Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 9)


Parang Pariaman (bagian 9)syekh
Anak muda itu menangis menyesali dirinya. Dan Fachturahman meninggal di sana. Sejak saat itu, anak muda itu tak mau beranjak dari Ulakan.
Dia memohon bekerja menjadi budak untuk menebus dosanya. Tapi tak seorangpun di antara murid dan pimpinan Ulakan yang menyalahkannya. Dia diterima secara wajar. Sebagai seorang murid yang sama hak dan derajatnya dengan murid-murid yang lain.

Dan anak muda itulah yang dari tahun ke tahun selalu tegak paling depan kalau ada orang yang mengganggu Ulakan atau Sunua. Karena saleh dan taatnya, karena setia dan budinya, penduduk memberinya gelar Sidi. Orang yang patut dimuliakan. Nah, anak-anak, itulah cerita tentang diri Sidi Marhaban. Guru kalian yang hari ini dibunuh Inggeris.” Syekh itu mengakhiri ceritanya.

Murid-murid perguruan silat dari Sunua itu tak seorangpun yang bergerak. Banyak di antaranya yang meneteskan air mata. Terharu akan cerita tentang diri Sidi Marhaban anak Bugis itu.Terbayang lagi hari-hari yang mereka lalui bersama Sidi tersebut. Memang sedikit sekali di antara mereka yang mengetahui bahwa Sidi itu bukanlah orang Pariaman. Sebab bahasa yang dia pakai, tata cara dan tatakramanya selama ini, tak ada bedanya dari penduduk asli.

Terbayang lagi oleh mereka, betapa dalam latihan-latihan yang diawasi Sidi itu, bila terjadi kesalahan, dia tak langsung memarahi. Biasanya Sidi memanggil murid yang melakukan kesalahan itu. Menanyakan di mana dan bagaimana kabar orang tua si murid. Apakah sehat-sehat. Apakah mereka hidup berkecukupan atau dalam kesulitan. Kemudian secara perlahan dan sangat bijaksana, baru dia menunjukkan kesalahan si murid.

Caranyapun tidak dengan mengatakan, ini atau itu salah. Melainkan dengan perbandingan. Dia selalu memakai kalimat “Bagaimana kalau.” Jika seorang murid terlambat bangun pagi, sehingga dia terlambat sembahyang dan latihan, maka Sidi Marhaban biasanya bertanya : Bagaimana kalau pagi ini anda tak usah ikut latihan.Siang saja nanti, tapi latihan yang intensif. Karena saya lihat anda masih belum konsentrasi. Tawaran ini sama sekali bukan sindiran. Itu adalah tawaran yang ikhlas. Dan murid-murid Sunua sangat menghormatinya karena sikapnya itu.

Dia tak pernah berang sambil membentak : Kenapa bangun lambat!! Itulah kenapa tadi mereka segera saja berlompatan ke punggung kuda dan akan menyerang Loji itu tanpa memperdulikan keselamatan diri mereka sendiri.Kini, Sidi yang anak Bugis yang telah jadi orang Pariaman itu, telah tiada. Mati ditembak dengan keji oleh Inggeris.

“Jangan khawatir. Kita semua berduka dan menyimpan dendam yang paling dalam di hati kita atas kematian Sidi ini. Semua kita akan menuntut bela. Tak seorangpun yang akan kita biarkan mati sia-sia. Hutang nyawa akan kita balas dengan nyawa. Tapi kita tunggu waktunya….” kata Syekh Malik perlahan.
Ketika pusara selesai digali, ketika mayat akan diusung, tanpa dimandikan karena dia syahid, tanpa diduga datang berpuluh-puluh penduduk Pariaman, datang pula penduduk dari Sunua dan Ulakan, dari Petak dan Ketaping, mereka datang sebagai tanda ikut berduka yang dalam.

Rupanya berita kematian Sidi yang berbudi itu telah menjalar ke segenap penjuru seperti api memakan sekam. Penduduk negeri-negeri itu tak lupa, bahwa Sidi Marhaban adalah lelaki rendah hati yang selalu turun tangan membantu orang lain.Pendekar yang memiliki ilmu cukup tinggi. Namun tak pernah menyombongkan dirinya sedikitpun. Orang Pariaman terkenal penaik darah dan suka main keroyok. Mungkin karena mereka penduduk pantai yang bekerja sebagai pelaut. Mungkin pengaruh laut yang selalu bergelombang tak stabil, selalu menantang bahaya dengan tegar, maka mereka menjadi cepat naik darah dan merasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi tiap bahaya yang menimpa salah seorang di antara mereka.

Suatu hari pernah terjadi, seorang nelayan yang tengah menjual ikan hasil tangkapannya bertengkar dengan seorang penduduk soal harga. Bermula dari tawar menawar, karena merasa terlalu mahal tak jadi membeli.Suatu hal yang lumrah saja sebenarnya dalam sistem pasar sebelum membeli orang menanyakan harga. Kalau dirasa terlalu mahal tak jadi membeli. Bukankah membeli harus sebatas kemampuan?

Namun nelayan itu merasa tersinggung. Dia memaki. Kalau tak ada duit jangan menawar ikan orang. Kalau mau yang murah kawin saja dengan saya. Ucapan ini membuat si penawar, seorang ibu, jadi terperangah, malu dan sakit hati.Terjadi pertengkaran mulut. Suami perempuan itu ikut campur. Sebuah bogem mentah sudah mendarat di dahi suami perempuan itu. Saat itulah Sidi Marhaban, yang belum begitu dikenal orang Pariaman, datang dan memegang nelayan itu. Menyabarkannya dengan kata-kata lembut.

Tapi si nelayan balik berang padanya. Dan menyerang Sidi dengan pisau. Sidi mengelak beberapa kali. Melihat orang ini bisa mengelak, agak pendekar, maka teman-temannya yang lain segera ikut mengeroyok.Sidi Marhaban, meski tengah di keroyok, sempat memberi isyarat pada kedua suami isteri yang dia tolong itu agar cepat-cepat pergi dari sana. Setelah kedua orang itu pergi, dengan sedikit gerakan dia memukul pergelangan ketiga orang itu dengan dua jarinya. Kontan pisau di tangan mereka terlempar.

Sidi segera menyelinap di antara orang ramai, menghindar dari sana. Kembali cepat-cepat ke Sunua. Tapi ternyata peristiwanya tak berakhir hingga itu. Nelayan Pariaman tadi tahu, bahwa yang telah membuat malu mereka dengan memukul tangan mereka hingga pisau itu jatuh, adalah orang Sunua.
Nah, sekitar lima puluh nelayan, pedagang atau petani Pariaman, umumnya muda-muda, tapi ada juga yang tua bangka, melakukan “penyerbuan” ke Sunua.
Di Sunua mereka sempat memukul dua orang penduduk untuk menanyakan di mana orang yang punya ciri-ciri seperti Sidi yang menyerang mereka kemaren. Mereka hanya tahu ciri-cirinya, tak tahu namanya.

Karena penduduk tak bisa menjawab, mereka dipukuli. Sidi Marhaban sendiri yang merasa tak sedap, keluar dari perguruannya. Dan begitu orang melihatnya, maka merekapun berseru :
“Itu dia! Lanyauuu!”.
“Tojeh jo sakin!”
Dan mereka yang bersenjata pisau, parang dan tombak itu menggebu mamburu. Dengan tenang Sidi Marhaban tegak menanti. Mulutnya mengguriminkan doa. Di tak ingin ada korban di antara rakyat yang gelap mata dan bodoh ini. Karenanya, sebelum orang-orang kalap itu dekat benar, dia mendekati sebatang kelapa yang tingginya enam meter dan tengah berbuah lebat.

Dengan perlahan menyebut nama Allah, batang kelapa itu dia tepuk tiga kali. Hanya Tuhan jua yang Maha Tahu, akibat tepukan perlahan itu, belasan buah kelapa berjatuhan ke tanah!
Penduduk yang memburunya terhenti. Ternganga. Sidi Marhaban masih tak bersuara. Dia memungut sekaligus empat buah kelapa masak. Melambungkannya ke atas, lalu mengibaskan tangannya ke arah empat kelapa itu. Keempat buah kelapa itu telambung ke segala penjuru …………dalam keadaan hancur!
Penduduk yang datang menyerang ternganga. Ada yang menggigil saat membayangkan kelapa itu adalah kepalanya! Sidi itu kemudian berkata perlahan :

“Saya orang rantau. Tujuh lautan telah saya lalui untuk sampai ke negeri ini. Jika saya pakai bahasa yang sombong, maka ucapan saya akan berbunyi: Saya tak takut mati. Dan jumlah sebanyak ini, masih kurang untuk menghadapi saya. Tapi bahasa kesombongan itu tak pernah saya pakai. Karena agama saya membenci orang-orang yang sombong dan takabur…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: