Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 12)


Parang Pariaman (bagian 12)pukulan tenaga batin jarak jauh
Namun itu berarti mengundang bahaya yang lebih besar. Syekh Malik Ibrahim dan semua pimpinan Ulakan bisa dibuang ke Irian atau ke Ambon. Betapa pun bahaya yang tengah mengancam Gindo Fuad dan Sidi Buang, mereka haruslah menerimanya sebagai resiko sebuah perjuangan.
“Angku….”, Anduang Ijuak berkata perlahan.
Sapa yang lembut memang menyadarkan Syekh Malik Ibrahim. Dia yang sudah siap menghancurkan pintu penjara, akhirnya membatalkan niatnya. Namun dia masih tetap tegak membeku di depan pintu. Berusaha menangkap gerak yang dilakukan oleh muridnya di luar sana.Apa sebenarnya yang terjadi di luar sana? Apakah memang kedua muridnya itu masuk jebakan? Kedua orang itu, Sidi Buang dan Gindo Fuad, perlahan mendekati pintu besar.

Mereka melihat dua orang penjaga di masing-masing pintu sedang terkantuk-kantuk. Mereka sudah berniat untuk menyergap, tapi saat itulah tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa mengakak. Mereka tertegak. Suara tawa itu datang dari sudut kiri.Ketika mereka masih dalam keadaan terkejut, mereka dikejutkan lagi yang dihadapkan serentak oleh penjaga yang kiranya sejak tadi sudah memasang perangkap. Sebuah lampu sorot, yang terbuat dari kaleng yang diberi timah diarahkan kepada mereka dari atas.

Mereka jadi silau. Sidi Buang, yang memiliki kepandaian tinggi, menghayunkan tangan. Mengirimkan pukulan tenaga dalam jarak jauh untuk memadamkan lampu sorot itu. Lampu sorot itu terletak di atas setinggi tiga meter di atas tanah.Sebenarnya, dengan kepandaian yang dia miliki, dia bisa memukul hancur lampu itu. Namun aneh, tenaganya terasa lenyap ketika pukulan itu sudah dia lancarkan. Lampu itu tetap menyala. Sekali lagi dia mengangkat tangan. Kemudian mengirimkan sebuah pukulan. Tapi lagi-lagi pukulannya dibuat tak berdaya. Lampu sorot itu tetap menyala!

Dia segera tahu, ada orang berkepandaian tinggi telah memunahkan pukulan tenaga batinnya. Suara tawa tadi lenyap tiba-tiba. Di keliling kedua orang murid Ulakan itu, kini tegak sekitar seratus prajurit Inggeris dengan bedil siap memuntahkan peluru! Mereka masuk perangkap yang dipasang dengan amat sempurna!Kemudian terdengar derap langkah sepatu. Sebuah pintu terbuka. Dari dalam muncul Kapten Calaghan. Dia tegak dalam pakaian dinas yang gagah. Menatap pada kedua murid Ulakan yang tertegak seperti maling kedapatan tangan itu.
“Hmm. Ingin melarikan diri!” kata Kapten itu dengan suara dalam.

Sidi Buang membuka pakaian tentara Inggeris yang tadi dia ambil dari penjaga yang telah dia lumpuhkan. Membuka baju dan celananya. Kemudian melemparkannya ke lapangan di depannya. Pakaian itu jatuh dua depa di depan kapten Calaghan!Kini, Sidi itu tegak dengan celana dan dada telanjang. Dan tubuhnya memperlihatkan kekukuhan tubuh seorang pesilat! Kapten Inggeris tersebut memandang ke arah lampu sorot yang masih saja menyala.
“Terima kasih, Uwak. Firasat anda memang benar….”, kapten itu bicara.

Sidi Buang serta Gindo Fuad jadi heran mendengar ucapan itu. Mereka lebih kaget lagi, tatkala dari balik cahaya lampu sorot itu, seorang lelaki besar, bertampang seram muncul. Dia langsung meloncat dari atas ketinggian tiga meter itu ke tanah. Di udara tubuhnya bersalto tiga kali. Kemudian kakinya menginjak tanah di samping kapten Calaghan.

“Uwak Sanga…..!” desis kedua murid perguruan Ulakan itu hampir berbarengan, menyebut nama lelaki yang baru muncul itu.
“Uwak Sanga, Jahanam!!” maki Syekh Malik Ibrahim dan Anduang Ijuak dari kamar tahanannya.
Mereka memaki setelah mendengar ucapan kedua murid mereka di luar sana. Kedua pimpinan Ulakan itu saling pandang dalam gelap.
“Ternyata dia memproklamirkan permusuhannya dengan Ulakan hari ini….”, kata Syekh Malik Ibarahim.
Di luar sana, Uwak Sanga, pimpinan perguruan Harimau Kumbang dari Pariaman itu tegak dan menatap pada kedua murid Ulakan itu.

“Tangkap dan jebloskan mereka ke kamar bawah tanah. Jangan diberi makan selama dua pekan…”, terdengar perintah kapten Calaghan.
“Tunggu…” suara Uwak Sanga memutus.
“Barangkali hukuman mereka harus lebih berat lagi. Saya tak melihat penjaga yang dia lumpuhkan tadi. Coba periksa dahulu penjaga itu…..” Kapten Calaghan memerintahkan empat orang tentaranya untuk membuka sel dimana Sidi Buang di tahan tadi. Sidi Buang tetap tenang. Dia tak usah khawatir akan menerima hukuman lebih berat. Sebab dia tak mencelakai tentara Inggeris itu.

Namun dugaannya meleset. Ketika tubuh penjaga yang dia lumpuhkan itu diangkat keluar, ternyata penjaga itu telah menjadi mayat. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata bahagian belakang kepalanya pecah. Dari sana darah kelihatan masih mengalir.
“Sersan Ronald sudah mati, Sir” lapor tentara yang membawa mayat temannya itu.
Kapten Calaghan melangkah mendekati mayat Ronald. Kemudian menatap pada kedua orang murid Ulakan itu.
“Engkau telah membunuh seorang pasukan berkuda kerajaan Inggeris. Untuk itu hukumannya hanya satu, yaitu hukuman tembak atau gantung sampai mati.”
Suara kapten Inggeris itu terdengar beku dan dingin. Dia menyambung lagi dalam nada suara yang masih tetap sama.
“Kalian boleh memilih, hukuman mana yang kalian sukai. Tapi, sebelum matahari tinggi esok pagi, kedua kalian sudah harus mati. Kurung mereka!”

Tanpa dapat melawan, karena itu hanya akan sia-sia, apalagi di sana ada Uwak Sanga, maka kedua murid senior Ulakan itu hanya berdiam diri ketika tangannya dibelenggu ke belakang.
Ketika akan diseret ke sel, Sidi Buang menoleh pada Uwak Sanga. Kemudian dia berkata pada pimpinan perguruan silat Harimau Kumbang itu.
“Uwak, kami selama ini menghormati engkau dan perguruanmu. Siapa sangka, hari ini engkau menjilat pantat penjajah. Engkau akan menerima pembalasan yang setimpal….”
Muka Uwak Sanga jadi merah padam. Tangannya memukul ke depan. Empat orang tentara Inggeris yang memeganginya terjengkang. Kedua murid Ulakan itu kini tertegak di tengah lapangan dalam areal Loji.

“Mulutmu terlalu lancang, Sidi. Sama lancangnya dengan gurumu.”
Sehabis ucapannya, tangan Uwak Sanga memukul lagi. Kedua murid Ulakan itu terpental kena pukulan tenaga batin jarak jauh itu. Sidi Buang muntah darah. Sementara Gindo Fuad pingsan.
Sehabis memukul, Uwak Sanga berkata lantang.
“Syekh Malik Ibrahim! Hari ini kubuktikan pada kalian, bahwa kami juga sanggup menghina kalian seperti kalian pernah menghina perguruan kami sepuluh tahun yang lalu!”

Suaranya bergema dalam malam yang mulai dingin. Suaranya yang diiringi tenaga dalam itu memang ditujukan pada pimpinan perguruan Ulakan yang kini berada dalam sel bawah tanah itu.Di dalam sel tersebut, Syekh Malik Ibrahim merasa tubuhnya menggigil.
“Si Sanga! Jahanam. Dia masih berdendam atas kejadian sepuluh tahun yang lalu….”, ujar Syekh itu perlahan.
Ingatannya merangkak ke peristiwa sepuluh tahun yang silam. Saat itu, dia masih menjabat sebagai wakil pimpinan di Ulakan. Waktu itu ada pertemuan beberapa perguruan silat di Pariaman. Syekh Malik Ibrahim hadir. Di antara yang hadir juga kelihatan Uwak Sanga. Yang waktu itu juga menjabat sebagai wakil pimpinan perguruan Harimau Kumbang.

Pertemuan itu sebenarnya semacam “uji coba” bagi pesilat tangguh di kawasan mulai dari Pariaman sampai ke Tiku. Dalam pertemuan para pendekar seperti itu, tak usah disangsikan kalau terjadi semacam “perang tanding”.
Meski dalam bentuk perkelahian atau pertandingan terbuka, namun diam-diam mereka saling memperlihatkan ketangguhan masing-masing perguruan. Sebenarnya ada lebih dari sepuluh perguruan silat yang hadir dalam pertemuan itu.

Namun yang paling keras bersaing adalah perguruan Ulakan dan perguruan Harimau Kumbang. Ketika tiba saatnya pertandingan antara perguruan yang saling berebut pengaruh itu, masing-masing memajukan seorang andalan.Mula-mula dari perguruan Ulakan. Yang muncul adalah Malik Ibrahim. Dia maju dan tegak di depan orang ramai yang membentuk sebuah lingkaran. Tenda-tenda dipasang untuk para senior dan pimpinan perguruan.Kemudian dari Harimau Kumbang yang muncul adalah Uwak Sanga. Kedua orang ini adalah wakil pimpinan dari dua perguruan besar. Namun tanpa diduga, Malik Ibrahim membalikkan badan. Memberi hormat pada gurunya dan berkata.

“Maafkan, saya tak bisa menghadapi orang ini….” katanya.
Tanpa menunggu reaksi dari gurunya, dia lalu meninggalkan arena. Bukan main hebatnya akibat perbuatan Malik Ibrahim ini. Perguruan Harimau Kumbang seperti ditampar dan dilempari kotoran manusia.Tidak mau berhadapan merupakan penghinaan yang hebat. Siapapun dapat menduga apa penyebab Malik Ibrahim tak mau menghadapi Uwak Sanga. Uwak Sanga yang juga seorang Islam dikenal sebagai pemakan masak mentah. Suka mencabuli anak bini orang dan suka berbuat tak senonoh di depan orang banyak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: