Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 8)


Parang Pariaman (bagian 8)loji inggris
Atau mungkin pasukan berkuda itu membawa pesan dari guru mereka untuk menjemput beberapa orang murid yang yang termasuk senior untuk diajak serta dalam perundingan di loji.Mereka menanti dalam diam dalam sasaran. Tapi pintu gerbang tak kunjung diketuk. Tak ada panggilan untuk membuka. Yang terjadi justru suara telapak kuda yang bergerak makin menjauh untuk kemudian lenyap sama sekali.
Para murid itu saling bertukar pandangan.

“Ada apa?” tanya seseorang.
“Ya, ada apa?” sela seseorang yang lain.
Lalu sepi. Mereka berusaha menajamkan telinga. Berusaha menangkap suara mencurigakan dari luar sana. Namun tak ada apa-apa kecuali suara angin yang mengipas daun-daun kelapa.
“Kita lihat ke luar…..”
“Ya, kita lihat ke luar…..”
“Ya…..!”
“Ayolah”
“Ayo!”
“Tidak. Jangan semua. Cukup bertiga, saya, engkau dan engkau. Yang lain tunggu saja di sini. Berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak beres. Nah, mari kita ke luar.”

Ketiga murid senior perguruan Sunua itupun segera mendekati pintu gerbang. Yang lain tegak menanti dan menatap dari jarak sepuluh depa. Yang seorang maju, mengangkat kayu yang memalangi pintu. Kayu sebesar betis dan panjangnya tiga meter itu dicuilnya dengan telunjuk. Kayu itu mental ke atas. Ketika meluncur turun, disambut dengan tangan kiri.Dia membuka pintu. Di depan gerbang itu kosong! Angin dari laut menerpa masuk. Terasa angin.

“Tak ada apa-apa.”
“Ya. Tak ada apa-apa.”
“Tapi tadi jelas mereka mendekati gerbang ini!”.
“Tapi mereka juga segera menjauhinya”.
“Bagaimana kalau kita melihat agak keluar sana.”
“Ya. Itu barangkali lebih baik.”Ketiga mereka melangah perlahan melewati gerbang itu. Tak ada apa-apa! Kosong dan sunyi!
“Tak ada apa……”, suara salah seorang di antara mereka terputus tatkala tiba-tiba dia melihat sesosok tubuh tertelungkup dekat pagar perguruan tak jauh dari gerbang di sebelah kanan.
“Ya Tuhan, ada mayat!” katanya perlahan.
Kedua temannya menoleh ke tempat yang ditatapnya. Dan mereka sama-sama melihatnya.

“Angku Sidi!!” seru mereka hampir bersamaan tatkala mengenali sosok itu dari pakaian yang mereka kenal sebagai milik Sidik Marhaban. Mereka berlarian ke mayat itu.
“Ya Allah, ya Rabbi! Kapir-kapir itu telah membunuh Angku Sidi!” seru salah seorang diantara mereka. Seruan itu membuat semua murid perguruan Sunua itu bertemperasan datang ke sana. Di hadapan mereka, di dekat tunggul pohon kelapa, di pasir putih yang sejuk, mereka menyaksikan sebuah pemandangan yang mengharukan, sekaligus membakar hulu jantung mereka.
Sidi Marhaban, pelatih mereka yang selalu mewakili Anduang Ijuak, terbaring dengan muka, dada dan punggung robek oleh peluru. Dari bekas luka darah masih mengalir terus.

“Kapir jahanam! Kita serang merekaaaa!”
“Kita tuntut kematian ini!”
“Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!”
Keadaan tak teratasi lagi. Ketika mayat Sidi Marhaban itu diangkat ke dalam sasaran, sekitar belasan orang di antara mereka sudah berlarian ke kandang kuda.
Hanya sekejap setelah itu kuda-kuda itu telah menderu keluar dari perguruan tersebut. Namun begitu tiba di luar perguruan, kuda yang paling depan dihentikan mendadak. Kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi karena kaget. Pasukan yang di belakang terpaksa berhenti pula mendadak.
“Ada apa? Ayo maju!”

Teriak seseorang dari belakang. Yang di depan tak menyahut. Justru berusaha menenangkan kudanya. Yang di belakang tadi karena jengkel, mengambil jalan menyeli-nyelit di antara temannya untuk maju ke depan. Sesampainya di depan, dia juga ikut tertegun. Tegak dengan diam.Kemudian seperti dikomando mereka turun perlahan dari punggung kuda. Kemudian membungkuk memberi hormat.
“Angku Syech….” kata salah seorang di antara mereka dengan takzim.

Di depan mereka, yang menyebabkan mereka terpaksa menghentikan kuda dengan tiba-tiba adalah karena munculnya Syekh Malik Muhammad, pimpinan tertinggi perguruan Ulakan dan Sunua.Syekh itu tegak di sana dengan tenang. Di sisinya tegak pula dua orang wakilnya. Yaitu Syekh Fakhruddin dan Syekh Mualim.

“Akan ke mana, anak-anak?” tanya orang tua itu lembut.
“Angku, tuanku Sidi Marhaban telah dibunuh dengan kejam oleh kapir-kapir di Pariaman. Kami akan ke sana menuntut balas.”
“Ya. Saya sudah mendengar musibah itu. Karena itulah kami datang kemari menemui kalian”
“Kita serang saja loji mereka tuan Syekh….”. “Menyerang tanpa rencana, tanpa perhitungan yang masak, akan menyebabkan kita mati konyol”. “Saya tidak sepaham dengan ucapan tuan Syekh….!”
“Coba kau jelaskan dimana kita yang tak sepaham”
“Tentang mati konyol itu”
“Bagaimana pendapatmu, nak?”
“Bukankah dalam Alquran dikatakan bahwa muslim yang berjihad di jalan Allah bila dia mati, maka matinya adalah mati syahid?”
Syekh Malik Muhammad menarik nafas panjang. Bibirnya melukiskan senyum tipis.

“Benar. Siapa yang berperang di jalan Allah, dan mati, akan mati syahid. Tapi mati syahid itu bertingkat, nak. Jika engkau datang menyeruduk Inggeris di Pariaman sana tanpa perhitungan sama sekali, meski dengan alasan membela teman yang dibunuhnya, padahal engkau tahu bahwa kekuatan tidak seimbang dengan kekuatan mereka, maka bila engkau mati, kematianmu sama dengan seorang yang bunuh diri.Dan engkau tahu, dimana Tuhan meletakkan orang bunuh diri di Yaumil Akhir, bukan?”
Murid-murid Sunua itu pada terdiam. Menunduk. Dan Syekh itu menyambung lagi :

“Mari kita misalkan, kita datang kesana seperti kedatangan yang kalian rencanakan sebentar ini, artinya kita datang dengan memacu kuda secepat limbubu. Kemudian memekik Allahuakbar sehingga menegakkan bulu roma. Kemudian lagi, sebelum kita mencapai dinding loji itu, mereka telah menyambut kita dengan semburan timah dan serpihan besi.Semua pelurunya menembus tubuh kita. Kita mati tercampak ke tanah, tanpa dapat menyentuh salah seorangpun diantara mereka. Tak seorangpun! Sebab loji itu berpagar tinggi. Sebelum peristiwa ini saja loji itu dijaga dengan sangat ketat setiap saat.
Apalagi setelah peristiwa ini. Penjagaan sudah pasti mereka lipatgandakan. Nah, anak-anak, kedatangan kita ke sana, sudah pasti merupakan bunuh diri. Kecuali kalau kita bisa mengatur siasat dan berfikir agak tenang, dan memukul mereka pada saat yang tepat…..”

Murid-murid Sunua itu masih terdiam semua. Tak ada yang bisa mereka pikirkan, kecuali menerima kebenaran ucapan Syekh Malik Muhammad itu.
“Kami datang kemari karena ingin membicarakan hal itu dengan kalian semua. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Apakah anak-anak tak keberatan untuk surut setapak?”
“Saya, angku….” jawab mereka serentak dan perlahan berbalik menuntun kuda mereka, masuk kembali ke dalam komplek perguruan.

Mereka menyilahkan ketiga Syekh itu untuk berjalan di depan. Dan mereka menurut di belakang. Di Balai Tengah, yaitu di sebuah rumah besar yang terletak di tengah ruangan dimana biasanya pimpinan perguruan mengadakan rapat dengan murid-muridnya bila membicarakan hal yang penting, beberapa murid Sunua kelihatan tengah menunggui mayat Sidi Marhaban.
Ketiga Syekh itu tertegak di bawah balai tengah itu. Mayat Sidi tersebut terbujur dan ditutupi dengan sehelai kain hijau bersulam tulisan arab
“Innalillah wa innailaihi rojiun.” Mereka menatap diam ke atas balai. Ke mayat yang terbujur itu.
“Bukakan kain penutupnya, nak” ujar Syekh Ulakan perlahan.Salah seorang dari murid-murid yang menunggui jenazah itu menyingkap kain tutup mayat tersebut.
“Masya Allah!!”

Ketiga Syekh itu mengucap tatkala melihat penderitaan mayat tersebut. Mereka sebenarnya telah mendapat kabar tentang kematian Sidi Marhaban. Mereka telah dilapori oleh seorang pedagang Aceh yang saat itu jadi tamu di loji, dan yang sebenarnya orang Aceh itu adalah juga orang yang menuntut ilmu perguruan Ulakan.
Tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya jati diri dari Sidi Marhaban ini,maka Syekh Malik Muhammad menceritakan nya pada murid-murid sunua tersebut.Dulu pimpinan perguruan sunua ini di pimpin oleh Syekh Fachturahman,pada suatu hari ada seorang anak muda yang datang mencarinya untuk di tantang berkelahi.Setelah di temui oleh Syekh Fachturahman,tanpa basa-basi anak muda itu langsung menyerangnya,dan Syekh itu hanya mengelak dari serangan itu.Namun dalam mengelak itu, dia masih bertanya:
“Anak muda, berapa orang engkau adik beradik makanya engkau berani datang kemari menyabung nyawa?”

Sambil tetap melancarkan serangan, anak muda itu menjawab bahwa dia anak tunggal. Karenanya dia tinggalkan ibunya untuk menuntut bela. Mendengar jawaban itu, Fachturahman berhenti mengelak. Dia tegak dan menatap anak muda itu dengan senyum. Anak muda itu maju, menikamnya berkali-kali. Fachturahman tak berusaha mengelak. Barulah setelah orang itu hampir rubuh, anak muda itu sadar, bahwa lawannya tak mengelak dari serangannya. Dia lalu bertanya sambil menyentakkan badik dari dada lawannya :
“Hai orang Ulakan yang terkenal bagak, kenapa engkau tak mengelak atau balas menyerang?”
Sambil terduduk dan mendekap dadanya yang berlumur darah, Fachturahman men jawab :

“Anak muda, aku bangga padamu. Sebagai anak satu-satunya, dari jauh engkau datang menuntut balas kematian ayahmu. Alangkah bahagianya orang tuamu. Kalau saja aku punya anak seperti engkau, ah, alangkah bahagianya. Malang, lima orang anakku, lelaki semua. Meninggal karena sakit, sakit karena lapar ketika usianya masih sangat muda. Aku sangat sedih. Karenanya aku tak mau membunuhmu, karena aku telah merasakan betapa pahitnya kematian anak…”
“Lagipula anak muda,…” kata Faturahman di sisa tenaganya,…

” ayahmu tidak mati di tanganku, kami berbeda perguruan. Suatu hari perguruan kami berselisih. Untuk jalan tengah dari pihaknya dia tampil, dari pihak Ulakan saya yang tampil untuk saling mengadu kepandaian. Barangkali Tuhan melebihkan sedikit kepandaian pada saya. Hingga ayahmu terluka. Hanya terluka, anak muda. Dia tidak mati. Sebulan setelah itu dia sembuh dan kami jadi kawan karib. Dua bulan pula setelah perkelahian itu, dia dibunuh seseorang.
Yang kami dan dia sendiri tak mengenalnya. Tapi orang menduga bahwa yang membunuh ayahmu adalah aku…..”. Syekh itu berhenti lagi bercerita. Murid-muridnya tertegun mendengar cerita yang di luar dugaan itu.

“Lalu bagaimana kelanjutannya, angku?”
“Lalu, Fachturahman,…” murid tertua perguruan Ulakan itu melanjutkan ceritanya, bahwa dugaan yang memberatkan dia yang membunuh adalah karena perkelahian dua bulan yang lalu itu. Sampai hari itu, yaitu di hari anak itu menuntut balas, tak juga pernah diketahui siapa yang membunuh ayahnya.
Anak itu terkejut mendengar cerita itu. Dia tak dapat menahan air matanya. Di antara tangis yang tak berbunyi itu, anak Bugis itu bertanya:
“Kenapa bapak tidak menceritakan hal ini kepada saya sejak dari tadi, sebelum perkelahian ini terjadi. Dan kenapa bapak menerima saja tikaman badik saya?. Padahal bapak mampu mengelak kannya?”
Fachturahman menjawab.

“Aku tidak menceritakannya karena engkau datang untuk menantang ku berkelahi, bukan untuk mencari kebenaran tentang kematian ayahmu. Apapun yang akan kujelaskan, pasti takkan bisa kau terima nak. Sebab orang yang dibakar dendam, niatnya hanya satu yaitu membunuh lawan yang dibencinya. Dan kenapa aku tak mau melawanmu, padahal dengan mudah engkau bisa ku kalahkan? Sebabnya, aku sudah biasa menang dalam banyak perkelahian, dan dalam banyak persoalan. Kenapa untuk membahagiakan anak yang datang menuntut bela kematian ayahnya, aku tak mau mengalah?. Sesekali aku juga harus mau dikalahkan orang. Sesekali aku harus tahu, bagaimana rasanya jadi orang yang ditakluk kan. Dan dengan cara ini pula, aku bisa bicara padamu. Bisa menceritakan hal yang sebenarnya…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: