tikam samurai-bagian-131-132-133


Jeep itu makin mendekat. Dan seperti sudah diatur ketika tiba di dekat kedai dimana mereka minum  air kelapa mayat yang akan mereka angkat.muda Jeep itu makin mendekat. Dan seperti sudah diatur ketika tiba di dekat kedai dimana mereka minum air kelapa muda itu, jeep tersebut berhenti.
Si Bungsu dan kedua temannya segera mengenali dua diantara tentara KNIL itu adalah yang memeriksa mereka tadi. Dua orang lagi adalah serdadu KL. Belanda Asli. Jeep ini nampaknya memang jeep patroli.
Sebab dibahagian belakangnya, tegak sebuah mitraliyur ukuran 12,7 dengan moncong menghadap ke depan. Kedua serdadu KNIL itu melompat turun. Dengan sikap seperti ada peperangan dia mengacungkan bedilnya kearah pondok. Dengan matanya yang merah kedua mereka menatap isi pondok. Kemudian menyapu keadaan disekitarnya dengan tatapan menyelidik.
Dua orang tentara Belanda asli yang tadi masih duduk dibahagian depan lalu menyusul turun. Salah seorang tentara KNIL memerintahkan kedua perempuan yang ada diatas jeep itu untuk turun.
Dengan kepala menunduk karena malu, yang gadis lalu turun. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu basah. Demikian pula ibunya yang tua. Dan setiap lelaki yang ada di pondok itu dapat menduga bahwa gadis itu telah dinodai Belanda.

“Turun disini, dan awas kalau lain kali tidak memberikan keterangan yang benar…..” KNIL itu berkata dengan suara yang dibesar-besarkan. Semua yang ada dipondok hanya menatap dengan diam. Tak seorang pun yang bicara.
Tentara Belanda yang tadi memegang stir, dan berpangkat Sergeant melangkah mendekati kedai. Masuk dan berdiri dekat si Bungsu.
“Apakah kalian ada mendengar para ekstremis lewat disini?” dia bertanya dengan suara yang dibuat agak ramah.
“Ada….!” Salah seorang diantara yang hadir dalam kedai itu menjawab pasti. Isi kedai itu hanya tujuh orang. Tiga diantaranya adalah si Bungsu dan teman-temannya. Yang satu pemilik kedai. Dua lagi adalah penduduk. Dan kedua penduduk ini memang benar-benar pejuang bawah tanah. Hanya saja tak seorangpun mengetahui bahwa mereka pejuang. Termasuk pemilik kedai itu!
Kini terdengar bahwa ada orang yang menjawab bahwa ada ekstremis atau pemberontak Indonesia lewat dekat situ, kedua pejuang ini jadi tegang. Semua mereka menatap pada orang yang menjawab pertanyaan serdadu KL itu.
Dan orang yang menjawab itu adalah si Bungsu!
Semua mereka jadi heran, sebab anak muda ini tak pernah mereka kenal sebelumnya. Dan kedua teman si Bungsu, anggota-anggota fisabilillah itu juga merasa kaget mendengar jawaban si Bungsu.
“Bila mereka lewat, dan apakah anda kenal dimana markasnya?” tentara Belanda itu mendesak.
“Ya saya kenal semuanya. Mereka ini justru tengah menyusun suatu rencana penyerangan ke Simpang Tiga. Mereka..” si Bungsu berhenti bicara. Matanya memandang kepada para lelaki yang ada dalam lepau itu. Yang juga tengah menatapnya dengan mata tak berkedip.
Si Bungsu tegak.
“Ikut saya, saya akan sampaikan dimana mereka…” katanya sambil melangkah keluar. Sergeant itu segera jadi maklum, bahwa lelaki ini pastilah tak mau laporannya didengar oleh orang dalam kedai tersebut. Karenanya dia lalu menurut.
Si Bungsu berhenti, kemudian menoleh pada kedua temannya tadi. Memberi isyarat dengan mata, lalu berkata:
“Hei, mari kita tunjukkan saja tempat pejuang-pejuang itu!” Kedua temannya anggota fisabilillah itu jadi maklum. Dan kedua mereka memberi isyarat pula pada dua orang pejuang dari Marpuyan itu dengan isyarat mata.
Sergeant itu menuruti langkah si Bungsu dari belakang. Namun gerakan si Bungsu berikutnya tak terikutkan oleh tentara Belanda itu. Sambil tetap berjalan perlahan, si Bungsu menghunus samurainya. Dan begitu ia berbalik, samurainya membabat perut tentara KL itu. Tentara itu mengeluh. Perutnya belah dua.
Keluhannya terdengar oleh ketiga temannya yang lain. Mereka menoleh, dan melihat temannya rubuh dengan perut berlumuran darah. Ketiganya mengangkat bedil. Namun saat itu pula ketiga pejuang yang lain menghambur. Ketiga bedil tentara Belanda itu tak dapat meletus. Sebab tiba-tiba saja tiga pisau telah menancap dipunggung mereka,.
Bedil mereka terlepas dan berusaha untuk memegang punggung yang tertikam dan sakitnya bukan main itu.
Namun beberapa tikaman lagi, ketiga Belanda itu matilah sudah. Keajadian itu teramat cepatnya. Sejak jeep berloreng-loreng itu berhenti, sampai dengan matinya keempat Belanda itu, tak sampai dua menit!
Bahkan kedua perempuan yang mereka turunkan itu, masih belum meninggalkan jeep tersebut. Dan kini kini mereka tertegun. Belanda itu sudah mati. Tapi apa yang akan diperbuat selanjutnya?
Mereka jadi pucat sendiri. Pemilik kedai wajahnya pucat bukan main. Mereka memang benci pada Belanda. Tapi ketakutan setelah pembunuhan ini juga besar. Mereka takut pada pembalasan Belanda!
“Naikkan mereka ke atas jeep……” si Bungsu berkata sambil memandang ke arah Simpang Tiga. Dari jauh kelihatan debu mengepul. Yang datang itu pastilah sebuah mobil. Hanya tak diketahui apakah kendaraan itu kendaraan militer atau kendaraan sipil.
Namun kendaraan apapun yang datang itu, apakah militer atau sipil keduanya sama-sama berbahaya bagi mereka. Bila kejadian ini diketahui Belanda maka pembalasan yang mengerikan akan menimpa penduduk Marpuyan.
“Itu power tentara Belanda!” Suman yang anggota fisabilillah, yang datang bersama si Bungsu dari Pekanbaru berkata. Mereka bergegas menaikkan mayat-mayat itu ke atas jeep. Menggulingkan di bak belakang.
Suara power yang merupakan sejenis truk perang itu makin menakutkan.
“Siapa yang menyetir mobil?” tanya si Bungsu. Kedua temannya yang dari Pekanbaru menggeleng.
“Maarif…kau saja…!” Pemilik kedai bicara pada salah seorang pejuang dari perhentian Marpuyan yang tadi ikut menikam Belanda.
“Dia biasa membawa truk!” pemilik kedai itu berkata cepat. Pejuang bawah tanah yang bernama Maarif itu tak banyak cakap. Dia melompat ke balik stir. Kemudian menghidupkan mesin. Si Bungsu dan kedua temannya melompat pula ke bak belakang. Demikian pula pejuang yang satu lagi, yaitu temannya si Maarif.
“Kemana kita?” Maarif berkata sambil menjalankan jeep.
“Arahkan ke Buluh Cina…” tanpa sadar sepenuhnya si Bungsu berkata.
Jeep itu segera membelok ke kiri. Meninggalkan pemilik kedai dan kedua perempuan itu tegak di pinggir jalan.
“Katakan kepada mereka, teman mereka mengejar pejuang….!” Si Bungsu berteriak pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai hanya sempat mengangguk.
Hanya selang tiga menit, power wagon yang berisi selusin KNIL dan KL sampai pula disana.
“Hmm, sudah sampai kalian dikampung he..?” seorang Leutenant bertanya pada gadis yang baru turun itu. Yang masih saja tegak dipinggir jalan.
Gadis cantik itu hanya menunduk. Matanya membersitkan kebencian. Dan Leutenant itu nyengir. Pemilik kedai tegak dengan tegang. Sebab semakin lama tentara Belanda ini berhenti didepan kedainya, bisa bocor pembunuhan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Kalau saja ada diantar mereka yang bermata tajam, maka mereka akan melihat bercak-bercak darah pada kerikil di jalanan. Tapi untunglah hal itu tak kejadian. Sehabis nyengir pada gadis cantik yang telah mereka nodai itu, si Leutenant bertanya pada pemilik lepau dengan berteriak:
“He pak tua, mau kemana Sergeant Rudolf dengan jeepnya itu?”
“Mengejar pejuang yang baru saja lewat disini…”
“Pejuang yang lewat”
“Ya. Ada tiga orang…!”
Para tentara Belanda di atas power itu saling pandang.
Godverdome! Ayo kejar…!!”perintah leutenant itu mengguntur. Dan power wagon itu segera meraung-raung ke kiri dan melaju ke arah Buluh Cina.
“Semoga kalian mampus semua…!”gadis cantik yang dinodai Belanda itu menyumpah.
Di atas jeep yang dikemudikan oleh pejuang dari perhentian Marpuyan itu tengah terjadi perundingan.
“Kita cegat mereka di pendakian Pasir Putih…!” kata anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina dan bernama Bilal. Pejuang ini adalah teman si Bungsu dari Pekanbaru yang kena tampar KNIL di Simpang Tiga tadi.
“Kita tembak mereka dengan senapan mereka sendiri?” temannya yang bernama Suman bertanya.
“Ya, agar mereka rasakan betapa senjata makan tuan…” jawab Bilal.
“Bagaimana, kita cegat mereka dimana?” Bilal bertanya pada si Bungsu.
Si Bungsu menatap pada mitraliyur 12,7 yang tegak di bak belakang jeep. Melihat pelurunya yang berantai panjang.
“Apakah kalian mempunyai cukup peluru untuk berperang?” si Bungsu balik bertanya. Para pejuang itu saling bertukar pandang.
“Tak begitu banyak…” Bilal menjawab jujur.
“Kalau begitu kita hajar mereka tanpa buang peluru…..” si Bungsu berkata pasti.
“Bagaimana caranya?”
Dan cara mencegat tanpa menghamburkan peluru itu diatur oleh si Bungsu.
Sementara itu, power wagon yang memuat selusin serdadu Belanda itu meraung-raung membelah jalan kecil menuju ke Buluh Cina itu. Tiba-tiba di depan mereka, ditengah pendakian, mereka melihat dua orang sosok tubuh tentara Belanda. Sebab pakaian loreng yang mereka pakai menununjukkan hal itu.
Tubuh itu makin didekati makin nyata berlumuran darah.
“Jahanam! Berhenti. Mereka ternyata telah membunuh serdadu kita….” Leutenant yang memimpin patroli itu menyumpah. Dia segera mengenali bawahannya itu sebagai serdadu KNIL yang ikut dengan sersan di Jeep tersebut. Kulit mereka yang hitam membuktikan bahwa mereka adalah tentara KNIL.
Power itu segera dihentikan persis ditengah-tengah pendakian didekat tubuh kedua serdadu KNIL tersebut. Leutenant itu kemudian melompat turun.
“Ayo. Tolong angkat!” serunya.
Empat orang tentara Belanda lainnya berlompatan turun. Kemudian mengangkat tubuh teman mereka itu. Namun begitu mereka menyentuh tubuh yang tertelungkup itu, tiba-tiba saja kedua “mayat” tersebut melonjak.
Yang pertama menjadi korban adalah seorang Kopral. Tubuh yang akan diangkat membalik. Dan sebilah samurai menghajar dadanya. Kontan dadanya belah. Temannya seorang soldaat tertegun, dan saat itulah dadanya juga ditembus samurai.
Dalam waktu hanya beberapa detik, keduanya rubuh dimakan samurai “mayat” yang akan mereka angkat.
“Mayat” yang satu lagi, yang ternyata adalah si Bilal, anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina itu juga beraksi.
Dia adalah seorang pesilat aliran Pangian yang tangguh. Begitu dia merasakan tangan menjamah tubuhnya, dia segera menelentang. Dan kakinya menghujam keatas. Tumitnya mendarat persis di kerampang sergeant yang tadi akan mengangkatnya.
Demikian kuatnya tendangan itu. Hingga tubuh sergaent itu terangkat sehasta dari tempatnya berpijak. Kemudian terguling. Sergeant ini tak sempat menjerit. Hanya wajahnya yang menjadi kelabu tiba-tiba. Gelandutnya pecah dan nyawanya melayang saat itu.
Saat berikutnya, tubuh Bilal ini melentik dengan manis lalu berdiri. Dan tendangannya kemudian menghajar seorang soldaat teman si sergeant yang berniat mengangkat tubuhnya tadi.
Tendangan itu agak meleset. Sebab si soldaat sempat mundur selangkah.
Bilal memburu. Dan kali ini dua buah jari tangan kanannya meluncur kedepan seperti kecepatan seekor ular yang marah.
Dan soldaat itu tak sempat mengelak lagi. Jurus tusukan dari silat Pangian itu menghujam kedua matanya. Dan seiring dengan pekik kesakitan, kedua matanya terlompat keluar dimakan jari-jari Bilal.Jeep itu makin mendekat. Dan seperti sudah diatur ketika tiba di dekat kedai dimana mereka minum air kelapa muda itu, jeep tersebut berhenti.
Si Bungsu dan kedua temannya segera mengenali dua diantara tentara KNIL itu adalah yang memeriksa mereka tadi. Dua orang lagi adalah serdadu KL. Belanda Asli. Jeep ini nampaknya memang jeep patroli.
Sebab dibahagian belakangnya, tegak sebuah mitraliyur ukuran 12,7 dengan moncong menghadap ke depan. Kedua serdadu KNIL itu melompat turun. Dengan sikap seperti ada peperangan dia mengacungkan bedilnya kearah pondok. Dengan matanya yang merah kedua mereka menatap isi pondok. Kemudian menyapu keadaan disekitarnya dengan tatapan menyelidik.
Dua orang tentara Belanda asli yang tadi masih duduk dibahagian depan lalu menyusul turun. Salah seorang tentara KNIL memerintahkan kedua perempuan yang ada diatas jeep itu untuk turun.
Dengan kepala menunduk karena malu, yang gadis lalu turun. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu basah. Demikian pula ibunya yang tua. Dan setiap lelaki yang ada di pondok itu dapat menduga bahwa gadis itu telah dinodai Belanda.
“Turun disini, dan awas kalau lain kali tidak memberikan keterangan yang benar…..” KNIL itu berkata dengan suara yang dibesar-besarkan. Semua yang ada dipondok hanya menatap dengan diam. Tak seorang pun yang bicara.
Tentara Belanda yang tadi memegang stir, dan berpangkat Sergeant melangkah mendekati kedai. Masuk dan berdiri dekat si Bungsu.
“Apakah kalian ada mendengar para ekstremis lewat disini?” dia bertanya dengan suara yang dibuat agak ramah.
“Ada….!” Salah seorang diantara yang hadir dalam kedai itu menjawab pasti. Isi kedai itu hanya tujuh orang. Tiga diantaranya adalah si Bungsu dan teman-temannya. Yang satu pemilik kedai. Dua lagi adalah penduduk. Dan kedua penduduk ini memang benar-benar pejuang bawah tanah. Hanya saja tak seorangpun mengetahui bahwa mereka pejuang. Termasuk pemilik kedai itu!
Kini terdengar bahwa ada orang yang menjawab bahwa ada ekstremis atau pemberontak Indonesia lewat dekat situ, kedua pejuang ini jadi tegang. Semua mereka menatap pada orang yang menjawab pertanyaan serdadu KL itu.
Dan orang yang menjawab itu adalah si Bungsu!
Semua mereka jadi heran, sebab anak muda ini tak pernah mereka kenal sebelumnya. Dan kedua teman si Bungsu, anggota-anggota fisabilillah itu juga merasa kaget mendengar jawaban si Bungsu.
“Bila mereka lewat, dan apakah anda kenal dimana markasnya?” tentara Belanda itu mendesak.
“Ya saya kenal semuanya. Mereka ini justru tengah menyusun suatu rencana penyerangan ke Simpang Tiga. Mereka..” si Bungsu berhenti bicara. Matanya memandang kepada para lelaki yang ada dalam lepau itu. Yang juga tengah menatapnya dengan mata tak berkedip.
Si Bungsu tegak.
“Ikut saya, saya akan sampaikan dimana mereka…” katanya sambil melangkah keluar. Sergeant itu segera jadi maklum, bahwa lelaki ini pastilah tak mau laporannya didengar oleh orang dalam kedai tersebut. Karenanya dia lalu menurut.
Si Bungsu berhenti, kemudian menoleh pada kedua temannya tadi. Memberi isyarat dengan mata, lalu berkata:
“Hei, mari kita tunjukkan saja tempat pejuang-pejuang itu!” Kedua temannya anggota fisabilillah itu jadi maklum. Dan kedua mereka memberi isyarat pula pada dua orang pejuang dari Marpuyan itu dengan isyarat mata.
Sergeant itu menuruti langkah si Bungsu dari belakang. Namun gerakan si Bungsu berikutnya tak terikutkan oleh tentara Belanda itu. Sambil tetap berjalan perlahan, si Bungsu menghunus samurainya. Dan begitu ia berbalik, samurainya membabat perut tentara KL itu. Tentara itu mengeluh. Perutnya belah dua.
Keluhannya terdengar oleh ketiga temannya yang lain. Mereka menoleh, dan melihat temannya rubuh dengan perut berlumuran darah. Ketiganya mengangkat bedil. Namun saat itu pula ketiga pejuang yang lain menghambur. Ketiga bedil tentara Belanda itu tak dapat meletus. Sebab tiba-tiba saja tiga pisau telah menancap dipunggung mereka,.
Bedil mereka terlepas dan berusaha untuk memegang punggung yang tertikam dan sakitnya bukan main itu.
Namun beberapa tikaman lagi, ketiga Belanda itu matilah sudah. Keajadian itu teramat cepatnya. Sejak jeep berloreng-loreng itu berhenti, sampai dengan matinya keempat Belanda itu, tak sampai dua menit!
Bahkan kedua perempuan yang mereka turunkan itu, masih belum meninggalkan jeep tersebut. Dan kini kini mereka tertegun. Belanda itu sudah mati. Tapi apa yang akan diperbuat selanjutnya?
Mereka jadi pucat sendiri. Pemilik kedai wajahnya pucat bukan main. Mereka memang benci pada Belanda. Tapi ketakutan setelah pembunuhan ini juga besar. Mereka takut pada pembalasan Belanda!
“Naikkan mereka ke atas jeep……” si Bungsu berkata sambil memandang ke arah Simpang Tiga. Dari jauh kelihatan debu mengepul. Yang datang itu pastilah sebuah mobil. Hanya tak diketahui apakah kendaraan itu kendaraan militer atau kendaraan sipil.
Namun kendaraan apapun yang datang itu, apakah militer atau sipil keduanya sama-sama berbahaya bagi mereka. Bila kejadian ini diketahui Belanda maka pembalasan yang mengerikan akan menimpa penduduk Marpuyan.
“Itu power tentara Belanda!” Suman yang anggota fisabilillah, yang datang bersama si Bungsu dari Pekanbaru berkata. Mereka bergegas menaikkan mayat-mayat itu ke atas jeep. Menggulingkan di bak belakang.
Suara power yang merupakan sejenis truk perang itu makin menakutkan.
“Siapa yang menyetir mobil?” tanya si Bungsu. Kedua temannya yang dari Pekanbaru menggeleng.
“Maarif…kau saja…!” Pemilik kedai bicara pada salah seorang pejuang dari perhentian Marpuyan yang tadi ikut menikam Belanda.
“Dia biasa membawa truk!” pemilik kedai itu berkata cepat. Pejuang bawah tanah yang bernama Maarif itu tak banyak cakap. Dia melompat ke balik stir. Kemudian menghidupkan mesin. Si Bungsu dan kedua temannya melompat pula ke bak belakang. Demikian pula pejuang yang satu lagi, yaitu temannya si Maarif.
“Kemana kita?” Maarif berkata sambil menjalankan jeep.
“Arahkan ke Buluh Cina…” tanpa sadar sepenuhnya si Bungsu berkata.
Jeep itu segera membelok ke kiri. Meninggalkan pemilik kedai dan kedua perempuan itu tegak di pinggir jalan.
“Katakan kepada mereka, teman mereka mengejar pejuang….!” Si Bungsu berteriak pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai hanya sempat mengangguk.
Hanya selang tiga menit, power wagon yang berisi selusin KNIL dan KL sampai pula disana.
“Hmm, sudah sampai kalian dikampung he..?” seorang Leutenant bertanya pada gadis yang baru turun itu. Yang masih saja tegak dipinggir jalan.
Gadis cantik itu hanya menunduk. Matanya membersitkan kebencian. Dan Leutenant itu nyengir. Pemilik kedai tegak dengan tegang. Sebab semakin lama tentara Belanda ini berhenti didepan kedainya, bisa bocor pembunuhan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Kalau saja ada diantar mereka yang bermata tajam, maka mereka akan melihat bercak-bercak darah pada kerikil di jalanan. Tapi untunglah hal itu tak kejadian. Sehabis nyengir pada gadis cantik yang telah mereka nodai itu, si Leutenant bertanya pada pemilik lepau dengan berteriak:
“He pak tua, mau kemana Sergeant Rudolf dengan jeepnya itu?”
“Mengejar pejuang yang baru saja lewat disini…”
“Pejuang yang lewat”
“Ya. Ada tiga orang…!”
Para tentara Belanda di atas power itu saling pandang.
“Godverdome! Ayo kejar…!!”perintah leutenant itu mengguntur. Dan power wagon itu segera meraung-raung ke kiri dan melaju ke arah Buluh Cina.
“Semoga kalian mampus semua…!”gadis cantik yang dinodai Belanda itu menyumpah.
Di atas jeep yang dikemudikan oleh pejuang dari perhentian Marpuyan itu tengah terjadi perundingan.
“Kita cegat mereka di pendakian Pasir Putih…!” kata anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina dan bernama Bilal. Pejuang ini adalah teman si Bungsu dari Pekanbaru yang kena tampar KNIL di Simpang Tiga tadi.
“Kita tembak mereka dengan senapan mereka sendiri?” temannya yang bernama Suman bertanya.
“Ya, agar mereka rasakan betapa senjata makan tuan…” jawab Bilal.
“Bagaimana, kita cegat mereka dimana?” Bilal bertanya pada si Bungsu.
Si Bungsu menatap pada mitraliyur 12,7 yang tegak di bak belakang jeep. Melihat pelurunya yang berantai panjang.
“Apakah kalian mempunyai cukup peluru untuk berperang?” si Bungsu balik bertanya. Para pejuang itu saling bertukar pandang.
“Tak begitu banyak…” Bilal menjawab jujur.
“Kalau begitu kita hajar mereka tanpa buang peluru…..” si Bungsu berkata pasti.
“Bagaimana caranya?”
Dan cara mencegat tanpa menghamburkan peluru itu diatur oleh si Bungsu.
Sementara itu, power wagon yang memuat selusin serdadu Belanda itu meraung-raung membelah jalan kecil menuju ke Buluh Cina itu. Tiba-tiba di depan mereka, ditengah pendakian, mereka melihat dua orang sosok tubuh tentara Belanda. Sebab pakaian loreng yang mereka pakai menununjukkan hal itu.
Tubuh itu makin didekati makin nyata berlumuran darah.
“Jahanam! Berhenti. Mereka ternyata telah membunuh serdadu kita….” Leutenant yang memimpin patroli itu menyumpah. Dia segera mengenali bawahannya itu sebagai serdadu KNIL yang ikut dengan sersan di Jeep tersebut. Kulit mereka yang hitam membuktikan bahwa mereka adalah tentara KNIL.
Power itu segera dihentikan persis ditengah-tengah pendakian didekat tubuh kedua serdadu KNIL tersebut. Leutenant itu kemudian melompat turun.
“Ayo. Tolong angkat!” serunya.
Empat orang tentara Belanda lainnya berlompatan turun. Kemudian mengangkat tubuh teman mereka itu. Namun begitu mereka menyentuh tubuh yang tertelungkup itu, tiba-tiba saja kedua “mayat” tersebut melonjak.
Yang pertama menjadi korban adalah seorang Kopral. Tubuh yang akan diangkat membalik. Dan sebilah samurai menghajar dadanya. Kontan dadanya belah. Temannya seorang soldaat tertegun, dan saat itulah dadanya juga ditembus samurai.
Dalam waktu hanya beberapa detik, keduanya rubuh dimakan samurai “mayat” yang akan mereka angkat.
“Mayat” yang satu lagi, yang ternyata adalah si Bilal, anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina itu juga beraksi.
Dia adalah seorang pesilat aliran Pangian yang tangguh. Begitu dia merasakan tangan menjamah tubuhnya, dia segera menelentang. Dan kakinya menghujam keatas. Tumitnya mendarat persis di kerampang sergeant yang tadi akan mengangkatnya.
Demikian kuatnya tendangan itu. Hingga tubuh sergaent itu terangkat sehasta dari tempatnya berpijak. Kemudian terguling. Sergeant ini tak sempat menjerit. Hanya wajahnya yang menjadi kelabu tiba-tiba. Gelandutnya pecah dan nyawanya melayang saat itu.
Saat berikutnya, tubuh Bilal ini melentik dengan manis lalu berdiri. Dan tendangannya kemudian menghajar seorang soldaat teman si sergeant yang berniat mengangkat tubuhnya tadi.
Tendangan itu agak meleset. Sebab si soldaat sempat mundur selangkah.
Bilal memburu. Dan kali ini dua buah jari tangan kanannya meluncur kedepan seperti kecepatan seekor ular yang marah.
Dan soldaat itu tak sempat mengelak lagi. Jurus tusukan dari silat Pangian itu menghujam kedua matanya. Dan seiring dengan pekik kesakitan, kedua matanya terlompat keluar dimakan jari-jari Bilal.itu, jeep tersebut berhenti.
Si Bungsu dan kedua temannya segera mengenali dua diantara tentara KNIL itu adalah yang memeriksa mereka tadi. Dua orang lagi adalah serdadu KL. Belanda Asli. Jeep ini nampaknya memang jeep patroli.
Sebab dibahagian belakangnya, tegak sebuah mitraliyur ukuran 12,7 dengan moncong menghadap ke depan. Kedua serdadu KNIL itu melompat turun. Dengan sikap seperti ada peperangan dia mengacungkan bedilnya kearah pondok. Dengan matanya yang merah kedua mereka menatap isi pondok. Kemudian menyapu keadaan disekitarnya dengan tatapan menyelidik.
Dua orang tentara Belanda asli yang tadi masih duduk dibahagian depan lalu menyusul turun. Salah seorang tentara KNIL memerintahkan kedua perempuan yang ada diatas jeep itu untuk turun.
Dengan kepala menunduk karena malu, yang gadis lalu turun. Si Bungsu melihat betapa mata gadis itu basah. Demikian pula ibunya yang tua. Dan setiap lelaki yang ada di pondok itu dapat menduga bahwa gadis itu telah dinodai Belanda.
“Turun disini, dan awas kalau lain kali tidak memberikan keterangan yang benar…..” KNIL itu berkata dengan suara yang dibesar-besarkan. Semua yang ada dipondok hanya menatap dengan diam. Tak seorang pun yang bicara.
Tentara Belanda yang tadi memegang stir, dan berpangkat Sergeant melangkah mendekati kedai. Masuk dan berdiri dekat si Bungsu.
“Apakah kalian ada mendengar para ekstremis lewat disini?” dia bertanya dengan suara yang dibuat agak ramah.
“Ada….!” Salah seorang diantara yang hadir dalam kedai itu menjawab pasti. Isi kedai itu hanya tujuh orang. Tiga diantaranya adalah si Bungsu dan teman-temannya. Yang satu pemilik kedai. Dua lagi adalah penduduk. Dan kedua penduduk ini memang benar-benar pejuang bawah tanah. Hanya saja tak seorangpun mengetahui bahwa mereka pejuang. Termasuk pemilik kedai itu!
Kini terdengar bahwa ada orang yang menjawab bahwa ada ekstremis atau pemberontak Indonesia lewat dekat situ, kedua pejuang ini jadi tegang. Semua mereka menatap pada orang yang menjawab pertanyaan serdadu KL itu.
Dan orang yang menjawab itu adalah si Bungsu!
Semua mereka jadi heran, sebab anak muda ini tak pernah mereka kenal sebelumnya. Dan kedua teman si Bungsu, anggota-anggota fisabilillah itu juga merasa kaget mendengar jawaban si Bungsu.
“Bila mereka lewat, dan apakah anda kenal dimana markasnya?” tentara Belanda itu mendesak.
“Ya saya kenal semuanya. Mereka ini justru tengah menyusun suatu rencana penyerangan ke Simpang Tiga. Mereka..” si Bungsu berhenti bicara. Matanya memandang kepada para lelaki yang ada dalam lepau itu. Yang juga tengah menatapnya dengan mata tak berkedip.
Si Bungsu tegak.
“Ikut saya, saya akan sampaikan dimana mereka…” katanya sambil melangkah keluar. Sergeant itu segera jadi maklum, bahwa lelaki ini pastilah tak mau laporannya didengar oleh orang dalam kedai tersebut. Karenanya dia lalu menurut.
Si Bungsu berhenti, kemudian menoleh pada kedua temannya tadi. Memberi isyarat dengan mata, lalu berkata:
“Hei, mari kita tunjukkan saja tempat pejuang-pejuang itu!” Kedua temannya anggota fisabilillah itu jadi maklum. Dan kedua mereka memberi isyarat pula pada dua orang pejuang dari Marpuyan itu dengan isyarat mata.
Sergeant itu menuruti langkah si Bungsu dari belakang. Namun gerakan si Bungsu berikutnya tak terikutkan oleh tentara Belanda itu. Sambil tetap berjalan perlahan, si Bungsu menghunus samurainya. Dan begitu ia berbalik, samurainya membabat perut tentara KL itu. Tentara itu mengeluh. Perutnya belah dua.
Keluhannya terdengar oleh ketiga temannya yang lain. Mereka menoleh, dan melihat temannya rubuh dengan perut berlumuran darah. Ketiganya mengangkat bedil. Namun saat itu pula ketiga pejuang yang lain menghambur. Ketiga bedil tentara Belanda itu tak dapat meletus. Sebab tiba-tiba saja tiga pisau telah menancap dipunggung mereka,.
Bedil mereka terlepas dan berusaha untuk memegang punggung yang tertikam dan sakitnya bukan main itu.
Namun beberapa tikaman lagi, ketiga Belanda itu matilah sudah. Keajadian itu teramat cepatnya. Sejak jeep berloreng-loreng itu berhenti, sampai dengan matinya keempat Belanda itu, tak sampai dua menit!
Bahkan kedua perempuan yang mereka turunkan itu, masih belum meninggalkan jeep tersebut. Dan kini kini mereka tertegun. Belanda itu sudah mati. Tapi apa yang akan diperbuat selanjutnya?
Mereka jadi pucat sendiri. Pemilik kedai wajahnya pucat bukan main. Mereka memang benci pada Belanda. Tapi ketakutan setelah pembunuhan ini juga besar. Mereka takut pada pembalasan Belanda!
“Naikkan mereka ke atas jeep……” si Bungsu berkata sambil memandang ke arah Simpang Tiga. Dari jauh kelihatan debu mengepul. Yang datang itu pastilah sebuah mobil. Hanya tak diketahui apakah kendaraan itu kendaraan militer atau kendaraan sipil.
Namun kendaraan apapun yang datang itu, apakah militer atau sipil keduanya sama-sama berbahaya bagi mereka. Bila kejadian ini diketahui Belanda maka pembalasan yang mengerikan akan menimpa penduduk Marpuyan.
“Itu power tentara Belanda!” Suman yang anggota fisabilillah, yang datang bersama si Bungsu dari Pekanbaru berkata. Mereka bergegas menaikkan mayat-mayat itu ke atas jeep. Menggulingkan di bak belakang.
Suara power yang merupakan sejenis truk perang itu makin menakutkan.
“Siapa yang menyetir mobil?” tanya si Bungsu. Kedua temannya yang dari Pekanbaru menggeleng.
“Maarif…kau saja…!” Pemilik kedai bicara pada salah seorang pejuang dari perhentian Marpuyan yang tadi ikut menikam Belanda.
“Dia biasa membawa truk!” pemilik kedai itu berkata cepat. Pejuang bawah tanah yang bernama Maarif itu tak banyak cakap. Dia melompat ke balik stir. Kemudian menghidupkan mesin. Si Bungsu dan kedua temannya melompat pula ke bak belakang. Demikian pula pejuang yang satu lagi, yaitu temannya si Maarif.
“Kemana kita?” Maarif berkata sambil menjalankan jeep.
“Arahkan ke Buluh Cina…” tanpa sadar sepenuhnya si Bungsu berkata.
Jeep itu segera membelok ke kiri. Meninggalkan pemilik kedai dan kedua perempuan itu tegak di pinggir jalan.
“Katakan kepada mereka, teman mereka mengejar pejuang….!” Si Bungsu berteriak pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai hanya sempat mengangguk.
Hanya selang tiga menit, power wagon yang berisi selusin KNIL dan KL sampai pula disana.
“Hmm, sudah sampai kalian dikampung he..?” seorang Leutenant bertanya pada gadis yang baru turun itu. Yang masih saja tegak dipinggir jalan.
Gadis cantik itu hanya menunduk. Matanya membersitkan kebencian. Dan Leutenant itu nyengir. Pemilik kedai tegak dengan tegang. Sebab semakin lama tentara Belanda ini berhenti didepan kedainya, bisa bocor pembunuhan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Kalau saja ada diantar mereka yang bermata tajam, maka mereka akan melihat bercak-bercak darah pada kerikil di jalanan. Tapi untunglah hal itu tak kejadian. Sehabis nyengir pada gadis cantik yang telah mereka nodai itu, si Leutenant bertanya pada pemilik lepau dengan berteriak:
“He pak tua, mau kemana Sergeant Rudolf dengan jeepnya itu?”
“Mengejar pejuang yang baru saja lewat disini…”
“Pejuang yang lewat”
“Ya. Ada tiga orang…!”
Para tentara Belanda di atas power itu saling pandang.
“Godverdome! Ayo kejar…!!”perintah leutenant itu mengguntur. Dan power wagon itu segera meraung-raung ke kiri dan melaju ke arah Buluh Cina.
“Semoga kalian mampus semua…!”gadis cantik yang dinodai Belanda itu menyumpah.
Di atas jeep yang dikemudikan oleh pejuang dari perhentian Marpuyan itu tengah terjadi perundingan.
“Kita cegat mereka di pendakian Pasir Putih…!” kata anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina dan bernama Bilal. Pejuang ini adalah teman si Bungsu dari Pekanbaru yang kena tampar KNIL di Simpang Tiga tadi.
“Kita tembak mereka dengan senapan mereka sendiri?” temannya yang bernama Suman bertanya.
“Ya, agar mereka rasakan betapa senjata makan tuan…” jawab Bilal.
“Bagaimana, kita cegat mereka dimana?” Bilal bertanya pada si Bungsu.
Si Bungsu menatap pada mitraliyur 12,7 yang tegak di bak belakang jeep. Melihat pelurunya yang berantai panjang.
“Apakah kalian mempunyai cukup peluru untuk berperang?” si Bungsu balik bertanya. Para pejuang itu saling bertukar pandang.
“Tak begitu banyak…” Bilal menjawab jujur.
“Kalau begitu kita hajar mereka tanpa buang peluru…..” si Bungsu berkata pasti.
“Bagaimana caranya?”
Dan cara mencegat tanpa menghamburkan peluru itu diatur oleh si Bungsu.
Sementara itu, power wagon yang memuat selusin serdadu Belanda itu meraung-raung membelah jalan kecil menuju ke Buluh Cina itu. Tiba-tiba di depan mereka, ditengah pendakian, mereka melihat dua orang sosok tubuh tentara Belanda. Sebab pakaian loreng yang mereka pakai menununjukkan hal itu.
Tubuh itu makin didekati makin nyata berlumuran darah.
“Jahanam! Berhenti. Mereka ternyata telah membunuh serdadu kita….” Leutenant yang memimpin patroli itu menyumpah. Dia segera mengenali bawahannya itu sebagai serdadu KNIL yang ikut dengan sersan di Jeep tersebut. Kulit mereka yang hitam membuktikan bahwa mereka adalah tentara KNIL.
Power itu segera dihentikan persis ditengah-tengah pendakian didekat tubuh kedua serdadu KNIL tersebut. Leutenant itu kemudian melompat turun.
“Ayo. Tolong angkat!” serunya.
Empat orang tentara Belanda lainnya berlompatan turun. Kemudian mengangkat tubuh teman mereka itu. Namun begitu mereka menyentuh tubuh yang tertelungkup itu, tiba-tiba saja kedua “mayat” tersebut melonjak.
Yang pertama menjadi korban adalah seorang Kopral. Tubuh yang akan diangkat membalik. Dan sebilah samurai menghajar dadanya. Kontan dadanya belah. Temannya seorang soldaat tertegun, dan saat itulah dadanya juga ditembus samurai.
Dalam waktu hanya beberapa detik, keduanya rubuh dimakan samurai “mayat” yang akan mereka angkat.
“Mayat” yang satu lagi, yang ternyata adalah si Bilal, anggota fisabilillah yang berasal dari Buluh Cina itu juga beraksi.
Dia adalah seorang pesilat aliran Pangian yang tangguh. Begitu dia merasakan tangan menjamah tubuhnya, dia segera menelentang. Dan kakinya menghujam keatas. Tumitnya mendarat persis di kerampang sergeant yang tadi akan mengangkatnya.
Demikian kuatnya tendangan itu. Hingga tubuh sergaent itu terangkat sehasta dari tempatnya berpijak. Kemudian terguling. Sergeant ini tak sempat menjerit. Hanya wajahnya yang menjadi kelabu tiba-tiba. Gelandutnya pecah dan nyawanya melayang saat itu.
Saat berikutnya, tubuh Bilal ini melentik dengan manis lalu berdiri. Dan tendangannya kemudian menghajar seorang soldaat teman si sergeant yang berniat mengangkat tubuhnya tadi.
Tendangan itu agak meleset. Sebab si soldaat sempat mundur selangkah.
Bilal memburu. Dan kali ini dua buah jari tangan kanannya meluncur kedepan seperti kecepatan seekor ular yang marah.
Dan soldaat itu tak sempat mengelak lagi. Jurus tusukan dari silat Pangian itu menghujam kedua matanya. Dan seiring dengan pekik kesakitan, kedua matanya terlompat keluar dimakan jari-jari Bilal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: