tikam samurai-bagian-107-108-109


orang bagak
Tapi anak muda, yang, yang engkau lakukan telah mengobarkan semangat juang di dada pemuda kita. Telah mengobarkan semangat dan rasa percaya bahwa kita juga mampu mengadakan perlawanan, Dihati para Gyugun pun semangat itu berkobar. Tak ada seorangpun diantara kami atau pun penduduk yang memungkiri, bahwa engkau adalah seorang pahlawan.”
Si Bungsu tertawa letih. Ada kepahitan dalam ketawanya.
“Pahlawan. Jangan buat saya menjadi tersiksa seumur hidup. Kalau penghargaan itu saya terima, saya akan senantiasa teringat, bahwa saya lah seorang pahlawan yang telah membiarkan dengan pengecut keluarganya punah. Carilah orang lain, yang pantas untuk diberi penghargaan itu. Cari pejuang lain yang pantas untuk diberikan gelar pahlawan. Orang yang benar-benar berjuang demi Nusa dan Bangsa. Gelar mulia itu tak pantas orang seperti saya menyandang nya. Saya bukan pejuang, bukan pahlawan. Maafkan saya. Saya terpaksa menolak anugerah itu…apapun bentuknya…”

Beberapa orang diantaranya jadi tertunduk. Diam dan merasa kecil dihadapan anak muda ini. Mereka malu dan kecil karena sikapnya yang jujur. Mereka teringat, betapa banyak diantara mereka yang saling rebut tempat dan kekuasaan. Saling rebut pangkat dan jabatan, padahal kemerdekaan baru dalam bentuk “orok”. Ada diantara mereka yang hadir hari ini, yang kerjanya hanya ongkang-ongkang, tapi mengaku telah banyak berjuang.
Kini anak muda yang tubuhnya pernah dicabik-cabik samurai musuh ini, yang darahnya banyak sudah tersiram kebumi pertiwi dalam memerangi penjajahan, ternyata menolak sebutan pahlawan bagi dirinya. Usahkan sebutan pahlawan, sebutan sebagai pejuang saja dia tak mau.
Dia merasa tidak pernah berjuang. Bayangkan, kemana muka mereka disurukkan dihadapan anak muda itu. Dan hari itu mereka pulang dengan perasaan campur aduk.
Ada yang bangga terhadap sikap anak muda tersebut. Bangga karena ada seorang pemuda Indonesia yang berpendirian mulia dan teguh seperti itu. Ada pula yang merasa malu. Malu karena dirinya bertolak belakang dengan anak muda itu.
Dan hari itu, dihari dia tidak mau menerima penghargaan itu, si Bungsu mohon diri. Dia kembali menyampaikan niatnya untuk pergi ke Jepang. Salma termenung. Demikian pula Kari Basa.
“Saya dengar ada kapal yang akan berangkat sepekan lagi dari Pekan Baru ke Singapura. Kemudian langsung ke Jepang. Kapal pembawa minyak, mungkin saya dapat menumpang…”
“Bila engkau berniat untuk pergi….?”
“Kalau bisa besok pagi-pagi pak…”
“Tak ada yang dapat kami perbuat, selain mendoakan engkau selamat pulang pergi….”
“Terimakasih pak…”
“Teman-teman….para pejuang yang tadi kemari, sebenarnya memang sangat menghormatimu. Mereka tak berniat untuk menyakiti hatimu. Mereka memang ikhlas memberikan penghargaan itu….”
“Saya tahu. Dan saya juga tidak tersinggung. Saya khawatir merekalah yang tersinggung. Karena saya menolak. Saya benar-benar merasa tidak pantas untuk menerima penghargaan itu pak. Bagaimana saya menerima pemberian sehelai baju misalnya, kalau saya menjadi demam dan tersiksa memakainya. Atau kalau baju itu terlalu longgar bagi tubuh saya yang kecil. Itulah yang saya rasakan. Dan itu saya kemukakan dengan segenap kejujuran pula”.
Dan percakapan itu terhenti sampai disana. Si Bungsu bersiap-siap malam itu. Dia masih memiliki uang dari penjualan perhiasan yang mereka ambil dengan Mei-mei dirumah Cina di Payakumbuh dahulu.
Sebenarnya tak banyak yang dia persiapkan. Hanya ada sepasalinan pakaian. Kemudian uangnya dia simpan dalam kantong kain. Lalu sebuah samurai. Itulah bekalnya.
Salma tengah menyulam diruangan tengah ketika si Bungsu muncul. Mereka bertatapan, dan si Bungsu dapat melihat betapa mata gadis itu basah sejak sore tadi.
“Salma….” Katanya. Gadis itu tidak mau mengangkat wajah. Dia menunduk. Tidak menyulam karena tubuhnya terguncang-guncang menahan tangis.
“Saya banyak berutang budi padamu. Tak tahu bagaimana saya membalasnya. Hanya pada Tuhan saya berdoa agar kebaikanmu dan kebaikan ayahmu dibalasNya setimpal”
Dia lalu meletakkan sebuah bungkusan dimeja di depan Salma.
“Ini bukan sebagai tanda terimakasih saya. Tidak. Ini sebagai kenang-kenangan. Saya tidak tahu apakah warnanya engkau senangi atau tidak. Guntinglah kain ini, saya beli kemarin. Gunting dan buatlah kebaya panjang, kemudian ini ada sebuah untuk kebaya pendek. Ini kain baik. Dan…ada sepasang subang dan gelang serta peniti….saya tak tahu apakah benda-benda ini berguna bagimu. Tapi… inilah tanda mata dari saya. Dan… ini sebuah cincin. Saya senang kalau kelak engkau memakainya ketika hari pernikahanmu….”
Salma tak lagi dapat menahan tangisnya. Dia menangis terisak-isak mendengar ucapan si Bungsu. Banyak yang ingin dibicarakan gadis ini. Tapi dia seorang wanita. Orang yang lebih banyak berbicara dengan hatinya. Berbicara dan menyimpan apa yang tersasa dibatinnya jauh-jauh tanpa seorangpun yang tahu. Begitulah kaum wanita selalu. Dan sebagai ganti ucapan, dia hanya mampu menangis.
Karena sebagai perempuan, apakah lagi yang bisa dia perbuat? Dia tatap kain dan perhiasan yang ditinggalkan si Bungsu untuknya. Kainnya dari bahan yang halus. Berwarna biru dengan kain batik buatan jawa yang halus.
Dan malam itu adalah malam yang tak terpicingkan oleh mata Salma. Demikian pula dengan si Bungsu. Dia ingin tinggal di kota ini. Dia jatuh hati pada gadis yang telah merawatnya itu. Namun apakah itu mungkin?
Bukankah dia telah bersumpah akan menuntut balas kematian ayah, ibu dan kakaknya? Dan satu hal yang amat penting, apakah gadis itu juga mencintainya? Ah, dia tak berani memikirkan itu. Gadis itu baik padanya pastilah hanya karena dia dianggap sebagai abangnya.
Dia bolak-balik ditempat tidurnya. Menelungkup. Menelentang.
Dan akhirnya kedua mereka sama-sama tertidur takkala subuh hampir datang. Dan pagi harinya si Bungsu bersiap-siap untuk berangkat. Salma hanya sebentar tertidur. Kemudian bangkit sembahyang subuh. Lalu bertanak dan memasak kopi.
Ketika ayahnya dan si Bungsu selesai sembahyang, dia telah selesai pula dengan masakannya. Di tikar di ruang tengah telah terhidang nasi padi baru. Gulai ayam yang telah disembelih sore kemarin. Kopi panas.
Tanpa banyak yang bisa dipercakapkan mereka makan bertiga.
Akhirnya sampai juga saatnya bagi anak muda itu mohon diri. Mereka bersalaman. Lalu si Bungsu pun mengambil buntalan pakaiannya. Berjalan ke pintu. Dia terhenti ketika didengarnya Salma memanggil.
Gadis itu mendekat dengan kepala tunduk.
“Terimakasih atas pemberian uda kemarin. Tak ada yang bisa saya berikan sebagai tanda terimakasih. Tapi….saya berharap uda mau menerima ini….sebagai kenang-kenangan dari saya. Dimanapun uda berada, lihatlah cincin ini, dan ingatlah bahwa pemiliknya selalu mendoakan semoga selamat dan bahagia selalu…” Salma menanggalkan cincin bermata intan dijari manisnya. Kemudian dengan masih menunduk, dia meraih tangan si Bungsu. Memasukkan cincin itu kejari manis si Bungsu.
Persis ukurannya. Cincin itu ternyata pas. Tubuh si Bungsu yang tak begitu besar ternyata memungkinkan cincin itu pas dijari manisnya. Dan sehabis memakaikan cincin itu, Salma berlari kekamarnya. Dia menangis disana.
Si Bungsu hanya tertegak diam. Sekilas tadi dia melihat dijari manis itu terpasang cincin yang kemaren dia berikan. Dia menoleh pada Kari Basa. Orang tua itu hanya menatapnya dengan tenang. Sekali lagi si Bungsu menyalami orang tua itu. Kemudian cepat berbalik dan melangkah ke jalan raya.
Pagi itu dia meninggalkan Bukittinggi. Kota itu, seperti halnya seluruh kota-kota lainnya di Sumatera, masih dikuasai Jepang secara de facto. Kekuasaan menjelang datangnya tentara sekutu yang akan mengambil alih kekuasaan tersebut.
Dengan sebuah truk mengangkut sayur-sayuran dia meninggalkan kota itu. Jalan yang ditempuh bukan main buruknya. Berlobang-lobang dan hanya dibeberapa bahagian saja yang beraspal.
Tiga jam kemudian dia memasuki kota Payakumbuh. Truk itu berhenti dekat stasiun kereta api. Penumpang di atasnya yang berjumlahh empat orang orang, umumnya pedagang sayur dan beras, turun untuk mengisi perut.
Dengan perasaan berdebar, si Bungsu turun pula. Ada perasaan lain menyelinap dihatinya ketika kakinya menjejak kembali kota Payakumbuh. Kota itu sudah seperti kampung halamannya. Ketika ayahnya masih hidup dahulu, dia sering dibawa kemari. Itu waktu kecil. Ketika dia telah dewasa, dia sering pula ke kota ini. Pergi berjudi.
Dan kini dia datang lagi. Kenangan masa launya berlarian sempanjang jalan raya. Kereta api kelihatan mengepul asapnya dari kejauhan. Peluitnya terdengar memekik sayu. Dibelakang lokomotifnya yang tua terlihat enam buah gerbong. Merangkak lambat-lambat memasuki kota.
Si Bungsu telah matang oleh penderitaan. Telah masak oleh pengalaman hidup. Emosinya sudah tertempa. Dia kini seperti karang di samudera. Namun, dia tetap saja manusia. Melihat kereta api itu merangkak perlahan, mendengar pekik peluitnya yang sayu, dia segera teringat masa kecilnya.
Ketika bersama ayahnya pergi ke Baso, ke Biaro, ke Bukittinggi. Mereka naik kereta api. Tanpa dapat diatahan, air matanya mengalir dipipinya. Dia memandang keselatan. Jauh disana kelihatan Gunung Sago tegak dengan gagah disapu awan.
Dan dikaki gunung itu adalah kampung halamannya. Tempat darahnya tertumpah. Disanalah ayah ibu dan kakaknya berkubur. Kampung kecil bernama Situjuh Ladang Laweh.
Dan tak berapa ratus meter dari stasiun itu adalah rumah dimana dahulu dia bertemu dengan Mei-mei.
Dahulu dia naik bus tua ke Bukittinggi dari kota ini berdua dengan Mei-mei. Dan kini dia datang lagi. Sendirian. Dan di Bukittinggi pagi tadi dia meninggalkan seorang gadis, gadis yang dia-diam telah mencuri sebahagian hatinya. Salma!

Dia menarik nafas. Menghapus air mata. Dan perlahan-lahan berjalan masuk kedai. Kedai nasi itu cukup besar. Ruangan dalamnya lebar. Pada sudut kiri dia lihat beberapa lelaki duduk. Dan selintas saja dia mengetahui bahwa lelaki-lelaki disudut itu sedang berjudi.
Dia teringat masa lalunya. Dia melihat seperti dirinya yang duduk ditikar itu. Bersila dan membagi kartu. Diablik kain dipinggang para lelaki itu dia yakin tersisip sebilah pisau. Hal itu dia ketahui sebab disitulah dahulu dunianya.
Pada bahagian depan kelihatan orang sedang makan. Si Bungsu menuju ke meja dekat seorang perempuan muda. Duduk dihadapnnya karena tak ada lagi tempat lain yang kosong.
“Nasi satu….” Katanya.
“Apa sambalnya?”
Dia memalingkan kepala ketempat ikan-ikan yang telah dimasak. Memperhatikannya.
“Dendeng bakar dan sambal lado serta petai muda”
Orang kedai mengambilkan pesanannya. Meletakkan diatas meja. Si Bungsu mengangguk pada perempuan muda didepannya. Kemudian pada lelaki disampingnya. Lalu mulai menyuap.
“Nampaknya kita berhenti disini agak lama. Ada per yang patah. Dan ban bocor. Harus ditambal dulu. Jalan yang akan kita tempuh bukan main parahnya. Jauh lebih parah dari jalan yang telah kita lalui” sopir truk berkata sambil mengempaskan diri di balai-balai.
Dan sopir itu meminta nasi.
Seorang lelaki tiba-tiba mendekati mereka. Dia mendekati perempuan muda yang duduk dihadapan si Bungsu. Berbicara perlahan. Perempuan itu menolak. Tapi lelaki itu nampaknya memaksa. Perempuan itu menolak kembali.
Dan akhirnya perempuan muda yang cukup cantik itu menyerah pada paksaan lelaki tersebut. Dia membuka gelang ditangannya. Memberikannya pada si lelaki. Dan lelaki itu kembali ke balai-balai disudut ruangan. Kembali berjudi!
Si Bungsu mengangkat kepala. Menatap perempuan itu. Perempuan itu menunduk. Dan si Bungsu dapat melihat betapa wajah perempuan muda itu kelihatan murung. Sebentar-sebentar dia melirik pada lelaki yang tadi mengambil gelangnya.
Si Bungsu meneruskan makan. Demikian pula sopir di meja yang satu lagi. Ketenangan rumah makan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara pertengkaran. Pertengkaran itu berasal dari sudut dimana sedang berlangsung perjudian.
“Kalian main curang. Saya tak mau. Saya sudah banyak kalah!”
Terdengar suara seorang lelaki. Dan sebagai jawaban suaranya itu terdengar tertawa terkekeh.
“Ini Judi Sutan. Tak ada kata-kata curang. Mulut Sutan berbisa kami dengar. Apakah Sutan muak hidup…” suara lain mengancam.
Dan pemilik kedai serta orang-orang lain nampaknya tak mau ikut campur. Mungkin disebabkan dua hal kenapa mereka lebih baik diam saja. Pertama memang sudah biasa dalam setiap perjudian disudahi dengan pertengkaran. Atau sebab kedua adalah karena penjudi-penjudi itu orang bagak.
Kemungkinan ini bisa saja terjadi. Dan sebentar saja setelah suara tadi, kini terdengar orang main hantam. Perempuan didepan si Bungsu terpekik. Tegak berlari kearah perjudian itu. Dan saat itu pula lelaki yang meminjam gelangnya terpental. Jatuh melabrak meja.
Meja terjungkir. Dua buah stoples yang berisi paniaram jatuh pecah. Perempuan itu menangis memeluk lelaki tersebut. Nampaknya mereka adalah suami isteri yang baru menikah. Tak diketahui apa sebabnya sampai terseret ke meja judi ini. Mungkin suaminya ini pencandu judi pula. Hingga tak segan-segan meminta gelang isterinya setelah kalah dalam tahap pertama. Pada tahap kedua, gelang istrinya ludes dan dia kena terjang pula.
“Kalau akan berkelahi diluar lah Datuk. Jangan dalam lapau saya!” pemilik kedai berkata perlahan. Aneh, dia berkata perlahan saja. Padahal meja dan stoples serta kuenya berserakkan. Dari nada pembicaraan ini setiap orang bisa tahu, betapa pera penjdui itu amat ditakuti.
Dan benar saja, orang yang dipanggil Datuk itu tertawa menggerendeng.
“Berani waang melarang saya kini ya Murad? Apakah ingin saya panggang lapau waang ini?”
Pemilik kedai tak menjawab. Dengan menunduk habis-habisan dia membenahi meja dan toplesnya yang berserakkan.
Dan lelaki yang dipanggil dengan sebutan Datuk itu maju. Melihat ke arah gulai dan sambal yang terletak dalam panci. Matanya menatap liar. Kemudian tangannya beraksi. Dengan tangan telanjang, dia mengacau panci yang dipenuhi gulai ayam.
Kemudian mengambilnya sepotong. Lalu duduk di kursi dimana perempuan muda tadi duduk. Persis berhadapan dengan si Bungsu. Dia mengunyah gulai ayam itu dengan rakus. Sementara tangannya hingga ke pergelangan dipenuhi kuah.
Dan sambil mengunyah gulai ayam itu, matanya tiba-tiba terpandang pada jari manis si Bungsu. Kunyahnya terhenti.
“Hmm, cincin berlian…” desisnya menatap lurus-lurus pada cincin itu. Lalu tiba-tiba saja tangannya yang berkuah-kuah itu menyambar tangan kiri si Bungsu. Memegangnya kuat-kuat lalu menatap cincin itu.
Kemudian dia tertawa menyeringai sambil menatap si Bungsu.
“Hei, waang mau menjual cincin ini pada saya buyung…?” katanya.
Si Bungsu menggeleng.
“Saya beli dengan harga tinggi. Berapa waang mau menjual?”
“Ini tanda mata dari adik saya. Saya tak berniat menjualnya…” si Bungsu menjawab perlahan.
“Ahh. Pasti tanda mata dari gendak waang. Bikin apa dia waang pikirkan. Cukup banyak betina lain yang bisa waang bawa tidur. Ayo jual saja pada saya..” Datuk itu masih berkata sambil mengguncang tangan si Bungsu.
Dia menarik nafas panjang. Lalu menggeleng. Dia berusaha menahan marahnya.
“Saya tak berniat menukarnya atau menjualnya pak…” jawabnya.
“Hei, akan saya buktikan pada waang, bahwa cukup banyak perempuan yang bisa ditiduri. Saya lihat waang dari tadi berminat pada perempuan itu..” Datuk ini menunjuk dengan mulutnya ke arah perempuan yang tadi duduk di depan si Bungsu. Yang kini duduk dikursi lain bersama suaminya.
Datuk itu bangkit. Tiga temannya tertawa menyeringai dari sudut memperhatikan.
“Jangan mengganggu bini orang di lapau ini Datuk…” pemilik kedai tadi coba memperingatkan. Sebab kedainya bisa jadi lengang kalu terjadi hal-hal yang tak baik pada orang yang singgah makan.
Namun ucapannya baru saja habis ketika tangan Datuk itu mendarat dipipinya. Suara tamparannya keras. Dan bibir pemilik kedai itu pecah!
“sekali lagi waang mencampuri urusan saya Murad, saya jemur waang seperti dendeng di labuah sana…” ancamnya.
Dan dia meneruskan langkah ke dekat perempuan muda itu.
“Hei, upik manis. Laki upik baru saja kalah berjudi. Kenapa kau mau berlaki dengan penjudi tanggung seperti dia? Lebih baik kau menikah dengan anak muda itu. Lihat, dia punya cincin berlian. Hayo kuantar kau padanya…!”
Berkata begitu. Datuk itu menyentakkan tangan perempuan muda tersebut.
Perempuan itu terpekik. Suaminya bangkit. Namun sebuah terjangan membuat tubuhnya tercampak ke luar. Melihat kejadian ini, enam orang lelaki lain yang ada dalam kedai itu cepat-cepat membayar makanan mereka dan pergi meninggalkan kedai itu. Menghindar dari bencana yang akan timbul.
Nampaknya Datuk dan ketiga koleganya adalah “orang bagak” di kota ini. Sebab kalu tak demikian, mustahil dia akan mau berbuat seperti itu. Stasiun kereta api ini terletak persis ditengah kota. Dan ditengah kota ini dia mau berbuat demikian, sungguh suatu perbuatan yang bagak benar.
Tangan perempuan itu di renggutkannya. Dan sekali dorong, perempuan itu terlempar ke pangkuan si Bungsu. Perempuan itu bangkit kemudian menampar wajah si Bungsu beberapa kali.
Si Bungsu tetap duduk dan tetap diam. Datuk penjudi itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Hei buyung, kalau dia menampar lelaki, itu tandanya dia mengajak ke tempat tidur, bawalah dia!”
“Saya mau menjual cincin ini..” tiba-tiba suara si Bungsu bergema. Datuk itu terhenti tertawa. Dia mendekat. Orang-orang lain pada terdiam.
“Naah, itu bagus. Berapa waang jual?”
“Tidak dengan uang. Saya ingin bertukar…” si Bungsu berkata dengan kepala masih menunduk.
“Bagus! Bagus! Dengan apa? Dengan perempuan muda ini? Boleh!”
“Tidak!”
“Lalu dengan apa?”
“Dengan kepalamu, Datuk!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: