tikam samurai-bagian-86-87-88


tikam samurai bagian 86
Si Bungsu sudah hampir mampus ketika dia dengar suara letusan.
Letusan sekali. Dua kali. Tiga kali!
Dia merasa dirinya amat luluh. Dirinyakah yang kena tembak? Kari Basa kah?
Dia tak merasakan sakit karena seluruh tubuhnya adalah sakit itu sendiri. Dia
tak merasa menderita karena tembakan itu karena dirinya adalah puncak dari
penderitaan itu sendiri.
Dan diapun terkulai. Sampai disini ajalku…..bisiknya. Dan dia juga yakin,
bahwa bersama ajalnya, orang tua yang bernama Kari Basa itu pun tamat
pulalah riwayat hidupnya.

Namun tak demikian terjadi.
Teman-teman Datuk Penghulu dan Kari Basa mengetahui penangkapan
terhadap kedua orang itu. Perintah langsung dari Engku Syafei menyuruh
membebaskan mereka. Sebuah “pasukan khusus” yang beruniform
beranggotakan sebelas orang segera diberangkatkan. Mereka mempergunakan
beberapa bedil dan pistol yang selama ini secara dia,-diam dicuri atau dibeli
dengan sangat rahasia. Bahkan ada beberapa bedil peninggalan Belanda.
Tugas untuk mengetahui dimana kedua orang ini ditahan diserahkan pada Tai-I
(Kapten) Dakhlan Djambek. Namun untuk menemui Kapten ini bukan main
sulitnya. Jepang memang telah mencium adanya gerakan pribumi yang akan
menentang penjajahan.
Karena itu setiap Anggota Gyugun, mulai dari prajurit sampai para perwira
diawasi dengan ketat. Hanya dengan sangat susah payahlah Tai-I Dakhlan
Djambek bisa berhubungan dengan teman-temannya. Namun setelah dua hari
berusaha, Dakhlan Djambek masih belum berhasil mengetahui dimana kedua
orang itu ditawan.
Para pimpinan tentara Jepang nampaknya memang telah waspada sejak
semula pertama menjejakkan kakinya di Indonesia. Mereka sudah menduga
bahwa lambat laun perlawanan dari penduduk-penduduk setempat kepada
para penjajah pastilah akan timbul.
Karena itu para Gyugun yang berasal dari pemuda-pemudi Indonesia tak
pernah ditugaskan di proyek-proyek militer yang vital. Dan di Bukittinggi
mereka tak pernah ditugaskan di bawah kota yang sedang digali itu.
Yang bertugas mengawasi pekerjaan atau mengawasi pemasukan amunisi
hanyalah balatentara Jepang asli. Karena itu Dakhlan Djambek dan kawan-
kawannya para Gyugun yang lain tak pernah mengetahui secara mendetail
tentang situasi terowongan itu.
Dia berusaha keras untuk mengetahui ruangan-ruangannya, tapi akhirnya dia
menyerah. Tak mungkin untuk mengetahui secara terperinci, apalagi dengan
pengawasan yang ketat dari Kempetai terhadap Gyugun. Pada hari kedua,
yaitu pada batas waktu yang diberikan, Kapten ini memberikan laporan akhir
tentang penyelidikannya.
Isi laporan itu:
“Tak mungkin untuk menyelediki terowongan itu dengan cara intelijen. Tapi
saya yakin, kedua mereka ditawan dalam salah satu kamar di dalam
terowongan tersebut. Sebab beberapa tawanan sekutu juga dibawa kesana.
Untuk mengetahui dimana mereka ditahan, satu-satunya jalan adalah
menangkap dan memaksa salah seorang Kempetai yang pernah membawa
tawanan kesana. Saya akan mengatur jebakan. Sediakan orang yang akan
menanyainya.” Dan surat yang disampaikan melalui kurir beranting itu
akhirnya dilaksanakan. Seorang sersan Kempetai dengan cara yang sangat
halus berhasil dijebak di Kampung Cina ketika sedang minum-minum sake dan
memeluk seorang perempuan.
Perempuan itu dia bawa ke hotel. Di tangga hotel yang teram-temaram
keduanya dipukul hingga pingsan. Si perempuan yang berkulit hitam manis
dibiarkan tergolek di sana. Si sersan dibawa dengan sebuah truk ke sebuah
tempat.
Dari mulut sersan inilah diketahui detail kamar tawanan tersebut. Semula si
sersan tak mau mengaku, tapi ketika sebuah jari tangannya dipatahkan meniru
kekejaman Kempetai, sersan itu menyerah. Lalu membuka rahasia kamar
tawanan itu.
Dan ketika pengakuannya selesai, dia terkejut takkala melihat seorang perwira
Gyugun masuk rumah itu. Dia segera tegak dan memberi hormat dengan sikap
sempurna. Dia jadi gembira, karena denga kehadiran perwiranya itu berarti
kebebasan baginya dari tangkapan ekstrimis ini.
Namun dia segara terkejut takkala melihat perwira itu menatapnya. Orang
yang mematahkan jarinya itu mengambil sebilah samurai. Memberikan kepada
sersan itu. Sersan itu terheran-heran. Rasa herannya berobah jadi rasa
terkejut ketika perwira Gyugun itu berkata dengan nada memerintah:
“Harakiri….!”
Sersan Kempetai itu melongo.
“Harakiri..!!” lagi-lagi perintah perwira itu bergema. Dan kini sama-sama jadi
jelas soalnya oleh si sersan. Dia diperintahkan harakiri (bunuh diri) pastilah
salah satu sari dua sebab. Pertama karena dia telah membocorkan rahasia
militer. Kedua karena perwiranya ini berada dipihak orang yang menangkap
dan mematahkan jari tangannya. Dan dia menduga , bahwa sebab kedualah
yang paling besar kemungkinannya.
“Tai-i……..?” katanya lagi.
“Saya orang Indonesia. Jepang sudah terlalu banyak membunuh bangsa saya.
Kini kau harakiri atau gunakan samurai itu untuk melawan…membebaskan
diri….,” Perintah Tai-I yang tak lain daripada Dakhlan Djambek itu membuat
tubuh si sersan menggigil.
Dia sudah tentu memilih yang kedua. Yaitu mempergunakan samurai itu
untuk melawan. Sebab baginya tak ada harapan untuk hidup. Demikian
putusan Dakhlan Djambek. Kalau Jepang ini tak dibunuh, maka rahasia
penangkapannya akan bocor. Dan kebocoran itu membahayakan perjuangan.
Sersan itu menebaskan samurainya. Orang pertama yang dia serang dengan
samurainya adalah orang yang paling dekat dengannya. Orang itu adalah Tai-I
Dakhlan Djambek. Tebasan samurainya amat cepat mengarah pada leher
Kapten itu.
Namun Dakhlan Djambek adalah seorang perwira yang dididik dengan
kekerasan disiplin militer Jepang. Karena dia perwira, maka kepadanya juga
diajarkan cara menggunakan samurai. Dan kemana-mana, perwira Jepang
umumnya membawa samurai. Demikian juga dengan Kapten ini.
Begitu sabetan samurai si sersan terayun, sesuai dengan latihan dasar yang
diterima, dia mundur dengan cepat dua langkah ke belakang. Kemudian ketika
serangan berikutnya datang, dia menggeser tegak dua langkah. Dan si sersan
lewat disampingnya.
Dengan cepat sersan itu memutar tegak dan kembali mengayunkan
samurainya. Namun saat itu pula samurai di pinggang Tai-I Dakhlan Djambek
keluar dari sarungnya. Putaran tubuh si sersan di silang oleh tebasan samurai
Dakhlan Djambek. Bahu kanan sersan itu hampir putus. Sabetan kedua
membuat kepalanya hampir putus. Dia jatuh. Tapi kematian datang sebelum
tubuhnya mencapai lantai rumah. Perlahan-lahan Kapten itu memasukkan
samurainya kesarangnya setelah melapnya ke baju sersan yang rubuh itu
“Kuburkan dia malam ini. Dan malam ini juga kedua kawan-kawan itu harus
dibebaskan. Mulai hari ini kontak antara teman-teman dengan kami para
Gyugun harus diputuskan buat sementara waktu. Situasi tambah panas.
Kabarnya di Jakarta telah terjadi sesuatu. Saya yakin saatnya untuk
kemerdekaan sudah dekat. Karena itu, tunggu perkembangan selanjutnya.
Salam saya untuk para pimpinan yang lain. Juga buat kedua teman-teman
yang ditawan itu….” Dan kapten ini lenyap ke dalam gelapnya malam.


One response to “tikam samurai-bagian-86-87-88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: