tikam samurai-bagian-113-114-115


“Dahulu, dari seorang pedagang yang datang dari kampung, kami dengar Kak Reno akan menikah. Tunangannya seorang penginapan yg menghadap ke sungai siakanak muda gagah tapi pejudi. Kabarnya ayah tak menyukai pertunangan itu. Tapi Kak Reno sendiri kabarnya mencintai anak muda itu sepenuh hatinya… hanya itu yang sempat saya dengar di Pinang. Apakah tak mungkin dia telah menikah dengan tunangannya itu…?”
Perempuan muda itu menatap pada si Bungsu. Si Bungsu jadi pucat.
Tapi dia yakin perempuan itu memang bertanya dengan jujur. Tidak mempunyai prasangka apa-apa. Makanya dia mencoba menguasai diri.
“Tidak. Saya rasa mereka tak jadi menikah…” jawab si Bungsu cepat. Perempuan itu kembali menarik nafas.
Darimana Abang tahu bahwa mereka tak menikah. Apakah Abang mengenali tunangan Kak Reno?” si Bungsu kembali jadi pucat. Namun sebisa-bisanya dia menjawab juga.

“Ya. Ya. Saya kenal padanya. Kami sama-sama pejudi. Dan teman saya itu seingat saya belum pernah menikah…”
“Dimana tunangannya itu kini, apa kerjanya…?”
“Ah, tunangannya itu memang seorang lelaki pejudi. Mujur Renobulan tak jadi menikah dengannya. Kini dia kabarnya jadi luntang-lantung diburu-buru karena pernah membunuh orang….”
Si Bungsu menjawab pasti dengan mimik muka ikut membenci “tunangan” Renobulan itu.
“Kasihan kak Reno. Kabarnya mereka sama-sama mencintai. Dan yang pasti, kabarnya ka Renolah yang sangat mencintai tunangannya itu.” Si Bungsu menghirup kopinya. Kopi manis itu tiba-tiba terasa pahit ditenggorokkannya.
Diluar stokar truk itu memperbaiki terus per yang patah dan membuka ban yang bocor. Memberikannya ke tukang tambal. Jalan Payakumbuh ke Pakan Baru adalah jalan parah. Jalan menembus hutan rimba. Mendaki gunung dan menuruni lembah. Itulah jalan yang akan mereka tempuh sebentar lagi.
–00000—
Kota Pekan Baru yang disebut-sebut sebagai dagang baru yang ramai disinggahi pedagang dari Minangkabau itu ternyata hanya sebuah kampung yang tak lebih besar dari Payakumbuh.
Malah dalam beberapa hal Payakumbuh lebih bagus. Jalannya sudah diaspal. Sementara Pekanbaru umumnya jalannya masih tanah. Di Payakumbuh sudah banyak rumah-rumah gedung yang bagus. Sementara di Pekan Baru hanya rumah papan.
Yang ramai hanyalah sekitar Pasar Bawah dan dekat Sungai Siak dimana terdapat sebuah pelabuhan kecil. Karena pelabuhan inilah rupanya kota kecil itu jadi ramai.
Orang banyak berdagang ke Kepulauan Riau yang mata uangnya sama dengan mata uang Malaya dan Singapura. Yaitu mata uang dolar. Sebahagian besar dari kampung yang disebut kota itu terdiri dari kebun getah dan rawa-rawa. Dibahagian kehulu pelabuhan ada sebuah mesjid yang indah. Mesjid Raya yang dibangun Sultan Siak Sri Indrapura. Di sekitar mesjid ini kampungnya bolehlah sedikit. Bersih dan teratur.
Tapi jauh dari situ, didalam hutan-hutan karet yang terurus itu, masih sering orang diterkam harimau. Jauh arah ke barat, ada sebuah lapangan terbang darurat yang dulu dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Lapangan itu tak bernama. Terletak di kampung kecil yang berpenduduk sekitar seratus orang. Kampung itu bernama Simpang Tiga.
Tak ada yang baru di kota itu nampaknya. Tak ada yang bisa dibanggakan. Tapi anehnya, orang-orang dari Luhak nan Tigo, yaitu Luhak Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh banyak yang pindah kemari.
Mereka membuat rumah-rumah papan disepanjang pinggir jalan di Pasar Bawah. Pasar itu makin lama makin lebar ke barat. Akhirnya berdiri pula sederetan toko darurat di bahagian atas dari Pasar Bawah di dekat pelabuhan itu.
Orang-orang menyebutnya dengan Pasar Tengah. Disinilah pedagang-pedagang itu membuka toko. Menjual beras, sayur-sayuran dan menukarnya dengan karet.
Karet mereka jual pada kapal-kapal yang berlayar ke Kepulauan Riau untuk kemudian dijual ke Malaya dan Singapura. Kota ini udaranya terasa panas. Apalagi si Bungsu yang baru saja datang dari Bukittinggi.
Perbedaan udara terasa sekali. Namun dia merasa tenteram di kota ini. Disini tak ada orang yang mengenalnya. Dia bebas kemana-mana. Perjalanannya dengan truk dari Payakumbuh dahulu ternyata tak semudah dan secepatnya yang dia bayangkan. Disangkanya bisa dalam dua hari.Ternyata dia baru sampai setelah menelan waktu sepekan!.
Bayangkan, untuk menempuh jarak yang lebih kurang 200 km dari Payakumbuh itu dibutuhkan waktu sepekan! Berkali-kali truk gaek itu patah per. Berkali-kali bannya pecah. Berkali-kali truk itu terpuruk kedalam lobang jalan yang dalamnya sedalam Ngarai Sianok! Bah! Benar-benar perjalanan kalera!.
Dan ketika sampai ke Pekan Baru, semua sayur yang dibawa pedagang sudah jadi bubur. Yang selamat hanyalah beras dan bawang. Lain daripada itu luluh lantak semua.
Dan karena terlambat itu, si Bungsu telah ketinggalan kapal.
“Sudah lama berangkat kapal itu?” tanyanya pada seorang tua di pelabuhan.
“Maksudmu Kapal Suto Maru ke Singapura?” orang tua itu balik bertanya.
“Ya. Suto Maru itu..”
“Baru kemaren. Seharusnya lima hari yang lalu. Tapi karena kerusakan mesin, baru kemaren sore dia berangkat…’ Si Bungsu terterangah.
“Kemaren sore…”
“Ya. Kemaren..”
“Jam berapa?”
“Kalau tidak salah jam lima…”
Si Bungsu mengucap-ngucap kecil dalam hatinya. Kemaren sore jam tiga dia sudah sampai di Simpang Tiga. Celakanya truk tua itu rusak lagi disana. Tali kipasnya putus. Kaburatornya bocor. Dan mereka menanti sampai malam. Baru malam tadi dia masuk kota. Padahal jaraknya antara Simpang Tiga dengan kota ini hanya sembilan kilometer! Memang belum nasibnya untuk bisa berangkat.
Tapi kalaupun dia datang sore kemaren, dia akan susah jua. Sebab dia tak punya paspor. Nah, hari-hari tak ada kapal ini dia pergunakan untuk mengurus paspor. Dengan memberikan uang lebih banyak, paspornya cepat saja keluar.
Dalam keterangan dalam paspor itu disebutkan bahwa dia anak kapal. Dan pemberian paspor saat itu tak bertele-tele. Tak banyak berbelit-belit.
Untuk memudahkan mengetahui bila ada kapal ke Singapura atau ke Jepang yang datang, dia lalu menginap di sebuah penginapan kecil dekat pelabuhan itu.
Penginapan itu dua tingkat. Bangunannya terbuat dari papan. Bahagian atas untuk penginapan. Bahagian bawah rumah makan. Kalau akan mandi cukup menyebrangi jalan kecil di depan penginapan itu maka akan sampailah di Sungai Siak. Mandi mencebur saja di sungai itu.
Sungai itu airnya berwarna merah, airnya bagus untuk memasak atau diminum. Dan mencuci kain tak ada pengaruhnya. Artinya kain tak ikut menjadi merah karena warna air tersebut.
Sebagaimana jamaknya sebuah pelabuhan, kota itu menjadi persinggahan banyak orang. Tempat pertemuan banyak suku bangsa. Di penginapan kecil tempat si Bungsu menginap itu juga menginap berbagai suku.
Di kamar sebelahnya menginap dua orang Tapanuli. Di kamar depannya menginap orang Jawa. Dan bahkan di kamar depan sekali, yaitu kamar besar yang menghadap ke Sungai Siak, menginap dua orang asing. Mungkin orang Amerika. Yang satu lelaki, yang satu perempuan. Mereka kabarnya akan terus ke Kerajaan Siak Sri Indrapura jauh di hilir kota Pekanbaru ini. Mereka akan mengadakan penelitian sejarah.
Keduanya belum begitu berumur. Mungkin sekitar tiga puluh lima umurnya. Tapi yang perempuan bertubuh menggiurkan dan berwajah cantik. Kemana-mana mereka membawa alat pemotret.
Yang orang Tapanuli kabarnya beberapa kali kerja di kapal. Kini mereka tengah menunggu kapal lain untuk melamar pekerjaan. Mereka sudah bosan bekerja di kapal kecil yang ke Kepulauan Riau. Mereka ingin bekerja di Kapal Besar yang trayeknya ke luar negeri.
Sementara yang orang Jawa kabarnya adalah mantri kebun kelapa sawit. Mereka datang kemari untuk mengadakan penelitian terhadap peremajaan kebun-kebun kelapa sawit. Hanya malangnya tak diketahui kenapa mereka sampai ke Pekanbaru.
Di kota ini yang mereka jumpai hanya kebun karet. Tak sepohonpun kelapa sawit. Kabarnya mereka menanti kapal untuk membawa mereka kehilir. Menurut kabarnya pula di hilir kota ini, yaitu di Okura ada perkebunan kelapa sawit. Kesanalah mereka akan pergi.
Yang tak habis dimengerti oleh si Bungsu adalah, kenapa mereka bisa berangkat dengan meraba-raba begitu. Kalau mereka pegawai negeri, kenapa tak ada petunjuk yang pasti?
Tapi itu urusan mereka, pikirnya.
Sementara penginap-penginap lainnya umumnya orang Minang, pekerjaan mereka berbagai ragam. Siang hari dia lihat ada yang berjalan hilir mudik. Mencari barang yang patut dibeli dengan harga murah. Kemudian dijual dengan harga mahal. Tak peduli apa barangnya.
Ada juga pedagang-pedagang yang menanti kapal untuk berlayar ke Kepulauan Riau. Pedagang-pedagang ini sudah mempunyai bekal yang cukup. Ada yang membawa tembaga, aluminium, ada pula yang membawa kain batik. Kabarnya barang-barang seperti itu amat laris di Kepulauan Riau atau di Malaya.
Sementara ada pula yang malam-malam hari menggelar tikar dihalaman penginapan. Memasang lampu, kemudian meniup salung. Yang satu lagi berdendang. Nah, kegiatan mereka inilah yang banyak menarik peminat. Hampir tiap malam halaman penginapan itu penuh oleh pengunjung yang ingin mendengarkan Saluang tersebut. Sudah tentu semuanya orang Minang.
Mereka pada melemparkan uang keatas tikar meminta lagu-lagu yang mereka sukai. Malam itu terang bulan. Di bawah kelihatan ramai sekali. Si Bungsu tak ikut turun. Dia hanya melihat dari jendela kamarnya yang kebetulan menghadap ke jalan.
Pada akhir bait-bait pantun selalu terdengar pekik sorak orang. Dan dari jendela si Bungsu melihat orang Amerika itu asik memotret-motret dengan tustelnya. Lampu pijarnya menyala-nyala. Setiap kali habis memotret, dia menukar lampunya yang telah hangus itu dengan yang baru.
Tapi si Bungsu hanya melihat yang lelaki. Sementara perempuannya yang bertubuh menggiurkan dan berwajah cantik itu tak kelihatan.
—000—
Anak muda ini sudah berniat untuk takkan menjatuhkan tangan kejam kepada orang. Sejak dia meninggalkan rumah Kari Basa di Bukittinggi, dia telah berniat demikian.
Ketika terjadi peristiwa dengan Datuk Hitam di Kedai dekat stasiun kereta api Payakumbuh itupun sebenarnya dia tak berniat untuk mencari huru hara.
Apalagi saat itu dia merasa berada di kampung halamannya. Dia tak sampai hati mencelakakan orang kampungnya sendiri.
Namun ada pendapat orang-orang tua, bahwa bagi seorang pemelihara “orang halus” meskipun dia telah berniat untuk tak lagi berhubungan, akan tetap ada kekuatan lain yang suatu saat memaksanya untuk berhubungan lagi dengan peliharaannya.
Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang yang mempunyai “harimau” untuk menjaga dirinya. Hal-hal seperti ini banyak terjadi di Minangkabau. Demikian pula halnya dengan si Bungsu. Meskipun dia telah berniat untuk tidak terlibat dalam perkelahian, tapi “himbauan” samurai itu mempunyai kekuatan sendiri.
Kekuatan itu terkadang datangnya tanpa dapat dicegah. Jika tidak dikehendaki oleh pemiliknya maka orang lainlah yang menghendaki.
Dalam hal peristiwa Datuk Hitam di Payakumbuh, yang memaksa dia untuk mepergunakan samurai itu justru Datuk itu sendiri. Betapapun susahnya si Bungsu untuk menahan diri agar tak tersinggung, namun Datuk itu seperti “memaksa” agar dia mempergunakan samurainya.
Si Bungsu barangkali takkan marah kalau yang dihina Datuk itu dirinya saja. Tapi begitu Datuk itu memaksa perempuan muda itu untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak, amarahnya segera bangkit. Dan terjadilah peristiwa itu.
Di Pekanbaru ini, sejak mula untuk menghindarkan dirinya terlibat dalam perkelahian, dia sengaja meninggalkan samurainya di penginapan.
Berhari-hari dia berjalan di pelosok kota tanpa samurainya. Namun suatu hari, yaitu di hari ke enam dia berada di kota itu, entah apa sebabnya, tahu-tahu dia mendapatkan dirinya berada ditengah kota dengan samurai itu ditangannya.
Dia benar-benar jadi sadar ketika duduk minum kopi di sebuah lepau cina. Ketika akan duduk, dia meletakkan samurai itu di atas meja.
“Jangan disini tongkatmu diletakkan sanak, sandarkan saja dibawah….’ Kata orang yang duduk diseberang tempatnya. Ditatapnya “tongkat” yang melintang diatas meja itu.
Samurai…” bisik hatinya. Kenapa sampai kubawa hari ini? Pikirnya lagi. Dia coba mengingat apa sebabnya ketika akan meninggalkan bilik penginapan tadi pagi dia membawa samurai ini.
Tak ada sebab yang luar biasa. Rasanya setelah berpakaian, dia lalu bersisir. Kemudian membetulkan kasur. Dan di bawah bantal dia terpegang pada samurainya. Tanpa sadar sepenuhnya, dia meletakkan samurai yang biasanya dia simpan di bawah bantal itu ke atas meja.
Selesai membetulkan kasur dan bantal, dia memakai sandal. Lalu sambil melangkah keluar, tangannya mengambil samurai di atas meja itu. Dan lupa untuk menyimpannya lagi ke bawah bantal. Lalu kini samurai itu terletak diatas meja.
“Ambil tongkatmu itu bung!!” dia dikagetkan oleh suara lelaki itu kembali. Dengan gugup dia mengambil tongkatnya.
“Ya. Maaf, maaf….” Katanya sambil berjalan. Lebih baik dia mencari meja lain saja daripada duduk semeja dengan lelaki itu. Perasaannya mulai tak sedap. Kalau dia duduk saja disana, mungkin bisa terjadi perkelahian yang tak diingini.
Makanya diambil tempat di sudut ruangan. Memesan segelas kopi es dan sepiring sate Pariaman. Ketika akan memakan sate, matanya melirik lagi kepada lelaki yang tadi menghardiknya. Lelaki itu kelihatan gelisah. Sebentar-sebentar matanya memandang ke jalan raya.
Si Bungsu menjadi maklum, lelaki itu jadi pemberang karena ada sesuatu yang menyebabkan dirinya gelisah. Ketidak seimbangan pikiran membuat dia mudah tersinggung. Si Bungsu lalu makan satenya. Ketika dia akan meminum kopi esnya, seorang lelaki lain datang ke dekat lelaki yang menghardiknya tadi.
Mereka berbisik. Dan lelaki yang membentak si Bungsu tadi bergegas tegak. Nampaknya dia ingin melangkah ke arah si Bungsu. Namun deru kendaraan bermotor di luar membuat dia menghentikan langkahnya. Tapi tak urung dia menoleh dan berkata tajam:
“Mata-mata jahanam! Kau jual negerimu pada Belanda. Mampuslah kau!” dan seiring dengan ucapan ini, tangannya bergerak sangat cepat kepinggang. Lalu tersenyum. Hanya naluri si Bungsu yang amat tajam itu sajalah yang menyelamatkan dirinya dari celaka.
Firasatnya merasa bahwa ada bahaya yang meluncur ke arahnya bersamaan gerak tangan lelaki itu. Dengan gerak reflek, dia menyambar dan mencabut samurai di atas meja. Dan dua kali samurainya berkelabat dengan amat cepat. Dan dengan sangat tepat sekali samurainya menghantam dua buah pisau kecil yang mengarah pada leher dan jantungnya.
Kedua pisau itu terpental dan menancap di loteng. Si Bungsu kaget. Kaget bukan atas serangan pisaunya, tapi kaget dengan tuduhan bahwa dia mata-mata Belanda. Dia ingin bicara, tapi kedua lelaki itu telah keluar dengan cepat. Namun diluar sudah berhenti mobil tadi. Dan dari atas sebuah Jeep Militer yang dicat loreng-loreng, berhamburan serdadu-serdadu Belanda!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: