Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 10)


Parang Pariaman (bagian 10)syekh Malik Muhammad
Akhirnya negeri… anda dibenci karena suka berkelahi main keroyok. Sedangkan tugas utama, yaitu memerangi penjajah dan membangun negeri tak lagi sempat dikerjakan. Karena pemuka masyarakat sudah sibuk mengurus masalah perkelahian, turun-temurun!

Kenapa kalian hanya bersatu ketika menyerang orang negeri kalian saja. Kenapa kalian hanya bersatu karena menyerang orang Sunua saja. Dan kalian orang-orang Sunua, kenapa kalian bersatu ketika berkelahi dengan orang Pariaman atau orang Ulakan saja. Kenapa kalian tak bersatu, atau tak menggunakan persatuan kalian itu untuk menyerang Inggeris yang menjajah negeri kalian?

Kenapa?! Apakah orang Inggeris yang menjajah itu lebih mulia dari orang negeri kalian sendiri, atau bagak kalian hanya ditujukan pada orang kampung sendiri, sementara bila berhadapan dengan penjajah jiwa kalian jadi kerdil?
Negeri ini tengah dijajah. Tengah diperas. Banyak pemimpinnya telah ditangkap dan dibunuh oleh penjajah. Baik bangsa Belanda maupun bangsa Inggeris dan Portugis. Tapi saya tak pernah melihat kalian jadi fanatik dan bersatu untuk membunuh penjajah yang telah membunuh pemuka kalian itu. Cobalah jawab, kenapa?”

Sidi itu berhenti lagi. Kebenaran ucapannya secara perlahan, tapi pasti, menyelusup ke dalam hati semua orang Pariaman yang datang ke sana untuk membunuhnya itu. Ucapan itu juga menyelusup ke hati orang-orang Sunua yang saat itu berkumpul pula di sana untuk melawan orang Pariaman yang tadi telah memukul orang kampung mereka.

Semua mereka terdiam. Menunduk dan merasa malu. Mereka coba mengingat sudah berapa kali mereka berkelahi dan terlibat dan cakak banyak yang berlumur darah dan menimbulkan korban tak sedikit dalam perang antarkampung. Sudah berapa kalikah? Tak terhitung lagi.
Mereka bahkan pernah mengirim “pasukan” ke Padang. Yaitu ketika di sana terjadi perkelahian antara orang Pariaman dengan orang Agam. Bahkan mereka pernah mengirim pasukan ke Riau. Ketika di sana terjadi perkelahian antara orang Pariaman dengan orang Aceh.
Apa yang dikatakan oleh Sidi Marhaban ini memang benar. Banyak pimpinan mereka yang ditangkapi oleh Inggeris. Namun mereka tak punya nyali untuk melawan. Yang di tangkap itu dibiarkan saja disiksa. Suara Sidi yang orang Bugis itu terdengar lagi :

“Tak ada soal yang selesai dengan tikaman. Tak ada orang yang jadi orang besar karena buku jari. Orang jadi orang besar karena otaknya. Karena itu, cobalah berfikir agak tenang. Jangan menurutkan hati panas….”
Tiba-tiba salah seorang di antara mereka, maju.

“Sidi. Anda orang asing. Kami sudah siap untuk membunuh anda. Untuk anda ketahui, belum ada orang yang berani mengatai-ngatai kami seperti yang ada lakukan sebentar ini. Seharusnya anda kami gantung dan kami sayat-sayat. Tapi semua yang anda katakan semata-mata adalah kebenaran. Kami jadi malu pada diri kami. Pada kebodohan kami. Kami telah terlanjur datang kemari, betapapun tak ada yang terlambat. Ternyata kedatangan kami kemari ada manfaatnya. Yaitu dapat mendengarkan apa yang baik dan apa yang tidak, tentang kelakuan kami selama ini. Untuk itu, saya atas nama diri saya pribadi, atas nama teman-teman yang lain, minta maaf. Maafkanlah kebodohan saya, kebodohan kami. Kami memang tak punya pendidikan yang tinggi. Bahkan sekolahpun tidak…..maafkan kami!”

Lelaki Pariaman itu mengulurkan tangannya. Sidi Marhaban juga. Tapi mata anak Bugis itu berkaca. Kejujuran lelaki Pariaman itu, tentang kebodohan dan ketidak berpendidikannya, sangat mengharukan hati Sidi itu. Lelaki jujur yang alangkah rendah hatinya. Dia salami tangan orang Pariaman itu dengan erat.
“Tuan lelaki yang berbudi….” katanya.Orang Pariaman itu sendiri sudah sejak tadi merasa ingin menangis. Namun dia nelayan yang keras hati. Dia membuang muka menatap ke laut. Dia tidak ingin Sidi melihat air matanya menitik turun. Dan ketika tangannya telah dilepaskan oleh Sidi yang berbudi itu, dia cepat-cepat menghindar dari depan orang saleh itu.

Orang-orang Pariaman yang lain juga berdatangan minta maaf. Menyalaminya. Kemudian bersalaman dengan penduduk Sunua yang tadi beberapa orang telah mereka sakiti.Begitu kesan mendalam yang ditinggalkan oleh Sidi Marhaban pada orang-orang Pariaman dan sekitarnya. Dan kini, ketika orang-orang itu mendengar bahwa Sidi itu meninggal, mereka lalu datang menunjukkan rasa duka cita dan rasa kehilangan yang amat dalam.

“Izinkan kami ikut memikul keranda jenazah orang berbudi ini, tuan Syekh….” salah seorang dari pemuka Pariaman itu berkata.
Syekh Malik Muuhammad menatapnya. Dan memberi isyarat pada dua orang murid Sunua dan Ulakan yang memikul keranda mayat di bahagian depan. Kedua murid itu memberikan pikulan tersebut pada dua orang Pariaman. Dan iringan jenazah itupun bergerak ke pekuburan murid-murid Syekh Burhanuddin di Ulakan.
—o0o—
Prosesi jenazah itu adalah prosesi yang duka. Tapi dalam prosesi itu sudah tumbuh benih kebencian yang amat membakar pada penjajah Inggeris. Mereka tengah menimbun tanah yang terakhir ke pusara tatkala derap kaki kuda itu terdengar lagi.
Saat itu hari sudah berlalu senja. Syekh Malik Muhammad mulai membacakan doa tatkala pasukan berkuda Inggeris itu mulai mengepung mereka. Kemudian terdengar suara Kapten Calaghan bergema.
“Kami atas nama Kerajaan Inggeris….”

Syekh Malik Muhammad terus membaca doa. Seluruh yang hadir mengaminkan, seperti tak mengacuhkan kehadiran pasukan berkuda Inggeris itu. Lalu kembali terdengar suara Kapten Calaghan.
“Saya akan menangkap beberapa orang di antara tuan-tuan dari Sunua dan Ulakan…..”
Syekh Malik Muhammad masih membaca doanya. Banyak di antara yang hadir menitikkan air matanya, tatkala dia membaca doa tersebut. Akhirnya doa itupun selesai. Syekh Malik Muhammad memalingkan kepala. Menatap pada pasukan berkuda Inggeris yang mengepung mereka. Menatap pada Kapten Calaghan yang masih duduk di punggung kudanya.

Menatap pada pasukan yang menodongkan moncong bedil pada mereka. Wakil pimpinan perguruan Sunua dan Ulakan, Syekh Fakhruddin dan Syekh Malik juga menatap pada pasukan berkuda itu.Kapten Calaghan memajukan kudanya. Dengan pedang terhunus, dia menunjuk pada Syekh Malik Muhammad dan kedua wakilnya.
“Atas nama kerajaan Inggeris, tuan bertiga saya tangkap.”Suaranya terdengar bersipongang. Sementara ujung pedangnya ditujukan pada ketiga Syekh itu.
“Atas tuduhan apa tuan menangkap kami.” “Atas tuduhan menyusun kekuatan untuk melawan kerajaan Inggeris…”Syekh Malik Muhammad tertawa renyah.
“Kapiten, saya hanya memimpin sebuah perguruan Islam. Saya hanya mengajarkan ilmu bukan mengajarkan orang berperang. Bagaimana tuan bisa mengatakan kami menyusun kekuatan untuk menyerang tuan…..”

“Syekh! Sudah beberapa kali kami peringatkan agar perguruan tuan yang di Sunua itu ditutup. Tuan boleh mengajar terus di Ulakan. Tapi tidak boleh membuka sasaran silat. Namun tuan tak mengacuhkan permintaan kami. Dan siang tadi, seorang murid tuan, yang kini tuan kubur, telah membunuh perwira saya.”
“Bukankah itu terjadi karena perwira tuan menyerang terlebih dahulu?”
“Banyak tentara saya jadi saksi, bahwa murid tuan yang menyerang terlebih dahulu”
Syekh Malik Muhammad tertawa mendengar “kesaksian” itu. Kapiten ini cerdik sekaligus licik. Dan sekaligus menganggap orang lain bodoh saja. Anak buahnya yang dia jadikan saksi atas peristiwa terbunuhnya letnan di loji itu. Tentu saja mereka berpihak pada letnan itu.
Masih dengan menahan diri, Syekh Malik bertanya.

“Kami ingin tahu, dimana temannya yang bernama Anduang Ijuak, yang tadi pagi datang bersama temannya yang mati ini ke loji tuan untuk berunding.”
“Dia terpaksa kami tahan, karena dia juga menyerang Letnan Sammy.”Suasana jadi sepi. Namun itu hanya sebentar. Salah seorang murid Ulakan yang menempuh pendidikan tingkat kedua di Sunua, sudah tak tahan lagi mengekang amarahnya.

Tadi dia termasuk di antara para murid yang ingin menyerbu ke loji Inggeris itu tatkala mereka menemukan mayat Sidi Marhaban. Untung di luar perguruan mereka bertemu dengan ketiga Syekh pimpinan perguruan tinggi Islam di Ulakan itu.Namun kali ini, murid yang cukup tangguh ini, tak bisa lagi menahan berangnya. Dia tegak tak begitu jauh dari Syekh malik Muhammad. Dan di dekatnya tegak, ada seorang tentara Inggeris. Dia mengukur jarak. Dan ketika orang sedang berunding itulah tiba-tiba sekali tubuhnya melompat. Tubuhnya mendarat di belakang tubuh tentara Inggeris yang duduk di atas kuda dua depa dari tempatnya tegak tadi.

Begitu berada di atas punggung kuda di belakang tentara itu, dia segera mencekiknya dengan kuat. Dia mencekik dengan tangan kanan. Tangan kirinya menyentak pedang di pinggang serdadu itu. Dan dengan sebuah pekik Allahuakbar, dia lalu menggebrak kuda itu maju. Seorang prajurit lainnya menghadang. Pedang di tangan kiri murid Ulakan itu bekerja. Kepala serdadu itu putus!

Kejadian ini luar biasa cepatnya. Dan begitu kepala prajurit itu menggelinding ke bawah, murid Sunua itu segera memacu kuda ke arah Kapiten Calaghan! Namun Kapten itu bukan orang sembarangan. Dia sudah berpengalaman dalam perang di Eropah sana.Gebrakan kuda itu dia elakkan, dan begitu kuda itu terlewat sedikit di depannya, pedangnya balas membabat! Dan murid Sunua itu memekik. Lehernya bahagian belakang belah!Namun dia tak segera melepaskan musuhnya yang sejak tadi telah dia cekik. Cekikannya makin kuat. Kapten itu menebas lagi dengan pedangnya. Dan murid Sunua itu tersentak. Jatuh dan mati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: