tikam samurai-116-117-118


Saat itu adalah hari-hari dimana Jepang telah menyerahkan kekuasaannya di Asia Raya pada balatentara Sekutu.di todong pisau di leherNiat mereka semula untuk melanjutkan teruskan perjuangan menjadi batal karena perintah dari Tenno Haika, adalah penyerahan total.
Dengan demikian, tidak hanya balatentara Jepang, tetapi juga seluruh Kerajaan Jepang, termasuk Maharaja Tenno Heika, berada di bawah kekuasaan balatentara Sekutu yang di Asia dan Pasifik dipimpin oleh Jenderal Mack Arthur!.
Seluruh balatentara Jepang dilucuti. Para jenderal ditahan dan disiapkan untuk menghadapi Mahkamah Perang. Tenno Heika sendiri, meski tetap berada di istananya, namun secara de jure berada dibawah tawanan sekutu.
Bom atom yang dijatuhkan Amerika di kota Hiroshima dan Nagasaki telah menyebar sebuah bencana dan tragedi Nasional di negara Sakura itu. Ratusan ribu penduduk sipil dan militer mati seketika. Dan ratusan ribu lainnya menderita di rumah sakit. Mati secara perlahan atau menderita cacat seumur hidup.

Perang telah meluluhlantakkan penduduk sipil yang tak tahu apa-apa. Perempuan, lelaki, kanak-kanak dan bayi mati jadi korban keganasan mesiu.
Dan Bom Atom yang meluluhkan itu, membuat rasa superior bangsa Jepang jadi merosot ketitik nol. Rasa bangga yang didengungkan selama ini oleh kalangan militer, bahwa Jepang penakluk dunia, tiba-tiba berlutut kehabisan daya dibawah sepatu Sekutu. Dan dengan demikian, dengan terhentinya peperangan Jepang Sekutu itu, terselamatkan pula ratusan ribu naywa lainnya. Nyawa dan harta benda yang terselamatkan itu terutama dipihak Jepang dan dipihak Sekutu.
Sebab, tiga puluh tahun kemudian, menurut analisa para ilmuan, kalau saja bom atom tak dijatuhkan dan memaksa Jepang bertekuk lutut, maka perang masih diperkirakan akan berlangsung selama setahun lagi.
Dan selama setahun itu, menurut perhitungan dipihak Sekutu akan jatuh korban nyawa sebanyak 200 ribu tentara. Dipihak Jepang akan jatuh korban sebanyak 900 ribu tentara. Tapi karena peperangan akan berlangsung di Negara Jepang sendiri, maka penduduk sipil yang akan mati oleh keganasan peluru itu, diperkirakan mencapai 2 juta!
Itu baru tentara dan penduduk Jepang. Karena Jepang menguasai negara-negara di Asia Tenggara maka mau tak mau, penduduk di negara-negara itu, termasuk Indonesia juga akan terkena getah peperangan.
Tapi untunglah bom atom menyelesaikannya. Dan korban yang demikian banyak tak perlu berjatuhan lagi. Baik dipihak Jepang maupun dipihak Sekutu. Namun tak berarti penderitaan bangsa Indonesia sudah berakhir. Berhentinya peperangan antara Sekutu dengan Jepang, justru merupakan titik sambung peperangan antara Belanda dengan tentara Indonesia.
Peperangan antara Belanda dan Indonesia itu sudah bermulai ratusan tahun yang lalu. Telah banyak pejuang-pejuang yang gugur. Sebutlah Iman Bonjol, Diponegoro, Pattimura, Teuku Umar, Hasanuddin dan ratusan ribu pejuang yang tak sempat dituliskan dalam sejarah.
Perang Belanda dan Indonesia terputus dengan kedatangan Jepang yang mengusir Belanda dari Indonesia. Namun Belanda tak pergi jauh-jauh. Karena negara mereka berada dalam Pakta Sekutu, maka mereka lalu mencari kesempatan untuk membonceng kembali ke Indonesia.
Kalah dari Jepang, Belanda mengundurkan diri ke Australia yang merupakan Sekutu bersama Inggris. Begitu Jepang kalah, maka Sekutu membagi-bagi tentara mana yang akan memasuki negara-negara yang pernah dikuasai Jepang.
Tentara Inggris memilih negara Jepang.
Namun Amerika Serikat juga berminat menduduki negara itu. Alasan Amerika negara mereka lebih dekat dengan Jepang daripada Inggris. Dengan demikian mereka bisa mengawasi secara langsung.
Inggris dapat menerima. Karenanya, Amerika lalu menduduki Jepang dan Indonesia diduduki oleh Inggris. Tetapi sesama tentara Sekutu sendiri mempunyai Gentlement Agrement pula. Perjanjian antara mereka menyebutkan bahwa negara-negara yang pernah diduduki oleh salah satu negara Sekutu sebelum kedatangan Jepang, dikembalikan kepada negara tersebut.
Dalam hal ini, sebelum kedatangan Jepang, Indonesia berada dibawah Belanda. Maka tentara Inggris yang datang mengambil alih kekuasaan dari tentara Jepang, diboncengi pula oleh tentara Belanda!.
Inggris punya alasan yang kuat kenapa mengikut sertakan tentara Belanda dalam kedatangan mereka ke Indonesia. Untuk masuk ke indonesia, mereka tak punya pengetahuan sedikitpun. Yang tahu seluk beluk Indonesia, mulai dari A sampai Z adalah Belanda. Sebab mereka telah menguasai negara ini selama ratusan tahun! Jadi sebagai “penunjuk jalan” mereka membawa serta serdadu Belanda tersebut.
Dan dengan sebuah “perjanjian bawah tangan” Inggris kemudian menyerahkan kekuasaan pada Belanda atas seluruh wilayah Indonesia.
Dan Inggris sendiri, kembali ke negara yang pernah mereka kuasai sebelum kedatangan Jepang. Yaitu negara-negara Singapura, Malaya, Kalimantan Utara dan pulau Hongkong.
Saat peristiwa ini, yaitu disaat si Bungsu berada di Pekan Baru, Belanda telah menerima kembali kekuasaan terhadap wilayah-wilayah Indonesia dari Inggris.
Belanda mengirimkan pasukannya yang berasal dari Koningkelyke Leger (KL). Yaitu balatentara Belanda yang berasal langsung dari Kerajaan Belanda. Pasukan-pasukan KL ini kejamnya bukan main.
Dan saat itu, pasukan KL inilah yang mengepung kedai kopi dimana si Bungsu berada.
Lelaki yang tadi melemparnya dengan pisau, dan yang berhasil dia tangkis dengan kecepatan samurainya, tiba-tiba mendapati diri mereka sudah terkepung oleh enam serdadu KL.
Kedua lelaki itu berbalik cepat memasuki kedai. Dan sebelum si Bungsu atau isi kedai itu sadar apa yang terjadi, dengan keyakinan bahwa si Bungsu adalah mata-mata Belanda, lelaki itu menyergap si Bungsu.
Dia memiting anak muda yang memegang “tongkat” itu dengan tangan kiri dari belakang. Sementara tangan kanannya yang memegang pisau ditekankan pada leher si Bungsu.
Keenam serdadu Belanda yang berpakaian loreng itu terhenti dipintu kedai. Mereka siap dengan bedil dan sangkur terhunus. Mereka terhenti karena mendengar suara lelaki berpisau itu berteriak :
“Kalau kalian tidak mundur, saya akan membunuh mata-mata Nevis ini sampai lehernya potong…!” seiring dengan ucapannya itu, dia menekan mata pisaunya makin kuat.
Tubuh si Bungsu menggigil. Dan mata pisau itu menyayat kulit lehernya. Darah mengalir turun. Si Bungsu benar-benar tak berdaya. Dia ingin mengatakan pada kedua lelaki itu., bahwa mereka salah terka. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak mata-mata Belanda. Tapi bagaimana dia akan menerangkan dalam keadaan gawat begini?
Dan dia teringat, situasinya kini persis seperti yang dihadapi oleh Akiyama di Birugo. Atau seperti situasi Sersan Jepang yang dia sergap ketika patroli dekat jenjang gantung Bukittinggi. Dan dia segera saja menyadari, betapa disergap dan diancam dengan senjata tajam dileher memang sangat tak menyedapkan. Dia rasakan itu kini. Dia memang mempunyai samurai ditangan kiri.
Tapi bagaimana dia akan menggerakkan tangannya, kalau situasinya begini?
Sedikit saja dia bergerak, dia yakin lelaki yang mengancam ini tak segan-segan memotong lehernya dengan pisau yang amat tajam itu! Dia yakin hal itu!
Lelaki yang mengancamnya membawanya menuju pintu. Mereka maju langkah demi langkah. Sementara dipintu kedai yang terbuka lebar, keenam serdadu KL itu tetap saja tegak dengan menodongkan senjata mereka.
“Apakah orang ini memang mata-mata kita? Leutenant yang memimpin penyergapan itu bertanya pada sergeant (sersan) disampingnya dalam bahasa Belanda.
“Saya tak pernah melihat orang ini…” sergeant itu menjawab pula dalam bahasa Belanda.
“Kalau begitu dia bukan anggota Nevis….” Kata Leutenant (Letnan) itu. Nevis adalah sebutan untuk badan mata-mata Belanda. Seperti halnya badan mata-mata Gestapo Jerman terkenal dengan nama SS, mata-mata Amerika FBI untuk dalam negeri, dan CIA untuk urusan Internasional, Inggris terkenal dengan Scotland Yardnya, maka Belanda terkenal dengan Nevisnya!
Anggota-anggota Nevis, sebagaimana jamaknya anggota mata-mata diseluruh dunia, tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda. Tetapi terdiri dari berbagai bangsa. Umumnya mereka memakai tenaga pribumi untuk menjadi mata-mata dimana mereka mempunyai kepentingan.
Di Indonesia, tidak sedikit pengkhianat-pengkhianat yang mau dibayar sebagai anggota Nevis. Menjadi mata-mata untuk kepentingan penjajah! Dan sebagai anggota mata-mata inilah si Bungsu kini diduga.
Dan nasibnya memang benar-benar seperti telur diujung tanduk.
“Bagaimana… kita tembak saja mereka?” Sergeant itu bertanya. Namun Leutenant tersebut tampak ragu-ragu. Namun akhirnya dia melihat dengan kaca mata penjajahannya. Dia tidak mau melepaskan kedua lelaki yang mereka sergap ini. Kedua lelaki itu nampaknya pejuang Indonesia yang amat ditakuti Belanda. Apa salahnya membunuh seorang anggota Nevis bangsa Indonesia? Tak ada ruginya.
Kalau ada pertanyaan dari atasan, katakan saja bahwa mereka terpaksa membunuh ketiga orang itu secara “tak sengaja”. Dan ketiga orang yang mati itu adalah Inlander.
“Biarkan mereka lewat sampai ke jalan raya. Dan begitu mereka melangkahi parit kecil itu, tembak mereka….” Leutenant itu berkata perlahan dalam bahasa Belanda. Pura-pura seperti tak berdaya karena lelaki itu mengancam mata-mata mereka!
Bedil mereka yang terkokang tetap diarahkan pada ketiga lelaki tersebut. Maut benar-benar mengiringi langkah ketiga lelaki ini. Dan si Bungsu anak muda yang ditempa dirimba raya gunung Sago itu, adalah orang pertama yang mencium bahaya maut ini!
Inderanya yang amat tajam terhadap bahaya yang akan menimpa dirinya membuat seluruh tubuhnya menegang. Dia tak mengetahui pembicaraan serdadu KL yang berbahasa Belanda itu.
Namun nalurinya yang tajam, matanya yang terlatih, dapat membaca niat serdadu-serdadu Belanda tersebut. Dia membaca niat dari cahaya mata mereka.
Dia yakin, keenam serdadu itu akan membunuh kedua lelaki ini. Dan membunuh kedua mereka berarti membunuh dirinya yang tercekik dan terancam oleh pisau yang alangkah tajamnya!
Soalnya kini, bagaimana harus mengatakannya pada lelaki yang mengancamnya dan menduga bahwa dia adalah mata-mata Nevis?
Tak ada waktu. Benar-benar tak ada waktu ! Dia kini harus mendahului Belanda-Belanda itu. Harus. Kalau tidak, mereka bertiga akan mati. Dia segera tahu bahwa kedua lelaki yang mengancamnya ini adalah pejuang-pejuang Indonesia.
Dan kini langkah demi langkah mereka mendekati keenam serdadu KL itu untuk menuju keluar. Lelaki yang mengancam si Bungsu, segera pula membuat rencana. Dia akan mengancam mata-mata ini untuk naik ke Jeep yang sedang ditunggui sopir.
Dia akan memaksa untuk membawa Jeep itu keluar kota. Dengan demikian pelarian mereka bisa lebih cepat. Dan kini, mereka berada dua langkah dari pintu dimana serdadu itu tegak dengan diam. Selangkah lagi. Dan kini mereka persis berada sejajar dengan serdadu itu.
Dan saat itulah, dengan mempergunakan kesempatan yang amat kecil, si Bungsu mencoba lewat dari lobang jarum!
Dia berteriak:
“Mereka akan membunuh kita!” seiring pekiknya ini, sikunya dia hantam kerusuk kanan lelaki yang mengancamnya dengan pisau itu.
Hantaman itu membuat kaget lelaki tersebut. Namun dengan cepat pula si Bungsu mencekal tangannya yang berpisau, melemparkannya jauh-jauh. Dan dalam jarak waktu yang hanya dua detik, tangan kananya menghunus Samurai!
Pada gebrakan pertama, samurainya memakan leher Leutenant yang tegak didepannya. Sabetan kedua memakan perut si Sersan!! Kedua pejuang itu merasa kaget. Srdadu-serdadu itu kaget! Mereka menembak! Namun kedua orang Indonesia itu sudah waspada. Mereka membungkuk dan pisau mereka bekerja.
Si Bungsu menyabetkan lagi samurainya. Seorang serdadu lagi mati! Yang mengancamnya tadi menghujamkan pisaunya kepada seorang kopral. Dan empat orang mati. Sebuah letusan bergema lagi. Dan teman yang mengancam itu kena kepalanya pecah dan mati.
Namun si Bungsu berguling di tanah. Samurainya bekerja! Snapp! Snapp! Kedua serdadu KL yang masih hidup mampus dimakan samurainya!
Ada sekitar belasan manusia didekat kedai itu, semua mereka tertegak diam! Kejadian itu amat cepat. Hanya dalam sepuluh hitungan! Alangkah cepatnya!
Tiba-tiba mereka mendengar mesin Jeep dihidupkan. Lelaki yang mengancam si Bungsu itu menoleh, si Bungsu juga. Sopir Jeep yang berpangkat Soldat (Prajurit) itu rupanya merasa tak ada gunanya melawan. Dia memilih melarikan diri.
Dia memasukkan perseneling mobilnya, dan tancap gas! Lari!
Namun lelaki yang tadi mengancam si Bungsu dengan pisaunya, bergerak dengan cepat. Seperti tadi, yaitu seperti dia menyerang si Bungsu dengan dua pisaunya, kali ini tangannya juga bergerak.
Pisau yang berada ditangan kanannya meluncur memburu Jeep yang rodanya mulai berputar. Dan tiba-tiba jeep itu meluncur seperti disentakkan ke depan. Lepas! Tapi tak jauh dari mereka lari. Jeep itu seperti meliuk.
Kekiri, kekanan. Dan tiba-tiba berhenti menabrak sebuah kedai! Mereka berlarian kesana. Dan soldat yang menyopiri Jeep itu mati tertelungkup di stirnya dengan tengkuk tertancap pisau! Lemparan lelaki itu tepat menghantam sasarannya.
Diam-diam si Bungsu memuji keahlian lelaki ini memainkan pisaunya.
Lelaki yang tadi melemparkan pisau itu menatap pada si Bungsu. Si Bungsu juga menatap padanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: