tikam samurai-bagian-104-105-106


si bungsu duduk bersila
Pada saat itulah Akiyama menyerangnya. Babatan pertama didengar si Bungsu suitan anginnya. Dia menangkis! Tapi inilah kesalahannya. Tangkisannya justru mendatangkan bencana. Akiyama benar-benar seorang yang tangguh. Kini dia menyerang dengan segenap konsentrasi dengan dukungan moril yang tak tanggung-tanggung dari komandan dan teman-temannya.
Begitu samurai mereka beradu, begitu tangan si Bungsu terasa pedih pada telapaknya yang memegang hulu samurai itu. Namun dia masih menangkis serangan kedua. Dan kali ini tak tertahankan lagi, samurainya terpental ke udara!
Dan babatan berikutnya datang! Si Bungsu terkejut, namun dia segera ingat lompat tupai! Tapi tak urung bahunya dirobek samurai begitu dia akan membungkuk.

Dia bergulingan empat kali ke belakang. Dan saat itu telinganya menangkap bunyi sesuatu yang meluncur turun. Dan crepp! Samurainya menancap sehasta disampingnya. Dia sambar dengan cepat, dan kini dia tegak!
Semua orang, tak terkecuali satupun, termasuk Fujiyama pada menarik nafas. Lalu tepuk tangan pecah dengan gemuruh. Mereka melihat sesuatu pertarungan yang bukan main. Namun beberapa pejuang Indonesia, yang pernah melihat makan tangan anak muda ini jadi kaget. Kenapa si Bungsu begitu lamban dan sempat terluka?
Darah merah memang mengalir membasahi baju gunting cina si Bungsu dipunggungnya. Namun luka itu tak begitu menyakitinya. Hanya luka sayatan yang agak dalam.
Akiyama menarik nafas panjang. Menahannya pada rongga dada. Mengeluarkannya sedikit sekali dengan bunyi yang ganjil. Kemudian menarik nafas lagi panjang-panjang lalu menahannya. Mukanya merah. Dan dia maju lagi dalam kuda-kuda yang mantap.
Si Bungsu memutar tegak. Dia melangkah dengan langkah biasa saja. Dan tentara-tentara Jepang takjub dan heran atas langkah yang tak menurut semestinya itu.
Tak ada yang berani bersuara. Semua pada terdiam. Si Bungsu masih melangkah melingkar. Dan Akiyama seperti memburunya. Dan tiba-tiba kembali Akiyama menyerang. Kali ini si Bungsu tak berani menangkis dengan samurainya. Dia juga balas menyerang sambil mengelak.
Tapi lagi-lagi dia terlambat! Sebuah sabetan melukai dadanya. Kali ini tidak hanya sekedar luka goresan. Tapi benar-benar luka yang dalam. Baju dan kulitnya menganga. Darah mengucur. Beberapa penduduk pada terpekik.
Para anggota Heiho, Gyugun dan pejuang pejuang-lainnya diam-diam pada berdoa untuk keselamatan anak muda ini. Beberapa orang diantara mereka justru ada yang menitikkan air mata.
Tapi si Bungsu masih tegak. Dua jurus berlalu sejak serangan pertama. Rasa sakit dan pedih terasa mencucuk. Dan tiba-tiba si Bungsu ingat lagi betapa Akiyama menghantam luka dibahunya ketika dia tertangkap di Koto Baru dahulu. Dan dia teringat betapa sambil duduk Akiyama menghantam perut Datuk Penghulu sampai belah dan putus ususnya.
Dia teringat latihannya beberapa hari yang lalau dibelakang rumah Salma. Betapa gadis itu melemparnya dengan delapan putik jambu sementara matanya terpejam. Konsentrasi! Bukankah itu yang tak dia lakukan? Bukankah selama ini dia mengandalkan kecepatan dan pendengarannya yang amat terlatih? Bukankah Salma telah menunjukkan hal itu padanya beberapa hari yang lalu?
Dan tiba-tiba si Bungsu mengatur pernafasan. Menggertakkan gigi. Dan tiba-tiba dia duduk bersila di tanah. Duduk membelakangi Akiyama. Dan duduk memejamkan mata! Memusatkan konsentrasi dengan samurai yang berada dalam sarungnya dan terpegang ditangan kiri!
Akiyama tak mau tertipu. Meski orang yang melihat jadi kaget dengan sikap anak muda ini. Apakah anak muda ini telah menyerah? Tak mungkin. Sebab sudah ada dalam peraturan, bahwa seorang samurai yang menyerah haruslah melemparkan samurainya kehadapan lawannya dan harus menghormat dengan menunduk ke tanah seperti orang sujud. Dan hal ini tidak dilakukan oleh si Bungsu, berarti dia masih melawan!
Akiyama mulai melangkah mendekat. Dia tak mau menyerang dari belakang. Sebagai seorang satria, pantang baginya menyerang dari belakang. Kini dia menapak tegak kehadapan si Bungsu.
Sementara itu si Bungsu benar-benar telah memusatkan inderanya. Dia kini tidak hanya mendengar langkah Akiyama yang mengitarinya. Kini dia harus memisahkan suara-suara yang masuk ke inderanya itu. Memisahkannya dan memusatkan pendengaran pada langkah dan angin yang ditimbulkan oleh perpindahan samurai Akiyama.
Lambat-lambat Akiyama menghayun samurai. Kemudian menggeser tegak. Lalu tiba-tiba dengan pekik Banzaaii yang mengguntur, ia melakukan serangan penutup. Dua kali bacokan membelah kepala. Dua kali bacokan menebas leher dari kiri kekanan. Dan dua kali tusukan ke dada!
Namun gerakan itu terbaca oleh si Bungsu yang memejamkan mata. Tangannya bergerak mencabut samurai. Serangan pertama dia tangkis dengan melintangkan sarung samurainya dikepala. Serangan kedua dengan mengayunkan samurai itu. Dan serangan berikutnya dia elakkan dengan berputar, kemudian lebih cepat beberapa detik dari kelajuan samurai Akiyama!
Crasss!” Samurainya membabat perut Akiyama. Dan dia berputar, lalu menikam kan samurai nya ke belakang. Snapp! Hampir seluruh samurai itu masuk ke dada Akiyama! Tikam Samurai!
Akiyama tertegak. Samurai masih ditangannya. Terangkat ke atas. Siap dibacokkan ke bawah. Ketengkuk si Bungsu yang menunduk dan membelakanginya. Yang jaraknya hanya sehasta dari tubuhnya. Namun dia seperti tak ada tenaga. Dia seperti dipakukan di samurai anak muda itu.
Tiba-tiba samurainya jatuh. Matanya layu. Tangannya memegangi samurai yang menikam tentang jantungnya. Si Bungsu tegak, masih memegang samurainya agar tubuh Akiyama tak jatuh. Mereka bertatapan. Tubuh mereka sama-sama berlumur darah.
“Tuan seorang samurai yang tangguh. Saya mendapat pelajaran yang banyak dari gerakan kaki tuan…’ si Bungsu berkata perlahan. Mata Akiyama yang layu membuka sejenak.
“Anak muda. Demi Tuhan, engkaulah samurai yang paling cepat yang pernah kutemui…. Saburo pun akan susah mengalahkanmu..”
Akiyama memandang keliling. Terutama pada komandannya, pada teman-temannya yang saat itu sudah tertegak ditempat mereka. Dan tiba-tiba kepalanya terkulai. Mati!

Jenderal Fujiyama dan para perwira itu pada berlompatan maju. Mereka bernita menyambut tubuh Akiyama. Namun si Bungsu telah memeluk tubuh lawannya itu. Dia membopongnya. Kemudian meletakkannya di atas podium dimana Fujiyama tadi tegak.
Kemudian perlahan dia mencabut samurainya. Dalam ketentaraan Jepang tak dikenal rasa haru. Emosi mereka telah terlatih demikian rupa. Kematian merupakan suatu kehormatan. Mati untuk Tenno Haika.
“Selamat atas kemenanganmu Bungsu. Engkau memang berhak atas kebebasanmu. Sesuatu yang kau perdapat dengan ketangguhan…” Jenderal Fujiyama berkata. Namun si Bungsu memasukkan samurai kesarungnya. Kemudian di bawah tatapan ratusan pasangan mata, dia melangkah gontai meninggalkan lapangan itu.
Ketika tiba di jalan raya yang lebih tinggi dari lapangan dimana dia baru saja bertarung, dia menoleh ke belakang dan di sana, di atas podium itu, dia lihat tubuh Akiyama masih terbaring di kelilingi teman-temannya.
Dia memanggil sebuah bendi kemudian menyebutkan alamat yang di tuju. Dan bendi itu berjalan terguncang-guncang. Dia telah membalaskan dendam Datuk Penghulu, membalaskan kematiannya. Kematian yang dibalas dengan kematian pula. Utang nyawa dibalas nyawa. Tapi sampai kapankah dia akan mencabut nyawa manusia?
“Badan anak muda luka, apakah kita tidak ke rumah sakit?” kusir bendi yang ikut menonton bertanya. Si Bungsu menggeleng.
“Tidak. Bawa saya pulang. Ada adik saya yang akan merawat…” katanya perlahan.
Dan di rumah Kari Basa, Salma terpekik melihat luka didada dan punggung si Bungsu. Dengan terhuyung si Bungsu dipapah oleh Salma kepembaringan di bilik depan.
Salma membuka baju si Bungsu. Kemudian mengambil baskom. Mengambil kain bersih dan membersihkan luka si Bungsu dengan air panas-panas kuku.
“Mana pak Kari….” Tanyanya perlahan.
“Kata Ayah dia ke Padang….”
“Masih lama akan kembali…?”
“Saya tidak tahu uda. Tapi diamlah, jangan banyak membuang tenaga….”
Dan anak muda itu memang terdiam. Bukan karena tak mau bicara. Tapi karena tak bisa bicara. Dia pingsan! Hal itu meleluasakan Salma untuk bekerja merawat luka si Bungsu.
Untuk kali ketiga, kembali gadis ini merawatnya dengan penuh ketekunan. Si Bungsu sadar bahwa berkali-kali dia datang pada gadis ini dalam keadaan luka. Dan Salma merawatnya hingga sembuh. Dia tidak hanya merawat luka di tubuh si Bungsu tapi juga juga luka dihatinya.
Ketika dia telah sembuh, suatu hari didapatinya rumah itu penuh oleh beberapa perwira bekas Gyugun, Heiho dan pejuang-pejuang Indonesia.
“Kami datang untuk menyampaikan rasa terimakasih kami. Saudara telah banyak membantu perjuangan mencapai kemerdekaan. Telah banyak jasa saudara. Untuk itu kami ingin menyampaikan tanda penghargaan…’ salah seorang diantara pimpinan yang dia ketahui merupakan pimpinan pejuang-pejuang bawah tanah ketika penjajahan dahulu berkata. Semua orang yang hadir dalam rumah itu menatap padanya dengan kagum.
Dia juga menatap pada pejuang-pejuang itu dengan tenang. Lalu berkata:
“Terimakasih atas perhatian bapak-bapak. Tapi mohon dimaafkan saya tak berani menerima penghargaan dari bapak-bapak. Penghormatan untuk tanah air, perjuangan demi kemerdekaan Nusa dan Bangsa? Ah, saya bertanya pada diri saya, apakah hal itu memang pernah saya lakukan? Tidak, seingat saya tak pernah, jangan jadikan saya bahan lelucon”.
“Maafkan kami Bungsu. Tak sedikitpun kami berniat menjadikan saudara bahan lelucon. Penghargaan ini semata-mata karena ikhlas. Karena memang sudah menjadi hak saudara. Saudara telah berjuang jauh sebelum beberapa diantara kami belum berbuat apa-apa.
“Telah banyak korban saudara. Ayah, ibu, kakak, tunangan. Dan telah banyak yang saudara bela. Saudara telah membantu kami dan para pejuang ketika akan ditangkap Jepang di Birugo. Saudara telah membantu Datuk Penghulu, salah seorang perwira kami. Saudara telah memperlihatkan pengorbanan yang tak ada duanya…”
Si Bungsu menarik nafas.
“Baiklah, saya juga tak bermaksud untuk mengatakan bahwa bapak-bapak akan menjadikan saya lelucon. Namun sayalah justru yang merasa jadi badut kalau sampai menerima penghormatan itu. Secara riil saya ingin menyampaikan bahwa kematian ayah, ibu dan kakak saya bukan karena saya seorang pejuang. Tidak, mereka meninggal justru karena kebodohan saya. Kalau saja bukan karena ibu ingin membawa saya lari, tentu mereka sudah pergi jauh. Dan selamat dari pembantaian Jepang. Tapi malam itu saya tak dirumah. Ayah pulang menjemput kami untuk lari. Ibu bertahan agar menunggu saya pulang kemudian bersama lari dari kejaran Jepang.
Ayah akhirnya mengalah… tapi setelah hari subuh, bukan saya yang datang melainkan Jepang. Mereka tertangkap. Dan ayah, ibu serta kakak saya mati dihadapan mata saya. Tanpa sedikitpun saya dapat berbuat apa-apa. Malah saya lari ketakutan. Itukah kepahlawanan yang tuan-tuan katakan gagah perkasa, yang akan tuan-tuan beri penghargaan?”
Si Bungsu berhenti. Suaranya terdengar getir. Dia tersenyum pahit. Menatap pada pejuang-pejuang itu dengan diam. Karena tak ada yang bersuara, dia melanjutkan:
“Kemudian pembunuhan-pembunuhan kepada Jepang itu,… kalau itu yang tuan-tuan katakan perjuangan saya buat Nusa dan Bangsa, itu juga suatu kebohongan. Saya membunuhi mereka karena saya ingin membalas dendam atas kematian keluarga saya. Ingin menutupi kepengecutan saya dimasa lalu. Itulah yang saya lakukan mula-mula turun dari tempat mengasingkan diri di Gunung Sago. Dan hari-hari setelah itu adalah hari-hari dimana maut selalu mengancam saya. Saya dicari Jepang, bukan karena saya seorang pejuang yang akan memerdekakan negeri ini. Tidak. Saya tidak mau jadi orang munafik. Saya dicari Jepang karena saya membunuh perwira dan prajurit-prajurit mereka.
Maka kalau kemudian banyak Jepang yang saya bunuhi, itu juga bukan karena demi kemerdekaan, demi tanah air. Tapi semata-mata karena saya membela diri. Saya takut dibunuh, maka saya membunuh. Daripada dibunuh lebih baik membunuh. Terakhir, saya melawan Letnan Kolonel Akiyama, itupun karena saya membalaskan sakit hati saya. Dia telah menghantam luka saya ketika tertangkap di Koto Baru. Demikian kuatnya, hingga saya pingsan. Kemudian dia juga telah membunuh Datuk Penghulu. Lelaki yang saya anggap sebagai pengganti orang tua saya. Semuanya saya lakukan demi membalas dendam.
Apakah tindakan begini yang akan bapak-bapak beri penghargaan? Tidak, saya bukan seorang pejuang. Sebenarnya saya seorang pembunuh. Hanya kebetulan saja membunuh orang yang menjajah negeri ini”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: