tikam samurai-bagian-98-99-100


serdadu jepang
Dan Salma mengangguk. Meskipun setelah itu dia ingin memotong kepalanya yang sudi saja mengangguk. Padahal dia ingin menggeleng dengan keras agak sepuluh atau dua puluh kali.
Dan sore itu, mereka memang pergi ke sana. Ke “tempat” perempuan bernama Mei-Mei itu. Salma jadi heran ketika si Bungsu membawanya ke sebuah pemakaman kaum di Tarok. Pekuburan itu terletak dalam paluhan hutan bambu.
Dan… disebuah pusara, si Bungsu berhenti. Salma tegak disisinya.
“Mengapa kita kemari….?” Tanyanya pelan sambil menutupi kepalanya dengan kerudung.
“Engkau ingin mengenal Mei-mei bukan? Disinilah dia. Dalam pusara ini. Dia meninggal setelah diperkosa bergantian oleh selusin tentara Jepang…”

Salma merasa tubuhnya menggigil. Dia berpegang ke tangan si Bungsu. Dan si Bungsu menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Mei-mei. Bagaimana penderitaan gadis itu semasa hidupnya. Dan dengan jujur juga menceritakan bahwa mereka telah berniat menikah, namun maut lebih duluan menjangkaukan tangannya.
Salma menangis terisak-isak. Si Bungsu menunjukan pula tiga pusara lainnya. Masing-masing pusara Datuk Penghulu, kusir bendi yang ternyata intel Republik itu. Kemudian pusara isteri Datuk itu dan pusara si Upik, anak gadisnya yang meninggal malam itu ditangan kebiadaban tentara Jepang.
Lama mereka terdiam. Kemudian Salma membersihkan ke empat pusara itu bersama si Bungsu. Gadis itu mencari sepohon bunga kemboja. Mematahkan dahannya yang berbunga lebat, menancapkannya dipusara Mei-mei.
“Terimakasih Salma. Kau baik sekali…” kata si Bungsu.
Salma menghapus air matanya. Si Bungsu memeluknya dalam tiupan angin sore yang semilir. Tak ada ucapan yang keluar.Namun Salma merasakan pelukan itu alangkah membahagiakan. Kukuh dan tenteram. Dia ingin berada disana, dalam pelukan yang membuat hatinya berbunga itu untuk selama hidupnya.
-000-
Suatu hari, ketika dia kembali duduk di beranda depan, dia melihat dan mendengar derap sepatu tentara.
“Salma…” katanya memanggil ketika melihat enam orang serdadu Jepang lewat di depan rumah dengan bedil ditangan. Salma datang ke beranda depan.
“Mereka selalu lewat di jalan-jalan kota sejak kemerdekaan?”
“Ya, mereka mengadakan patroli. Setiap hari mereka patroli tiga kali. Mengitari kota. Memasuki jalan-jalan kecil. Dan setiap regu patroli terdiri dari enam orang. Begitu terus tiap hari…”
Si Bungsu mengangguk-ngangguk. Dan dia berpikir lagi tentang rencananya beberapa hari yang lalu. Rencana yang disusun untuk membuat sebuah pembalasan. Rencana gila, tapi dia berniat untuk melaksanakannya.
“Kalau bapak pulang, katakan saya pergi jalan-jalan…” si Bungsu berkata sambil mengambil samurainya. Salma jadi tertegun. Ada firasat tak enak menyelusup dihatinya. Katakanlah semacam rasa cemas. Dia ingin mencegah anak muda itu untuk tak pergi. Tapi dia yakin, anak muda itu tak tercegah.
“Uda…” hanya itu yang mampu diucapkan ketika si Bungsu sudah sampai di jenjang. Si Bungsu berhenti, menoleh kebelakang. Gadis itu menatapnya dengan sinar mata yang sulit untuk diartikan. Lembut dan dalam. Seperti teluk yang damai dimana kapal-kapal berlabuh.
“Hati-hatilah…’ Akhirnya ucapan itulah yang terlontar dari bibirnya. Namun dari matanya banyak sekali ucapan yang tersirat. Si Bungsu menaiki lagi anak tangga yang dia turuni sebanyak dua buah. Dia pegang tangan Salma, menggenggamnya.
“Terimakasih Salma…” kemudian dia berbalik, buru-buru menyusul serdadu Jepang tadi. Salma menatapnya hingga lenyap dibalik tikungan.
Keenam serdadu Jepang itu sudah memutari separo kota Bukittinggi. Regu patroli jalan kaki itu dipimpin oleh seorang Syo Cho (Sersan Mayor). Keenam mereka tak seorangpun yang memakai samurai. Syo Cho memakai pistol dipinggangnya. Sementara lima orang lagi, yang terdiri serdadu-serdadu berpangkat Itto Hei (Prajurit Satu) tiga orang dan berpangkat Djo to Hei (Prajurit Kepala) satu orang. Satu orang lagi adalah wakil komandan dengan pangkat Hei Cho (Kopral). Kelima mereka memakai bedil panjang lengkap dengan sangkur terhunus diujung bedilnya.
Mereka tengah lewat di dekat penghentian bendi tak jauh dari jenjang gantung yang melintasi jalan, yang menghubungkan pasar teleng dengan pasar bawah, ketika tiba-tiba saja seorang anak muda menghadang mereka. Syo Cho yang memimpin regu itu jadi gusar melihat anak muda yang tegak bertolak pinggang di depannya. Dengan tangan kananya ia dorong anak muda itu. Sebenarnya, kalau saja mereka tidak kalah perang dengan Sekutu, anak muda ini barangkali telah dia tampar. Atau dia tangkap dan diseret ke markas.
Tapi kini situasi sudah berbeda jauh. Mereka adalah tentara yang kalah. Makanya mereka cukup hati-hati.
“Minggir..” katanya sambil mendorong. Namun saat itulah yang ditunggu anak muda yang tak lain dari pada si Bungsu, samurainya bekerja dan tangan yang mendorongnya tiba-tiba dibabat putus hingga kebatas siku!
Syo Cho itu memekik. Kelima anggota regunya terkejut dan siap untuk mengadakan pembalasan. Namun keadaan sudah diperhitungkan si Bungsu. Dia sudah mengira, bahwa rencananya itu rencana gila. Tapi dia merasa kasihan pada pejuang-pejuang yang selalu kalah dalam tiap penyergapan di luar kota.
Begitu tangan Sersan Mayor itu putus, dia menyergap tubuhnya dari belakang. Kemudian seperti dia mengancam Mayor Akiyama di Birugo dahulu, begitu pulalah yang dia perbuat kini. Sersan itu dia ancam dengan melekatkan mata samurainya kelehernya.
“Letakkan seluruh bedil kalian di tanah, kalau tidak saya sembelih komandan kalian ini. Lekas!” si Bungsu menghardik. Kelima serdadu itu tersurut. Mereka jadi ngeri melihat darah yang menyembur dari tangan Sersan yang putus itu. Sersan itu memekik dalam bahasa Jepang agar anak buahnya meletakkan bedil.
Dan keenam serdadu itu segera menyadari, bahwa yang menghadang mereka itu adalah si Bungsu. Anak muda yang ditakuti itu. Yang telah lolos dari tahanan di dalam terowongan dahulu. Menyadari bahwa yang mencegatnya adalah si Bungsu, keenam mereka benar-benar tak mampu berkutik.
Dan kelima serdadu itu mencampakkan bedil mereka ke tanah. Meski hari itu bukan hari balai, bukan Sabtu dan Rabu, namun orang tetap ramai kepasar. Dan dalam waktu sebentar saja, tempat itu telah dikerumuni orang. Penduduk melihat makin lama makain ramai dari kejauhan.
“Kalian tanggalkan pakaian kalian semua. Cepaaat!!” si Bungsu berteriak lagi. Dan tanpa menunggu perintah kedua, mereka berlomba menanggalkan baju dan celana dinasnya.
“Nah, kini dengarkan baik-baik. Katakanlah pada Letnan Kolonel Akiyama bahwa si Bungsu mencarinya. Pergilah cepat!”
Berkata begini, dia mendorong tubuh Sersan Mayor yang dia ringkus tadi. Sersan Mayor itu terjajar. Kemudian melangkah menjauh.
“Pergilah sebelum saya berobah niat…” kata si Bungsu. Yang lima mundur menjauh, Sersan itu juga. Namun si Sersan kini mempunyai niat lain. Si Bungsu ternyata lupa melucuti senjata pistol dipinggangnya. Kini jarak mereka ada sepuluh depa. Bukankah samurai si Bungsu tak berdaya dalam jarak begitu? Dia pasti bisa menghajar anak muda itu.
Maka dengan perhitungan begini, tiba-tiba tangan kirinya mencabut pistol dipinggang.
“Bagero! Bungsu jahanam, kubunuh kau!” teriaknya begitu pistolnya keluar dari sarangnya. Dan kelima serdadu Jepang yang lain pada berhenti.
Mata si Bungsu tiba-tibamenyipit.
Sepuluh depa! Dia perhitungkan jarak itu. Berapa kalikah dia harus bergulingan maka sampai ke Jepang yang pontong tangannya itu? Atau dia lemparkan sajakah samurainya dari sini? Peluru pistol itu pasti lebih cepat.
Perhitungan ini diambil dalam waktu yang hanya dua detik. Sebab pistol itu sudah akan diangkat untuk ditembakkan. Penduduk pada terpekik dan mundur. Dan saat itulah tubuh si Bungsu bergulingan di tanah. Lompat tupai!
Tiga kali, empat kali bergulingan tiba-tiba dia dengar letusan. Kakinya terasa panas, luka! Saat itulah dia bangkit. Sebuah letusan lagi, dan rusuknya terasa pedih. Luka! Jaraknya masih empat depa. Samurainya tiba-tiba keluar dan melayang! Creep!!
Lemparannya tepat mengenai jantung Sersan Mayor itu. Tertancap hingga kehulunya dan tembus terjulur panjang dibahagian punggung. Sersan itu berusaha menarik pelatuk pistolnya. Namun tubuhnya terkulai tiba-tiba. Jatuh, dan mati!
Si Bungsu cepat memburu, menyentakkan samurai itu dan menatap lima Jepang yang hanya bercelana kolor di depannya. Kelima Jepang itu tiba-tiba balik kanan dan ambil langkah seribu! Lari.
“Jangan lupa sampaikan pada Akiyama, saya mencarinya!! Si Bungsu berteriak.
Dua orang tentara Jepang saking takutnya sambil berlari itu lalu mengiyakan. Angguk ketakutan.
Si Bungsu melihat kaki dan rusuknya yang pedih tadi. Hanya luka tergores. Tak Parah. Meski darah mengalir cukup banyak.
“Jika ada diantara kalian pejuang bawah tanah, ambillah bedil ini dan pergi cepat sebelum Jepang tiba….” Dia berkata. Sunyi sejenak.
Dan tiba-tiba saja empat lelaki berkain sarung dibahunya muncul ketengah. Mengambil senjata-senjata dan pakaian yang ditinggalkan Jepang itu. Mereka menatap sejenak pada si Bungsu.
“Kami sudah banyak mendengar tentang nama besarmu anak muda. Dan hari ini kami lihat betapa nama besarmu itu tidak kosong semata. Terimakasih atas bantuanmu. Tuhan akan selalu melindungimu…..” salah seorang dari yang barkain dan bersebo yang berkumis dan bertubuh kekar berkata. Dan sehabis berkata begini, keempat mereka hilang diantara palunan manusia. Menyelinap dibalik-balik rumah. Dan lenyap entah kemana.
“Kalian menghindarlah dari sini, jangan sampai didapati Kempetai nanti….” Si Bungsu memberi ingat pada penduduk sambil berjalan cepat-cepat.
Pendudukpun pada bertebaran menghindarkan diri. Namun beberapa orang masih tegak disana menatap pada sersan yang mati itu. Dan saat itulah selusin lebih Kempetai telah mengepung tempat tersebut.
Ada enam orang lelaki, dan tiga orang perempuan yang tak sempat menghindarkan diri. Yang masih terlongo-longo menatap mayat sersan itu ketika Kempetai datang. Semua mereka ditangkap untuk pemeriksaan dan menanyakan kemana si Bungsu dan siapa yang mengambil bedil yang ditinggalkan tadi.
Kalau saja mereka mengikuti petunjuk si Bungsu agar menghindar cepat dari sana, maka mereka tentulah tak usah dapat kesusahan ditangkap Kempetai. Tapi mereka tak dapat pula disalahkan sepenuhnya. “Pertunjukkan” seperti yang baru saja mereka lihat, dimana seorang pemuda Indonesia melawan dan menelanjangi tentara Jepang, seorang lawan enam orang, dan pemuda Indonesia yang seorang itu menang pula, benar-benar belum pernah bersua dalam hidup mereka.
Bahkan mungkin takkan pernah lagi mereka menemuinya. Mereka sudah banyak mendengar dari mulut ke mulut, bahwa ada seorang anak muda yang bernama si Bungsu, yang berasal dari Payakumbuh, dari kaki gunung Sago, yang selalu berhasil membunuhi Jepang.
Diam-diam, nama anak muda itu menjadi macam tokoh dongeng dan legenda kehidupan mereka. Kaum lelaki dan perempuan, tua dan muda, menganggap anak muda itu sebagai suatu tokoh pahlawan yang hanya hidup dalam zaman dongeng.
Namun tiba-tiba saja, hari ini pahlawan dongeng mereka itu muncul. Dan kemunculannya tidak hanya sambil lenggang kangkung. Dia muncul lengkap dengan kemahirannya melucuti dan membunuh Jepang dengan samurainya. Dia muncul lengkap dengan kehebatannya memainkan samurai. Suatu kemunculan yang komplit seperti didalam dongeng yang mereka dengan selama ini.
Memang tak dapat disalahkan penduduk yang masih tetap tinggal ditempat kejadian itu. Barangkali mereka tak merasa rugi telah ditangkap Kempetai. Malah bila telah bebas, meski kena tampar sebelas dua belas kali, kepada teman dan kenalan, kepada sanak famili, kepada anak cucu, mereka bisa menepuk dada. Bercerita tentang kehebatan si Bungsu. Bercerita bahwa mereka ikut dalam “aksi” membunuh dan menelanjangi enam orang Jepang di dekat jembatan gantung itu bersama si Bungsu. Bersama si Bungsu!
Hm, bayangkan kebanggan yang akan mereka perdapat.
Demikian selalu rakyat kecil. Harapannya tak pula besar. Kecil saja, sekecil kehidupan mereka. Bagi mereka, kebanggaan-kebanggan bertegur sapa atau berdekatan dengan tokoh yang dikagumi, sudah merupakan suatu kebahagian. Dan itu mereka perdapat hari ini.
Peristiwa di dekat jembatan gantung itu segera menyebar seperti menelan lalang. Bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Makin lama, kehebatan peritiwa itu makin menjadi-jadi. Ada yang bercerita bahwa pakaian kelima serdadu Jepang itu tanggal hanya karena bentakkan si Bungsu.
Artinya, bentakkan si Bungsu mengandung tenaga dalam yang tangguh. Ada pula yang menceritakan bahwa dia melihat benar dengan mata kepala sendiri, betapa si Bungsu tetap saja tegak ketika ditembak belasan kali oleh Kempetai-Kempetai itu. Setelah peluru pistol Kempetai itu habis barulah si Bungsu beraksi dengan samurainya. Bukan main hebatnya cerita itu bertebar dan bersambung dari mulut ke mulut. Yang sejengkal djadi sedepa.
Namun begitulah selalu rakyat kecil. Jika mereka tidak mampu memperoleh yang besar-besar, bahkan memperoleh yang kecil sekalipun susah, maka mereka cukup merasa puas dengan hanya menceritakan sesuatu yang besar.
Atau sekurang-kurangnya membesar-besarkan peritiwa kecil. Bukankah itu termasuk juga suatu”pekerjaan” yang besar?
Letnan Kolonel Akiyama mencak-mencak saking berangnya mendengar laporan kelima serdadu yang ditelanjangi itu. Mukanya merah padam. Persis udang yang dibakar hidup-hidup. Kelima serdadu yang hanya bercelana kotok itu dia biarkan terus bercelana kotok. Tak dia biarkan memakai pakaian.
“Goblok! Pandir! Kalian tak punya otak. Tak mampu melawan seorang anak ingusan yang hanya pakai samurai. Sialan” dan tangannya bekerja menampari kelima orang serdadunya itu. Puak…puak-puak…pak! Berkatintam tangannya mendarat datar di pipi, kepala dan tengkuk kelima serdadu itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: