tikam samurai-bagian-95-96-97


mati dicabik samurai
“Dia menyampaikan akan ada rapat malam ini, ditempat biasa”
“Baiklah saya akan kesana….”
Kurir itu pergi. Kini kembali mereka tinggal berdua. kari Basa dan si Bungsu.
“Akiyama lagi…” Kari Basa mendesis perlahan.
“Siapa dia? si Bungsu bertanya. Kari Basa menatapnya.
“Engkau tak tahu siapa dia?”
Si Bungsu menggeleng. Kari Basa menarik nafas panjang.
“Dalam tentara Jepang ada beberapa serdadu yang kejamnya bukan main. Masih ingat perlakuan yang kita terima dalam tawanan di terowongan itu?”
Si Bungsu mengangguk. Bagaimana dia akan melupakannya? Masih dia ingat betapa kuku jari Kari Basa dicabuti satu demi satu. Dan saat ini dia lirik jari-jari kaki Kari Basa tak berkuku sebuahpun. Dan dia juga masih ingat betapa tubuhnya disayat-sayat dengan samurai. Kemudian jarinya dipatahkan.


“Nah, cukup banyak tentara Jepang yang sadis begitu. Dan tukang ciptanya hanya seorang. Yaitu Akiyama!”
“Lalu Akiyama itu siapa?” si Bungsu kembali bertanya.
“Pangkatnya kini Letnan Kolonel. Dulu Mayor. Masih ingat Mayor yang engkau ancam dengan Samurai ketika mereka menyergap rapat di Birugo?”
Tubuh si Bungsu tiba-tiba menegang mengingat Mayor itu.
“Masih ingat bukan?” Kari Basa bertanya lagi. Dengan perasaan sumbang si Bungsu mengangguk.
“Nah, dialah Akiyama!”
“Akiyama…!” si Bungsu berkata perlahan.
“Ya. Dialah orangnya…”
Pikiran si Bungsu segera merekam kembali saat penangkapannya di Koto Baru. Betapa Mayor itu memerintahkan mereka untuk keluar dari rumah Tabib tempat dia berobat.
Kemudian ketika dia keluar bersama Kari Basa, Mayor itu menyuruh melemparkan samurainya ketanah. Ketika samurainya telah dia lemparkan, dan telah dipungut oleh seorang Kempetai. Mayor itu maju. Kemudian dengan tusukan jari-jari tangannya dia menghantam luka dibahunya. Dua kali. Dan dia jatuh ketanah dalam sakit yang tak terkira. Dan saat itu dia lihat Datuk Penghulu melayang. Menendang Mayor itu… dan Datuk Penghulu mati dicabik samurai Mayor tersebut. Dia ingat lagi semuanya itu. Ingat benar.
Kiranya Mayor itu masih hidup.
“Hei, kami ada oleh-oleh untukmu….” Kari Basa tiba-tiba ingat sesuatu.
“Salma, bawa kemari yang ayah suruh simpan kemarin….” Kari Basa berseru tanpa memberi kesempatan pada si Bungsu untuk bicara. Tak lama kemudian anak gadis Kari Basa itu muncul dengan sebuah kayu ditangannya. Si Bungsu segera saja tertegak melihat oleh-oleh yang berada di tangan gadis itu.
“Samurai….” Katanya begitu dia mengenali benda itu sebagai samurai miliknya.
“Ya. Itu samurai milikmu…” kata Kari Basa.
“Ya. Ini milikku, dimana bapak dapat?”
“Bukan saya yang mendapatkannya. Dua malam yang lalu ada pejuang yang mencoba memasuki rumah Akiyama. Maksudnya ingin membunuhnya. Sebab sudah banyak kekejaman yang dilakukan Akiyama di negeri ini. Namu Akiyama tak dirumah. Yang ditemuinya hanya seorang Kopral. Kopral itu dibunuh. Dan di dinding, dia meliaht samurai ini. Dia segera mengenalinya sebagai samuari milikkmu. Karena dia ikut dalam penjagaan rapat di Birugo yang digerebek Jepang itu. Dia melihat engkau yang memakai samurai ini. Dia ambil, dan dia berikan kepada kami…”
“Ah, terima kasih. Terima kasih…” si Bungsu menerima dan mencabut samurainya. Melihat matanya. Menjamahnya dengan ibu jari. Kemudian tanpa dia sadari matanya terpejam. Dan tiba-tiba tangannya berkelabat. Amat cepat, dan samurai itu masuk kembali kesarangnya. Dan di meja, seekor lalat mati dengan tubuh terbelah dua.
Kari Basa menatap pada anaknya. Salma tegak terpaku melihat kecepatan anak muda itu.
“Ah…sudah lama sekali rasanya tak mempergunakan samurai. Saya harus berlatih lagi dari awal. Sudah kaku sekali,,,,” dia berkata sambil menimbang-nimbang samurainya.
“Lambat? Lihatlah, engkau berhasil membelah seekor lalat yang sedang terbang. Persis belah dua…” Kari Basa menunjuk pada lalat yang terhantar di meja itu.
Si Bungsu tersenyum tipis.
“Hanya seekor… Bapak tahu berapa ekor yang ingin saya bunuh tadi? Ada empat ekor mereka terbang. Dan ternyata hanya seekor yang kena. Dahulu keempatnya pasti mati. Tapi kini, lihatlah, saya sudah terlalu lambat….” Dia berkata.
Kari Basa menggeleng-geleng. Takjub. Kagum.
Dan siang itu si Bungsu memang mulai berlatih mempergunakan samurainya. Dia berlatih dihalaman belakang. Mula-mula dia berlatih mencabut samurai itu. Sekali-dua, tiga kali, empat kali, sebelas….tiga puluh, delapan puluh, seratus dua puluh. Dan peluh membasahi tubuhnya.
Tangan kananya yang mencabut samuari itu rasa kesemutan. Sebab kecepatannya mencabut samurai sudah agak lumayan. Dia sadar sepenuhnya, dalam pertarungan dengan samurai kecepatan mencabut samurai sangat menentukan. Apalagi kalau perkelahian dilakukan dalam jarak sejangkauan tangan.
Dan perkelahian antara pesilat-pesilat yang tangguh dan perkelahian satria, memang dilakukan dalam jarak jangkau samurai.
Namun tak kalah pentingnya dari kecepatan adalah faktor kecepatan. Cepat dalam mencabut samurai, dan tepat dalam tekhnik menyerang. Itulah yang sempurna. Kecepatan saja tanpa ketepatan serangan, percuma saja. Setelah samurai dicabut, lalu diapakan? Maka ketepatan yang menentukan.
“Makanlah, nasi telah saya letakkan…” tiba-tiba dia mendengar suara Salma. Dia mengambil handuk kecil di jemuran. Kemudian melangkah ke bawah pohon jambu perawas.
“Apakah bapak sudah kembali?” tanyanya.
“Tidak. Bapak sudah berpesan, bahwa dia akan ke Tigo Baleh. Ada urusan di sana. Dan mungkin sampai malam nanti dia tak kembali…”
Si Bungsu segera ingat bahwa malam nanti akan ada rapat di “tempat biasa” seperti yang dikatakan kurir tadi pagi.
Dia menatap pada Salma. Sebuah rencana muncul dikepalanya. Sebuah rencana lagi. Tapi harus dia laksanakan. Yaitu sebelum dia pergi meninggalkan negeri ini menuju Jepang. Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, dia harus latihan dulu dengan baik.
“Salma, mau membantu saya ?”
Salma menatapnya. Kemudian tersenyum. Dan turun kehalaman belakang.
“Apa yang dapat saya perbuat ?”
“Tunggu sebentar…” dan si Bungsu memanjat batang jambu perawas didekatnya. Mengambil putiknya. Ketika dia tengah memetik putik buah perawas itu dia teringat belum minta izin. Dia menoleh lagi pada Salam.
“Boleh kuambil putiknya ini bukan ?” tanyanya. Salma hanya tersenyum.
“Boleh ndak?” tanyanya ragu melihat senyum gadis itu. Dia ragu dan berdebar melihat senyum Salma yang memikat. Masih tetap tersenyum, gadis itu menjawab:
“Ambillah. Abang tinggal memilih mana yang abang suka untuk memetiknya…” si Bungsu merasa disindir. Tapi dia memetik terus.
“Tolong tampung di bawah…” katanya. Salam mengambil sebuah panci. Kemudian menampung putik-putik perawas itu. Umumnya yang dipetik si Bungsu adalah yang sebesar ibu jari. Cukup lama dia memetik. Ketika sudah terkumpul sekitar seratus buah, dia baru turun. Salma jadi heran, untuk apa putik perawas sebanyak ini oleh anak muda itu? Tapi keherannya dia simpan saja dihati.
“Nah, kini tetaplah tegak di sini, ambil dua buah kemudian lemparkan kearahku kuat-kuat. Mengerti…?”
Salma mengangguk. Kini dia mengerti bahwa putik jambu itu akan dipergunakan sebagai alat untuk latihan. Si Bungsu mengambil jarak sepuluh depa di depan Salma. Kemudian memandang pada gadis itu. Samurainya dia pegang dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya tergantung lemas disisi tubuh. Dia memusatkan konsentrasi. Menatap diam-diam pada Salma. Salma jadi gugup ditatap begitu. Kemudian menunduk.
“Hei, jangan menunduk!” si Bungsu berseru. Salma jadi merah mukanya.
“Habis abang tatap begitu terus-terusan. Saya jadi gugup…” katanya tersipu-sipu. Dan tiba-tiba si Bungsu pula yang jadi jengah. Namun dia kuat-kuatkan hatinya. Dengan muka yang juga bersemu merah, dia kembali menatap Salma. Gadis itu juga menatapnya.
“Nah…siaplah. Engkau boleh melemparkan dua buah putik jambu itu bila saja engkau sukai. Dan jangan berhenti. Lemparkan terus sekali dua buah. Mengerti ?”
Salma mengangguk. Dia ingin membantu anak muda ini. Membantu mengembalikan semangat dan kepercayaan terhadap dirinya.
Dialah yang paling mengetahui, betapa anak muda ini kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sejak disiksa dalam terowongan itu. Dia mengetahui hal itu ketika merawatnya dibiliknya lebih dari sebulan. Dia mendengar betapa anak muda ini merintih. Memekik. Mengeluh dan bahkan menggigil melihat jari-jari tangan kirinya yang dipatahkan Jepang.
Dan ketika telah sembuh, dia melihat betapa setiap kali anak muda itu merenung. Menatap pada tangannya. Mengepal-ngepalkan tangannya itu. Kemudian menggerak-gerakkannya. Kini nampaknya dia ingin berlatih. Dan Salma berniat membantunya sekuat tenaga.
“Awas…!” gadis itu berteriak tiba-tiba sambil melemparkan dua buah putik perawas. Lemparannya cukup cepat dan kuat. Si Bungsu terkejut, dan tangannya menggapai kehulu samurai. Tapi kedua putik perawas itu telah mengenai tubuhnya sementara samurainya belum keluar sedikitpun!
Salma jadi kaget. Kenapa terlalu lamban anak muda itu?
“Uda, kenapa?” tanyanya sambil mendekat pada si Bungsu. Si Bungsu menggelan. Salma tegak disisinya.
“Kenapa. Tanganmu sakit lagi…?” tanyanya sambil memegang tangan si Bungsu. Si Bungsu tambah menunduk. Menarik nafas. Panjang, kemudian menatap pada Salma.
“Ya. Tidak hanya tangan, tapi tubuh saya juga terasa lumpuh…” katanya perlahan. Salma jadi pucat.
“Kenapa…?” bisiknya.
“Karena matamu..” jawab si Bungsu. Salma membelalak. “ Ya. Saya seperti lumpuh engkau tatap begitu Salma”.
Dan tiba-tiba gadis itu menunduk. Hatinya berdebar kencang. Kakinya menggaris-garis tanah. Dan si Bungsu terkejut, ketika dilihatnya pipi gadis itu basah.
“Salma..? saya menyakitimu…?’ Salma masih menggaris-garis tanah dengan ibu jari kakinya. Kemudian menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Uda mempermainkan saya….” Jawabnya perlahan. Dia sebenarnya bahagia. Tapi sekaligus juga sedih. Bukankah dalam mimpinya, dalam igaunya ketika sakit, dia dengar si Bungsu puluhan kali menyebut nama Mei-Mei?
“Mempermainkan…? Sungguh mati, saya jadi gugup seperti lumpuh kau tatap seperti itu…. Tapi maafkan kalau ucapan saya itu menyinggung perasaanmu…”
Salma mengangkat kepala. Kemudian tersenyum. Betapapun dia harus membantu anak muda itu mengembalikan kepercayaan dirinya.
“Tidak marah…? Tanya si Bungsu. Salma menggeleng. Salma tersenyum. Si Bungsu menarik nafas. Si Bungsu balas tersenyum. Kemudian Salma kembali ketempatnya, kesisi baskom yang berisi putik jambu di atas meja kecil di bawah batang perawas.
“Kita mulai lagi…?” tanyanya.
“Ya, tapi jangan kau sihir dengan matamu. Tangan saya bisa tak bergerak…” jawab si Bungsu bergurau. Salma tertawa kecil. Tangannya mengambil dua buah putik perawas disampinya. Kemudia tegak lurus.
“Siap..?” tanyanya.
Si Bungsu menarik nafas. Memusatkan perhatian kemudian mengangguk. Salma tak segera melemparkan putik jambu itu. Ada beberapa saat dia berdiam, kemudia baru melemparkannya sekuat tenaga.
Samurai si Bungsu berkelabat. Memancung kekiri dan kekanan. Kemudian samurainya masuk kembali kesarangnya. Namun kedua putik jambu itu mengenai tubuhnya. Gagal! Salma menatapnya.
“Saya gagal…” kata si Bungsu perlahan. Namun saat ini Salma sudah mengambil dua buah lagi putik jambu dari dalam baskom. Dan ketika kata-kata “gagal” itu diucapkan si Bungsu, Salma melemparkan putik jambu tersebut. Jambu itu melayang cepat sekali. Si Bungsu tak sempat berfikir, dengan cepat mengandalkan instingnya, tangannya bergerak. Mencabut samurai dan membabat ke depan.
Kena! Ya, sebuah dari putik-putik jambu itu kena. Meski tak tepat, tapi putik jambu itu sempat sumbing. Mereka bertatapan lagi.
“Sudah mulai sedikit…!” Salma berkata sambil mengambil lagi putik jambu tersebut. Dan tiba-tiba melemparkannya kembali, si Bungsu mencabuty samurainya. Membabatkannya. Gagal! Dia gagal lagi.
Samurainya memang tercabut dengan cepat. Bahkan hampir-hampir tak terkejutkan oleh mata Salma. Namun babatannya meleset. Demikian mereka ulangi berkali-kali. Sampai akhirnya si Bungsu mulai biasa lagi. Tangannya mulai melemas tidak kaku seperti awalnya. Beberapa kali, samurainya sempat membelah sebuah putik jambu itu persis di tengah. Kemudian gagal lagi. Kemudian tepat lagi. Begitu silih berganti.
Tapi menjelang putik jambu itu habis dua pertiga, dia sudah bisa membelah dua putik jambu yang dilemparkan Salma. Mereka hanya istirahat kalau tangan Salma atau tangan si Bungsu sendiri sudah penat dan pegal. Lalu mereka mengulangi lagi latihan itu.
Suatu saat, Salma berkata:
“Nah, itu ayah pulang…” si Bungsu menoleh kebelakang, dan saat itulah Salma melemparkan kedua putik jambu di tangannya ke arah si Bungsu. Telinga si Bungsu tajam mendengar sesuatu menuju ke arahnya. Dia berpaling, dan saat itulah kedua putik jambu yang dilemparkan Salma menghantam dada dan kepalanya! Si Bungsu tertegun. Dia kaget bukan main. Salma menarik nafas panjang.
“Abang tertipu, dan kurang waspada…” katanya perlahan. Si Bungsu mengangguk. Dia jadi kagum akan kecerdasan gadis ini.
“Terimakasih Salma. Engkau mengingatkan aku sesuatu…kini kita lanjutkan latihan dengan caramu itu, engkau lelah…?”
Salma menghapus peluh di wajahnya yang memerah seperti tomat. Kemudian menggeleng. Si Bungsu membelakang kemudian berkata:
“Nah, untuk tahap pertama, engkau harus bersuara bila melemparkan putik jambu itu. Nanti kalau sudah tebiasa, baru engkau lemparkan tanpa peringatan…”
“Awas…!!” Salma melemparkan putik jambu ditangannya tanpa memberi kesempatan jarak pada si Bungsu. Si Bungsu menajamkan pendengaran. Kemudian mencabut samurai dan berputar sambil menghayunsamurai ditangannya.
“Tras! Tras! Tapi samurainya menerpa angin kosong! Salah satu diantara putik jambu itu mengenai dadanya yang satu lagi terus ke belakang jatuh ke tanah.
“Gagal, kita teruskan…” katanya sambil berputar. Salma kali ini memberi kesempatan pada anak muda itu untuk bernafas. Perlahan mengambil buah jambu di baskom. Kemudian dengan teriakkan “Awas” sekali lagi, dia melemparkan putik jambu itu.
Si Bungsu mencabut samurai menanti sesaat kemudian berputar sambil menghayun samurainya. Kena! Ya, kini satu diantara putik jambu itu kena persis pada pertengahannya.
Dan latihan itu mereka ulangi terus. Terus dan terus hingga si Bungsu dengan tepat mengenai kedua putik jambu yang dilemparkan disaat dia membelakangi itu.
Hari-hari berikutnya si Bungsu mencoba methode yang dulu pernah dia lakukan di Gunung Sago. Yaitu mengendalikan pendengarannya sambil memicingkan mata. Dia duduk bersila di tanah kemudian memejamkan mata. Dan Salma kembali melemparkan putik-putik jambu itu.
Seperti halnya setiap permulaan, pada awal-awalnya dia selalu gagal. Tetapi makin lama, tangannya makin mahir. Dan pendengarannya makin terlatih. Dan kini kedua putik jambu itu senantiasa terbabat belah dua!.
Suatu saat si Bungsu merasa ada lebih dari dua putik jambu yang menyerangnya. Dia membabat tiga kali. Kena. Suatu saat empat, lima, enam. Dan dengan kecepatn yang luar biasa, sambil tetap memicing dia membabat terus. Dan kena!
Dan akhirnya dia mendengar tarikan nafas di kejauhan. Tak ada lagi putik jambu yang dilemparkan. Lambat-lambat dia membuka mata. Dan dibawah pohon perawas sana, dia lihat Salma dengan tubuh berpeluh. Gadis itu menatap padanya dengan tersenyum.
“Lelah…?” tanyanya sambil bangkit mendekati Salma.
“Penat dan kehabisan peluru….” Jawab Salma. Dan si Bungsu melihat betapa panci di depan gadis itu sudah kosong. Dia tersenyum.
“Bukan main, yang terakhir delapan buah sekali saya lemparkan. Lihatlah…semua kena” kata Salma.
“Lapan buah?” si Bungsu kini balik bertanya dengan heran.
“Ya, delapan buah. Masa tak tahu..”.
“Saya hanya merasa ada enam buah..”
“Ya, saya lihat hanya enam kali tebas. Tapi dengan enam kali tebas itu kedelapannya kena. Barangkali ada yang sekali tebas dua buah…” Salma berkata perlahan. Matanya menatap ketempat si Bungsu sejak tadi. Dan disana, terdapat belahan-belahan putik jambu. Berserakan memenuhi halaman belakang rumah itu.
“sudah merasa lega kini?” tanya Salma. Si Bungsu menatap dalam-dalam kemata gadis itu. Aneh, ada suatu perasaan yang membuat hatinya jadi buncah dan tak tenteram. Perasaan yang membuat hatinya berdebar.
“Terimakasih Salma. Engkau telah bersusah payah. Merawat diriku, membantu mengembalikan kepercayaan pada diriku. Membantu melatihku…. Terimakasih, aku takkan melupakan budimu…” katanya perlahan. Salma tersenyum, mukanya bersemu merah.
“Hari sudah sore. Tidak lapar?” tanyanya pda si Bungsu. Si Bungsu sudah akan mengangguk, ketika gelang-gelangnya berbunyi. Dia tersenyum malu, Salma juga tersenyum. Dan sore itu dia makan dengan lahap. Makannya bertambuh-tambuh.
Hubungan antara keduanya berjalan makin akrab. Salma tak banyak bicara, namun tatapan matanya yang gemerlap lebih banyak berucap. Dan suatu hari, dia menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin dia tanyakan pada si Bungsu. Sesuatu yang membuat hatunya sebagai gadis yang pertama kalin jatuh cinta jadi luluh. Yaitu tentang perempuan lain, yang namanya selalu disebut si Bungsu dalam igauannya ketika sakit dulu.
“abang berkali-kali memanggil namanya…Mei-Mei!…tentulah dia seorang gadis yang cantik…” kata Salma hari itu, sambil tangannya meneruskan sulamannya.
Si Bungsu tak segera menjawab. Salma menanti dengan berdebar. Sebagai perempuan, dia tak mau ada perempuan lain dalam lelaki yang dia cintai. Tapi sebaliknya, dia tak pula mau merebut lelaki yang telah jadi milik orang lain.
“Ya… dia seorang yang cantik dan amat berbudi..” akhirnya si Bungsu menjawab pelan. Salma merasa jantungnya ditikam. Penjahit ditangnnya terguncang, ibu jarinya tertusuk. Sakitnya bukan main, namun lebih sakit lagi jantungnya.
“Dia ada dikota ini…?’ tanyanya dengan suara nyaris gemetar.
“Ada…” jawab si Bungsu pelan.
Salma ingin meletakkan sulamannya. Ingin berlari ke kamar dan menangis disana. Tapi dia kuatkan hatinya.’
“kenapa tak uda bawa dia jalan-jalan kemari…” tambahanya. Dan dia jadi heran, kenapa mulutnya bisa bicara begitu. Padahal hatinya menjerit luka.
“Dia tak mungkin datang kemari. Tapi saya ingin ketempatnya sore ini, kalau engkau mau aku ingin membawamu kesana. Kau mau bukan…?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: