.
Begitu keempat serdadu Belanda itu selesai dalam waktu yang tak sampai sepuluh hitungan, dari tebing yang berhutan dipinggir truk melompat kedua pejuang lainnya ke atas truk.
Dan sebelum para Belanda itu menyadari apa yang terjadi, mereka telah dimakan oleh tikaman pejuang-pejuang itu. Bilal sendiri segera melompat ke atas truk tersebut dan kaki serta tangannya bekerja pula.
Akan halnya si Bungsu segera berhadapan dengan Leutenant yang memimpin patroli itu. Leutenant itu bukan main marahnya mendapatkan kenyataan tersebut.
Dia mencabut pistolnya. Si Bungsu masih membiarkan. Samurainya yang berdarah sudah disisipkan kedalam sarungnya. Dan kini samurai itu dia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas.
Pistol Leutenat itu keluar dari sarungnya. Kemudian terangkat tinggi. Si Bungsu masih membiarkan. Jarak tegak mereka hanya dua depa.
Leutenat itu berteriak:
Godverdoom! Kubunuh kowe monyeeeet!!” dan telunjuknya menarik pelatuk pistol tersebut. Dan saat itulah si Bungsu bergerak. Tangan kanannya yang tergantung lemas bergerak seperti kilat. Mencabut samurai dan melangkah selangkah ke depan.
Kemudian samurainya menyilang dari kiri atas ke kenan bawah. Yang dia babat pertama adalah tangan kanan leutenat yang memegang pistol itu. Sedetik sebelum pistol meledak, tangan leutenant itu putus hingga sikunya.
Leutenant itu belum sempat memekik, sabetan samurai yang kedua menyusul pula. Membabat dadanya dari kiri mendatar ke kanan. Dadanya belah persis dipertengahan kantong. Ada beberapa lembar uang dan beberapa lembar foto cabul dalam kedua kantong baju leutenant itu dan semuanya terpotong dua bersama dadanya.
Dan leutenant itu memang tak pernah sempat menjerit diakhir hayatnya ini. Demikian cepatnya samurai si Bungsu.
Akan halnya di atas truk itu, perkelahian lebih banyak menguntungkan pihak pejuang.
Mereka memang pesilat-pesilat yang telah masak seperti halnya Bilal. Maka perkelahian dalam truk dengan jarak dekat itu memang merupakan makanan empuk bagi mereka. Sementara dipihak Belanda yang umumnya hanya mahir mempergunakan bedil panjang, dihadapkan pada situasi yang hampir-hampir bergumul ini jadi kalang kabut.
Maka tak heran beberapa orang lalu berusaha untuk terjun ke bawah agar bisa memanfaatkan bedil di tangan mereka.
Dan yang punya kesempatan untuk berbuat itu hanya Kopral yang jadi sopir.
Semula dia ingin terjun ke bawah dan naik ke bak belakang ikut dalam perkelahian itu. Tetapi otaknya memang cerdas. Dari pada susah-susah turun, bukankah lebih baik menembak dari sini, pikirnya.
Power wagon yang dipergunakan itu adalah truk perang yang terbuka. Di bahagian belakang ada kursi kayu yang dipakukan pada dinding kiri kanannya. Pada kursi kayu yang dicat hitam inilah Belanda itu duduk berbaris.
Sopir itu mengambiol stegunnya. Kemudian tegak ditempat duduk. Dan suatu saat stegunnya menyalak. Yang jadi korban adalah pejuang dari Marpuyan yang menyopiri jeep Belanda tersebut. Tengkuk dan kepalanya dimakan empat peluru.
Kontan tubuhnya tercampak ke bawah. Kemudian suara stennya berhenti. Dia menanti kesempatan lain untuk bisa menembak. Sebab dalam truk itu tengah terjadi pergumulan. Salah-salah dia bisa membunuh teman sendiri.
Kini Bilal tegak membelakanginya tanpa ada penghalang. Stegunnya terangkat.
Saat itu pula perkelahian antara si Bungsu dengan Leutenant itu berakhir. Dia mendengar suara stengun yang tadi menyudahi nyawa pejuang dari Marpuyan yang jadi sopir tadi.
Si Bungsu berbalik. Dan melihat sopir berpangkat itu membidikkan stennya. Dalam waktu yang sangat singkat, perkelahian dengan serdadu Jepang membayang dikepalanya.
Betapa suatu subuh dia dan Datuk Penghulu mencegat truk berisi tentara Jepang setelah kematian istri dan anak Datuk Penghulu. Keadaannya persis seperti sekarang.
Saat itu seorang perwira tengah membidikkan pistolnya dari tempat duduk depan ke arah tengkuk Datuk Penghulu yang berada di depan truk berkelahi dengan tentara Jepang.
Si Bungsu waktu itu berada dibelakang truk. Dan untuk menolong Datuk Penghulu, samurainya dia lemparkan dengan perhitungan yang cermat.
Samurai itu meluncur, menembus kaca pemisah antara ruang belakang dengan ruang depan truk. Kemudian menancap ditengkuk perwira Jepang itu.
Dan kini, di pendakian Pasir Putih menjelang Buluh Cina ini, tindakan itu pula lah yang diambil si Bungsu. Bedanya yang dulu dan yang sekarang adalah dalam soal letak. Dulu lawannya Jepang. Kini Belanda!
Dahulu dia berada di belakang. Kini di depan. Dahulu dia harus melemparkan samurainya dengan tenaga ganda. Sebab harus menembus kaca tebal pemisah ruang belakang dengan ruang depan. Kini hal itu tak perlu.
Sebab Kopral yang memakai sten ini berdiri. Dan sebahagian badanya ke atas terbuka pula melewati batas kaca power yang terbuka itu. Samurai si Bungsu meluncur seperti anak panah. Dan menancap dibawah belikat kiri Kopral itu!
Namun stennya meledak juga. Hanya yang kena bukanlah Bilal, tapi nyasar entah kemana. Tubuh kopral itu terjungkal dan mati.
Di bahagian belakang truk itu, ketiga pejuang tersebut telah membunuh dua serdadu Belanda. Berarti dengan yang dibunuh si Bungsu dan Bilal, ditambah dengan sopir power itu, mereka telah berhasil membunuh tujuh orang belanda tanpa sebutir pelurupun.
Dua orang lagi berhasil turun melompat dari truk. Mereka memburu ke depan. Dan didepan truk mereka menemui si Bungsu tanpa senjata.
“Anjing! Mati kowe!” bentak mereka sambil serentak menembak. Nyawa si Bungsu diujung tanduk. Dia tak bersamurai. Dan itu sama dengan bertelanjang. Satu-satunya harapan baginya adalah gerak “lompat tupai”!!
Dia bergulingan. Namun terlambat! Serentetan tembakan sten menghajar tubuhnya. Dia jatuh bergulingan ke tanah. Tapi bukan dengan jurus lompat tupai itu. Dia bergulingan karena dihantam peluru!
“Mati kowe!” kedua Belanda itu serentak berseru dan menembak lagi. Namun tembakannya terdengar kalah keras dengan tembakan yang tiba-tiba datang dari puncak pendakian!
Serentetan tembakan mitraliyur terdengar merobek rimba di Pasir Putih itu. Dan kedua tentara Belanda itu seperti dilanda Badai. Terdongak-dongak. Terpental-pental!
Di puncak pendakian berdiri Suman dengan 12,7 ditangannya! Dengan demikian sepuluh orang Belanda telah mati. Sisanya yang tiga orang tiba-tiba mengangkat tangan.
“Maaf, eh ampun tuan. Kami menyerah” seorang KNIL berkata dalam bahasa Indonesia. Sementara dua tentara Belanda aslinya lainnya tegak dengan menggigil.
Namun dari puncak pendakian 12,7 si Suman tak memberi keampunan. Mitraliyur menyalak lagi. Dan ketiga Belanda yang menyerah itu terpental-pental. Menjerit dan rubuh.
“Suman!!” Bilal berteriak.
Namun teriakannya percuma. Mitraliyur ditangan Suman menyalak lagi.
Menyikat ketiga tubuh tentara Belanda itu. Dia baru berhenti ketika merasa puas.
Kemudian mencampakkan 12,7 nya lalu berlari bersama yang lain ke tubuh si Bungsu.
Tiga peluru menghajar bahu, lengan dan perutnya. Nafasnya memburu. Darah membasahi tubuhnya.
“Bungsu…” teriak Suman tertahan.
Anak muda itu membuka mata. Merasakan linu dan sakit yang bukan main ditiga bahagian tubuhnya.
“Bagaimana yang lain?” tanyanya perlahan sekali.
“Kami selamat semua Bungsu….” Bilal menjawab.
Si Bungsu menelan ludah. Bibirnya pucat dan retak-retak.
“Kulihat Maarif kena tembak…” Si Bungsu menyanggah keterangan Bilal. Mereka jadi tertunduk.
“Bagaimana dia…?”
“Ya, dia meninggal…” Bilal berkata perlahan.
Si Bungsu menatap keliling. Menatap teman-temanya itu. Dia melihat wajah pejuang-pejuang yang tangguh. Yang rela berkorban untuk Negaranya. Dan tiba-tiba dia jadi terharu. Terharu karena tak bisa membantu mereka lebih banyak.
“Saya bangga, kalian pejuang yang militan. Sayang saya harus pergi jauh….sampai disini janjian saya…” katanya. Dan air mata meleleh disudut matanya.
Suman, Bilal dan seorang pejuang dari Marpuyan lainnya, yang bernama Liyas terdiam.
“Mari kita terus ke Buluh Cina….” Bilal berkata sambil mengangkat tubuh si Bungsu. Namun anak muda ini menggeleng.
“Pak…barangkali nyawa saya tak bisa bertahan ke kampung bapak. Jangan potong dulu pembicaraan saya. Kalau saya mati, ambil cincin ini, kirimkanlah ke Bukittinggi. Pada seorang gadis bernama Salma, katakan saya telah mati….hanya dia tempat saya berkabar berita. Tak ada yang lain. Semua keluarga saya telah punah. Dialah yang telah mengobati saya dari sakit, dari resah dan rindu..”
Dia terhenti. Nafasnya memburu. Dan dari mulutnya darah mengalir. Nampaknya dia memang tak lagi bisa tertolong. Ada bahagian dalam dari tubuhnya yang terkena parah. Hingga darah tak saja keluar lewat luka, tapi juga keluar lewat mulut.
“Saya sedih…karena dendam keluarga saya belum saya balaskan….sebelum saya mati!
“Saya rasa Liyas harus pulang ke Marpuyan. Pulang segera dengan jalan kaki. Sampaikan pada penduduk untuk siang ini juga menghilangkan jejak kedua mobil ini. Jangan ada Belanda yang tahu, bahwa kedua kendaraan ini telah kemari. Kalau mereka tahu, maka penduduk Marpuyan dan Buluh Cina akan mereka bunuh semua.
Pulanglah, dan hilangkan jejak mobil ini. Mungkin dihapus dengan menyapu pakai daun kelapa, atau dengan cangkul. Pokonya tak ada jejak dari Marpuyan sampai kemari.
Kalau Belanda datang bertanya ke Marpuyan katakan saja bahwa setelah mereka menurunkan gadis dan ibunya itu, mereka meneruskan perjalanan ke Taratak Buluh. Mungkin terus ke Teluk Kuantan. Katakan saja begitu….dan mayat-mayat yang ada ini, termasuk kendaraannya, menjadi tanggungjawab Suman dan Bilal untuk menghilangkannya..”
Dia terhenti lagi. Ketika akan bicara, dia muntah darah. Dan jatuh terkulai. Dengan terkejut Bilal mendengarkan detak dadanya. Kemudian membuka matanya yang terpejam. Teman-teman menanti dengan tegang.
“Dia masih bernyawa. Kita harus menyelamatkan nyawanya. Sekarang tugas kita bagi. Liyas pulanglah ke Marpuyan. Turutkan petunjuk si Bungsu tadi. Saya akan memakai jeep itu, semua senajata akan saya bawa ke Buluh Cina bersama si Bungsu. Jeep ini akan saya benamkan dalam batang Kampar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: