tikam samurai-bagian-128-129-130


Kapten Nurdin telah menembak nya sesaat sebelum Letnan itu menembakkan pistol nya pada si Bungsu yang kamar pemeriksaan tentara KNILmemangku Kopral Aman. Dia bergegas. Dan mereka melompat ke atas Jeep. Jumlah mereka lengkap tujuh orang. Dan kini delapan dengan Tuang. Jeep itu batuk-batuk sebentar.
Dia starter lagi dengan mempertemukan kawatnya. Dan Hidup! Jeep itu seperti melompat. Keluar dari halaman markas. Dari jauh terdengar suara deru mobil datang.
“Ke kanan!” Kapten Nurdin berteriak. Mobil itu berbelok ke kanan. Lampu truk militer kelihatan datang dari arah kiri. Jeep mereka rasanya ada yang tak beres. Berjalan lambat.
Sersan Kadir melompat turun.
“Kadir! Naik cepat!” Kapten Nurdin berteriak.

“Saya akan menghalangi mereka pak. Teruslah bapak!” Dia berkata sambil berlari lagi ke halaman markas. Tak ada kesempatan bagi Kapten Nurdin untuk berlalai-lalai. Dia menyuruh Jeep itu terus.
Sementara Sersan Kadir segera menaiki Jeep yalng telah dikempeskan itu. Dia merenggutkan kabel kontak. Melekatkannya diluar dengan ketenangan yang mengagumkan. Lalu menghidupkan mesin dan meletakkan Jeep itu persis di tengah jalan yang akan dilewati truk Belanda yang baru datang itu. Tapi ketika akan lurus Belanda menembaknya. Kadir mati di Jeep itu.
Jeep mereka melaju menuju ke arah Sail. Yaitu suatu daerah di luar kota yang masih berada dibawah kekuasaan tentara Belanda.
Pak Tuang pemilik penginapan itu dirawat di Kampung Sail tersebut. Tubuhnya cukup parah dipermak Belanda.
“Tolong kabarkan pada keluarga saya dikampung, bahwa saya masih hidup….” Pemilik penginapan itu berkata esoknya. Sebab berita dia tertangkap oleh Belanda sudah sampai ke kampungnya. Yaitu ke Buluh Cina melalui penjual-penjual ikan yang datang ke Pekanbaru setiap pagi dengan sepeda.
“Ya. Saya akan menugaskan seorang untuk menyampaikan hal itu ke kampung bapak..” Kapten Nurdin berkata perlahan.
“Hati-hati. Di Simpang Tiga Belanda memperketat penjagaannya. Mereka tahu bahwa pejuang-pejuang kini banyak yang menyelusup ke kota. Dan pejuang-pejuang itu umumnya datang dari arah Taratak Buluh….” Tuang memberi penjelasan yang berhasil dia monitor dari markas Belanda ketika jadi tahanan itu.
“Terimakasih….” Jawab Kapten Nurdin.
Dan sore itu, tiga orang pejuang yang berasal dari barisan Fisabilillah berangkat ke Buluh Cina dengan sepeda. Sebenarnya hanya ada dua orang anggota Fisabilillah. Yang satu lagi adalah si Bungsu.
Dia ikut ke Buluh Cina karena kapal yang dia nanti-nantikan untuk berangkat ke Singapura atau Jepang itu tak kunjung datang. Beberapa orang malah mengatakan, untuk ke Singapura mungkin lebih baik lewat sungai Kampar. Dari sana banyak penyelundup-penyelundup membawa getah ke Singapura.
Mereka memakai tongkang atau sampan-sampan besar menghiliri sungai Kampar. Kemudian lewat di pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan, terus menyelundup ke Singapura atau Malaya. Si Bungsu sebenarnya kurang tertarik untuk ikut dengan para penyelundup itu. Sebab, tujuan utamanya bukan ke Singapura. Melainkan Jepang.
Namun karena di Pekanbaru tak ada pekerjaan yang akan dia lakukan, dia memutuskan untuk ikut ke Buluh Cina. Apa lagi kampung itu adalah kampungnya Kapten Nurdin. Hanya saja Kapten itu tak ikut bersama-sama mereka.
“Pergilah, disana ada sungai atau danau dimana engkau dapat menenangkan dirimu. Memancing atau berenang…..” Kapten itu membujuk si Bungsu untuk ikut serta bersama kedua anak buahnya. Dan si Bungsu memamng memilih untuk ikut serta. Mereka berangkat pukul dua. Kalau tak ada aral melintang, mereka akan sampai di kampung itu sekitar jam enam. Sepanjang jalan dalam kota, kelihatan pasukan Belanda berjaga dengan ketat.
Mereka mengayuh sepeda keluar kota dengan tenang. Di Kampung Simpang Tiga, dimana terletak sebuah lapangan udara kecil, penjagaan Belanda nampak makin banyak.
Belanda nampaknya mempergunakan kampung kecil ini sebagai basis perbatasan antara kota yang mereka kuasai dengan kantong-kantong perjuangan yang dikuasai tentara Indonesia.
Mereka disuruh berhenti di persimpangan menuju ke Taratak Buluh. Satu-satu disuruh masuk ke sebuah kamar kecil dimana dua orang tentara KNIL mengadakan pemeriksaan dengan ketat.
Mula-mula yang masuk adalah si Bungsu. Dia berniat membawa samurainya. Namun Korip temannya menggeleng perlahan. Si Bungsu menangkap isarat itu. Dia segera ingat, kalau Belanda mengetahui bahwa dia membawa samurai, maka itu akan membahayakannya. Bukankah Belanda sudah mengetahui, bahwa teman-teman mereka dibunuh oleh seorang anak muda yang membawa samurai kemana-mana?
Dengan pikiran demikian, si Bungsu masuk ke kamar penjagaan itu tanpa membawa apa-apa. Samurainya tetap dia tinggalkan dengan mengikatkannya ke batang sepeda yang dia bawa. Sepeda itu dia sandarkan di pohon kelapa didepan rumah penjagaan itu.
Dengan tenang dia masuk kedalam.
“Buka pakaian….” Seorang sersan KNIL memerintah. Si Bungsu agak tertegun. Orang yang memerintahkannya ini kulitnya sama dengan dirinya. Meski kulit KNIL itu lebih hitam, tapi dia yakin bahwa tentara Belanda itu pastilah orang Indonesia juga.
Perlahan dia membuka bajunya. Sersan itu memberi isyarat pada prajurit yang satu lagi. Prajurit itu memeriksan isi kantong baju si Bungsu. Mengeluarkan sebuah kartu keterangan diri. Kemudian sehelai saputangan.
“Mau kemana?” sergeant itu bertanya dalam aksen Melayu tinggi yang fasih.
“Ke Buluh Cina tuan…”
“Mengapa ke sana..?”
“Pulang ke kampung tuan…” dia menjawab mengikuti petunjuk Kapten Nurdin pagi tadi.
“Apa kerjamu di kampung?”
“Memotong getah tuan…”
Sergeant KNIL itu memegang tangn si Bungsu. Si Bungsu tetap tenang. KNIL itu melihat betapa pada pangkal jari-jari tangan anak muda itu kelihatan benjolan yang mengeras. Dan dia jadi yakin bahwa anak muda ini memang seorang penakik getah. Sebab benjolan yang mengeras ditelapak tangannya itu membuktikan bahwa dia memang selalu memegang benda keras.
Tanda demikian itu tak terdapat pada pedagang ikan yang tiap pagi mengayuh sepeda atau pada pejuang yang hanya memegang bedil.
“Dimana tinggal di Buluh Cina….” KNIL itu menatap wajah si Bungsu. Seperti mencari sesuatu diwajahnya itu. Si Bungsu hanya diam. Dan akhirnya sersan KNIL itu menyuruhnya kembali berpakaian. Dan menyuruhnya keluar.
Si Bungsu mengambil sepedanya. Berdiri dengan memegang sepeda itu di jalan raya. Menanti kedua temannya yang masuk ke dalam. Dia menarik nafas-nafas lega. Telapak tangannya ada benjolan mengeras adalah karena tiap hari dia melatih dirinya dengan samurai. Tapi siapa nyana, bekas tangannya itu justru bisa menyelamatkan dirinya saat ini.
Tiba-tiba dia kaget mendengar bentakan dari dalam kamar pemeriksaan. Dan tak lama kemudian disusul dengan suara tamparan. Dia mulai mempelajari situasi. Kalau terjadi apa-apa, andainya kedua temannya itu diketahui bahwa mereka adalah pejuang maka dia akan susah untuk melarikan diri.
Sebab sekitarnya ada kira-kira dua belas tentara Belanda yang menjaga dengan bedil terhunus. Mereka memang seperti tak acuh saja. Tapi kalau kedua temannya itu tertangkap, maka dia tentu akan ditangkap pula. Dan kalau dia berusaha melarikan diri, maka tentara Belanda yang diluar ini pasti siap untuk merajamnya dengan semburan peluru.
Dia menanti dengan tegang.
Tak lama kemudian, kelihatan kedua temannya itu keluar dengan mulut dan hidung berdarah. Mereka mengambil sepedanya. Lalu mengangguk pada si Bungsu. Dan ketiga orang ini, di bawah tertawaan tentara Belanda yang ada di luar mengayuh sepeda mereka ke arah Teratak Buluh.
“Jahanam. Belanda hitam yang benar-benar jahanam” Bilal yang kena tampar itu menyumpah-nyumpah sambil menghapus darah dari hidungnya.
“Nanti suatu saat, dia akan menerima balasan. Akan kuhancurkan kepala mereka dengan bedilku…” Suman yang mulutnya berdarah juga menyumpah.
“Kenapa kalian sampai kena tampar…?” si Bungsu bertanya sambil mengayuh sepedanya.
“Kami tak menyanggupi untuk mencarikan mereka perempuan” Suman menjawab.
“Belanda jahanam. Awaslah kau….!” Sambung Suman. Dan mereka terus mengayuh sepeda melewati jalan berpasir dan berkerikil kecil dari Simpang Tiga itu menuju perhentian Marpuyan. Di perhentian Marpuyan yang merupakan sebuah kampung kecil dimana jalan bersimpang ke Buluh Cina, mereka minum disebuah kedai kecil.
“Masih jauh dari sini Buluh Cina itu?” si Bungsu bertanya begitu selesai meminum air kelapanya yang terasa sejuk dan nikmat.
“Dari sini delapan belas kilometer. Kita akan sampai di desa Kutik. Dari sana menurun, kalau air Batang Kampar banjir, dari sana kita bisa naik sampan ke Buluh Cina. Kalau tidak, kita bisa naik sepeda atau jalan kaki….”
“Apakah patroli Belanda tak sampai kemari?”
“Terkadang juga sampai. Meski ini daerah Republik, tapi mereka selalu datang kemari memburu pejuang…”
“Tiap hari mereka lewat?”
“Tidak menentu…” pemilik kedai yang sejak tadi hanya mendengarkan, kini ikut bicara.
“Sudah tiga hari ini mereka selalu datang. Mereka mensinyalir didekat Bancah Litubat disana, disebuah rumah, bersembunyi dua orang pejuang yang telah membakar pos penjagaan mereka di Simpang Tiga dua minggu yang lalu…”
“Ada yang mereka tangkap dari kampung ini?”
“Lelaki tidak”
“Apa maksud bapak dengan ucapan lelaki tidak?”
“Mereka memang tak menangkap seorang lelakipun. Tetapi sebagai gantinya, mereka menangkap seorang gadis dan ibunya. Alasannya sederhana saja. Mereka ingin meminta keterangan. Dan keterangan itu menurut mereka diketahui oleh kedua anak beranak itu. Sebab mereka tinggal dekat rumah yang dicurigai itu..”
“Apa latar belakang yang sebenarnya?” si Bungsu bertanya meskipun dia sudah bisa menduga.
“Latar belakangnya hanya satu. Gadis itu cantik. Itu alasan penangkapannya. Dan ketika dia ditangkap bersama ibunya, tak seorang pun yang bisa membela. Dia tak punya ayah. Sementara kaum lelaki dikampung ini tak berdaya. Daripada ditangkap dan disiksa Nevis lebih baik diam saja…”
“Bila mereka menangkapnya?”
“Sudah dua hari”
“Tak ada yang mengetahui dimana mereka ditahan?”
Pertanyaan si Bungsu belum terjawab, ketika dari kejauhan terdengar bunyi mobil. Semua mereka menoleh. Dari arah Simpang Tiga kelihatan debu mengepul. Dan dari derunya diketahui bahwa kendaraan yang mendekat itu adalah sebuah Jeep.
Mata si Bungsu yang amat tajam mengetahui diatas Jeep itu ada enam manusia. Dua perempuan, empat tentara. Rasa bencinya pada penjajah yang melaknati kaum wanita Indonesia itu tiba-tiba berkobar didadanya.
Sebenarnya seperti yang pernah dikatakan di Bukittinggi dahulu, yaitu ketika menolak penghargaan dari para pejuang itu, dia tak punya sangkut paut dengan perjuangan kemerdekaan.
Kinipun sebenarnya dia tak berniat untuk jadi pejuang. Atau tak pula bertindak sok pejuang. Yang muncul dalam hatinya adalah kebencian pada orang yang menjajah negerinya. Yang menyakiti kaum lelaki, kanak-kanak. Dan menodai kaum wanitanya.
Rasa benci inilah yang membakar dadanya. Bukan niat untuk jadi pahlawan atau pejuang. Dan saat ini, setelah menyaksikan betapa tadi kedua temannya ditampari hingga mulut dan hidung mereka berdarah, kemudian mendengar cerita pemilik kedai ini tentang anak gadis yang tertangkap tanpa sebab itu, kebenciannya jadi menyala.
Dan segera saja sebuah rencana muncul dikepalanya. Dan dia berniat melaksanakan rencana itu, empat orang. Hmmm, jumlah mereka hanya empat orang, pikirnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: