Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman (bagian 6)


Parang Pariaman (bagian 6)

pukulan ulu ambek

pukulan ulu ambek

“Saya ingin bertemu dengan Komandan Loji….”
“Sayalah komandannya di sini…..”
“Saya yakin tuan tak suka bermain-main. Saya ingin bertemu dengan Kapten Calaghan….”
“Persoalan perguruan tuan, bukan….?”
“Benar…..”
“Persoalan itu telah dilimpahkan pada saya. Saya yang menanganinya. Sekarang tuan harus berurusan dengan saya…”, suara letnan itu terdengar cukup keras.

Anduang Ijuak cukup maklum. Jika dia berurusan dengan perwira muda ini, maka dia akan berhadapan dengan seorang opsir yang suka menyombong. Dia sebenarnya ingin balik kanan saja. Tapi dia tahu, kaum penjajah bisa berbuat sekehendaknya. Maka akhirnya, dengan menekan perasaan, Anduang ini masuk juga.

“Ajudan tuan silahkan menanti di luar……” kata Letnan itu.
“Dia wakil saya. Saya tak memiliki ajudan…..” kata Anduang Ijuak.
“Wakil atau tidak, saya tak suka terlalu banyak orang melayu masuk ke kamar saya. Baunya kurang sedap bagi hidung saya!!” ujar letnan itu.

Dan akibatnya luar biasa. Muka Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban berobah menjadi merah padam. Sidi Marhaban melangkah dua langkah dengan tangan siap menghantam mulut letnan yang lancang itu. Namun Anduang Ijuak mencegahnya. Tapi seiring dengan itu, Letnan Inggeris tersebut telah mencabut pistol di pinggangnya. Dan menembak langsung!

Peluru pistol yang terbuat dari serpihan besi halus itu segera menerkam dada dan muka Sidi Marhaban, jarak tembak ini demikian dekatnya. Hanya dalam jarak sedepa! Dan yang diterkam peluru itu bukan hanya dada Sidi Marhaban. Tetapi juga tangan kanan Anduang Ijuak. Tangan Anduang ini berada di dada Sidi Marhaban karena dia mencegahnya ketika akan maju menyerang Letnan itu tadi.

Begitu tembakan menggema, lima orang serdadu Inggeris segera menerobos masuk dengan bedil dan pedang di tangan. Peristiwa itu nampaknya memang telah diatur Inggeris sedemikian rupa. Ini adalah titik awal dari api yang bakal memamah Pariaman dalam perang melawan Inggeris.
Begitu mereka masuk, semuanya tertegak diam. Letnan itu sendiri juga masih tegak dengan pistol yang telah kosong tergantung di tangannya. Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban juga masih tegak di tempatnya.

Inilah yang luar biasa.!Tembakan itu, jika ditembakkan pada manusia biasa, pasti telah membunuh sejak tadi. Tapi, meski dengan dada berlobang-lobang, dengan pakaian hangus, dengan muka yang juga berlobang di beberapa tempat, Sidi itu masih tegak di sana.
Tak sedikitpun darah nampak menetes dari bekas luka di dadanya. Tak setitikpun! Tangan Anduang Ijuak yang sejak tadi menahan Sidi Marhaban, lambat-lambat dia turunkan. Anduang Ijuak menjadi amat berang dengan sikap Letnan itu.

Dan turunnya tangannya dari dada Sidi Marhaban merupakan suatu tanda, bahwa dia tak lagi menghalangi Sidi yang telah terluka itu.Dan memang itulah yang dilakukan Sidi marhaban. Dia tahu, meskipun ilmu bathinnya tinggi, namun tembakan itu tadi benar-benar tak pernah diduganya. Dan dia tak sempat mempersiapkan diri. Dan dia tahu, nyawanya bakal tak tertolong lagi. Dia hanya bisa bertahan buat waktu yang singkat.

Bertahan agar darahnya tak menyembur keluar dari bekas lukanya. Bertahan agar dirinya tetap tegak.
Dan begitu tangan Anduang Ijuak lepas dari dirinya, dia menghimpun tenaga bathin. Dan letnan itu masih tegak takjub ketika Sidi Marhaban membentak keras!

Bentakannya di iringi sebuah pukulan dari tempatnya berdiri. Bentakan itu demikian mengguntur dan demikian menggetarkan. Semua yang ada dalam ruangan itu, kecuali Anduang Ijuak, merasakan betapa lutut mereka jadi lemah. Dan yang lebih hebat lagi adalah akibat pukulan yang ditujukan pada Letnan yang masih memegang pistol kosong itu. Tubuh Letnan Inggeris itu seperti terangkat dari lantai. Kemudian terlambung ke belakang. Menghantam meja.

Merubuhkan meja itu dan menyerakkan benda-benda yang ada di atasnya. Kemudian menghantamkan tubuh si Letnan ke dinding di belakangnya!
Letnan itu tertegak di sana. Matanya mendelik. Dan dari mulutnya yang ternganga, tiba-tiba darah segar menyembur!
“Set…..setaaan….ilmu se….taannn……” rintihhnya.

Dan itu adalah kalimat yang terakhir di permukaan bumi. Kemudian tubuhnya rubuh! Dan Letnan ini mati oleh sebuah pukulan Ulu Ambek yang terkenal itu. Pukulan jarak jauh yang tak memerlukan persentuhan badan. Pukulan yang disertai tenaga bathin yang cukup tinggi.

Lalu, begitu Letnan itu rubuh, terhempas dan tertelungkup ke atas meja yang telah centang perenang itu, para prajuritnya yang masuk tadi jadi tersadar. Tubuh Sidi Marhaban tertembus peluru dari enam moncong bedil. Dia ditembak dari belakang. Tubuhnya tak bergoyang sedikitpun. Perlahan rubuh disambut oleh Anduang Ijuak.
“Sidi….!” imbaunya.

Tak ada jawaban. Anduang Ijuak maklum, bahwa pukulan Ulu Ambek yang dilakukan Sidi tadi terhadap Letnan itu, adalah gerakannya yang terakhir. Sebab dengan pukulan itu, dia telah melepaskan pertahanannya terhadap dirinya yang terluka.
Anduang Ijuak yang tegak di sisi Sidi itu mendengar bisikan menyebut “Allah” tatkala Sidi itu membentak dan memukulkan tenaga bathinnya.

Dan tak beberapa detik setelah pukulan itu, darah segar merembes dari badannya yang terluka sejak tadi. Dan di saat itu, yaitu di saat para pengawal itu belum menembakkan bedilnya, Anduang Ijuak maklum bahwa Sidi sudah berpulang! Tembakan keenam bedil itu mengenai sesosok mayat!
Anduang Ijuak merebahkan diri Sidi Marhaban di lantai.

Kemudian guru persilatan Sunua ini menatap pada keenam prajurit yang menembak Sidi itu. Ke enam prajurit itu kini menodongkan bedil kosong tapi tapi berbayonet runcing di ujungnya itu ke arah Anduang Ijuak.
Tembakan itu telah mengundang seluruh tentara Inggeris di Loji itu masuk ke ruangan tersebut. Dan waktu yang amat singkat, kamar itu dipenuhi para serdadu yang berbaju dari beludru merah dengan celana satin putih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: